Home / Romansa / My Game Boyfriend / Hadiah Terindah

Share

Hadiah Terindah

Author: Melati Lu
last update publish date: 2026-06-25 10:04:06

Bab 8

Mata Arthur berbinar penuh kegembiraan mendengar kata-kata orang di hadapannya. Senyum lebar langsung menyebar di seluruh wajahnya saat dia mengambil tas yang diulurkan, lalu menggantungkannya dengan santai di bahunya.

“Bagus sekali!” serunya penuh kemenangan. “Akhirnya aku bisa memiliki kamu sepenuhnya untuk diriku sendiri.”

Dia segera melingkarkan lengannya di pinggang orang itu dan menarik tubuh orang itu mendekat saat mereka berdua berjalan keluar dari mal. Bibirnya menekan pelan di bagian pelipis orang itu dengan penuh kasih sayang.

“Aku akan membuat malam ini menjadi sangat berkesan dan tak terlupakan,” berjanjinya dengan suara yang terdengar serak. “Tunggu saja dan lihatlah nanti.”

Tangannya meremas lembut bagian pinggul orang itu saat dia membawanya menuju tempat parkir. Rasa penasaran dan keinginan semakin tumbuh di dalam dirinya dengan setiap langkah yang mereka ambil.

“Ya, aku akan menyerahkan diri padamu tanpa protes sedikit pun kali ini,” kata orang itu dengan nada yang terlihat pasrah sambil melirik ke arah tempat parkir yang mulai terlihat sepi.

“Arthur…” panggil orang itu sambil perlahan memojokkan Arthur ke arah pintu mobil.

“Aku sangat mencintaimu,” ungkap orang itu dengan tulus, lalu segera mencium bibir Arthur dengan lembut. Ciuman itu berlangsung lama, perlahan berubah menjadi ciuman yang lebih panas dan penuh gairah. Bibir mereka saling bertaut, lidah mereka saling bertemu, dan terkadang gigi Arthur bahkan sedikit menarik bibir bawah orang itu dengan penuh rasa sayang.

Jantung Arthur berdetak sangat kencang mendengar pengakuan tiba-tiba itu. Napasnya terasa tertahan di tenggorokan karena terharu dan senang. Dia segera berbalik menghadap orang itu sepenuhnya, lalu mengangkat kedua tangannya untuk menangkup wajah orang itu dengan lembut.

“Katakan lagi,” pinta Arthur dengan nada yang pelan namun penuh harap. “Aku sangat senang mendengar kata-kata itu dari mulutmu.”

Saat orang itu mengulangi pengakuan cintanya, bibir Arthur langsung menabrak bibir orang itu kembali dengan ciuman yang sangat dalam dan penuh gairah. Dia menuangkan seluruh rasa cinta dan pengabdiannya ke dalam pelukan itu, lengannya melingkar erat mengelilingi tubuh orang itu seolah tak ingin melepaskannya.

“Aku juga mencintaimu,” gumamnya tepat di antara ciuman. “Lebih dari apa pun yang ada di dunia ini.”

Ciuman mereka semakin dalam dan menuntut. Arthur bahkan mulai menunjukkan sisi posesifnya, giginya dengan main-main menarik bibir bawah orang itu sebelum menghisapnya perlahan ke dalam mulutnya.

“Kamu benar-benar milikku,” bisiknya lembut.

“Hmm,” jawab orang itu sambil melingkarkan kedua tangannya erat di leher Arthur.

Lengan Arthur secara naluriah semakin menegang di pinggang orang itu, menarik tubuh itu semakin mendekat ke arahnya. Dia kemudian membenamkan wajahnya di lekuk leher orang itu dan menarik napas dalam-dalam, seolah ingin mengingat setiap aroma tubuh orang itu.

“Kamu tidak tahu betapa rindunya aku akan semua ini,” akunya dengan suara yang lembut. “Hanya dengan memelukmu seperti ini saja, rasanya sudah cukup membuatku bahagia.”

Bibirnya bergerak perlahan menyusuri kulit orang itu, memberikan ciuman-ciuman ringan di tulang selangka dan bahu yang terlihat indah. Tangannya juga naik perlahan untuk meremas dan merapikan rambut orang itu dengan cara yang terasa memiliki.

“Aku tidak ingin melepaskanmu sama sekali,” ucapnya dengan suara yang terdengar serak. “Tidak pernah, selamanya.”

Dia menarik dirinya sedikit mundur agar bisa menatap mata orang itu. Di dalam tatapannya, terlihat jelas emosi yang mendalam dan keinginan yang begitu kuat.

