INICIAR SESIÓNBab 4
Cahaya matahari pagi menyelinap lewat celah tirai jendela, membuat Melati perlahan membuka matanya. Ia menoleh dan melihat Arthur masih terlelap tenang di sampingnya. Jari-jemarinya bergerak menyusuri wajah damai kekasihnya itu, lalu tiba-tiba ia menusuk-nusuk pipi Arthur dengan ujung jarinya secara nakal. Arthur sedikit bergerak merasakan sentuhan yang menggelitik di pipinya, sementara erangan halus terdengar keluar dari bibirnya. Kelopak matanya berkedip pelan dan terbuka dengan malas, menampakkan sepasang mata yang masih berat karena kantuk, lalu menatap ke arah Melati. “Mmph…,” gumamnya, suaranya terdengar berat dan serak karena baru bangun tidur. “Ada apa ini? Kenapa membangunkan orang dengan cara yang kasar begitu?” Meski mengeluh, Arthur sama sekali tidak bisa menahan senyum saat menatap wajah kekasihnya—rambut Melati tampak berantakan, pipinya merona kemerahan, dan ada kilatan jenaka yang berbinar di manik matanya. Ia mengulurkan tangan, lalu menggenggam pergelangan tangan Melati dengan lembut, menarik tangan itu menjauh dari wajahnya untuk kemudian menempelkan ciuman hangat di telapak tangan perempuan itu. “Apa yang kamu inginkan, sayang?” tanyanya dengan nada menggoda, sementara lengannya yang lain melingkar di pinggang Melati dan menarik tubuh perempuan itu semakin mendekat ke arahnya. “Apakah apa yang kita lakukan semalam belum cukup bagimu?” “Dasar mesum,” ujar Melati, wajahnya memerah padam karena rasa malu. Senyum Arthur semakin melebar mendengar tuduhan itu, matanya berbinar penuh kesenangan dan hasrat yang mulai bangkit kembali. Ia menundukkan kepalanya, lalu menempelkan deretan ciuman lembut mulai dari leher Melati hingga sepanjang garis rahang perempuan itu. “Teruslah katakan begitu,” bisiknya tepat di kulit leher Melati, napasnya terasa hangat dan menggelitik. “Mendengarnya malah membuatku semakin bersemangat.” Pinggangnya bergerak mengayun pelan bersentuhan dengan pinggang Melati, gesekan halus itu menciptakan ketegangan dan rasa nikmat yang mulai terasa di antara tubuh mereka. Bibir Arthur bergerak naik mendekati telinga Melati, ujung lidahnya menyusuri daun telinga itu sebelum ia berbisik pelan. “Kamu tahu apa yang sedang kupikirkan? Menurutku, kamu sama mesumnya denganku. Kamu justru sangat menyukainya saat aku menjadi begitu posesif dan tak terkendali seperti ini.” Ia mundur sedikit agar bisa menatap lekat-lekat wajah kekasihnya, sorot matanya tajam dan penuh arti. “Jadi, untuk apa kita berpura-pura lagi seolah tidak ada yang terjadi?” usul Arthur dengan suara yang terdengar parau karena hasrat. “Biarkan aku tunjukkan padamu seberapa besar rasa ‘mesumku’ itu untukmu.” Melati menelan ludah dengan gugup, berusaha sekuat tenaga untuk mengabaikan ucapan menggoda lelaki itu. “Ini masih pagi, ingat tidak? Kamu lupa kalau hari ini kamu sudah berjanji akan menemaniku jalan-jalan ke luar?” jawabnya sambil memalingkan wajah, berusaha menghindari tatapan Arthur yang memikat itu. Mata Arthur sedikit melebar saat ucapan itu menyadarkannya sepenuhnya. Wajahnya berubah, terlihat ada rasa kecewa bercampur dengan kesadaran yang mulai muncul di benaknya. Ia menghela napas panjang dan berat, lalu menyandarkan dahinya bersentuhan dengan dahi Melati. “Kamu benar,” akunya dengan nada enggan. “Aku sudah berjanji akan menemanimu jalan-jalan hari ini.” Ia