“Bu, biar Saya yang nyetir.” Rambe, begitu rekan-rekan kerjanya yang sesama sekuriti, pengawal, atau pelayan di rumah ini memanggilnya. Badannya cukup besar, wajahnya tampak keras, tapi sorot matanya cukup lembut. Makanya, dia tidak cocok beradu debat dengan Felicia seperti ini, sudah kelihatan hasilnya kalau akan kalah. Telunjuk Felicia mengayun cepat dari kiri ke kanan, begitu juga sebaliknya. Matanya mengernyit. “Saya bisa sendiri. Cuma jemput Wilona.”“Sekolah Wilona jauh, Bu. Apalagi Ibu pasti ngambil rute yang lewat padang ilalang itu, kan? Disitu kan sepi banget, Bu. Kalau Ibu kenapa-kenapa, nanti Saya yang kena marah sama Bapak.” Lelaki berbadan besar dan tegap itu malah merengek seperti sama ibunya sendiri. Felicia kekeuh menggeleng. Akan tetapi, tangan yang sama kurus dengan jemarinya namun lebih panjang, mendahuluinya meraih gagang pintu mobil. “Biar Saya saja yang menyetir, Bu.” Lelaki tinggi yang kurus itu mengenakan setelan kemeja putih dengan vest hitam. Tatapannya
Last Updated : 2026-05-08 Read more