Mag-log inJames berdiri di atas panggung marmer yang menyilaukan itu. Dia mengenakan setelan kemeja serba putih. Tampan seperti biasanya. Hanya saja bibirnya lebih sering tersenyum hari ini. Dia menunggu dengan tidak sabar ke arah pintu masuk yang masih tertutup.
Matanya sempat melirik ke kursi bagian depan. Keluarga inti Felicia ada di sebelah kanannya kecuali Hendri. Bahkan, kakak kedua Felicia juga hadir. Badan berotot Sang tentara untuk Amerika itu cukup menonjol. Dan, di sebelah kirinya ada Veronica dan Salsa. Sesekali mereka menoleh ke belakang. Tampaknya sama gelisahnya dengan James yang menanti kedatangan sang pengantin. Bibir James kembali tersenyum. ‘Aku tak tahan lagi ingin melihat kecantikan Felicia. Kalian lihat saja, istri pilhanku adalah yang paling sempurna.’ Saat pintu terbuka, cahaya terang menyilaukan mata mereka. Siluet dua orang mulai terlihat. Sudah dipastikan itu adalah Hendri dan Felicia. Namun, ketika sosok itu mulai terlihat jelas, senyuman James menghilang. Tak ada gaun bak princess dengan bagian atas terbuka itu. Tak ada kilau kristal yang memantulkan kecantikan Felicia itu. Yang ada gaun putih menutupi seluruh tubuhnya. Dengan bagian atas pas melekat di tubuh Felicia, aksen renda di bagian depannya, dan belahan di bagian bawah hingga ke pahanya. “Cantik banget Fe, James,” komentar Brian yang tak lain sahabatnya sekaligus bridesmaid-nya. Jemarinya yang dihiasi tato nampak memegangi kotak cincin. James langsung tersenyum, meskipun terpaksa. “Dia memang cantik.” James maju selangkah, menyodorkan tangannya sambil menatap Felicia. Ketika wanita muda itu menerima tangannya, James mengangguk hormat pada Hendri, yang matanya berkaca-kaca. “Kamu mengganti dress pengantinnya? Bukankah kita sudah sepakat kalau dress penuh kristal itu yang menjadi gaunnya?” bisik James saat mereka akan menghadap pendeta. “Aku hanya ingin yang sederhana, Sayang. Lebih manis,” jawab Felicia dari balik veil tule putih yang menutup wajah hingga bagian pinggangnya. James tidak berkata apa-apa lagi. Acara berlangsung sempurna. Doa dipanjatkan, janji pernikahan pun diucapkan, cincin disematkan, dan ciuman yang membuat seluruh undangan bertepuk tangan meriah juga haru. Semuanya terlihat bahagia. Ketika tamu-tamu undangan perlahan mulai meninggalkan acara, malam kian larut. Gurat lelah mulai tampak di wajah Hendri. “Kalian silakan istirahat malam ini, besok kalian harus ke Milan,” ujar Desy sambil memegangi pipi Felicia, lalu menatap James. “Aku nggak yakin kalau James akan membiarkan Fe istirahat malam ini,” celetuk Morgan, kakak kedua Felicia yang memilih menjadi tentara di Amerika. Fe memukul pelan sambil tersenyum malu-malu mendengar guyonan kakak keduanya itu. Morgan memegangi bahu kanan James. “Kau harus menjaga Fe baik-baik. Kalau air matanya menetes walaupun hanya satu tetes, aku tidak akan memaafkannya.” James mengangguk mantap. “Aku berjanji akan menjaga Fe sebaik mungkin,” ujarnya sambil menatap Felicia, yang tengah tersenyum padanya. Kemudian, Felicia dan James berpelukan dengan keluarga mereka, sebagai tanda perpisahan malam ini sekaligus tanda bahwa Felicia dan James akan meninggalkan keluarga dan benar-benar sudah menikah. “Ayo, pergi,” ajak Andrew karena Morgan masih menoleh ke belakang ketika mereka mau masuk lift. “James lelaki paling tepat untuk Felicia.” “Entahlah. Perasaanku nggak enak.” Andrew pun merangkul adiknya itu. “Ayo, party dulu kita. Hilangkan perasaan tanpa alasan jelas itu. Ayo.” Morgan pun menurut dan masuk ke dalam lift. 