author-banner
buchaa
buchaa
Author

Novels by buchaa

My Lady, Jadikan Aku Milikmu

My Lady, Jadikan Aku Milikmu

Bibir itu terlihat begitu lembut dan berwarna merah merona alami seperti memanggil-manggil perhatiannya.  Tanpa sadar, jemari Randy terulur perlahan, menyentuh bagian bawah bibir itu dengan sentuhan yang sangat ringan juga penuh keraguan.  Rasanya halus, lembut, dan hangat terasa di ujung jemarinya.  Dengan tarikan napas yang terasa berat, seperti mengumpulkan seluruh keberanian yang dimiliki, Randy mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir itu sekilas.  Sentuhannya terasa begitu segar dan lembut, meninggalkan sensasi yang membuat dadanya terasa berdebar kencang.  Rasa itu justru membangkitkan keinginan yang lebih besar dalam dirinya. ‘Aku ingin mengulum bibir itu lagi, lebih lama, dan lebih dalam lagi.’  Apalagi ketika dia merasakan bibir lembut itu perlahan bergerak dan membalas ciumannya dengan lembut pula. Bibir manis yang menyambut kehadirannya.  Dunia terasa berputar sebentar, Randy merasa dirinya melayang. Hingga akhirnya memaksakan dirinya membuka mata perlahan dan menjauhkan wajahnya sedikit. Sekadar menarik napas supaya bisa melanjutkan ciuman itu lagi.  Namun, begitu pandangannya menjadi jelas, matanya langsung membelalak lebar. Jantungnya terasa melompat ke tenggorokan. “Nyonya?!” Di hadapannya berdiri sosok Felicia. Rambut panjangnya tergerai bebas menutupi sebagian bahunya, yang terbuka. Wanita itu terlihat begitu berbeda dari penampilan kesehariannya yang rapi juga anggun. Seakan tak rela jarak itu terbentuk, tangan Felicia perlahan terangkat, hendak meraih wajah pemuda itu.  Begitu jemarinya berhasil menyentuh pipi Randy, tubuh Felicia perlahan bangkit mendekat. Dan kali ini, giliran dia yang mengambil alih, mendekatkan wajahnya. Dia ingin membalas sentuhan itu dengan lebih berani.  “Nyonya?!”
Read
Chapter: Bab 121. Pertama Kali Ke Rumahnya
Fe mengedarkan pandangannya ke sekitar. Tempat ini perumahan biasa dan sederhana. Tidak ada pagar yang membentengi tiap rumah. Yang lebih menarik perhatian, keadaan sangat hening. Tapi di kiri dan kanan rumah Randy, sepertinya sudah tidak ditempati. Rumput liar yang menjulang tinggi, jendela yang ditutup dengan papan dari luar. Tadi juga di depan beberapa ada yang dilihatnya seperti itu. “Di sini agak susah air, makanya banyak yang pindah,” ujar Randy seolah bisa membaca pikiran Fe. Sepertinya terlihat jelas dari raut wajah wanita itu. Fe menunggu Randy membuka pintu rumahnya. Di halaman rumah pemuda ini ada pohon ketapang yang batangnya sudah melebar, jadi lumayan meneduhi. Tapi, daun keringnya yang rontok mengotori halaman rumah. Begitu pintu terbuka, Randy langsung membukanya lebar. “Ayo, silakan masuk.” Dari tingkahnya, yang tidak langsung masuk, sepertinya Fe ragu untuk melangkah lebih jauh. Dia tidak tahu, apakah harus membuka sepatunya seperti yang dilakukan Randy atau ti
Last Updated: 2026-10-28
Chapter: Bab 120. Hadiah Permintaan Maaf
