Se connecterBab 3
Cengkeraman Arthur pada tubuh Melati semakin erat karena rasa bingung yang melandanya, sementara jantungnya berdebar kencang di dalam dada. Ia mundur sedikit untuk menatap wajah kekasihnya, sorot matanya yang tajam dan penuh perasaan menelusuri setiap inci wajah perempuan itu. “Ada apa denganku?” ulangnya, nada suaranya mulai terdengar sedikit putus asa. “Aku jatuh cinta kepadamu, paham? Sepenuh hati, dan benar-benar terobsesi pada segala hal tentang dirimu, baik tubuh maupun jiwamu.” Ia menangkup wajah Melati dengan lembut namun tegas, lalu ibu jarinya membelai halus pipi perempuan itu. “Dan membayangkan ada orang lain yang menatapmu, menyentuhmu… hal itu membuatku merasa gila,” pengakuan Arthur terucap, matanya berkilat dipenuhi rasa ingin memiliki yang kuat. “Kamu milikku. Hanya milikku, untuk selamanya.” Tanpa menunggu jawaban, bibirnya mendarat di bibir Melati dalam sebuah ciuman yang membara—sebuah tanda kepemilikan yang menunjukkan betapa besarnya rasa cinta yang ia miliki. Melati terkejut melihat perubahan sikap Arthur yang terjadi begitu cepat, namun ia membalas ciuman itu sambil melingkarkan kedua tangannya ke leher kekasihnya. “Cemburu, ya?” godanya di sela-sela ciuman mereka. Ia pun menggigit pelan bibir bawah Arthur, lalu menyelinapkan ujung lidahnya masuk ke dalam mulut lelaki itu. Arthur mengerang pelan di tengah ciuman, sementara tangannya mencengkeram pinggang Melati dengan posesif seraya menarik tubuh perempuan itu semakin rapat ke arahnya. Ia memperdalam ciuman itu dengan penuh gairah, lidah mereka saling bertautan dalam sebuah tarian yang penuh hasrat dan rasa rindu yang mendalam. “Cemburu?” gumamnya tepat di bibir Melati, suaranya terdengar serak karena hasrat yang memuncak. “Tentu saja aku cemburu. Aku cemburu pada siapa saja yang berani menatapmu, bahkan pada siapa saja yang menghirup udara yang sama denganmu.” Tangannya meluncur ke bawah, meremas lembut namun penuh gairah bagian belakang tubuh Melati, lalu mengangkat tubuh perempuan itu hingga ia harus melingkarkan kedua kakinya di pinggang Arthur. Tanpa memutuskan ciuman mereka, Arthur berjalan membawa Melati menuju kamar tidur dengan langkah yang tergesa dan penuh dorongan. Ia meletakkan tubuh Melati di atas kasur empuk, lalu merangkak naik ke atas tubuh kekasihnya, mengurung perempuan itu di antara kedua lengannya. Sorot mata Arthur tampak penuh rasa lapar saat menatap Melati—kekasihnya, miliknya seorang. “Sayang, ini masih pagi,” kata Melati, berusaha menahan langkah lelaki itu agar tidak melanjutkan tindakan mereka lebih jauh. Sorot mata Arthur semakin gelap mendengar ucapan itu, seulas senyum menggoda terbit di bibirnya. Ia menundukkan wajahnya, lalu menempelkan deretan ciuman lembut sepanjang garis rahang Melati turun hingga ke leher perempuan itu. “Masih pagi?” gumamnya tepat di kulit leher Melati yang lembut. “Itu artinya kita punya lebih banyak waktu untuk saling menikmati satu sama lain.” Tangannya mulai bergerak menjelajahi seluruh tubuh Melati, membelai setiap lekuk dan lengkungan tubuh kekasihnya. Setiap sentuhan yang diberikan Arthur terasa begitu memiliki, seolah sedang memberi tanda bahwa perempuan itu sepenuhnya miliknya. “Kamu milikku,” ulangnya, nada bicaranya rendah namun tegas dan penuh