LOGINRuang tamu rumah Rion kini begitu ramai tapi hanya ada keheningan yang tercipta di antara mereka. Mereka tidak tahu harus memulai pembicaraan darimana. Tapi akhirnya Kakek Afkar buka suara sebagai orang tertua di sana karena Ayahnya belum pulang.
"Untuk Raka, saya meminta maaf atas kesalahan yang diperbuat oleh cucu saya dan membuat Sanaya ikut terseret menjadi korban di sini." Raka melirik sekilas putrinya yang duduk disebelahnya lalu kembali menatap Kakek Afkar. "Semua sudah terjadi, pak, lagipula kita tahu disini hanya kesalahpahaman. Tapi karena itu, saya ingin kalian dan sekeluarga bisa menerima Sanaya menjadi keluarga baru kalian." Balas Raka sambil menepuk pundak Sanaya pelan. "Bapak tenang aja, saya akan menjaga Sanaya. Karena dia sudah menjadi tanggung jawab saya sekarang. Dan untuk alasan apapun saya tidak akan menceraikannya." Rega berucap dengan tegas dan mantap sambil menatap Sanaya yang enggan melihat ke arahnya. Diam-diam Susi menghapus air matanya merasa bahagia, karena anaknya sudah ada yang menjaga dan menemaninya. Dia memeluk Sanaya erat. Raka yang melihat keluarganya itu pun ikut tersenyum. "Kami ucapkan selamat datang di keluarga Sinegar." sambut Sicka dan semua yang ada disitu ikut tersenyum. "Ya sudah karena hari sudah larut malam, sebaiknya kita pulang ke rumah masing-masing. Oh iya, Raka, kalau kamu tak keberatan kamu dan istri bisa menginap di rumah kami. " Tawar Kakek Afkar kepada Raka. Kakek Afkar mengerti bagaimana keadaan rumah Sicka dan Rion yang hanya memiliki tiga kamar saja. Maka dari itu dia menawarkan untuk menginap di rumahnya yang hanya ditempati oleh Satria beserta istri dan satu anaknya, Saga. "Yah~ Karena kebetulan saya belum istirahat dari tadi, saya tidak menolak." Ucap Raka dan membuat semua tertawa. Kini mereka semua sudah bersiap-siap pulang ke rumahnya masing-masing. - oOo - Sanaya kini hanya duduk diam dengan kaku di pinggir kasur kamar milik Rega. Hanya malam ini dia tidur berdua dengan Rega, besok dia dan Rega baru akan pindah ke apartemen milik cowok itu dan dia tidak akan mau sekamar dengan Rega. Pintu kamar mandi terbuka dan menampilkan sosok Rega yang bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana pendek selutut. Dia menggosok-gosok rambutnya dengan handuk sambil memandang Sanaya yang sudah tak memakai hijabnya. Tanpa mengatakan apapun Sanaya langsung masuk ke kamar mandi dengan bajunya yang tersampir di lengannya. Tak lupa dia juga menutup pintu dengan keras, karena Rega yang mandinya terlalu lama dan harus membuatnya menunggu dengan penuh kebosanan. Rega mengendikkan bahunya acuh melihat Sanaya yang membanting pintu. Lalu dia merebahkan dirinya di kasur. Entahlah rasanya hari ini dia terlalu lelah, seakan-akan dia menanggung semua beban di pundaknya. Dia melirik pintu kamar mandi sekilas lalu kembali merenung. Di dalam kamar mandi itu adalah orang baru di hidupnya dan yang akan menemaninya sampai dia tua nanti. Semua janji yang dilontarkan olehnya kepada ayah mertuanya melintas dipikirannya, untuk janji itu dia tak akan mengingkari. Karena bagi dia sendiri mungkin Sanaya adalah orang yang ditakdirkan untuknya. Hanya saja, Rega tak yakin apakah semua akan baik-baik saja pada akhirnya? Apakah suatu saat nanti dia akan mencintai Sanaya? Dia tidak tau untuk hal itu. Biarlah waktu yang menentukan nantinya. Rega tersentak saat Sanaya tiba-tiba mengambil bantal dan meletakkannya di lantai. 