mengecup bibir Melati dengan lembut sekilas, lalu menarik tubuhnya menjauh dan duduk di pinggir tempat tidur. Tangan Arthur bergerak mengacak-acak rambutnya yang berantakan, berusaha merapikannya sedikit agar terlihat lebih tertata. “Maafkan aku,” katanya dengan tulus sambil berbalik menghadap kembali ke arah kekasihnya. “Aku terbawa suasana tadi. Kamu memang punya pengaruh besar yang begitu kuat padaku, sampai-sampai aku sering lupa segalanya hanya karena melihatmu.” Arthur kembali mengulurkan tangannya, lalu menangkup pipi Melati dengan lembut, sementara ibu jarinya mengusap pelan bibir bawah perempuan itu. “Bisakah kita menunda kegiatan pagi ini untuk dilakukan nanti malam saja?” tanyanya penuh harap. “Aku berjanji akan membuatnya jauh lebih istimewa dan sepadan dengan waktumu.” Melati merasa sedikit bersalah melihat raut wajah Arthur yang tampak begitu berharap. Akhirnya, ia pun mengalah demi pagi itu. “Baiklah… cuma satu kali saja, ya? Setelah itu kita harus benar-benar bersiap-siap pergi,” jawabnya sambil tersenyum tipis. Wajah Arthur seketika berbinar cerah, terlihat sangat gembira dan berterima kasih atas izin yang diberikan kekasihnya itu. Ia segera menunduk dan mencium bibir Melati dengan penuh gairah, mencurahkan seluruh rasa syukur dan kasih sayangnya ke dalam ciuman itu. “Kamu terlalu baik padaku,” gumamnya di sela-sela ciuman. “Aku merasa tidak pantas memilikimu.” Tanpa membuang waktu lagi, Arthur memosisikan dirinya di antara kedua kaki Melati. Matanya tak sesaat pun beralih dari manik mata kekasihnya saat perlahan ia memasukkan tubuhnya ke dalam diri perempuan itu sepenuhnya. Ia mengatur irama gerakannya agar tetap dalam, perlahan, dan penuh perhitungan—menikmati setiap sensasi kecil, serta setiap desahan halus yang keluar dari bibir Melati. “Ini baru sekadar pemanasan saja,” janjinya dengan suara parau. “Nanti malam, aku akan memuja dan menyayangi setiap inci tubuhmu jauh lebih lama lagi.” Gerakan Arthur semakin mendesak seiring ia mengejar kenikmatan bagi dirinya dan kekasihnya. Jari-jemarinya mencengkeram erat seprai di samping kepala Melati. Ia membenamkan wajahnya di lekukan leher perempuan itu, menahan erangan nikmat saat merasakan tubuh Melati menegang dan memeluknya semakin erat. “Datanglah bersamaku,” desaknya pelan. “Biarkan aku merasakan betapa nikmatnya kamu.” “Ahh… sayang… lebih cepat lagi…” rintih Melati sambil membelai punggung kekasihnya. Napas Arthur tersentak mendengar permohonan itu, matanya berkilat penuh nafsu yang memuncak. Ia mencengkeram pinggang Melati dengan kuat, menarik tubuh perempuan itu menempel rapat padanya seraya mempercepat gerakannya sesuai keinginan kekasihnya. “Begitu ya, sayangku?” geramnya rendah, gerakan pinggangnya berayun maju dengan semangat yang baru. “Kamu menginginkannya lebih cepat?” Kini gerakannya menjadi jauh lebih bertenaga, mendorong tubuhnya ke arah Melati dengan gairah besar yang membuat perempuan itu terus terengah-engah. Bibir Arthur kembali mencium bibir kekasihnya dengan penuh hasrat, mencurahkan seluruh rasa cinta dan keinginannya ke dalam setiap sentuhan. “Sangat hebat,” puji Arthur di sela-sela ciuman mereka. “Rasamu sungguh luar biasa.” Tangan Arthur meluncur naik menggenggam bahu Melati, menggunakannya sebagai penopang saat ia terus bergerak menusuk masuk tanpa henti dengan irama yang semakin