Sinar lampu dari luar kamar sedikit masuk ke karena gorden yang tidak tertutup sepenuhnya. Menyinari hingga ke tempat tidur. Karena itu, walaupun lampu di kamar mati semua, tapi James tetap bisa melihat sosok istrinya yang tidur sambil memunggunginya. Bunyi dentang jam klasik di lantai pertama sampai ke kamar ini, meskipun tidak terlalu nyaring. Tapi dari dentang yang berbunyi, siapapun yang mendengarnya bisa tahu kalau ini masih Subuh. “Fe, kamu masih marah padaku?” tanya James pelan. Dia sudah terbangun sejak tadi. Mimpi melihat istrinya yang pergi meninggalkannya dalam kegelapan, membangunkannya secara tiba-tiba. Tidak ada jawaban dari istrinya, padahal James kira Fe ikut terbangun bersamanya tadi. Dia merasakan nafas Fe tidak teratur seperti saat tidur. Yah, meskipun kini nafas itu kembali terdengar tenang dan teratur. Merasa tidak akan bisa tidur lagi, James pun berangkat bangkit. Dia menuju kamar mandi. Mata Fe terbuka saat mendengar suara air di kamar mandi. Tapi, ditutu
Last Updated: 2026-10-26
Chapter: Bab 119. Sarapan Bersama Pria Beringas
Ayu meringis begitu bangun dari tidurnya. Rasa pusing menguasai seluruh bagian kepalanya. Perlahan, setelah kepalanya mulai sedikit enakan, Ayu membuka matanya. Dia memperhatikan sekelilingnya. “Kapan aku pulang?” gumamnya, bertanya, entah pada siapa karena hanya dirinya yang berada di kamar ini. Sekelebat kejadian semalam terlintas. Dia hanya mengingat wajah ketiga pemuda, yang bersamanya semalam. Dia menemani mereka minum, tapi ternyata malah disuruh mencicipi juga. Sebenarnya Ayu sudah berusaha menolak, tapi ketiganya terus memaksa. Apalagi, mereka adalah pelanggan pertamanya setelah selama ini bekerja di club. Ayu beringsut ke tepi tempat tidur. Dia meringis kembali. Rasa pusing kembali menyerang kepalanya. Dia mencoba menahannya sekuat tenaga sebelum bangkit. Baru beberapa langkah, Ayu langsung berpegangan di dinding. Dia memejamkan mata sebentar. Perasaan pusing dan sedikit mual ini baru dirasakannya pertama kali. Sungguh, menyiksa. Setelah kembali sedikit mereda, Ayu m
Last Updated: 2026-10-25
Chapter: Bab 118. Tubuh Molek Sang Gadis
Mobil hitam sudah menunggu di depan club sedari tadi. Kaisar tidak melepaskan sedikitpun pandangannya dari pintu club. Perhatiannya tertuju pada setiap orang yang keluar dari sana.Setelah meninggalkan rumah James, Kaisar langsung menghubungi salah satu anak buah kepercayaannya. “Cari anak ini sampai ketemu.”Hanya dalam hitungan jam Kaisar mendapatkan informasi kalau Ayu berada di club malam milik Brian.Meskipun berjam-jam menunggu, tetapi dia tetap sabar menunggu.Punggungnya menjauh dari kursi saat melihat sosok yang dikenalnya. Kedua tangannya memegang erat setir.Sosok Ayu tidak seperti yang pernah dilihatnya selama ini. Pakaian Ayu lebih berani daripada biasanya. Bagian atasnya hanya seperti kemben, dan bagian bawahnya hanya span sebatas setengah paha, malah sepertinya lebih pendek lagi. Seolah kursi tempatnya duduk tidak nyaman, Kaisar terlihat gelisah. Bola matanya membesar saat melihat beberapa pria menyusul Ayu. Setelah diperhatikan lagi, cara berjalan Ayu sempoyongan.