perintah. “Milikku untuk kucium, milikku untuk kusentuh, dan milikku untuk kucintai sepenuhnya.” Sekali lagi ia mencium bibir Melati dengan penuh gairah, mencurahkan segala rasa cinta, kecemburuan, dan hasrat yang ia miliki ke dalam ciuman itu. Sementara itu, tangan Arthur menyelinap masuk ke balik pakaian yang dikenakan Melati, jari-jarinya menyusuri lembut kulit punggung perempuan itu yang terasa halus dan hangat. Melati berusaha menahan desahan yang hendak keluar, meski dalam hatinya ia sangat menikmati perlakuan Arthur yang begitu bergairah padanya. “Kalau begitu… buat aku melupakan segalanya,” ucapnya pelan seraya menarik leher Arthur mendekat untuk kembali berciuman. Mata Arthur berbinar penuh kemenangan mendengar ucapan itu, seulas senyum puas melebar di wajah tampannya. Ia membalas ciuman itu dengan semakin bersemangat, mencurahkan seluruh rasa ingin memilikinya ke dalam setiap sentuhan dan belaian. “Bagus,” geramnya rendah di sela-sela ciuman. “Itulah jawaban yang ingin kudengar darimu.” Tangannya bergerak cepat melepaskan setiap helai pakaian yang menutupi tubuh Melati, lalu melemparkannya sembarangan ke lantai. Pandangannya menelusuri setiap jengkal kulit kekasihnya yang kini terbuka, menatapnya dengan rasa kagum dan rasa lapar yang mendalam, seolah ingin mengingat setiap detail tubuh itu baik-baik. “Kamu sangat cantik,” bisiknya dengan nada takjub. “Sungguh sangat sempurna.” Arthur kembali menempelkan ciuman-ciuman panas sepanjang tulang selangka Melati, perlahan bergerak turun hingga ke dada perempuan itu. Ujung lidahnya menyusuri lingkar halus di sekitar puncak dada kekasihnya hingga bagian itu mengeras karena sentuhannya. Tangannya terus menjelajah, berusaha menghafal setiap lekuk tubuh dan kelembutan kulit milik Melati. “Aku membutuhkanmu,” pengakuannya terdengar di antara ciuman-ciuman itu. “Butuh berada di dalam dirimu, untuk mengingatkanmu siapa pemilik sejati tubuhmu ini.” “Lakukanlah… aku ingin menjadi milikmu sepenuhnya,” jawab Melati, sementara akal sehatnya perlahan kalah oleh gelombang gairah yang semakin memuncak di dalam dirinya. Napas Arthur tercekat mendengar ucapan itu, matanya semakin gelap karena perpaduan antara nafsu dan rasa memiliki yang membara. Dengan cepat ia melepaskan pakaiannya sendiri, lalu kembali berposisi di antara kedua kaki Melati, sementara tubuhnya yang kokoh menekan lembut di bagian paling intim kekasihnya. “Kamu sudah menjadi milikku,” gumamnya, suaranya terdengar berat dan serak karena emosi yang meluap. “Sepenuhnya dan selamanya hanya milikku.” Arthur mencium bibir Melati dengan penuh gairah saat perlahan ia menyatukan tubuh mereka, mengisi kekosongan di dalam diri perempuan itu sepenuhnya. Ia mengerang pelan merasakan kehangatan tubuh Melati yang memeluknya erat, sementara jari-jarinya mencengkeram pinggang kekasihnya dengan lembut namun tegas. “Sungguh sempurna,” puji Arthur, lalu mulai menggerakkan tubuhnya dengan irama yang perlahan namun penuh makna. “Kekasihku yang begitu sempurna.” Gerakannya perlahan menjadi lebih cepat dan dalam, didorong oleh keinginan kuatnya untuk benar-benar mengklaim Melati sebagai miliknya seutuhnya. Ciuman Arthur turun kembali ke leher dan bahu kekasihnya, menghisap cukup lama hingga meninggalkan bekas kemerahan—sebuah