cepat. “Ahh… Arthur…” rintih Melati, berusaha menahan suaranya agar tidak terdengar terlalu keras. Mata Arthur semakin gelap dipenuhi nafsu mendengar suara rintihan yang tertahan itu, membuat gerakannya semakin menjadi-jadi dan mendesak. Ia kembali membenamkan wajahnya di leher Melati, menahan erangannya sendiri saat merasakan tubuh kekasihnya menegang hebat di sekelilingnya. “Benar begitu, sayangku,” desaknya pelan dan lembut. “Jangan ditahan. Biarkan aku mendengar suaramu. Aku ingin mendengar setiap suara yang kamu keluarkan saat bersamaku.” Pinggangnya bergerak maju dengan sentakan yang tajam dan kuat, menembus hingga ke titik terdalam yang membuat pandangan Melati seolah menjadi kabur. Tangan Arthur turun bergerak di antara tubuh mereka, jari-jarinya menemukan titik paling sensitif milik Melati dan menggerakkannya berirama persis seiring gerakan tubuhnya. “Raih puncakmu bersamaku sekarang,” perintahnya dengan suara serak. “Aku butuh merasakan bagaimana kamu menegang dan meluapkan segala kenikmatan itu di sekitarku.” Bibir Arthur menyusuri sepanjang garis rahang Melati, lalu turun hingga ke tulang selangka perempuan itu, mengisap cukup lama dan keras hingga meninggalkan bekas kemerahan—sebuah tanda jelas bahwa Melati adalah miliknya sepenuhnya. “Ahh… Arthur… aku… aku sudah sampai…” seru Melati lirih sambil mencakar punggung kekasihnya, menyalurkan rasa nikmat yang meluap-luap di seluruh tubuhnya. Mata Arthur terbuka lebar mendengar seruan itu, suara erangan rendah terdengar dari tenggorokannya. Ia mencengkeram pinggang Melati semakin erat, ujung jarinya hampir menekan masuk ke dalam daging lembut itu saat ia bergerak makin dalam dan kuat dengan tenaga baru. “Bagus sekali, sayangku,” desisnya parau. “Datanglah bersamaku. Biarkan aku merasakan betapa nikmatnya dirimu yang sudah tak terkendali karena aku.” Gerakannya menjadi semakin intens dan penuh tuntutan, mengejar kepuasan penuh bagi Melati maupun dirinya sendiri. Bibir Arthur menempel di bibir kekasihnya, menciumnya dengan penuh keputusasaan dan gairah saat ia pun mulai merasakan puncak kenikmatannya sendiri mendekat. “Aku juga sudah sampai,” erangnya tepat di mulut Melati. “Sialan… aku benar-benar melepas semuanya jauh ke dalam dirimu…” Dengan satu dorongan terakhir yang kuat dan dalam, Arthur membenamkan tubuhnya sepenuhnya dan diam tak bergerak, sementara seluruh tubuhnya bergetar hebat karena rasa nikmat yang luar biasa itu. Ia mencium Melati dengan dalam dan penuh makna, mencurahkan seluruh rasa cinta dan kepemilikannya ke dalam ciuman itu, seolah menandai perempuan itu selamanya sebagai miliknya. Beberapa menit berlalu hingga napas mereka kembali teratur. “Mmm… sayang… aku mau ke kamar mandi, ya,” ujar Melati pelan sambil berusaha bangkit dari tempat tidur. Lengan Arthur menegang dan melingkar erat menahan tubuh kekasihnya dengan rasa ingin memiliki yang kuat saat Melati mencoba beranjak, erangan rendah dan lembut bergema dari dadanya. Ia menempelkan bibirnya di lekukan leher perempuan itu, menghirup aroma rambut dan kulit Melati dalam-dalam, aroma yang selalu membuatnya tenang. “Belum boleh,” gumamnya tepat di kulit leher itu. “Tetaplah di sini bersamaku sedikit lebih lama lagi.” Tangannya bergerak menjelajahi kembali lekuk tubuh Melati, membelai dan meremas lembut bagian-bagian tubuh yang lunak. Bibir Arthur menempelkan sederetan