Last Updated: 2026-10-24
Chapter: Bab 117. Kamera Pengintai
Melihat orang kepercayaan nomor satunya berada di depan rumah, membuat James lupa akan segalanya.“Kau bantu istriku ke kamar,” perintahnya buru-buru, bahkan hanya melihat Santi dan Randy ala kadarnya. Tatapannya lebih berfokus kepada sosok Kaisar. Menengok ke arah istrinya saja tidak. Santi pun bergegas menuju Fe, yang baru mengeluarkan kakinya.Randy tengah membukakan pintu mobil untuk Fe. Sedetik pun tidak dilepaskannya tatapan dari sosok Kaisar. Fe menyadari itu. “Kenapa? Kamu heran dengan kehadirannya?”Pemuda itu tersadar dari lamunannya. “Aku hanya terkejut melihatnya, Nyonya.” Sadar kalau di samping Fe ada Santi, Randy buru-buru menambahkan panggilan formalitas itu. “Sejujurnya, aku nggak pernah suka dengan Kaisar. Entahlah, mungkin karena James terlalu bergantung sama dia. Aku takut suatu saat dia akan mengkhianati James.”Meskipun kekasih hati Fe adalah dirinya, tapi Randy tetap mengerti jika wanita itu suatu hari akan lebih membela suaminya daripada pengawal pribadinya i
Last Updated: 2026-10-23
Chapter: Bab 116. Tidak Mudah Memaafkan
Mobil melaju di jalan raya. Kelap-kelip lampu gedung tinggi terlihat manis menghiasi malam itu. James menoleh ke arah istrinya, yang duduk di sampingnya. Perlahan, jemarinya menyentuh punggung tangan Fe. Namun, ketika hendak digenggamnya, Fe menarik tangannya lantas meletakkan di atas pahanya. Fe membuang pandangannya ke arah jendela. Menikmati pemandangan di luar sana, tanpa ekspresi. James pun memaklumi itu. Memang, dia sadar kalau sudah membuat istrinya itu sakit hati. Dia pun juga menoleh ke arah jendela mobil. Menatap pemandangan di luar sana tanpa komentar. Dia tahu, kalau saat ini Fe hanya perlu dia untuk diam saja. Rambe mengendarai mobil dengan laju yang tenang tapi cepat. Dia tahu kalau di kursi belakang suasananya sangat dingin sekali. Tapi, dia juga tahu kalau itu bukan urusannya. Dia menatap spion di luar. Terlihat mobil serupa yang mengikuti di belakang. Mobil itu dikendarai oleh Randy. Tadi, saat di rumah sakit, hanya ada Randy dan Fe di dalam kamar. Dengan telate
Last Updated: 2026-10-20
Suamiku Doyan Selingkuh

Suamiku Doyan Selingkuh

Jenisha menikah dengan Firdaus sejak baru lulus SMA. Selama 10 tahun masa pernikahan mereka, sudah 2 kali Firdaus selingkuh. Itupun yang baru ketahuan, entahlah kalau yang lain. Jenisha berusaha selalu memaafkan apapun itu kesalahan suaminya, termasuk memakai narkoba. Dia berharap kalau suaminya akan sadar dan kembali ke sisinya.
Read
Chapter: #Bab 98. Dinner Yang Tertunda
“Gimana kalau kita liburan ke Bali?” cetus Nisha tanpa aba-aba apalagi kalimat pembukaan. Itupun setelah melamun cukup lama.Alhasil, Shareefa dan Diana yang tengah cekikikan menonton drama korea di sisi Nisha langsung menatapnya kaget. Beda dengan Bahri yang masih asyik bermain game seolah tidak peduli. Dia memang belum mengerti, kok.“Bali?!” seru Ana dan Efa berbarengan. Nisha menyender di bangku outdoor Cuko. “He-eh,” jawabnya pasti diiringi anggukan.Memang sudah lama mereka tidak liburan. Sejak Bahri dan Efa masuk ke sekolah baru, ke tingkat yang lebih tinggi, atau sejak Mak pergi lima bulan yang lalu. Nisha juga disibukkan dengan kegiatannya di sini. Terlebih lagi Diana tahun ini melakulan grand opening Cuko.“Mau!” seru Efa senang. Sudah tidak dipedulikannya lagi drama korea yang masih berjalan di smartphone-nya.“Tapi, Efa masih ujian dua hari lagi.” Wajah yang tadi cerah mendadak berubah mendung. Gimana mau ke Bali, kan dia masih ujian.Nisha baru menyadari sesuatu. O, iya.