'Kapan Sanaya selesai mandi?' Sanaya meletakkan bantal diatas karpet beludru dan merebahkan dirinya mengabaikan tatapan heran Rega. Dia masih sebal untuk melihat wajah Rega, di wajah lelaki itu tidak menampakkan rasa bersalah sedikitpun meski tadi dia sudah minta maaf, tapi tetap saja hal itu membuatnya kesal. Mungkin dengan dia tidur suasana hatinya yang memburuk akan membaik saat dia bangun nanti. Dia mulai memejamkan matanya, tidak apa-apa meskipun dia tidur di lantai tanpa selimut asal tidak bersama dengan Rega. "Pindah!" Sanaya tak menghiraukan perintah Rega yang menyuruhnya, dia masih memejamkan matanya. Dia mendengar Rega mendengus dan kemudian terdengar suara langkah yang mulai mendekat kepadanya. "AAAA! REGAAA! LO APAAN SIH?!" Pekik Sanaya saat tiba-tiba tubuhnya terangkat dan pelakunya adalah Rega. Cowok itu menidurkan Sanaya di kasur, saat dia akan berdiri kembali, Rega menahannya. "Gue aja." Ucap Rega dan melepas tangan Sanaya, kemudian dia berbaring dimana Sanaya berbaring tadi. "Nggak usah mending gue aja yang tidur situ, ini kamar lo jadi gue nggak ada hak buat tidur sini." Sanaya berdiri sambil menatap Rega yang juga balas menatapnya. Rega bungkam dan masih memasang wajah datar. Sanaya sedikit kikuk saat ditatap cowok itu karena Rega terlihat dingin, galak, dan memusuhinya saat dia hanya diam. Rega mendudukkan dirinya lalu menarik tangan Sanaya hingga dia terduduk juga disamping Rega. Sanaya yang ingin mengangkat suara karena marah kini terdiam saat Rega meletakkan jari telunjuknya di bibir Sanaya. "Ini kamar lo juga, jadi lo nggak usah ngerasa nggak enak. Dan jangan berisik! Ortu gue lagi pada tidur. Kalau lo emang nggak enak tidur di kasur, kita tidur aja di lantai berdua." Ucap Rega panjang lebar. Seolah tak membiarkan Sanaya menolak, Rega segera tidur sambil mendekap Sanaya erat-erat. Tentu hal itu berefek kepada Sanaya yang tiba-tiba tubuhnya terasa kaku dan jantungnya berdetak kencang. "Bulet." ucap Rega sebelum dia memejamkan matanya erat. Sanaya meronta-ronta didekapan Rega, dia sadar harusnya tak seperti ini, "Bodoamat mau bulet kek tubuh-tubuh gue ngapa lo ngurusin? Lepasin gue, WOI!!" Perkataan Rega yang hanya satu kata jelas melukai hatinya. Dia tau tubuhnya tidaklah langsing melainkan berisi, tapi dia juga tidak terlalu gendut-gendut amat. Ya tetap saja hal itu membuatnya sakit hati, harusnya Rega tak usah mengatainya. Tanpa dikatai juga Sanaya sudah sadar dia gendut. Rega makin mengeratkan pelukannya, dia tak peduli dengan Sanaya yang berteriak dan tidak bisa diam. Rega memutuskan untuk memulai semuanya dengan Sanaya. Hubungannya tidak akan membaik bila tidak ada yang memulai terlebih dahulu. Sanaya lelah sendiri karena ternyata Rega tidak terganggu dengan suaranya yang dibuat keras untuk bisa terlepas dari dekapan Rega. Tapi dia juga merasa malu saat bersamaan, karena ini pertama baginya tidur di dekapan seorang cowok yang kini berstatus suaminya. 'Hanya untuk malam ini aja, besok nggak lagi dipeluk Rega. Nggak dan nggak akan!' Tekannya dalam hati. - oOo - Sanaya melambaikan tangannya ke arah mobil yang sudah melaju dimana bapak dan ibunya ada di dalamnya untuk kembali pulang ke Kudus. Mobil itu adalah milik kakek Rega yang memang dikhususkan untuk mengantar ayah dan ibunya. "Kek, makasih ya udah nganterin Bapak sama ibu pulang." Ucap Sanaya kepada Kakek Afkar yang berdiri disampingnya. Sanaya saat ini tengah ada di rumah besar milik Afkar. Dia datang bersama Rega dan mertuanya. "Iya, Nak, sama-sama." Balas Afkar. Dalam hati, Sanaya kagum dengan keluarga besar Sinegar ini. Semua memiliki paras yang luar biasa, apalagi saat melihat Sicka-ibu mertuanya yang masih terlihat imut-imut