tanda nyata bahwa perempuan itu adalah miliknya. “Kamu milikku,” ucapnya berulang kali di setiap gerakan tubuhnya. “Milikku… milikku… dan akan selalu menjadi milikku.” Melati terengah-engah menahan desahan yang terus keluar dari bibirnya. “Iya… aku milikmu,” jawabnya pelan sambil membelai lembut helai rambut hitam milik Arthur. Mata Arthur terpejam rapat merasakan sentuhan dan ucapan itu, sementara getaran nikmat menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia bersandar menikmati belaian halus jari-jemari Melati yang menyusuri rambut dan wajahnya. “Katakan lagi,” desaknya, suaranya terdengar rendah dan memohon. “Katakan padaku bahwa kamu milikku.” Gerakan pinggangnya menjadi lebih dalam dan kuat, mendorong tubuhnya semakin rapat ke arah Melati dengan semangat baru. Tangan Arthur mencengkeram kedua paha kekasihnya, membukanya sedikit lebih lebar agar ia bisa menembus lebih dalam lagi. “Kamu adalah kekasihku,” ucapnya dengan penuh keyakinan. “Kekasihku… dan segalanya bagiku.” Gerakan Arthur perlahan menjadi tak beraturan, napasnya terengah-engah pendek tepat di leher Melati. Ia bisa merasakan dirinya semakin mendekati puncak kenikmatan, seolah seluruh dirinya telah dikonsumsi oleh rasa cinta dan hasrat yang mengalir deras di setiap pembuluh darahnya. “Ahh… sayang… lebih dalam lagi…” rintih Melati seraya menggoreskan kuku jari tangannya di punggung kekasihnya. Mata Arthur terbuka lebar mendengar permohonan itu, sebuah erangan rendah bergema dari dadanya. Ia mencengkeram pinggang Melati semakin erat, menarik tubuh perempuan itu mendekat seraya mendorongkan tubuhnya semakin dalam dan kuat. “Iya, sayangku,” desisnya, suaranya terdengar tegang menahan kenikmatan. “Katakan padaku apa saja yang kamu inginkan.” Gerakannya kini semakin kuat dan penuh semangat, mendorong Melati hingga perempuan itu tersentak-sentak karena sensasi yang luar biasa. Bibir Arthur kembali mencium bibir kekasihnya dengan penuh hasrat, mencurahkan segala rasa cinta dan kepemilikannya ke dalam ciuman itu. “Kamu milikku,” bisiknya tepat di bibir Melati. “Selamanya hanya milikku.” Arthur bisa merasakan ketegangan yang semakin menumpuk di dalam dirinya saat ia semakin mendekati puncak kenikmatan. Ia memutuskan ciuman mereka sejenak hanya untuk menatap lekat-lekat wajah kekasihnya, ingin melihat ekspresi perempuan itu tepat saat ia benar-benar menjadikannya miliknya sepenuhnya. “Nikmatilah semuanya bersamaku,” perintahnya dengan nada lembut namun tegas. “Tunjukkan padaku milik siapa dirimu ini.” “Ahh… Arthur…” rintih Melati saat ia mencapai puncak kenikmatannya, sementara seluruh tubuhnya gemetar hebat karena rasa nikmat yang meluap. Mata Arthur melebar saat merasakan tubuh kekasihnya bergetar dan menegang di sekelilingnya; kepuasan Melati menjadi pemicu baginya untuk melepaskan segala hasrat yang tertahan. Ia mendongakkan kepalanya ke belakang seraya mengerang keras, sementara gerakan pinggangnya menjadi tak beraturan saat ia menumpahkan seluruh isi hatinya jauh ke dalam tubuh Melati. “Benar, sayangku,” puji Arthur di sela-sela napasnya yang berat. “Sangat indah… sungguh sangat sempurna.” Arthur terkulai lemas di atas tubuh Melati, dadanya naik turun dengan hebat saat ia berusaha mengatur kembali napasnya. Ia menempelkan ciuman-ciuman