Home / Romansa / My Game Boyfriend / Doa Di Balik Pintu Operasi

Share

Doa Di Balik Pintu Operasi

Author: Melati Lu
last update publish date: 2026-07-04 17:51:23

Bab 48

Arthur berdiri membeku tepat di ambang pintu, jantungnya berdegup kencang dan nyeri di dalam dadanya. Aroma antiseptik dan bau obat yang khas dari ruang operasi memenuhi hidungnya, sementara matanya terpaku pada pemandangan di hadapannya—suara bip mesin yang berbunyi berirama dan percakapan singkat para dokter yang sedang mendiskusikan kondisimu dengan serius.

Ia menelan ludah dengan susah payah, lalu memaksakan kakinya melangkah perlahan mendekat. Pandang
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • My Game Boyfriend   Permainan Yang Berakhir Menjadi Selamanya

    Bab 111Angin sore berhembus lembut menyapu halaman rumah, membawa wangi melati yang mekar sempurna—wangi yang tak pernah berubah, sama seperti perasaan yang mengikat hati mereka berdua, dan kini hati ketiga nyawa yang melengkapi segalanya. Di teras depan, Melati duduk di kursi rotan yang sama persis seperti bertahun-tahun lalu, sementara Arthur duduk di sebelahnya, membiarkan kepala putri kecil mereka yang kini sudah berusia tiga hari bersandar tenang di dadanya. Cahaya matahari senja yang keemasan menyelimuti mereka bertiga, seolah ingin mengabadikan momen damai ini dalam ingatan waktu yang tak akan pernah pudar. Melati menatap wajah suaminya, lalu menatap wajah mungil Bunga Melati Anindya yang terlelap damai dalam dekapan ayahnya. Matanya berkaca-kaca, bukan karena sedih, melainkan karena hati yang terasa begitu penuh hingga tak sanggup lagi menampung segala rasa syukur yang meluap. Ia teringat kembali bagaimana semuanya bermula—dari sebuah tantangan permainan

  • My Game Boyfriend   Melati Kecil Yang Datang Membawa Cahaya

    Bab 110 Matahari pagi menyelinap lembut lewat jendela kamar rumah sakit, menyentuh permukaan selimut putih dengan cahaya keemasan yang hangat. Di atas tempat tidur, Melati masih terbaring lemah namun matanya terbuka lebar, tak pernah sekalipun beralih dari wajah mungil yang kini terlelap damai di pelukannya. Bunga Melati Anindya—nama yang sudah mereka pilih dengan penuh harapan, kini menjadi nyata dalam genggaman. Kulitnya kemerahan halus, rambut hitamnya tipis namun lembut, dan setiap kali ia menggerakkan jari-jarinya yang mungil, seolah ada getaran bahagia yang menjalar ke seluruh hati kedua orang tuanya. Arthur duduk di tepi tempat tidur, tak berani bergerak terlalu banyak, tak berani bersuara terlalu keras, seolah takut merusak keindahan momen ini. Matanya masih berkaca-kaca, masih tak percaya bahwa gadis kecil yang selama ini ia nantikan, kini benar-benar ada di hadapannya. Sesekali ia mengusap pelan ujung jari mungil putrinya, dan setiap kali jari kecil itu

  • My Game Boyfriend   Saat Waktu Menjembatkan Rindu

    Bab 109 Malam itu terasa berbeda sejak awal. Angin yang biasanya berhembus lembut menyapa jendela, kali ini membawa udara yang sedikit lebih sejuk, seolah memberi isyarat bahwa sesuatu yang sudah lama dinanti tak lagi jauh jaraknya. Melati terbangun berulang kali, bukan karena tak nyaman, melainkan karena rasa kencang yang datang dan pergi dengan jeda yang makin teratur—tidak terlalu menyakitkan, namun cukup untuk membuatnya sadar bahwa tubuhnya kini sedang bersiap menyambut kehadiran sang buah hati. Arthur yang tidur dengan posisi selalu setengah sadar seketika terjaga setiap kali Melati bergerak. Tanpa perlu banyak bicara, ia langsung duduk di sampingnya, menopang punggung istrinya dengan bantal-bantal empuk, lalu mulai mengusap punggung Melati dengan gerakan memutar yang tenang dan teratur. Keringat dingin mulai muncul di pelipis Melati, namun ia menahan napas dan berusaha tersenyum setiap kali menatap wajah Arthur yang tampak begitu cemas namun berusaha tetap