seperti masih SMP dan dia makin terpukau saat melihat Tante Sandriana-kembaran ibu mertuanya yang cantik. "Sanaya, kamu dan Rega bisa langsung ke apartemen karena barang-barang udah siap di sana." Sanaya hanya mengangguk saat Sicka bicara kepadanya. Sicka tersenyum memaklumi, dia tahu Sanaya masih merasa canggung dengannya. Tapi tidak apa-apa, dia tidak akan memaksa Sanaya untuk langsung bisa akrab kepadanya. Dia akan berusaha menjadi ibu mertua yang baik untuk Sanaya. "Rega! Ini istrinya ditungguin kek! Malah nyelonong duluan! Huu!" Teriak Saga, anak dari paman Satria yang membuat Sanaya merasa malu. Sanaya baru tahu kalau Saga yang lebih tua tiga tahun dengan Rega ternyata memiliki sifat jahil, sama seperti Sakha-adik Rega. Padahal saat melihat Saga pertama kali, cowok itu menatapnya tajam sekali seolah-olah dia adalah benda yang harus dimusnahkan. "Kalau gitu Sanaya duluan ya semua. Assalamualaikum ..." Pamit Sanaya dan diangguki semua. Kemudian dia melangkah mendekati Rega yang sudah duduk di motor kesayangannya. Setelah Sanaya duduk nyaman di jok belakang, Rega pun menjalankan motornya meninggalkan rumah Kakek Afkar. --{o}--Malam ini, apartemen Rega kedatangan teman-temannya, yaitu Awan, Cristian, Jerrick, Cakra dan Udin. Sanaya yang berada di kamar bersama Raffa merasa terganggu, apalagi dia sedang menidurkan Raffa supaya ia bisa belajar saat Raffa sudah tidur."Hish! Mereka pasti belum dikasih tahu Rega kalau di sini ada anak kecil. Dasar, Rega!!" Kesalnya. "Ma-ma~ mamamm~" Sanaya tertawa mendengar celotehan Raffa, "Kamu ngomong apa sayang? Laper? Mau nyemil?" Sanaya bertanya sambil menciumi pipi gembul Raffa.Raffa tertawa lebar saat pipinya dicium oleh Sanaya, dia pun merespon dengan menarik rambut Sanaya yang terurai bebas."Aduh!! Sakit loh, Raffa..." Ringis Sanaya yang memang sensitif saat rambutnya ditarik, "Kalau Raffa laper, kita keluar kuy ambil makan sekalian tegur om-om yang berisik itu!" Sanaya kemudian mencari hijab instan dan kardigan untuk di pakai karena saat ini dia sedang memakai daster panjang. Setelah memakai itu semua, Sanaya menggendong Raffa lalu keluar kamar. Sementara di r
Kini mereka sudah berada di dalam mobil, Rega menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, sesekali ia melirik Sanaya yang tengah mengajak ngobrol bayi di gendongannya. "Lucunya~ Hih!! Gemesh pipinya embem banget kayak bakpao!" Sanaya mencium pipi bayi itu yang begitu gembul. Bayi itu tertawa saat diciumi oleh Sanaya, tangan mungilnya juga mencoba meraih wajah Sanaya meskipun tak sampai. "Lega banget ya, Ga, karena bocil udah punya ibu susu." Dalam hati, Sanaya terus bersyukur karena memiliki mertua yang baik seperti Sicka dan Rion. Meskipun pernikahannya terkesan kurang baik, tetapi ada berkah yang tidak semua orang bisa dapatkan. Karena koneksi ibu mertuanya, Sanaya tak perlu khawatir dengan kebutuhan asi anak yang dirawatnya. "Hm." "Kita kasih nama apa ya,Ga, sama anak kita?" Tanya Sanaya. Cittt Dugh "Aduh!! Rega!! Hati-hati ngapa?!" Sanaya mengelus jidatnya yang terantuk dashboard. "Hihihi~" "Yeuu~ Si bocah malah ngetawain gue..." Karena gemas deng