🌱🌱 Pengantin baru itu malam ini menghabiskan malam di hotel. Makanya, mereka tinggal menaiki lift sementara keluarga mereka hanya menatap sambil melambaikan tangan. “Capek banget nggak, sih, Sayang?” tanya Felicia. Meskipun mengeluh, tapi bibirnya terus tersenyum. Hatinya sangat bahagia sekali, meskipun barusan juga menangis karena berpisah dengan kedua orang tua dan kakaknya. James tidak menjawab. Bahkan diam saja saat Felicia menggandeng tangannya. Ketika mereka sampai di pintu kayu berukir naga di depannya, kamar Penthouse Suite satu-satunya di lantai itu. Setelah menempelkan kartu, pintu langsung terbuka kecil. James membiarkan Fe masuk duluan. “Syukurlah kalau semuanya berjalan lancar hari ini, ” ujar Fe sambil meletakkan tasnya di atas nakas. Tiba-tiba James menangkap lengannya. Fe pun menoleh. Tapi, yang ia dapatkan selanjutnya membuat matanya terbelalak. Sebuah tamparan keras mendarat di pipinya hingga ia terjatuh ke atas tempat tidur. “James?!” serunya sambil menatap lelaki itu lagi. Tapi, satu tamparan lagi mendarat di pipinya, membuat kepalanya berpaling. Jemarinya yang memegangi bekas tamparan tanpa sengaja merasakan sesuatu mengalir di sudut bibirnya. Bercak darah ada di ujung jemarinya. “Gaun simpel katamu?!” James yang berada di atas tubuhnya menarik paksa gaun yang membalut tubuh Fe. Karena lelaki itu memang kuat, jahitan di bahu mulai terbuka bersamaan bunyi koyakan yang menyayat hati Fe. “James, apa yang kamu lakukan?!” Namun, bukan jawaban yang Fe dapatkan melainkan tamparan yang sama kerasnya. James menarik-narik gaun Fe hingga koyak sampai ke pinggang. “Aku sudah bilang harus pakai gaun yang itu! Kamu sempurna kalau pakai itu! Tapi, kenapa kamu pakai ini?!” Tiba-tiba tangan kanan James mendarat di leher Fe. Fe pun kesulitan bernapas. Kedua tangannya berusaha meraih tangan James, tapi laki-laki itu terlalu kuat. “Mulai sekarang, kamu harus menuruti semua perkataanku! Paham?” Muka Fe mulai memerah. Dia berusaha mengangguk dengan sisa kekuatan yang dipunya. James pun melepaskan genggamannya. Selagi ia membuka jas dan kemejanya, Fe batuk-batuk karena dadanya terasa sesak. Kedua tangan Fe digenggam James dan ditarik ke atas, mengunci wanita muda itu di tempat. James mendaratkan bibirnya. Fe sempat merintih kesakitan karena sudut bibirnya terasa sakit. Tapi, James tidak memedulikan semua itu. Dia tetap menyerang dengan menggebu-gebu. Hasyaratnya sudah sangat tidak tertahankan lagi malam ini. Sementara itu, dunia terasa runtuh bagi Felicia. 🌱🌱 Bersambung...Ayu meringis begitu bangun dari tidurnya. Rasa pusing menguasai seluruh bagian kepalanya. Perlahan, setelah kepalanya mulai sedikit enakan, Ayu membuka matanya. Dia memperhatikan sekelilingnya. “Kapan aku pulang?” gumamnya, bertanya, entah pada siapa karena hanya dirinya yang berada di kamar ini. Sekelebat kejadian semalam terlintas. Dia hanya mengingat wajah ketiga pemuda, yang bersamanya semalam. Dia menemani mereka minum, tapi ternyata malah disuruh mencicipi juga. Sebenarnya Ayu sudah berusaha menolak, tapi ketiganya terus memaksa. Apalagi, mereka adalah pelanggan pertamanya setelah selama ini bekerja di club. Ayu beringsut ke tepi tempat tidur. Dia meringis kembali. Rasa pusing kembali menyerang kepalanya. Dia mencoba menahannya sekuat tenaga sebelum bangkit. Baru beberapa langkah, Ayu langsung berpegangan di dinding. Dia memejamkan mata sebentar. Perasaan pusing dan sedikit mual ini baru dirasakannya pertama kali. Sungguh, menyiksa. Setelah kembali sedikit mereda, Ayu m
