LOGINEleanor Montgomery never expected to receive a marriage proposal from her own boss—especially after being dragged into the spotlight and publicly claimed as his lover by Archibald Richter, better known as Archie. What kind of madness has Archie gotten himself into, and why has he dragged Eleanor into such a complicated situation? Desperate to break free from her father’s control, Eleanor eventually accepts her boss’s outrageous offer: a one-year contract marriage. But when the terms of their agreement begin to blur, Eleanor finds herself questioning what she truly wants. Will this one-year contract finally set Eleanor free, or will she end up trapped in a relationship she never wanted in the first place?
View MoreKota Jiangnan di malam hari selalu menyisakan sisi kelam di balik gemerlap lampu pencakar langitnya. Di pinggiran kota yang kumuh, berdiri sebuah bangunan tua bertembok kusam dengan papan nama yang hampir roboh: Panti Asuhan Jiangnan.
Bagi Chen Fan, tempat ini adalah awal dari segalanya. Sepuluh tahun yang lalu, Chen Fan adalah bocah berumur sepuluh tahun yang paling sering mendekam di sudut kamar panti. Tubuhnya kurus kering, wajahnya pucat karena kurang gizi, dan dia menjadi samsat hidup bagi anak-anak panti yang lebih besar dan nakal. "Hei, anak haram! Sini kamu! Cuci baju kami!" Suara bentakan itu masih terngiang jelas di ingatan Chen Fan. Hari itu, tubuh kecilnya didorong hingga terjungkal ke tanah berdebu. Anak-anak nakal itu tertawa terbahak-bahak melihat Chen Fan yang meringis kesakitan, memeluk dadanya erat-erat. Di dalam dekapannya, ada sebuah benda yang paling berharga baginya: sebuah liontin giok hijau kusam berbentuk silinder kecil yang tergantung di lehernya sejak bayi. Itu adalah satu-satunya peninggalan orang tua kandungnya yang entah ada di mana. "Jangan ganggu Xiao Fan!" Sebuah teriakan melengking dari seorang gadis kecil menghentikan tawa anak-anak nakal itu. Lin Ruoxi, gadis kecil yang usianya setahun lebih muda dari Chen Fan, berlari dan langsung berdiri di depan Chen Fan dengan merentangkan kedua tangannya. Matanya yang bulat berkaca-kaca, tapi tatapannya penuh tekad untuk melindungi. "Kalau kalian pukul Xiao Fan lagi, aku akan laporkan ke Ibu Panti!" ancam Lin Ruoxi kecil. Melihat ada yang membela, anak-anak nakal itu meludah ke tanah dengan kesal. "Cih, dasar lemah! Kerjanya cuma bisa bersembunyi di balik punggung perempuan!" Setelah melemparkan makian itu, mereka akhirnya pergi. Lin Ruoxi segera berbalik, berjongkok di depan Chen Fan, dan menghapus air mata di pipi bocah laki-laki itu dengan sapu tangan kumalnya. "Xiao Fan, kamu tidak apa-apa? Jangan menangis, ya. Kalau aku sudah besar nanti, aku akan melindungimu selamanya!" Chen Fan kecil hanya bisa mengangguk pelan. Di dalam hatinya yang rapuh, janji gadis kecil itu tertanam begitu dalam. Namun, takdir memiliki cara yang aneh untuk mengubah hidup seseorang. Sore harinya, saat Chen Fan diminta mengambil air di sumur tua yang terletak di bagian belakang panti asuhan yang sudah tidak terpakai, musibah—atau mungkin keberuntungan terbesar dalam hidupnya—terjadi. Tali timba yang sudah lapuk tiba-tiba putus saat Chen Fan menariknya. Kehilangan keseimbangan, tubuh kurus Chen Fan tergelincir dan jatuh lurus ke dalam kegelapan sumur sedalam belasan meter tersebut. Byurrr! Tubuhnya menghantam air dingin di dasar sumur. Chen Fan tidak bisa berenang; dadanya terasa sesak seolah mau meledak, dan perlahan tubuhnya tenggelam ke dasar. Di ambang kematian, ketika kesadarannya mulai menipis, liontin giok kusam di lehernya tiba-tiba memancarkan cahaya hijau zamrud yang sangat menyilaukan. Anehnya, air di sekitar sumur seolah terbelah oleh dinding transparan, memberi ruang bagi Chen Fan untuk bernapas. Tubuhnya yang sekarat tersedot masuk ke dalam sebuah celah batu di dasar sumur yang ternyata terhubung dengan sebuah ruang bawah tanah kuno yang kering. Di tengah ruangan batu yang dipenuhi debu tebal itu, terdapat sebuah kerangka manusia yang duduk bersila dalam posisi bermeditasi. Di depan kerangka