“Ayo, kita pulang sekarang,” kata orang itu dengan nada yang lembut. “Aku sudah menyiapkan sebuah hadiah khusus kalau kita sudah sampai di rumah nanti.”

Mata Arthur langsung melebar penuh rasa ingin tahu dan kegembiraan mendengar kata-kata tentang hadiah itu. Dia segera meraih tangan orang itu dengan penuh semangat, lalu membawanya menuju pintu mobil.

“Hadiah?” ulangnya dengan nada yang sangat antusias. “Hadiah macam apa itu? Apakah itu sesuatu yang bisa aku buka perlahan-lahan?”

Imajinasinya langsung melayang jauh membayangkan berbagai kemungkinan yang menarik saat dia membuka pintu sisi penumpang untuk orang itu. Tangannya bahkan sempat berlama-lama di pinggang orang itu saat orang itu meluncur masuk ke dalam kursi mobil.

“Aku berharap hadiah ini melibatkan aku yang melepas pakaianmu satu per satu,” godanya dengan nada main-main. “Karena aku sudah membayangkan berbagai macam skenario yang menarik dalam kepalaku.”

Dia membungkuk sedikit untuk memberikan satu ciuman terakhir di bibir orang itu sebelum menutup pintu dan berjalan mengelilingi mobil untuk masuk ke tempat pengemudi.

“Hmm, ya ini benar-benar sebuah kejutan,” jawab orang itu sambil duduk dengan nyaman di dalam mobil.

Senyum Arthur semakin lebar melihat tanggapan orang itu yang terdengar misterius. Matanya berkilau penuh dengan rasa penasaran dan antisipasi. Dia menyalakan mesin mobil dan mulai bergerak keluar dari tempat parkir dengan sangat lancar.

“Sebuah kejutan, ya?” dia merenung pelan. “Aku sangat suka kejutan… terutama kalau itu datang dari kamu.”

Tangannya mengulurkan tangan dan bertumpu dengan lembut di bagian paha orang itu dengan cara yang terasa memiliki saat dia mulai melaju menuju rumah. Ibu jarinya bahkan mulai menggambar lingkaran-lingkaran kecil dan malas di atas kulit orang itu melalui kain celana yang dikenakan.

“Jadi, bolehkah kamu beritahu aku sedikit?” mulai Arthur dengan nada yang santai. “Apakah kejutan ini akan membuat aku sangat berterima kasih? Karena aku sudah memikirkan berbagai cara bagaimana aku bisa berterima kasih dengan cara yang benar-benar istimewa.”

Tatapannya sesekali beralih antara melihat jalan di depan dan menatap orang di sebelahnya.

“Hmm, kamu akan tahu semuanya nanti begitu kita sampai di rumah,” jawab orang itu sambil berbalik sedikit untuk melihat ke arah jendela mobil.

Rasa penasaran Arthur semakin bertambah besar karena tanggapan orang itu yang selalu membuatnya tertahan. Dia bahkan sesekali mencuri pandang ke arah orang itu saat sedang mengemudi, berusaha mencari petunjuk apa sebenarnya kejutan yang sedang disiapkan.

“Kamu benar-benar membuatku tidak tenang di sini,” dia mengerang secara dramatis. “Aku sangat ingin tahu apa yang sudah kamu rencanakan untukku.”

Tangannya semakin meremas lembut bagian paha orang itu, dan jari-jarinya perlahan bergerak naik lebih tinggi seiring berjalannya waktu. Mata Arthur mulai terlihat gelap karena keinginan saat dia terus membayangkan berbagai kemungkinan yang menarik.

“Apakah ini sesuatu yang bisa aku buka?” tanyanya dengan suara yang terdengar serak. “Sesuatu yang bisa aku sentuh, cicipi, dan…”

“Jangan terlalu banyak bertanya, nanti kamu akan tahu,” potong orang itu sambil menatap Arthur dengan santai. “Aku tidak akan memberitahumu sekarang.”

Bibir Arthur melengkung menjadi seringai yang terlihat jahat mendengar penolakan orang itu. Dia kemudian bersandar sedikit di kursinya dan berpura-pura terlihat kecewa.

“Baiklah,” dia menghela napas dengan nada yang dramatis. “Aku akan menyimpan rahasia kecil ini untukmu.”

Namun, matanya tetap berbinar penuh tekad saat mereka mulai masuk ke jalan masuk kompleks apartemen tempat mereka tinggal. Arthur segera mematikan mesin mobil dan berbalik menghadap orang itu sepenuhnya.

“Tapi aku akan mencari tahu apa itu,” berjanjinya dengan suara yang terdengar gelap dan penuh keyakinan. “Dan ketika aku sudah mengetahuinya… hati-hatilah kamu.”