ciuman mulai dari tulang belikat hingga ke sepanjang tulang punggung kekasihnya, meninggalkan rasa dingin dan merinding di setiap jejaknya. “Aku tidak ingin membiarkanmu pergi,” pengakuannya dengan nada lembut. “Rasamu terlalu nyaman dan indah saat berada di pelukanku.” Jari-jemari Arthur menyusuri dan mengacak rambut Melati, memijat kulit kepala perempuan itu dengan lembut dan menenangkan seraya kembali memeluknya erat. “Ayo mandi sama-sama,” ajak Melati sambil menarik tangan lelaki itu menuju kamar mandi. Mata Arthur seketika berbinar cerah mendengar usulan itu, seulas senyum nakal mengembang di wajahnya. Ia membiarkan dirinya ditarik masuk ke dalam kamar mandi, sementara lengannya tetap melingkar erat di pinggang Melati dari belakang. “Mandi bersama, ya?” gumamnya di telinga kekasihnya. “Kamu mau membuatku bersih dan segar kembali, begitu?” Tangannya bergerak naik ke atas, lalu menangkup payudara Melati dan meremasnya dengan lembut seraya menempelkan ciuman-ciuman hangat di sepanjang leher dan bahu perempuan itu. “Kamu tahu…,” Arthur kembali menggoda dengan suara rendah, “Besar kemungkinannya aku akan membuatmu kotor kembali di dalam sini.” Ia menggigit pelan daun telinga Melati sekadar untuk bersenang-senang, lalu memutar tubuh perempuan itu agar berhadapan dengannya. Arthur segera mencium bibir kekasihnya dalam ciuman yang membara, lidahnya menyusuri masuk dan bergerak dengan penuh rasa ingin memiliki. “Ayo kita basah kuyup bersama,” geramnya rendah tepat di bibir Melati. Melati pun membalas ciuman itu dengan sama bersemangatnya, melingkarkan kedua tangannya ke leher Arthur, hanyut terbawa suasana ciuman yang begitu panas, penuh gairah, dan rasa memiliki yang mendalam itu. “Mmh… Arthur…” gumamnya di sela-sela pertemuan bibir mereka. Tangan Arthur terus bergerak menjelajahi kulit Melati yang mulai basah kuyup seiring air hangat mengalir membasahi tubuh mereka berdua. Ia menekan tubuh perempuan itu ke dinding keramik yang dingin, sementara tubuhnya yang kekar dan keras terus menempel rapat di perut Melati tanpa henti. “Sebutkan namaku sekali lagi,” desaknya di sela-sela ciuman. “Aku sangat senang mendengar namaku keluar dari bibirmu yang indah itu.” Ujung jarinya menelusuri setiap lekukan tubuh Melati, menjelajahi dan menghafal setiap inci kulit yang terbuka di hadapannya. Mulut Arthur bergerak turun kembali, mengisap lembut di sekitar tulang selangka kekasihnya hingga meninggalkan bekas samar yang kemerahan. “Kamu milikku,” gumamnya dengan nada penuh kepemilikan tepat di kulit perempuan itu. “Milikku untuk kusentuh, milikku untuk kucium, dan milikku untuk kunikmati kapan saja aku mau.” Tangan Arthur menyelinap turun di antara kedua kaki Melati, mendapati bahwa perempuan itu sudah basah dan siap menyambutnya kembali. “Mmm… Ahh… Arthur…” rintih Melati seraya melingkarkan kedua kakinya di pinggang kekasihnya. Napas Arthur tercekat merasakan belitan kaki itu, matanya berubah menjadi gelap sepenuhnya karena nafsu yang kembali meluap. Ia mencengkeram pinggang Melati dengan kuat, menarik tubuh perempuan itu menempel sepenuhnya padanya seraya perlahan kembali masuk dan mengisi kekosongan di dalam diri kekasihnya. “Begitu… tepat begitu…” desisnya di antara gigi yang terkatup rapat karena kenikmatan. Gerakannya perlahan dan penuh perhitungan, menikmati setiap sensasi yang muncul saat