itu, tergeletak sebuah kuali tembaga kuno berukuran kecil dan sebuah gulungan kulit domba. Sebelum Chen Fan sempat mencerna apa yang terjadi, liontin giok di lehernya bergetar hebat. Wusss! Seberkas cahaya keemasan melesat dari kerangka tersebut, langsung menembus dahi Chen Fan. "AAAGHHH!" Chen Fan menjerit histeris. Kepalanya terasa seperti dipalu oleh ribuan ton godam. Miliaran informasi, teks-teks kuno bergambar naga, formula obat-obatan misterius, hingga teknik bertarung yang bisa membelah gunung, langsung dipaksakan masuk ke dalam otaknya. “Aku adalah Leluhur Alkemis Sembilan Langit... Menggunakan ilmu pengobatan untuk menyelamatkan dunia, menggunakan jalur kultivasi untuk menaklukkan keabadian... Murid takdirku, warisilah kekuatanku, dan guncanglah dunia fana ini!” Suara menggelegar itu menggema di dalam kesadaran Chen Fan sebelum akhirnya lenyap. Ketika Chen Fan membuka matanya, rasa sakit di kepalanya telah hilang, digantikan oleh pengetahuan yang luar biasa luas. Dia menyadari bahwa liontin giok murah di lehernya bukanlah giok biasa, melainkan Cincin Penyimpanan Gaib (Storage Ring) tingkat tinggi yang menyamar! Mengikuti insting baru yang tertanam di otaknya, Chen Fan duduk bersila. Dia mulai mempraktekkan teknik pernapasan pertama dari warisan tersebut: Teknik Pernapasan Naga Langit. Wusss! Energi spiritual fana (Qi) yang ada di dalam sumur tua itu seolah bergolak dan berebut masuk ke dalam pori-pori tubuh Chen Fan. Rasa hangat yang luar biasa mengalir di setiap aliran darahnya, memperbaiki organ dalam yang rusak, dan memperkuat tulang-tulangnya yang rapuh. Hanya dalam waktu satu jam, Chen Fan yang semula lemah telah berhasil melangkah ke Ranah Kondensasi Qi Tingkat 1! Dia bukan lagi manusia biasa. Dia telah resmi melangkah ke jalan menjadi seorang Kultivator. Ketika dia berhasil memanjat keluar dari sumur tua itu menggunakan kekuatan barunya yang menakjubkan, Chen Fan melihat Lin Ruoxi dan Ibu Panti sedang menangis histeris di bibir sumur, mengira dirinya telah tewas tenggelam. Chen Fan tersenyum, menyembunyikan kilatan cahaya aneh di matanya, dan berpura-pura menangis ketakutan sambil memeluk mereka. Sejak hari itu, Chen Fan bersumpah tidak akan pernah menunjukkan kekuatannya di depan umum. Pengetahuan warisan kuno memperingatkannya: dunia ini penuh dengan bahaya, dan kultivator yang terlalu cepat pamer sebelum kuat akan berakhir tragis. Dia memilih untuk menyamar, menyembunyikan bakat monsternya di balik topeng seorang bocah yatim piatu yang lugu dan penurut. Sepuluh tahun berlalu dalam sekejap mata. Di bawah terik matahari Kota Jiangnan yang membakar kulit, sebuah gedung pencakar langit milik Su Group sedang dalam tahap pembangunan intensif. Suara deru mesin molen dan hantaman palu besi bersahut-sahutan. Di antara ratusan pekerja kasar yang berlalu-lalang memanggul material, tampak seorang pemuda berusia dua puluh tahun dengan singlet putih yang sudah pudar kekuningan dan celana kain kasar yang dipenuhi noda semen. Pemuda itu memiliki wajah yang sebenarnya sangat simetris dan tampan, namun pembawaannya yang membungkuk, rambutnya yang acak-acakan, serta senyumnya yang terkesan "lugu" membuat orang dengan mudah meremehkannya. Dia adalah Chen Fan, yang di lokasi proyek ini dikenal dengan panggilan Xiao Chen (Chen Kecil). Brak! Brak! Brak! Tiga karung semen, yang masing-masing beratnya 50 kilogram, ditumpuk sekaligus di atas pundak kokoh Chen Fan. Total 150 kilogram beban yang sanggup mematahkan tulang manusia biasa, namun Chen Fan bahkan tidak mengerutkan keningnya. Langkah kakinya tetap stabil dan ringan saat berjalan menaiki tangga darurat menuju lantai empat. Tentu saja, dia sengaja memasang ekspresi terengah-engah dan membiarkan keringat bercucuran deras di wajahnya demi menjaga penyamarannya. Jika orang tahu bahwa dia bisa mengangkat beban satu ton tanpa berkeringat dengan energi Qi-nya, dia pasti akan ditangkap dan dijadikan bahan eksperimen laboratorium. "Woi, Xiao Chen! Lambat amat jalanmu! Dasar kuli malas!" Sebuah teriakan kasar terdengar dari arah bawah