Rega terkejut saat mendengar lengkingan Sanaya, apalagi istrinya itu langsung berlari setelah berteriak keras. Dia pun segera turun dari motor dan melepas helmnya lalu menyusul Sanaya.Rega melihat di depannya sudah ada begitu banyak warga yang mengerubung dan hal itu makin membuatnya mempercepat langkah kakinya. Setelah dia berhasil mendekat dan menyibak para warga yang berkerumun, dia mendapati Sanaya sedang menggendong bayi yang menangis kencang karena ikut terluka.Rega mendengar bahwa wanita ini korban tabrak lari, dan hal itu membuat Rega bertanya pada warga apakah sudah memanggil ambulance atau belum. "Sebentar lagi ambulance datang, Bang! Gue yang manggil." Tidak lama, ambulance datang dan segera membawa korban menuju rumah sakit terdekat. Sanaya ikut naik di dalam ambulance karena dia yang menjadi saksi sekaligus yang berani menggendong bayi korban. Rega memilih membuntuti ambulance dari belakang. Untunglah jalanan tidak macet seperti biasanya, jadi mereka tiba di rumah s
Berada di bawah kipas angin, serta guru yang tidak terlalu memperhatikan ke arahnya membuat Sanaya benar-benar harus menahan kantuk yang luar biasa. Menguap pun sudah tak terhitung lagi baginya. "Selanjutnya adalah menyetarakan jumlah unsur-unsur lain dengan kation, anion, hidrogen, dan oksigen. Kalau ada yang belum paham bisa ditanyakan besok." Terang Bu Puji selaku guru kimia, dan dibalas gumaman satu kelas. "Setengah jam lagi bel pulang, kalian kerjakan halaman tiga puluh, ya? Saya sedang ada tamu, jadi kalau saya belum kembali kalian nanti doa sama nyanyi sendiri saja." "Halaah~ Bu~" Satu kelas berseru sama dengan wajah lesu seolah-olah enggan ditinggal oleh Bu Puji. Dan tentu saja itu tidaklah ekspresi yang sebenarnya.Bu Puji tertawa, "Halah kalian ini, tidak usah acting, bilang aja kalian seneng kan?" Satu kelas tertawa ternyata Bu Puji tahu kalau itu hanyalah pencitraan mereka. "Ampun, Bu, hehe..." "Ya sudah kalau begitu, Bu puji keluar dulu ya... Assalamu'alaikum warah
Sanaya ternganga saat melihat apartemen yang akan dia tinggali bersama Rega tidak sama dengan apa yang dia pikirkan. 'Jangan bilang gue bakal sekamar terus sama Reganjay ini?!' Apartemen milik Rega hanya terdiri dari satu kamar, ruang tamu dan ruang tengah yang hanya dipisah oleh almari buku sebagai sekat serta dapur dan kamar mandi. "Sorry, apart gue kecil karena uang yang gue punya nggak cukup buat beli yang besar. Ini juga bekas apart-nya temen gue sendiri, makanya dijual murah." Jelas Rega seolah tahu akan pikiran Sanaya. Sanaya sedikit terhenyak saat tahu Rega membeli apartemen ini dengan uangnya sendiri, dia mengira kalau apartemen yang membelikan orang tuanya yang Sanaya tahu kaya raya. "O-oh ... iya gapapa," Balas Sanaya dengan tak enak hati, "tapi apa kita bakal sekamar?" Tanyanya pelan sambil menunduk, entah kenapa dia jadi malu sendiri bertanya tentang ini. "Ya dan seranjang." Tegas Rega sambil menatap Sanaya tajam. Sanaya langsung mendongak, "Heh Reganjay! Kok lo se
Ruang tamu rumah Rion kini begitu ramai tapi hanya ada keheningan yang tercipta di antara mereka. Mereka tidak tahu harus memulai pembicaraan darimana. Tapi akhirnya Kakek Afkar buka suara sebagai orang tertua di sana karena Ayahnya belum pulang. "Untuk Raka, saya meminta maaf atas kesalahan yang diperbuat oleh cucu saya dan membuat Sanaya ikut terseret menjadi korban di sini." Raka melirik sekilas putrinya yang duduk disebelahnya lalu kembali menatap Kakek Afkar. "Semua sudah terjadi, pak, lagipula kita tahu disini hanya kesalahpahaman. Tapi karena itu, saya ingin kalian dan sekeluarga bisa menerima Sanaya menjadi keluarga baru kalian." Balas Raka sambil menepuk pundak Sanaya pelan. "Bapak tenang aja, saya akan menjaga Sanaya. Karena dia sudah menjadi tanggung jawab saya sekarang. Dan untuk alasan apapun saya tidak akan menceraikannya." Rega berucap dengan tegas dan mantap sambil menatap Sanaya yang enggan melihat ke arahnya. Diam-diam Susi menghapus air matanya merasa bahagia,