ia memenuhi Melati sepenuhnya. Dahi Arthur bersandar pada dahi kekasihnya, napas hangat mereka bercampur di udara kamar mandi yang beruap. “Kamu begitu kencang memelukku,” puji Arthur pelan. “Sungguh sangat sempurna, dibuat pas hanya untukku.” Ia mulai bergerak berirama di dalam diri Melati, gerakannya stabil namun sangat mendalam dan penuh gairah. Air mandi terus mengalir membasahi tubuh mereka berdua, membuat segalanya terasa licin dan semakin panas. “Hanya kamulah yang ada di dalam pikiranku,” akui Arthur di antara ciuman-ciuman yang dilemparkannya. “Hanya kamulah segalanya yang aku inginkan selamanya.” “Ahh… Mmh… sayang… lebih cepat lagi…” pinta Melati lirih seraya melingkarkan lengannya semakin erat di leher kekasihnya.Bab 13 Setelah saling memeluk dan melupakan segala rasa sedih, marah, dan penyesalan di bawah langit sore itu, Arthur dan Melati pun berjalan pulang beriringan. Tidak ada lagi jarak di antara mereka. Arthur menggenggam tangan Melati begitu erat, seolah takut jika ia melepaskannya sedikit saja, wanita itu akan menghilang. Sepanjang jalan, Arthur terus menatap wajah Melati dengan pandangan yang penuh kasih sayang, namun dibalut rasa bersalah yang mendalam. Ia merasa sangat malu pada dirinya sendiri karena telah membuat kekasihnya menangis dan terluka hanya karena ketakutan-ketakutan konyol yang ia buat sendiri. Sesampainya di rumah, suasana masih terasa asing, namun kini hening yang penuh dengan perasaan yang lebih tenang. Arthur tidak langsung masuk ke dalam kamar. Ia menarik tangan Melati agar duduk bersamanya di ruang tengah. Wajahnya tampak serius, namun lembut. Ia menggenggam kedua tangan Melati di atas pangkuannya, lalu menatap lekat-lekat manik mata wan
Bab 12 Kepergian Arthur meninggalkan rasa hampa yang mendalam di hati Melati. Perempuan itu masih duduk terpaku di bangku kayu itu, menatap kosong ke arah jalan setapak tempat sosok kekasihnya menghilang tadi. Suasana taman yang tadinya terasa begitu indah dan penuh kebahagiaan, kini berubah menjadi dingin dan sepi. Angin yang bertiup pelan seolah turut membawa serta rasa sedih dan gelisah yang kini bergemuruh di dalam dada Melati. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa pertemuan tak terduga dengan Raka, teman lamanya, akan memicu reaksi yang begitu hebat dan menyakitkan dari Arthur. Ia mengerti betul sifat kekasihnya yang sangat posesif dan cemburuan, tapi kali ini rasanya berbeda. Rasa curiga dan ketidakpercayaan yang terpancar dari sorot mata Arthur tadi terasa begitu tajam, menusuk tepat ke ulu hatinya. Melati menghela napas panjang, lalu perlahan bangkit berdiri. Ia tahu ia tidak bisa hanya diam duduk di sana selamanya. Ia harus menyusul Arthur, harus menjelas
Bab 11 Hari-hari mereka berjalan begitu indah dan penuh kebahagiaan. Sejak hari itu, Arthur benar-benar menepati janjinya. Ia tidak lagi menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk berkutat dengan gim atau duduk diam di depan layar komputernya. Kini, hampir seluruh waktunya ia curahkan untuk Melati. Ke mana pun Melati pergi, Arthur selalu ada di sampingnya, setia mendampingi, menggandeng tangan, atau memeluk pinggang perempuan itu dengan sikap posesif yang khas namun penuh kasih sayang. Bagi Arthur, dunia rasanya terasa jauh lebih indah dan berwarna sekarang—karena di matanya, hanya ada Melati, dan Melati adalah segalanya baginya. Siang itu, matahari bersinar terang menyinari halaman taman kota yang luas dan asri. Pepohonan hijau yang rindang berdiri tegak di sepanjang jalan setapak, memberikan kesejukan bagi siapa saja yang berjalan di bawahnya. Melati dan Arthur duduk bersebelahan di sebuah bangku kayu yang terletak agak terpojok, di bawah naungan pohon
