LOGINSanaya ternganga saat melihat apartemen yang akan dia tinggali bersama Rega tidak sama dengan apa yang dia pikirkan.
'Jangan bilang gue bakal sekamar terus sama Reganjay ini?!' Apartemen milik Rega hanya terdiri dari satu kamar, ruang tamu dan ruang tengah yang hanya dipisah oleh almari buku sebagai sekat serta dapur dan kamar mandi. "Sorry, apart gue kecil karena uang yang gue punya nggak cukup buat beli yang besar. Ini juga bekas apart-nya temen gue sendiri, makanya dijual murah." Jelas Rega seolah tahu akan pikiran Sanaya. Sanaya sedikit terhenyak saat tahu Rega membeli apartemen ini dengan uangnya sendiri, dia mengira kalau apartemen yang membelikan orang tuanya yang Sanaya tahu kaya raya. "O-oh ... iya gapapa," Balas Sanaya dengan tak enak hati, "tapi apa kita bakal sekamar?" Tanyanya pelan sambil menunduk, entah kenapa dia jadi malu sendiri bertanya tentang ini. "Ya dan seranjang." Tegas Rega sambil menatap Sanaya tajam. Sanaya langsung mendongak, "Heh Reganjay! Kok lo seenaknya gitu sama gue? Nggak bisa! Gue nggak mau satu ranjang sama lo." Rega menyeringai, dia perlahan menghadapkan tubuhnya ke arah Sanaya lalu melangkah maju mendekati Sanaya. Sanaya sedikit gelisah saat melihat reaksi Rega, dia memundurkan tubuhnya sampai akhirnya dia terpentok dengan dinding samping pintu kamar. "J-jangan deket-deket lo sama gue!" Peringat Sanaya sambil mengacungkan jari telunjuknya. Rega terus saja mendekatkan tubuh tingginya ke Sanaya membuat cewek itu menahan dada bidang Rega dengan kedua tangannya. Rega berhenti karena tangan Sanaya yang ada di dadanya, tapi dia mendekatkan kepalanya sampai di telinga Sanaya yang terlapis hijab. Hembusan napas Rega membuat Sanaya hampir megap-megap tak bisa bernapas karena kedekatan mereka. "Jangan ngelawan perintah suami, dosa." Sanaya membulatkan matanya lebar, sedangkan Rega menjauhkan kepalanya lalu berbalik menuju tempat tidur untuk merebahkan tubuhnya. Dadanya begitu bergemuruh setelah Rega pergi dari hadapannya, sepertinya dia memang harus menghindari Rega. "Pokoknya gue nggak mau tidur sama lo, titik!" Sanaya keluar dari kamar menuju dapur untuk melihat apakah ada bahan makanan di kulkas. Ingin sekali Sanaya menjambak rambut Rega saat dia melihat isi kulkas yang hanya ada pisang sudah hampir busuk di sana satu-satunya, tidak ada sayur mayur ataupun telur yang bisa dia masak. "Gue nggak nyangka cogan makannya pisang ampir busuk, edan!" Sanaya menatap miris apa yang terjadi, perutnya sudah keroncongan minta diisi. Masa dia juga ikutan makan pisang itu juga? "Nggak deh!" Meskipun Sanaya pemakan segalanya tapi dia tidak makan pisang yang hampir busuk juga. Dia masih sayang perutnya. "Apa delivery aja ya? Gue udah laper banget, nunggu Reganjay bangun juga lama pasti." Gumamnya. Sanaya segera mengeluarkan ponselnya dari sakunya lalu mulai berselancar untuk mencari makanan yang enak untuk perutnya. - oOo - Rega memandang Sanaya aneh, cewek itu seolah mengeluarkan laser pembunuh ketika bertemu pandang dengannya. Padahal Rega tidak mengatakan apapun yang membuat Sanaya kesal. Rega memakai jaket jeansnya lalu merapikan rambutnya bersiap ingin pergi ke salah satu rumah temannya. "Mau ngapel lo? Sekalian beli isi kulkas noh! Masa kulkas isinya cuma pisang hampir busuk gitu masih lo simpen? Nggak nyangka gue, lo makan buah sampai segitunya. Gue aja yang doyan apa aja nggak sampai makan buah yang udah hampir busuk." Cerca Sanaya tanpa jeda. Rega tak menghiraukan ucapan Sanaya yang panjang lebar itu, dia harus membiasakan dirinya terhadap Sanaya yang ternyata lebih cerewet dari Bundanya. "Siap-siap ikut gue!" Perintah Rega yang membuat Sanaya mengerutkan keningnya. "Kemana emang?" "Banyak nanya lo, buruan!" Sanaya