Mobil hitam sudah menunggu di depan club sedari tadi. Kaisar tidak melepaskan sedikitpun pandangannya dari pintu club. Perhatiannya tertuju pada setiap orang yang keluar dari sana.Setelah meninggalkan rumah James, Kaisar langsung menghubungi salah satu anak buah kepercayaannya. “Cari anak ini sampai ketemu.”Hanya dalam hitungan jam Kaisar mendapatkan informasi kalau Ayu berada di club malam milik Brian.Meskipun berjam-jam menunggu, tetapi dia tetap sabar menunggu.Punggungnya menjauh dari kursi saat melihat sosok yang dikenalnya. Kedua tangannya memegang erat setir.Sosok Ayu tidak seperti yang pernah dilihatnya selama ini. Pakaian Ayu lebih berani daripada biasanya. Bagian atasnya hanya seperti kemben, dan bagian bawahnya hanya span sebatas setengah paha, malah sepertinya lebih pendek lagi. Seolah kursi tempatnya duduk tidak nyaman, Kaisar terlihat gelisah. Bola matanya membesar saat melihat beberapa pria menyusul Ayu. Setelah diperhatikan lagi, cara berjalan Ayu sempoyongan.
Melihat orang kepercayaan nomor satunya berada di depan rumah, membuat James lupa akan segalanya.“Kau bantu istriku ke kamar,” perintahnya buru-buru, bahkan hanya melihat Santi dan Randy ala kadarnya. Tatapannya lebih berfokus kepada sosok Kaisar. Menengok ke arah istrinya saja tidak. Santi pun bergegas menuju Fe, yang baru mengeluarkan kakinya.Randy tengah membukakan pintu mobil untuk Fe. Sedetik pun tidak dilepaskannya tatapan dari sosok Kaisar. Fe menyadari itu. “Kenapa? Kamu heran dengan kehadirannya?”Pemuda itu tersadar dari lamunannya. “Aku hanya terkejut melihatnya, Nyonya.” Sadar kalau di samping Fe ada Santi, Randy buru-buru menambahkan panggilan formalitas itu. “Sejujurnya, aku nggak pernah suka dengan Kaisar. Entahlah, mungkin karena James terlalu bergantung sama dia. Aku takut suatu saat dia akan mengkhianati James.”Meskipun kekasih hati Fe adalah dirinya, tapi Randy tetap mengerti jika wanita itu suatu hari akan lebih membela suaminya daripada pengawal pribadinya i
Mobil melaju di jalan raya. Kelap-kelip lampu gedung tinggi terlihat manis menghiasi malam itu. James menoleh ke arah istrinya, yang duduk di sampingnya. Perlahan, jemarinya menyentuh punggung tangan Fe. Namun, ketika hendak digenggamnya, Fe menarik tangannya lantas meletakkan di atas pahanya. Fe membuang pandangannya ke arah jendela. Menikmati pemandangan di luar sana, tanpa ekspresi. James pun memaklumi itu. Memang, dia sadar kalau sudah membuat istrinya itu sakit hati. Dia pun juga menoleh ke arah jendela mobil. Menatap pemandangan di luar sana tanpa komentar. Dia tahu, kalau saat ini Fe hanya perlu dia untuk diam saja. Rambe mengendarai mobil dengan laju yang tenang tapi cepat. Dia tahu kalau di kursi belakang suasananya sangat dingin sekali. Tapi, dia juga tahu kalau itu bukan urusannya. Dia menatap spion di luar. Terlihat mobil serupa yang mengikuti di belakang. Mobil itu dikendarai oleh Randy. Tadi, saat di rumah sakit, hanya ada Randy dan Fe di dalam kamar. Dengan telate