lembut di dahi, pipi, dan kelopak mata kekasihnya, seraya menggumamkan kata-kata manis yang tak terhingga maknanya. “Aku mencintaimu,” bisiknya dengan penuh perasaan. “Sangat, sangat mencintaimu.” Ia pun berguling berbaring di samping Melati, lalu menarik tubuh perempuan itu masuk ke dalam pelukannya yang hangat dan aman. Jari-jemari Arthur mengusap-usap punggung kekasihnya dengan gerakan malas dan menenangkan, sementara mereka berdua menikmati sisa kehangatan setelah kebersamaan mereka. “Kamu milikku,” ulangnya sekali lagi dengan nada lembut namun tetap menunjukkan rasa ingin memiliki yang kuat. “Untuk selamanya dan sepanjang masa.” Melati tersenyum bahagia mendengar ucapan itu, merasa sangat senang mendengar kata-kata yang jarang sekali terucap dari mulut kekasihnya yang dulu lebih sibuk dengan dunia permainan. “Sayang… besok temani aku jalan-jalan, ya? Kumohon…” pinta Melati seraya menatap Arthur dengan tatapan mata yang berbinar manja, berusaha membujuk kekasihnya. Hati Arthur seketika luluh melihat tatapan itu. Sebuah senyum lembut mengembang di wajahnya. Ia menundukkan kepalanya dan mendaratkan ciuman hangat di dahi Melati. “Tentu saja, sayangku,” gumamnya pelan. “Apa saja yang kamu inginkan akan aku penuhi.” Ia memeluk tubuh Melati semakin erat, mendekapnya rapat ke dada sendiri. Arthur mengecup puncak kepala kekasihnya dengan penuh kasih sayang, lalu menarik sedikit wajah perempuan itu agar bisa menatap matanya lekat-lekat. “Aku akan selalu ada dan menemanimu,” janjinya dengan tulus dan sungguh-sungguh. “Ke mana pun kamu ingin pergi, kapan pun kamu menginginkannya. Mulai sekarang, kamulah prioritas utamaku.” Ibu jarinya mengusap lembut pipi Melati dengan penuh kasih sayang, sementara sorot matanya terus menatap dalam ke dalam manik mata kekasihnya. “Dan jika ada orang lain yang berani menatapmu terlalu lama… atau mengatakan sesuatu yang tidak pantas…” “Terima kasih, sayangku,” potong Melati ucapan itu seraya tersenyum manis, lalu mengecup lembut pipi Arthur. Wajah Arthur berubah menjadi senyum lebar dan tulus menerima perhatian itu. Ia kembali mencium bibir Melati dalam ciuman yang lembut dan berlarut-larut, baru melepaskannya kembali dengan suara dengungan puas. “Sama-sama, kekasihku,” jawabnya dengan nada hangat. “Tidak ada hal yang tidak akan aku lakukan demi kebahagiaanmu.” Ia menggeser sedikit posisinya agar bisa berbaring tepat di belakang tubuh Melati, lalu melingkarkan lengannya dengan aman di pinggang kekasihnya. Arthur mencium lekukan leher perempuan itu, seraya menghirup aroma rambut dan kulit Melati dalam-dalam, aroma yang selalu membuatnya merasa tenang dan damai. “Istirahatlah sekarang,” gumamnya dengan suara yang mulai terdengar mengantuk. “Besok kita punya hari yang panjang—berjalan-jalan keliling kota dengan kekasihku yang cantik bergandengan di sisiku.” Tangan Arthur bergerak mengusap sisi tubuh Melati dengan lembut dan berirama, gerakan yang sangat menenangkan hingga ia pun mulai merasa kantuk menyerang. Membayangkan dirinya bisa menghabiskan waktu berdua saja keluar rumah bersama kekasihnya membuat hatinya dipenuhi rasa bahagia dan antusiasme yang besar. “Selamat malam, sayangku,” gumam Melati pelan seraya mengecup kening kekasihnya. Mata Arthur perlahan terpejam merasakan