Last Updated: 2024-01-07
Chapter: #Bab 97. Suami Masa Depan
Nisha menghabiskan hari-harinya dengan menemani Bapak ke makam almarhum sang ibunda. Sebisa mungkin dia selalu sempatkan karena Bapak tidak pernah berhenti merindukan belahan jiwanya itu.Nisha juga rindu, tapi tetap harus melanjutkan hidup. Selain itu dia juga sibuk mengantar anak ke sekolah, menjalankan bisnisnya, atau meet up dengan sahabat-sahabatnya. “Nis,” panggil Elza.Nisha menyeruput es americanonya sebentar, lalu menatap sahabatnya itu. “Hm?”“Cowok yang kemarin ada di rumah duka itu siapa?” tanya Elza hati-hati.“Pak Akbar? Gurunya Efa.”Vika dan Elza saling bertukar pandang, sebelum menatap Nisha kembali.“Bukan yang pakai baju PNS, yang pakai kemeja hitam.” Elza menelan air ludah. Sepertinya Nisha belum juga mengerti apa maksud ucapannya. “Yang itu, loh. Yang rambutnya lebat, matanya agak gede, rahangnya tuh gagah banget gitu.” Vika juga membantu menjelaskan.Nisha pun menepuk tangannya sekali. “Oh, itu. Andreas. Kenapa?”“Kayaknya dia ada rasa, deh sama kamu, Nis.”“Em
Last Updated: 2024-01-06
Chapter: #Bab 96. Jodoh Sang Guru Killer
Tiba-tiba Nisha berdiri. Sontak, Akbar ikut berdiri. “Aku permisi dulu,” pamit Nisha tiba-tiba.“Tunggu!”Nisha menoleh. Tatapannya seolah berkata tidak ingin mau tahu apa yang terjadi sekarang ini. Dia hanya ingin pergi dan pulang ke rumah. “Ada yang harus aku jelaskan ke kamu,” ucap Akbar dengan wajah serius.Nisha terdiam bagai manekin seraya menunggu Akbar mendekat. Bola matanya sempat bergetar. Degup jantungnya terdengar jelas oleh telapak tangan yang menangkup dada. Dinginnya hembusan angin malam tidak serta merta mampu menghapus piluh mengalir di keningnya.“Sepertinya ada kesalahpahaman di sini,” simpul Akbar.“Kesalahpahamam?”“Iya. Baik itu apa yang Andre atau kamu pikirkan sekarang.” Akbar berhenti karena sudah tepat berada di dalam jarak satu kaki di hadapan Nisha.“Memangnya, apa yang kupikirkan ... menurutmu?” Nada bicara Nisha agak turun di akhir kalimat.“Kamu mengira kalau aku menyukai kamu, Nisha. Oh, lebih tepatnya menaruh perasaan sama kamu.”“Haha.” Tawa Nisha t
Last Updated: 2024-01-04
Chapter: #Bab 95. Akhirnya Dinner Juga
“Mama mau ke mana?” tanya Efa curiga karena menjelang malam belum ada tanda-tanda Nisha berniat pulang dari butik. Malah Bunda Ana disuruh mengendarai mobil untuk mengantar Efa dan Bahri pulang. Mencurigakan? Banget.“Mama mau pergi sama Mami Elza,” jawab Ana membantu.Efa menoleh ke arah Ana, lalu kembali pada Nisha. “O, ya?! Pakai dandan segala.” Tidak segampang itu membohongi gen-Z satu ini.“Dandan gimana? Biasa aja,” dalih Nisha lantas masuk ke kantornya. Ditinggalkannya Efa yang masih menatapnya penuh curiga.Setengah jam kemudian, Nisha melambai singkat ke arah mobil merah yang biasa dikendarainya. Namun, kini sosok Ana yang berada di balik kemudi. Sementara itu, Efa terus saja menatap sang mama tanpa mengedipkan mata. Bahkan, terkesan sinis. Ditambah lagi mulutnya yang manyun. “Emangnya Mami Elza bisa keluar malem-malem begini, Bun? Bukannya dia paling malas keluar malam karena anak-anaknya sudah tidur jam segini?” tanya Efa dalam satu tarikan napas.“Mungkin dijagain sama s