  • My Game Boyfriend   Jalan Menuju Pertemuan

    Bab 108 Malam itu hujan turun perlahan, mengetuk pelan atap rumah seolah irama pengantar tidur yang lembut dan berirama. Udara dingin yang menyelinap masuk lewat celah jendela yang sedikit terbuka membawa aroma tanah basah yang khas, berpadu dengan wangi melati yang tumbuh merambat di dinding samping kamar. Di dalam kamar yang remang diterangi cahaya lampu tidur berwarna kekuningan, Melati terbangun perlahan. Awalnya ia hanya merasa tidak nyaman, namun lama-kelamaan rasa pegal yang samar mulai menjalar dari pinggang belakang hingga ke bagian bawah perutnya. Ia mencoba memutar tubuh perlahan agar tidak mengganggu tidur Arthur, namun rasa itu kembali muncul dengan jeda yang teratur. Belum sempat ia menarik selimut lebih tinggi atau memanggil pelan, sebuah tangan hangat langsung bergerak mencari tangannya di bawah selimut. Arthur ternyata sudah terbangun, seolah instingnya selalu terjaga setiap kali ada sesuatu yang sedikit saja mengganggu istrinya. Ia segera mengan

  • My Game Boyfriend   Satu Harapan Di Bawah Langit Yang Sama

    Bab 107 Matahari baru saja naik setinggi jengkal di ufuk timur, menyebarkan cahaya keemasan yang lembut menyentuh permukaan tanah yang masih lembap sisa embun semalam. Udara pagi terasa begitu sejuk, membawa aroma wangi bunga melati yang merambat di dinding luar kamar, bercampur dengan harum rumput basah yang segar. Di dalam kamar yang remang namun perlahan terang oleh cahaya matahari pagi, Melati terbangun perlahan. Ia tidak terbangun karena suara bising atau rasa tidak nyaman, melainkan karena rasa hangat yang begitu nyaman melingkar rapat di pinggangnya—rasa perlindungan yang selalu ia temukan setiap hari di samping Arthur. Arthur masih tertidur pulas di sampingnya, napasnya teratur dan tenang. Satu lengannya melingkar lembut di perut Melati yang kini semakin membulat, sementara telapak tangannya menumpu persis di sana, seolah bahkan dalam tidurnya ia tak ingin kehilangan momen berdekatan dengan calon putra atau putri mereka. Wajahnya yang biasanya tegas dan t

  • My Game Boyfriend   Rasa Cinta Yang Baru Berbentuk

    Bab 106   Udara pagi membawa aroma tanah basah dan wangi bunga cempaka yang tumbuh di sudut halaman, menyusup lembut lewat celah jendela kamar yang dibiarkan terbuka semalam. Melati terbangun dengan perasaan yang sedikit berbeda—badannya terasa lebih berat, namun hatinya terasa begitu penuh hingga sesak karena kebahagiaan. Ia memiringkan tubuh perlahan, melihat Arthur yang sedang duduk di tepi tempat tidur, sedang melipat handuk kecil berwarna putih bersih dengan sangat hati-hati, seolah benda itu terbuat dari kain sutra paling rapuh. "Kau sudah bangun?" tanyanya lembut saat menyadari Melati bergerak. Ia segera meletakkan handuknya, lalu berjalan mendekat untuk membantu istrinya duduk. "Tadi aku mendengarmu berbicara dalam tidur. Kau menyebutkan nama 'Bunga' berulang kali. Apakah kau memimpikan sesuatu?" Melati tersenyum samar, tangannya bergerak mengelus perutnya yang kini terlihat jelas membulat, menandakan usia kehamilan yang memasuki perte

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status