mendengus sendiri mendengar kalimat perintah Rega yang harus dilakukan dan tidak boleh ditolak. Dia pun ke kamar untuk mengambil jaket serta kerudung instan pet warna hitam karena dia sudah memakai celana training panjang dan kaos pink, jadi tinggal melapisinya dengan jaket serta kerudung untuk menutupi rambutnya. Rega menganggukkan kepalanya saat melihat Sanaya sudah siap. Segera saja mereka keluar dari apartemen menuju basemen untuk mengambil motor Rega yang terparkir disitu. Setelah Sanaya sudah duduk nyaman di jok belakang motornya, Rega langsung menjalankan motornya dengan kecepatan tinggi dan membuat Sanaya mengumpat tertahan karena dirinya hampir terjungkal ke belakang. Sanaya tidak tahu kemana Rega mengajaknya, tapi setelah motor Rega memasuki kawasan perumahan elit dia tahu mungkin Rega ingin ke rumah temannya. Dugaan Sanaya benar saat mereka memasuki pelataran rumah bercat dominan putih. Tepat saat itu, Sanaya kaget karena banyak sekali cowok yang duduk di teras rumah putih ini. Dan tatapan semuanya mengarah kepadanya juga Rega. "Loh, Ga, kok lo bisa sama anak Moresnet?" Baru saja Sanaya dan Rega turun dari motor lalu berjalan mendekat ke arah mereka, pertanyaan sudah keluar dari mulut mereka. "Dia istri gue sekarang, terserah lo semua mau percaya atau nggak." Ucap Rega tiba-tiba yang membuat semua terkejut bahkan Sanaya pun ikut terkejut. "Uhuk-uhuk! Beneran dia istri lo? Kok bisa? Kapan kawinnya, Ga?" Dean bertanya sambil terbatuk-batuk karena dia tadi sedang minum saat Rega mengumumkan hal itu. "Nikah dulu, lol, bukan kawin!" Cakra membenarkan ucapan Dean. "Nggak penting, nanti juga lo semua tau sendiri. Sekarang ada apa? Ada yang penting?" Tanya Rega to the point. Awan berdehem untuk mengurangi semua kebisingan anggotanya, "Jadi gini, Ga, anak Justice Warior pengen ketemuan sama kita-kita. Nggak tahu dah mereka kesambet apaan sampe tiba-tiba nge-DM si Jerrick minta ketemuan." "Patut dicurigai." Gumam Rega yang disambut anggukan dari mereka. 🎶Bidadari keseleo mekso mekso banget nganggo kawat abang ijo...🎶 Sanaya segera merogoh ponselnya dan mengangkat telpon dari Revi. Karena dering ponselnya membuat semua tatapan mengarah kepadanya. Sanaya pun menjauh dari mereka untuk mengangkat telpon. Rega melihat istrinya yang berjalan menjauh darinya lalu tatapannya kembali ke Awan, "Apapun rencana mereka, kita harus selalu siaga. Gue takut ini jebakan mereka, dimana mereka ngajak ketemuan?" "Salah satu cafe milik anak buahnya, katanya cafenya sampe dia booking buat acara temuan sama kita," ujar Jerrick. Cowok itu kembali menatap layar ponselnya, "Besok abis pulang sekolah." lanjutnya. "Oh." Lalu Rega yang ingin duduk bergabung dengan temannya dia urungkan karena Sanaya yang tiba-tiba sudah menarik jaketnya. "Anterin pulang dulu kalo lo masih mau ngumpul. Gue ada PR fisika buat besok yang belum dikerjain." Ucap Sanaya sambil sedikit gemetar karena saat dia bicara semua teman-teman Rega diam. "Hm." Lalu tanpa pamit dengan mereka, Rega segera menuju motornya disusul Sanaya yang segera membonceng di belakang Rega sesaat setelah dia berpamitan dengan si pemilik rumah yang bernama Faqih. - oOo - Sanaya tidak tahu dengan jalan pikiran Rega, pikirnya Rega tidak akan menghiraukan ucapannya mengenai isi kulkas tadi. Tapi sekarang dia sudah menenteng plastik putih berisikan kebutuhan mereka selama ke depan. "Gue tuh nggak tau ya lo kayak gimana orangnya. Tapi kalau kayak gini lo tuh aneh tahu nggak!?" Ujar Sanaya "Nggak!" Sanaya berdecak dengan respon Rega, "Nyebelin banget sih lo!" "Hm." "Lama-lama gue curi juga tuh kantong Doraemon terus gue manfaatin pintu kemana aja dan tendang lo ke zaman dinosaurus yang bisanya cuma ham-hem doang." Rega yang berjalan terlebih dahulu di depan membalikkan tubuhnya lalu menghadap ke arah Sanaya. Dia menatap Sanaya yang lebih pendek darinya itu dengan sedikit senyuman geli. "Coba aja kalau lo bisa." Tantang Rega yang membuat Sanaya segera menginjak kaki Rega dengan kuat lalu berjalan meninggalkannya. Rega meringis saat merasakan cekut-cekut di jemari kakinya. 