Last Updated: 2024-01-04
Chapter: #Bab 94. Di Antara Dua Pilihan
Almira, Bianca, dan Shareefa duduk di kantin. Hal biasa yang mereka lakukan kalau sedang istirahat begini. Ini bukan istirahat biasa, mereka baru saja habis mengikuti mapel olahraga.Tatapan mereka tertuju pada sosok Pak Akbar, yang tengah menghukum anak yang ketahuan menuju kantin di jam pelajaran. Terlebih lagi lima anak lelaki yang berdiri di dekat pintu kantin itu tidak ada yang berpenampilan rapi. Penggaris besi terarah ke bagian pinggang Angga —anak kelas satu. “Kenapa kamu berkeliaran tanpa menggunakan ikat pinggang? Mana ikat pinggangmu?!”“Kelupaan pakai, Pak,” jawab Angga tanpa merasa bersalah.“Jongkok!” teriak Pak Akbar bergema di kantin.Decakan kesal Angga terdengar jelas, namun tetap mematuhi apa yang dikatakan Akbar. “Squat jump 25 kali. Habis itu kembali ke kelas.”Dengan helaan napas berat, Angga meletakkan tangannya di bagian belakang leher dan mulai squat jump.“Kamu lagi!”Yudi melirik penggaris yang menyeruak masuk di antara rambut lembatnya. “Jangan dipotong, P
Last Updated: 2024-01-03
Chapter: #Bab 93. Bukan Urusanku Lagi
Nisha mendekati dinding pembatas dapur dengan bagian restoran. Meskipun dapur berada di bagian tengah, tapi tidak merusak nuansa mewah restoran itu.Nisha berhenti tepat di sebelah Andreas, yang tengah menyeruput segelas jus buah bercampur soda.Melihat kedatangan Nisha, Daniel pamit secara halus untuk kembali mengawasi para staffnya. Andreas menoleh tepat ketika wanita berhijab itu berada di sisinya. Ia sedikit terkejut namun dengan mudah dikendalikannya emosi itu.Dia tersenyum sumringah pada Efa dan Bahri yang melambaikan tangan ke arahnya seraya menuju lobi. Kemudian tersenyum tipis pada Salma, Sarah, Firdaus, juga Bella yang dibalas dengan perlakuan serupa. Lantas, kembali menatap Nisha seolah bertanya ada apa.Sementara Firdaus melirik dari kasir ketika menemani Sarah membayar biaya makan malam mereka. Lagi-lagi, dia tidak tahu kalau Bella memerhatikan dari lobi.“Saya mau berterima kasih karena kamu sudah menyelamatkan Bahri tadi sampai luka begitu.” Nisha menunjuk samar luka
Last Updated: 2024-01-03
Mantan Istri Jadi Adik Ipar

Mantan Istri Jadi Adik Ipar

Rafaizan dan Aurelia sudah lama bercerai. Mereka juga sudah move on dengan kehidupan masing-masing. Namun, mereka bertemu lagi sebagai ipar. Bagaimana hubungan keduanya tinggal dalam satu atap bersama? Akankah benih-benih cinta itu akan muncul kembali?