Bab 10 Suasana di dalam kamar perlahan berubah menjadi sangat tenang dan damai setelah ledakan emosi serta keintiman yang terjadi beberapa saat sebelumnya. Cahaya lampu kamar yang lembut dan hangat masih menyelimuti ruangan, menciptakan suasana yang seolah memeluk mereka berdua dengan perlahan. Tubuh mereka terasa sedikit lelah, namun di dalam hati masing-masing, terdapat rasa kebahagiaan yang begitu besar dan penuh dengan kepuasan yang tak terucapkan. Arthur masih memeluk pinggang orang yang dicintainya dengan erat, kepalanya bersandar lembut tepat di atas bahu orang itu. Dia menarik napas panjang dan dalam, seolah ingin menghirup setiap aroma wangi yang keluar dari tubuh orang di sebelahnya — aroma yang sudah lama dikenalnya dan menjadi bagian dari jiwanya. Di dalam dadanya, rasa syukur dan cinta yang tulus tumbuh semakin kuat, berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam dari sekadar perasaan biasa. Dia menyadari bahwa malam ini bukan hanya sekadar pertemuan fisik
Bab 9Hening yang sempat menyelimuti ruangan menjadi terasa sangat dalam saat Arthur masih berdiri terpaku di tempatnya. Tubuhnya terasa sedikit kaku, napasnya bahkan seolah tertahan di dada karena terkejut dan terpesona melihat penampilan orang yang ada di hadapannya. Seragam pelayan yang dikenakan oleh orang itu terlihat sangat pas, menyesuaikan dengan lekuk tubuhnya dengan sempurna, membuat setiap garis dan bentuk tubuhnya terlihat lebih indah dan memikat. Mata Arthur tidak bisa berkedip sedikit pun, seolah takut jika sekejap saja dia menutup mata, semua keindahan yang baru saja terbuka di depannya akan hilang seketika.“Kamu… benar-benar merencanakan ini sejak tadi?” tanya Arthur akhirnya dengan suara yang terdengar sangat serak dan lemah, hampir tidak terdengar. Tatapannya perlahan turun dari wajah orang itu, berkeliling perlahan menyusuri setiap detail seragam yang dikenakan, hingga akhirnya kembali menatap mata orang itu dengan tatapan yang penuh rasa ingin tahu dan keinginan.
Bab 8Mata Arthur berbinar penuh kegembiraan mendengar kata-kata orang di hadapannya. Senyum lebar langsung menyebar di seluruh wajahnya saat dia mengambil tas yang diulurkan, lalu menggantungkannya dengan santai di bahunya.“Bagus sekali!” serunya penuh kemenangan. “Akhirnya aku bisa memiliki kamu sepenuhnya untuk diriku sendiri.”Dia segera melingkarkan lengannya di pinggang orang itu dan menarik tubuh orang itu mendekat saat mereka berdua berjalan keluar dari mal. Bibirnya menekan pelan di bagian pelipis orang itu dengan penuh kasih sayang.“Aku akan membuat malam ini menjadi sangat berkesan dan tak terlupakan,” berjanjinya dengan suara yang terdengar serak. “Tunggu saja dan lihatlah nanti.”Tangannya meremas lembut bagian pinggul orang itu saat dia membawanya menuju tempat parkir. Rasa penasaran dan keinginan semakin tumbuh di dalam dirinya dengan setiap langkah yang mereka ambil.“Ya, aku akan menyerahkan diri padamu tanpa protes sedikit pun kali ini,” kata orang itu dengan nada