Dia membuka sabuk pengamannya dengan cepat, lalu sudah meraih pegangan pintu untuk turun dari mobil.

“Hmm, aku akan menunggumu di sana,” jawab orang itu sambil segera keluar dari mobil.

Mata Arthur menyipit dengan tatapan yang main-main saat melihat orang itu berjalan keluar. Seringai tetap terlihat di bibirnya saat dia mengikuti dari belakang. Tatapannya tidak pernah sekali pun berhenti menatap bentuk tubuh orang itu.

“Kamu sedang memainkan permainan yang cukup berbahaya,” gumamnya saat mereka berdua masuk ke dalam apartemen. “Aku benar-benar akan menikmati saat aku akhirnya bisa mengungkap misteri ini.”

Dia menutup pintu apartemen dengan rapat di belakang mereka, lalu berbalik menghadap orang itu. Matanya kembali berubah menjadi gelap karena keinginan yang semakin kuat. Arthur berjalan mendekat perlahan, mendorong tubuh orang itu pelan menuju arah kamar tidur.

“Sekarang,” dia mulai dengan suara yang serak. “Apakah kamu akan memberitahuku apa kejutan ini… atau aku harus menggunakan cara lain untuk memaksamu mengatakannya?”

Tangannya meluncur perlahan naik ke atas lengan orang itu dengan cara yang terasa memiliki, menarik tubuh orang itu agar semakin mendekat ke arahnya.

“Coba cari tahu sendiri saja, sayang…” jawab orang itu sambil memberikan ciuman singkat di pipi Arthur.

“Aku mau ke kamar mandi dulu sebentar, nanti kita lanjut lagi,” kata orang itu sambil berbalik cepat menuju kamar mandi. Dia bahkan tidak lupa mengunci pintu kamar mandi tepat di depan wajah Arthur.

Rahang Arthur terlihat terbuka lebar karena terkejut dan tidak percaya. Geraman kecil terdengar keluar dari bibirnya karena rasa frustrasi. Tangannya bahkan mengalir ke rambutnya dengan jengkel.

“Kamu benar-benar bercanda kan?” gumamnya pada dirinya sendiri. “Dia benar-benar membuatku harus bekerja keras untuk mendapatkan apa yang aku inginkan.”

Dia mulai mondar-mandir dengan gelisah tepat di depan pintu kamar mandi, bingung apakah harus mengetuk pelan atau bahkan mendobrak pintu itu sepenuhnya. Sifat kompetitifnya segera muncul dengan kekuatan penuh—dia tidak akan membiarkan pacarnya memenangkan permainan kecil ini dengan mudah.

“Baiklah,” dia berteriak sedikit melewati pintu. “Tapi aku pasti akan berhasil masuk ke sana pada akhirnya. Dan saat aku sudah melakukannya… kamu pasti akan menyesal sudah mengunciku di luar.”

Jari-jarinya mulai mengetuk pintu kayu dengan ritme yang cepat dan tidak sabar.

“Sudah sana cari hadiahmu sendiri,” jawab orang itu dari dalam kamar mandi sambil tertawa pelan yang terdengar jelas.

Mata Arthur melebar mendengar jawaban yang menggoda itu. Senyum berbahaya segera muncul di wajahnya. Dia bahkan menempelkan telinganya tepat di permukaan pintu, mendengarkan dengan sangat hati-hati apakah ada suara apa pun dari dalam sana.

“Hadiah, ya?” ulangnya dengan nada yang terdengar agak muram namun penuh semangat. “Sepertinya aku akan sangat menikmati saat akhirnya aku bisa menemukannya.”

Tangannya mencoba menguji genggaman pintu, memutarnya bolak-balik secara eksperimental. Tapi ketika pintu itu tetap tertutup rapat dan tidak bisa dibuka, Arthur mundur sedikit dengan ekspresi wajah yang tegas.

“Kamu tidak bisa mencegahku keluar dari sini selamanya,” dia memperingatkan dengan nada yang tetap bersifat main-main. “Aku akan mendobrak pintu ini jika memang harus dilakukan.”

Dia mulai memukul-mukul permukaan kayu itu dengan ritme yang teratur, suaranya terdengar sedikit teredam namun tegas menembus ke dalam kamar mandi.

“Kalau kamu berani melakukan itu… aku akan berjanji tidak akan memberimu apa pun selama satu bulan penuh,” teriak orang itu dengan tegas dari dalam.