tangga. Seorang pria paruh baya bertubuh tambun dengan perut buncit yang dibalut kemeja safari ketat berdiri sambil berkacak pinggang. Di mulutnya terselip sebatang rokok mahal. Dia adalah Mandor Wang, pengawas proyek yang terkenal kejam dan serakah. Chen Fan menghentikan langkahnya, menoleh ke bawah, dan menampilkan senyum lugu andalannya yang terkesan bodoh. "Maaf, Mandor Wang. Semennya agak basah jadi agak berat. Saya akan percepat jalannya." "Cih! Alasan saja kerjaanmu! Cepat antarkan semen itu, lalu bersihkan sisa puing di lantai bawah! Kalau belum selesai sebelum jam lima, gajimu hari ini dipotong setengah!" bentak Mandor Wang sambil meludah ke samping. Di dalam hati, Mandor Wang tertawa licik. Xiao Chen adalah kuli paling menguntungkan baginya. Pemuda itu tidak punya latar belakang, tidak punya keluarga, yatim piatu, dan yang paling penting: sangat penurut dan lugu. Mandor Wang sering melimpahkan pekerjaan tiga orang sekaligus kepada Chen Fan, lalu memotong gajinya dengan berbagai alasan palsu untuk dimasukkan ke dalam kantong pribadinya sendiri. Chen Fan tidak membalas. Dia hanya mengangguk patuh lalu melanjutkan langkahnya ke atas. Di balik poni rambutnya yang menutupi mata, kilatan dingin melintas sekilas. ‘Wang serakah... Nikmatilah uang harammu selagi bisa. Jika bukan karena aku membutuhkan pekerjaan kasar ini untuk melatih mentalitas duniaku dan menyempurnakan Teknik Body Tempering, satu jentikan jariku sudah cukup untuk membuatmu meledak menjadi kabut darah,’ batin Chen Fan dingin. Bagi Chen Fan, penindasan di lokasi proyek ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kemajuan kultivasinya. Di malam hari, ketika seluruh kota tertidur, kuli lugu ini akan berubah menjadi sosok yang mengerikan. Menggunakan kuali tembaga kuno yang dia simpan di dalam liontin gioknya, Chen Fan telah berhasil mengumpulkan berbagai herbal murah dari pasar loak untuk diracik menjadi obat-obatan spiritual. Malam nanti adalah malam yang krusial. Dia telah mengumpulkan bahan yang cukup untuk meracik Pil Pembersih Sumsum, pil legendaris yang akan membantunya menembus Ranah Kondensasi Qi Tingkat 3. Saat Chen Fan sedang memikirkan rencana kultivasi malamnya, tiba-tiba dari arah gerbang masuk proyek terdengar suara raungan mesin mobil sport yang sangat nyaring. Sebuah mobil Porsche Panamera berwarna hitam metalik melesat masuk dan berhenti tepat di depan kantor pemasaran proyek. Kehadiran mobil mewah itu langsung menghentikan aktivitas para pekerja. Mandor Wang yang tadinya pasang muka sangar langsung membuang rokoknya, membenulkan letak bajunya yang kusut, dan berlari dengan membungkuk-bungkuk penuh hormat bagaikan seekor anjing yang melihat majikannya. Pintu mobil terbuka, dan dari dalam sana turunlah seorang wanita yang langsung membuat atmosfer di sekitar proyek yang panas terasa membeku. Wanita itu mengenakan setelan blazer bisnis berwarna hitam yang melekat pas di tubuhnya yang ramping dan proporsional. Rambut hitam panjangnya disanggul rapi, memperlihatkan leher jenjangnya yang seputih salju. Wajahnya secantik dewi dalam lukisan, namun ekspresinya begitu dingin dan angkuh, seolah-olah tidak ada satu pun manusia di dunia ini yang berhak masuk ke dalam pandangannya. Dia adalah Su Qingxue, CEO wanita dari Su Group, salah satu wanita paling berpengaruh dan diincar oleh seluruh pemuda kaya di Kota Jiangnan. Chen Fan yang berdiri di balkon lantai dua sambil memegang sekop, menundukkan kepalanya agar tidak menarik perhatian. Namun, begitu matanya melirik ke arah Su Qingxue, alis Chen Fan tiba-tiba berkerut. Mata kultivatornya melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh mata manusia fana. Di sekeliling tubuh indah Su Qingxue, samar-samar terpancar aura kabut berwarna biru es yang sangat kelam dan dingin. Aura itu bergerak liar, seolah-olah sedang menggerogoti energi kehidupan dari dalam organ tubuh wanita tersebut. Chen Fan terkejut di dalam hatinya. ‘Itu... Sembilan Tubuh Yin Dingin?! Bagaimana mungkin fisik kultivasi legendaris itu bisa muncul pada seorang wanita di dunia