Read
Chapter: #Bab 87. Seorang Cindy
Bel panjang berbunyi nyaring, menggema di seluruh sudut sekolah. Suaranya seperti simfoni kebebasan bagi para siswa yang sudah lelah duduk berjam-jam di dalam kelas. Mata Shanum langsung berbinar mendengarnya. Tanpa menunggu aba-aba, dia mulai memasukkan buku dan alat tulis ke dalam tas dengan gerakan cepat tapi tetap rapi. Ketika guru sudah keluar, Shanum berdiri dan menoleh ke arah Cindy, yang masih sibuk membereskan barang-barangnya. “Cindy, mau ke mana abis ini? Pulang bareng, yuk? Jalan ke mana gitu?” tanya Shanum sambil tersenyum, berusaha terdengar santai walau hatinya sedikit tegang. Gadis di hadapannya itu masih dingin seperti salju di kutub.Cindy menatap Shanum sekilas, lalu kembali membereskan barang-barangnya. “Aku ada les. Nggak bisa,” jawabnya singkat tanpa ekspresi. Seolah tak ingin ada percakapan lebih panjang.‘Pasti karena omongan Ghani tadi. Dia terlalu takut sama Ghani. Yah, apa boleh buat. Daripada dia makin tersiksa sama Mas-ku itu, kayaknya aku harus ngalah
Last Updated: 2026-02-02
Chapter: #Bab 86. Rahasia Ghani
Senyum riang Shanum tidak membuat seluruh isi kelas bahagia menyambutnya. Buktinya, wajah Cindy datar saja saat cewek yang membuat kekacauan pagi itu duduk di meja—tepat di sebelahnya.Cindy bisa merasakan tubuh Shanum sedikit condong ke arahnya. Ia berusaha menghindari tatapan teman sekelas barunya itu, tapi malah tertangkap ketika sedang melirik lewat sudut matanya.“Hai, aku nggak nyangka kalau kita ternyata satu kelas,” ucap Shanum seraya memamerkan deretan giginya, begitu cerah dan percaya diri.Cindy tidak tahu harus merespon seperti apa karena hampir semua mata tertuju padanya. Status Shanum sebagai orang yang berani melawan Ghani sungguh tidak aman baginya. Semua orang tahu, Ghani adalah pusat gravitasi sekolah ini, dan siapa pun yang berani menentangnya, akan terlempar keluar dari orbit sosial mereka. Cindy pun hanya menarik ujung bibirnya sedikit saja, bahkan hampir tidak terlihat. Lalu, langsung sok sibuk membuka tasnya. Padahal, tidak ada yang dicari.Puas menyapa Cindy,
Last Updated: 2026-02-01
Chapter: #Bab 85. Di Sekolah Yang Sama
Kedua jemari tangan Shanum terkepal erat seiring geraman kesalnya karena diturunkan jauh dari sekolah. “Ghani, nggak sopan!” teriaknya walaupun tahu kalau cowok itu nggak bisa mendengarnya.Sama sekali tidak mau menyerah, diambilnya langkah cepat supaya bisa mengejar mobil Ghani. Namun, kakinya melemah ketika menemukan tanjakan. Hanya setengah tanjakan dia sanggup berlari, selebihnya berjalan kaki dengan napas ngos-ngosan. Ternyata gerbang sekolah ada di ujung tanjakan. Shanum berdiri sebentar di depan pintu gerbang sambil memegangi kedua lututnya. “Dia ngerjain aku,” gumamnya sambil mengatur napas.Beberapa murid melewatinya dengan tatapan bingung.Setelah cukup bisa mengatur napasnya, Shanum pun memasuki gerbang berpintu besi warna cream itu, senada dengan cat dinding gerbang dan sekolah.Sebenarnya, sih, Shanum ingin melihat kemegahan sekolah ini, akan tetapi sosok Ghani mengganggu pemandangannya. Terlebih lagi ketika dilihatnya cowok itu melemparkan tas pada gadis, yang jauh le
Last Updated: 2026-01-31
Chapter: #Bab 84 • Tantangan