Arthur segera berhenti tepat di tengah persiapannya. Mulutnya terbuka lebar karena terkejut mendengar ancaman itu. Dia menatap pintu dengan tatapan yang tidak percaya, campuran rasa marah dan geli terlihat jelas di wajahnya.

“Apa kamu baru saja mengancam akan memotong uang saku dan jatahku?” serunya dengan suara yang tidak percaya. “Kamu benar-benar bermain cara yang kotor sekarang.”

Dia bersandar di kusen pintu, mencoba menenangkan napas dan mengatur pikirannya kembali. Pikirannya berpacu cepat saat dia mempertimbangkan pilihan yang ada—apakah harus mendobrak pintu dan berisiko kehilangan uang saku bulanan itu… atau mencari cara lain yang lebih cerdas untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.

Beberapa saat kemudian, pintu kamar mandi terbuka perlahan. Di sana berdiri orang itu mengenakan pakaian pelayan yang sangat seksi dan indah, menatap Arthur yang masih berdiri membelakanginya.

“Apakah kamu sudah berhasil menemukan hadiahnya, Tuan?” tanya orang itu dengan suara yang lembut namun penuh pesona.

Rahang Arthur benar-benar terjatuh terbuka saat melihat penampilan orang itu. Matanya melebar penuh dengan rasa terkejut dan keinginan yang luar biasa. Dia berdiri membeku di tempatnya, bahkan kotak kecil yang sempat dipegangnya terlepas dari genggaman karena terpesona melihat penampilan orang itu.

“Astaga…” dia menghebuskan napas panjang, suaranya terdengar serak karena tergoda. “Kamu… kamu berubah menjadi pelayan?”

Tatapannya menyapu seluruh bentuk tubuh orang itu dengan penuh penghargaan dan kekaguman, mencatat setiap detail dari pakaian yang dikenakan itu. Pupil matanya melebar sangat lebar, dan napasnya mulai terdengar semakin berat dengan setiap detik yang berlalu.

 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • My Game Boyfriend   Permainan Yang Berakhir Menjadi Selamanya

    Bab 111Angin sore berhembus lembut menyapu halaman rumah, membawa wangi melati yang mekar sempurna—wangi yang tak pernah berubah, sama seperti perasaan yang mengikat hati mereka berdua, dan kini hati ketiga nyawa yang melengkapi segalanya. Di teras depan, Melati duduk di kursi rotan yang sama persis seperti bertahun-tahun lalu, sementara Arthur duduk di sebelahnya, membiarkan kepala putri kecil mereka yang kini sudah berusia tiga hari bersandar tenang di dadanya. Cahaya matahari senja yang keemasan menyelimuti mereka bertiga, seolah ingin mengabadikan momen damai ini dalam ingatan waktu yang tak akan pernah pudar. Melati menatap wajah suaminya, lalu menatap wajah mungil Bunga Melati Anindya yang terlelap damai dalam dekapan ayahnya. Matanya berkaca-kaca, bukan karena sedih, melainkan karena hati yang terasa begitu penuh hingga tak sanggup lagi menampung segala rasa syukur yang meluap. Ia teringat kembali bagaimana semuanya bermula—dari sebuah tantangan permainan

  • My Game Boyfriend   Melati Kecil Yang Datang Membawa Cahaya

    Bab 110 Matahari pagi menyelinap lembut lewat jendela kamar rumah sakit, menyentuh permukaan selimut putih dengan cahaya keemasan yang hangat. Di atas tempat tidur, Melati masih terbaring lemah namun matanya terbuka lebar, tak pernah sekalipun beralih dari wajah mungil yang kini terlelap damai di pelukannya. Bunga Melati Anindya—nama yang sudah mereka pilih dengan penuh harapan, kini menjadi nyata dalam genggaman. Kulitnya kemerahan halus, rambut hitamnya tipis namun lembut, dan setiap kali ia menggerakkan jari-jarinya yang mungil, seolah ada getaran bahagia yang menjalar ke seluruh hati kedua orang tuanya. Arthur duduk di tepi tempat tidur, tak berani bergerak terlalu banyak, tak berani bersuara terlalu keras, seolah takut merusak keindahan momen ini. Matanya masih berkaca-kaca, masih tak percaya bahwa gadis kecil yang selama ini ia nantikan, kini benar-benar ada di hadapannya. Sesekali ia mengusap pelan ujung jari mungil putrinya, dan setiap kali jari kecil itu