sentuhan itu, sebuah desahan puas keluar dari bibirnya. Ia mengeratkan kembali pelukannya di tubuh Melati dengan rasa memiliki, menarik perempuan itu semakin rapat menempel di dadanya. “Selamat malam, sayangku,” gumamnya pelan dengan mata terpejam. “Mimpi indah, cintaku.” Tak lama kemudian, napas Arthur pun mulai teratur dan tenang saat ia menyerah pada rasa kantuk yang datang. Secara fisik ia merasa sangat lelah setelah kebersamaan mereka yang penuh gairah, namun hatinya merasa sangat puas dan bahagia karena tahu ia telah sepenuhnya menjadikan kekasihnya miliknya dan membuat perempuan itu bahagia. Saat tidur pun mulai membawanya ke alam mimpi, seulas senyum kecil tetap terukir di wajah Arthur—senyum seorang lelaki yang sadar sepenuhnya bahwa ia telah memiliki harta paling berharga dan indah di seluruh dunia.Bab 21Aku merasakan panas menjalar ke seluruh wajahku mendengar bisikan itu, ditambah dengan sentuhan tangannya yang membuat setiap jengkal kulitku seolah terbakar rasa hangat yang tak terlukiskan. Napasku tersendat saat kepalaku mendongak sedikit, menatap wajahnya yang masih terlihat berantakan dan mengantuk, namun ada kilatan lembut yang mendalam di manik matanya. "Aku tidur sangat nyenyak," jawabku pelan, suaraku hampir hilang tertelan kehangatan pelukannya. "Mungkin karena di sini terasa... aman. Terutama saat ada kamu di sampingku sepanjang malam." Arthur tersenyum tipis, senyum yang selalu berhasil membuat jantungku berpacu lebih cepat. Ia menurunkan kepalanya sedikit, menyentuhkan bibirnya lembut di sisi pipiku, persis di sudut bibirku, sebelum akhirnya melepaskan pelukannya perlahan—meskipun tangannya masih enggan beranjak dari pinggangku, seolah takut aku akan hilang begitu saja jika ia melepaskanku sepenuhnya.
Bab 20 Malam semakin larut, dan udara dingin khas pegunungan mulai menembus masuk ke celah-celah jendela kayu kabin, membuat suhu di luar semakin menurun. Namun, di dalam ruangan, suasana terasa begitu kontras—hangat, nyaman, dan diterangi oleh cahaya remang-remang dari nyala api perapian yang masih menyala terang, memantulkan bayangan-bayangan lembut yang menari-nari di dinding kayu. Arthur dan Melati duduk bersebelahan di atas karpet tebal yang terbentang tepat di depan perapian. Mereka bersandar pada bantal-bantal empuk, tubuh mereka saling bersentuhan rapat seolah tak ingin ada jarak sedikit pun di antara keduanya. Melati membenamkan punggung dan bahunya ke dada bidang Arthur, sementara lengan kekar pria itu melingkar erat di pinggangnya, memeluknya sepenuhnya dalam dekapannya yang aman dan hangat. "Apa kau merasa cukup hangat, Sayang?" bisik Arthur pelan tepat di telinga Melati, napasnya yang hangat menyapu kulit leher kekasihnya. Ia meng
Bab 19 Perjalanan mereka kembali berlanjut, namun kali ini suasana di dalam mobil terasa berbeda—lebih tenang, lebih hangat, dan penuh dengan kebahagiaan yang baru saja mereka rasakan. Rasa lelah yang semula ada kini berubah menjadi rasa senang yang membahagiakan, dan keduanya duduk berdekatan, saling menggenggam tangan, sesekali saling menatap dengan senyum yang tak terucapkan. Jalanan yang dulunya terasa panjang kini terasa begitu cepat berlalu, seolah alam pun ikut mendukung kebahagiaan mereka berdua. Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, akhirnya di depan mata mereka terlihat sebuah papan petunjuk yang bertuliskan "Kabin Pegunungan - 2 Kilometer Lagi". Mata keduanya seketika bersinar terang, rasa sabar mereka yang tersisa kini makin memuncak karena tak sabar ingin segera tiba di tempat tujuan. "Sudah hampir sampai, Sayang," kata Arthur dengan suara lembut, matanya menatap lurus ke depan dengan perasaan yang