Bunyi jemari mengetuk meja besi putih nan bundar terdengar begitu nyaring di telinga Shanum. Beberapa kali dia meringis akibat nyilu yang menyayat hatinya. Setelah berusaha menghindar, akhirnya Shanum beranikan diri melirik ke arah wanita cantik yang duduk di hadapannya. Dia tahu kalau wanita itu tidak melepaskan tatapan darinya sedari tadi, tapi Shanum tetap terkejut dan refleks mengalihkan pandangannya ke arah lain. Bunyi ketukan menghilang karena Fania menarik tangannya. Kedua kakinya yang jenjang terekspos jelas ketika melipat kaki hingga rok span pendek sebatas lutut yang dikenakannya tertarik sampai paha. “Jadi, kamu anak dari wanita yang membuat Papa-ku sering bolak-balik ke Jogja,” gumamnya lebih ke sebuah tudingan. Seringainya muncul di akhir kalimat. Mata elangnya enggan melepaskan Shanum dari pandangan. Shanum meliriknya. “Aku ngga tahu tentang itu. Buktinya, aku ngga kenal Papa-nya Kakak.” “Tapi, Papa mengenalimu. Aku kira dulu dia punya anak lain selain kami kar
Last Updated: 2025-03-11
Chapter: #Bab 83 • Terlanjur Bad Mood
Dengan mata yang membengkak, Aurel sudah bersiap dengan peralatan membersihkan pekarangan rumah. Selepas Subuh tadi, diperhatikannya halaman depan yang rumputnya sudah memanjang. Begitu juga dengan bunga-bunga dan tanaman yang dulu peliharan almarhum ibunya sudah tumbuh tidak karuan, dia hendak merapikannya. Hitung-hitung bisa menghilangkan sejenak kesedihannya.Namun, langkah Aurel terhenti. Dia terkejut mendapati Ridho berada di depan pagar rumah ini.“Ngapain kamu di sini, Dho?” tanyanya seraya menghampiri pagar dan membuka kuncinya. Seharusnya jam tujuh begini, Ridho sudah berada di kantor. Kok malah ada di depan rumah ini? Kalau bukan urusan yang penting, tidak mungkin mau ke sini.“Itu ....” Ridho terlihat meragu. Bukannya lekas menjawab, dia malah menoleh ke arah jalan gang ini.Aurel juga ikut melihat ke sana. Menerka sekiranya ada jawaban di ujung jalan i
Last Updated: 2024-05-25
Chapter: #Bab 82 • Bukan Anak Haram
Selesai sarapan, Shanum memegangi perutnya. “Padahal, hanya semangkuk kecil begitu. Tapi, udah bikin kenyang banget,” ujarnya dengan bibir yang tersenyum puas.Saat mengangkat pandangannya, dia menemukan Ghani yang berjalan cepat di lorong hendak ke arah luar. “Ghani,” gumamnya senang. Lalu, berlari kecil ke arah cowok itu.Ghani sudah berpakaian seragam putih abu-abu lengkap dengan tas punggungnya, yang hanya tercantol di bahu kanannya. Dari langkahnya yang cepat, cowok itu masih terlihat penuh emosi.“Ghani, Ghani,” panggil Shanum.Yang dipanggil sempat menoleh, tapi begitu tahu suara itu milik siapa dia langsung malah kian mempercepat langkahnya. Namun selebar-lebarnya langkah Ghani, tetap terkejar oleh Shanum, yang pantang menyerah.Gadis itu menangkap pergelangan tangan Ghani. “Tunggu," pintanya agak memaksa. Kemudian, mengatur napasnya yang tersengal-sengal. “Aku harus jelasin kalau tujuanku ke sini bukan untuk menjadi penerus perusahaan Fadel Group. Aku cuma mau ....”“Bullshit
Last Updated: 2024-05-24
You May Also Like
HOT NIGHT
HOT NIGHT
Romansa · Jemyadam
873.4K views
Di Ranjang Majikanku
Di Ranjang Majikanku
Romansa · Keke Chris
868.1K views
Nafsu Bejat CEO
Nafsu Bejat CEO
Romansa · Cececans
832.0K views
Istri Nakal Mas Petani
Istri Nakal Mas Petani
Romansa · juskelapa
823.6K views
GAIRAH DI PERTEMUAN PERTAMA
GAIRAH DI PERTEMUAN PERTAMA
Romansa · Handira Rezza
817.2K views
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status