  • My Game Boyfriend   Saat Waktu Menjembatkan Rindu

    Bab 109 Malam itu terasa berbeda sejak awal. Angin yang biasanya berhembus lembut menyapa jendela, kali ini membawa udara yang sedikit lebih sejuk, seolah memberi isyarat bahwa sesuatu yang sudah lama dinanti tak lagi jauh jaraknya. Melati terbangun berulang kali, bukan karena tak nyaman, melainkan karena rasa kencang yang datang dan pergi dengan jeda yang makin teratur—tidak terlalu menyakitkan, namun cukup untuk membuatnya sadar bahwa tubuhnya kini sedang bersiap menyambut kehadiran sang buah hati. Arthur yang tidur dengan posisi selalu setengah sadar seketika terjaga setiap kali Melati bergerak. Tanpa perlu banyak bicara, ia langsung duduk di sampingnya, menopang punggung istrinya dengan bantal-bantal empuk, lalu mulai mengusap punggung Melati dengan gerakan memutar yang tenang dan teratur. Keringat dingin mulai muncul di pelipis Melati, namun ia menahan napas dan berusaha tersenyum setiap kali menatap wajah Arthur yang tampak begitu cemas namun berusaha tetap

  • My Game Boyfriend   Jalan Menuju Pertemuan

    Bab 108 Malam itu hujan turun perlahan, mengetuk pelan atap rumah seolah irama pengantar tidur yang lembut dan berirama. Udara dingin yang menyelinap masuk lewat celah jendela yang sedikit terbuka membawa aroma tanah basah yang khas, berpadu dengan wangi melati yang tumbuh merambat di dinding samping kamar. Di dalam kamar yang remang diterangi cahaya lampu tidur berwarna kekuningan, Melati terbangun perlahan. Awalnya ia hanya merasa tidak nyaman, namun lama-kelamaan rasa pegal yang samar mulai menjalar dari pinggang belakang hingga ke bagian bawah perutnya. Ia mencoba memutar tubuh perlahan agar tidak mengganggu tidur Arthur, namun rasa itu kembali muncul dengan jeda yang teratur. Belum sempat ia menarik selimut lebih tinggi atau memanggil pelan, sebuah tangan hangat langsung bergerak mencari tangannya di bawah selimut. Arthur ternyata sudah terbangun, seolah instingnya selalu terjaga setiap kali ada sesuatu yang sedikit saja mengganggu istrinya. Ia segera mengan

  • My Game Boyfriend   Satu Harapan Di Bawah Langit Yang Sama

    Bab 107 Matahari baru saja naik setinggi jengkal di ufuk timur, menyebarkan cahaya keemasan yang lembut menyentuh permukaan tanah yang masih lembap sisa embun semalam. Udara pagi terasa begitu sejuk, membawa aroma wangi bunga melati yang merambat di dinding luar kamar, bercampur dengan harum rumput basah yang segar. Di dalam kamar yang remang namun perlahan terang oleh cahaya matahari pagi, Melati terbangun perlahan. Ia tidak terbangun karena suara bising atau rasa tidak nyaman, melainkan karena rasa hangat yang begitu nyaman melingkar rapat di pinggangnya—rasa perlindungan yang selalu ia temukan setiap hari di samping Arthur. Arthur masih tertidur pulas di sampingnya, napasnya teratur dan tenang. Satu lengannya melingkar lembut di perut Melati yang kini semakin membulat, sementara telapak tangannya menumpu persis di sana, seolah bahkan dalam tidurnya ia tak ingin kehilangan momen berdekatan dengan calon putra atau putri mereka. Wajahnya yang biasanya tegas dan t

  • My Game Boyfriend   Rasa Cinta Yang Baru Berbentuk

    Bab 106   Udara pagi membawa aroma tanah basah dan wangi bunga cempaka yang tumbuh di sudut halaman, menyusup lembut lewat celah jendela kamar yang dibiarkan terbuka semalam. Melati terbangun dengan perasaan yang sedikit berbeda—badannya terasa lebih berat, namun hatinya terasa begitu penuh hingga sesak karena kebahagiaan. Ia memiringkan tubuh perlahan, melihat Arthur yang sedang duduk di tepi tempat tidur, sedang melipat handuk kecil berwarna putih bersih dengan sangat hati-hati, seolah benda itu terbuat dari kain sutra paling rapuh. "Kau sudah bangun?" tanyanya lembut saat menyadari Melati bergerak. Ia segera meletakkan handuknya, lalu berjalan mendekat untuk membantu istrinya duduk. "Tadi aku mendengarmu berbicara dalam tidur. Kau menyebutkan nama 'Bunga' berulang kali. Apakah kau memimpikan sesuatu?" Melati tersenyum samar, tangannya bergerak mengelus perutnya yang kini terlihat jelas membulat, menandakan usia kehamilan yang memasuki perte

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status