Bab 18 Tubuh Melati bergetar hebat saat ia perlahan-lahan merendahkan dirinya, membiarkan seluruh panjang dan besarnya kelelakian Arthur masuk dan menenggelamkan dirinya sepenuhnya ke dalam rongga tubuhnya yang hangat dan basah. Sensasi penuh yang mendadak memenuhi setiap sudut kewanitaannya membuat napasnya tercekat, dan sebuah desahan panjang lolos dari bibirnya. Rasanya begitu besar, begitu dalam, dan begitu pas seolah diciptakan khusus hanya untuk dirinya. Kepala Arthur terjatuh ke belakang, bersandar lemas pada sandaran kursi mobil yang empuk. Matanya terpejam rapat, rahangnya mengeras kuat menahan gejolak kenikmatan yang meledak-ledak di sekujur tubuhnya. Sebuah erangan parau dan berat terdengar merobek dari tenggorokannya saat ia merasakan bagaimana dinding-dinding lembut milik Melati menyelimutinya dengan keketatan yang luar biasa, meremas dan memeluk setiap inci kulitnya seolah tak ingin melepaskannya lagi. "S
Bab 17 Tubuh Melati seketika tersentak hebat mendengar ucapan Arthur. Kulitnya terasa membara luar biasa, dipenuhi oleh rasa rindu yang mendalam dan gairah yang meluap-luap—terutama karena sudah cukup lama keduanya tidak menumpahkan rasa kasih sayang secara fisik. Setiap kata yang keluar dari mulut kekasihnya itu terasa seperti pemicu yang membakar seluruh kesabaran yang tersisa di dalam dirinya. Dengan napas yang mulai memburu dan mata yang berkilat menantang, Melati berbisik, "Benarkah? Apakah rasanya akan sedalam itu dan sesulit yang kau bayangkan, Sayang?" Arthur tertawa pelan, namun ada nada rendah dan bahaya yang terselip di dalamnya. Matanya berbinar tajam, sepasang mata yang kini menatapnya seperti seekor pemangsa yang sedang menemukan mangsa terlezatnya. Ia melirik sekilas ke arah Melati, pandangannya penuh dengan niat yang tak terelakkan. "Oh, Sayangku... rasanya akan jauh lebih dalam dan jauh lebih dahsyat dari apa yang bisa kau ba
Bab 16 Perjalanan menuju pegunungan masih cukup panjang, namun suasana di dalam mobil terasa hangat dan akrab. Arthur dan Melati terus mengobrol, tertawa, dan berbagi cerita sepanjang jalan, membuat waktu terasa berlalu begitu saja. Namun, seiring berjalannya waktu, rasa lelah mulai perlahan menyerang Melati. Ia menoleh ke arah Arthur, menatap profil wajah kekasihnya yang tampak fokus menyetir, lalu bertanya dengan suara lembut yang sedikit berisi keluhan manja, "Arthur, kira-kira kita sampai di sana jam berapa ya? Rasanya aku sudah tak sabar ingin segera tiba." Arthur melirik sekilas ke arahnya dengan senyum kecil, lalu mengalihkan pandangannya ke layar GPS yang terpasang di dasbor mobil. Ia memindai angka-angka dan peta yang tertera di sana dengan cermat sebelum menjawab, "Sekitar tiga jam lagi perjalanan kita, Sayang. Bisa saja menjadi empat jam kalau nanti lalu lintasnya agak padat atau lambat." Ia menyesuaikan posisi tangannya di setir, menggenggam