fana ini?’Eleanor finally finished her last bite in a hurry.After tidying the food containers and leftover wrappers back into the paper bag, she let out a long breath."I'll be returning to my division now, sir," Eleanor announced first to take her leave.Noticing a subtle nod from Archie, she exhaled a sigh of relief and promptly exited his office.A wave of relief swept through her chest the moment her feet stepped outside Archie's office, having felt thoroughly intimidated the entire time she was in there.Eleanor quickly went to the elevator and headed down to the fifth floor where her division was located. Upon arriving, she walked down the corridor toward her cubicle in the planning division to resume her remaining tasks.However, just as she turned the corner near the room partition, Eleanor's steps came to a sudden halt as she saw who was standing directly in her path.Abigail was already standing there, arms crossed over her chest, pinning her with an icy, piercing glare."How marvelo
Eleanor clasped her hands tightly in her lap.She kept her knees together, sitting stiffly upright.Being inside the spacious, dark-toned executive office of the President Director made her intensely nervous.Forget moving around—even breathing normally felt exceedingly difficult for Eleanor.Her eyes stole an awkward glance toward the large executive desk in the corner of the room.There sat Archie, calmly settled in his high-backed chair, his fingers steadily flipping through page after page of important documents as if Eleanor's presence on the sofa didn't bother him in the slightest.Feeling the atmosphere around them becoming increasingly suffocating, Eleanor finally gathered the courage to speak up. "Mr. Richter..."Archie didn't answer. He didn't even shift his gaze away from the papers before him.Eleanor swallowed hard, trying to soothe her suddenly dry throat. "If... if the food arrives, may I take mine and eat at my own desk, sir? I feel uncomfortable staying here."Still,
Sam suppressed a chuckle at the unusually loud growl coming from Eleanor's stomach. However, he immediately lowered his head upon catching the sharp, icy glare Archie shot his way.Archie shifted his gaze straight back to Eleanor. His face remained expressionless as he looked at her hanging her head in shame."Sam," Archie said flatly, without glancing back at his assistant. "Buy lunch right now, then bring it directly to my office.""Understood, sir," Sam replied promptly.Eleanor snapped her head up, her eyes widening in surprise.Her embarrassment instantly gave way to confusion. Before she could process the order, Archie spoke again in his usual impassive tone."Follow me to my office," Archie instructed, locking eyes with Eleanor in a way that left no room for debate.Eleanor gasped, looking at Archie with clear shock on her face. "F-For what reason should I go to your office, Mr. Richter?"Her sudden question caused Sam—who had just turned to leave—to halt in his tracks. He glan
Eleanor wiped a bead of sweat from her brow with the back of her hand.She had just finished organizing the files Abigail had requested, sorting them meticulously by date and sequence.Glancing at the wall clock above the doorway, she saw the short hand had already passed one in the afternoon. The employee lunch hour had begun an hour ago.Taking a deep breath, Eleanor lifted the heavy stack of documents once more, her arms beginning to ache from the strain.She stepped out of the planning division toward the elevator, heading down to the archive storage room.When the elevator doors parted on the lower floor, Eleanor's steps felt heavy as she walked down the corridor toward the main archive room located at the bottom level of the building.Eleanor pushed open the heavy wooden door of the archive room with her free elbow. Inside the space lined with row upon row of metal cabinets, a middle-aged male staff member looked up at her."Excuse me. I'm returning these report files," Eleanor


















Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.