“James? Siapa James?” tanya Nugros balik. Wajahnya yang terlihat santai malah membuat polisi itu menggeram kesal.“Kau pasti tahu siapa. Karena pasien kau yang terluka itu anak buah James.”Nugros melambaikan tangannya. “Saya nggak mengerti dengan maksud pertanyaan Anda.”Abdi pun mengerti kalau Nugros tidak akan pernah mau menjawab pertanyaannya itu. Dia melihat ke arah luar, pada rekannya yang baru muncul lagi. Mungkin tadi habis keliling di area itu.“Jadi, kau tinggal di sini? Klinik di lantai bawah, tempat tingalmu di atas.”Mata Nugros menyipit lagi. “Maksud pertanyaan Anda? Apa hubungannya Saya tinggal di sini dengan kamera pengawas?”Abdi menghela napas berat. Dia memperhatikan Nugros. Dari gayanya memang dokter satu itu terlihat santai, tapi sepertinya dia adalah sosok bagai benteng yang sulit ditembus. Della dan Anin memperhatikan dari balik meja resepsionis. Bagaimanapun, apapun yang terjadi, mereka akan selalu mendukung Nugros. “Setidaknya aku jadi tahu seperti apa Dokt
“Siapa yang datang?” tanya Della, yang keluar dari ruangan praktek. Dia habis membersihkan ruangan itu, dari menyusun kembali obat-obatan sampai memberikan pewangi ruangan. Nugros tidak suka jika ruangannya terlalu berbau obat seperti di rumah sakit. Anin, yang terlihat sibuk di depan layar komputer, mengangkat pandangannya. “Kakaknya Randy. Siapa, tuh namanya? Lupa.”“Selena,” jawab Della, yang sudah hapal dengan tamu dari Nugros. Sudah hampir sepuluh tahun dia menjadi pegawai di sini. Tentu saja hapal mulai dari pasien sampai tamu tetap Nugros. Della ikut masuk ke dalam meja resepsionis, duduk di samping Anin. “Tapi, mau ngapain? Biasanya, kan nggak pernah datang sendirian. Pasti selalu sama suaminya atau Randy.”Anin mendelikkan bahunya. Della tampak berpikir, kemudian tiba-tiba menggebrak meja. Sepertinya Anin sudah terbiasa, buktinya dia terlihat tidak terganggu sama sekali. “Gimana kalau ternyata mereka selingkuh?” tebak Della. “Nggak mungkin, Del. Kita tahu banget Dokter N
“Serius kalau kalian tidak butuh bantuan kami untuk mempersiapkan pesta pernikahan ini?” tanya Desy sambil menelisik reaksi James dan Felicia, yang duduk berdampingan. Felicia menoleh ke sisinya, tempat sang calon suami berada. Jemari James menyentuh punggung tangan Felicia. “Iya, Ma. Saya sudah
“Aku tidak mau menikah dengannya, Ma!”Teriakan Felicia memenuhi ruangan keluarga tanpa sekat itu.Mama dan Papa yang duduk di sofa hijau emerald setengah lingkaran terkejut mendengar penolakan anak ketiga mereka.Kakak sulung Felicia, yang sejak tadi hanya mengamati dari lantai dua, akhirnya turun
Keriput di wajah wanita bergaun putih yang menjuntai hingga mata kaki itu bergerak ketika ia melirik ke arah leher Felicia. Berhenti untuk beberapa detik. Kemudian bibirnya terangkat membentuk senyum tipis, sebuah senyum yang lebih menyerupai ejekan.Felicia tak menyadari tatapan itu. Ia sibuk memp
Derap sepatu kulit Italia menghentak lantai marmer, menggema panjang di lorong rumah itu. Setiap langkahnya sarat amarah, menuju pintu kaca berbingkai kayu tebal di ujung sana yang tak lain adalah satu-satunya tujuan James sore ini.Gesekan setelan jas yang membalut tubuhnya dengan sempurna menanda