'Dia kenapa sih? PMS?' Rega menggelengkan kepalanya, benar-benar takjub dengan tingkah Sanaya. Dia harus menjinakkan Sanaya, pikirnya. Ya sepertinya dia harus benar-benar menjinakkan Sanaya agar bisa bertingkah lembut.Malam ini, apartemen Rega kedatangan teman-temannya, yaitu Awan, Cristian, Jerrick, Cakra dan Udin. Sanaya yang berada di kamar bersama Raffa merasa terganggu, apalagi dia sedang menidurkan Raffa supaya ia bisa belajar saat Raffa sudah tidur."Hish! Mereka pasti belum dikasih tahu Rega kalau di sini ada anak kecil. Dasar, Rega!!" Kesalnya. "Ma-ma~ mamamm~" Sanaya tertawa mendengar celotehan Raffa, "Kamu ngomong apa sayang? Laper? Mau nyemil?" Sanaya bertanya sambil menciumi pipi gembul Raffa.Raffa tertawa lebar saat pipinya dicium oleh Sanaya, dia pun merespon dengan menarik rambut Sanaya yang terurai bebas."Aduh!! Sakit loh, Raffa..." Ringis Sanaya yang memang sensitif saat rambutnya ditarik, "Kalau Raffa laper, kita keluar kuy ambil makan sekalian tegur om-om yang berisik itu!" Sanaya kemudian mencari hijab instan dan kardigan untuk di pakai karena saat ini dia sedang memakai daster panjang. Setelah memakai itu semua, Sanaya menggendong Raffa lalu keluar kamar. Sementara di r
Kini mereka sudah berada di dalam mobil, Rega menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, sesekali ia melirik Sanaya yang tengah mengajak ngobrol bayi di gendongannya. "Lucunya~ Hih!! Gemesh pipinya embem banget kayak bakpao!" Sanaya mencium pipi bayi itu yang begitu gembul. Bayi itu tertawa saat diciumi oleh Sanaya, tangan mungilnya juga mencoba meraih wajah Sanaya meskipun tak sampai. "Lega banget ya, Ga, karena bocil udah punya ibu susu." Dalam hati, Sanaya terus bersyukur karena memiliki mertua yang baik seperti Sicka dan Rion. Meskipun pernikahannya terkesan kurang baik, tetapi ada berkah yang tidak semua orang bisa dapatkan. Karena koneksi ibu mertuanya, Sanaya tak perlu khawatir dengan kebutuhan asi anak yang dirawatnya. "Hm." "Kita kasih nama apa ya,Ga, sama anak kita?" Tanya Sanaya. Cittt Dugh "Aduh!! Rega!! Hati-hati ngapa?!" Sanaya mengelus jidatnya yang terantuk dashboard. "Hihihi~" "Yeuu~ Si bocah malah ngetawain gue..." Karena gemas deng
Rega terkejut saat mendengar lengkingan Sanaya, apalagi istrinya itu langsung berlari setelah berteriak keras. Dia pun segera turun dari motor dan melepas helmnya lalu menyusul Sanaya.Rega melihat di depannya sudah ada begitu banyak warga yang mengerubung dan hal itu makin membuatnya mempercepat langkah kakinya. Setelah dia berhasil mendekat dan menyibak para warga yang berkerumun, dia mendapati Sanaya sedang menggendong bayi yang menangis kencang karena ikut terluka.Rega mendengar bahwa wanita ini korban tabrak lari, dan hal itu membuat Rega bertanya pada warga apakah sudah memanggil ambulance atau belum. "Sebentar lagi ambulance datang, Bang! Gue yang manggil." Tidak lama, ambulance datang dan segera membawa korban menuju rumah sakit terdekat. Sanaya ikut naik di dalam ambulance karena dia yang menjadi saksi sekaligus yang berani menggendong bayi korban. Rega memilih membuntuti ambulance dari belakang. Untunglah jalanan tidak macet seperti biasanya, jadi mereka tiba di rumah s
Berada di bawah kipas angin, serta guru yang tidak terlalu memperhatikan ke arahnya membuat Sanaya benar-benar harus menahan kantuk yang luar biasa. Menguap pun sudah tak terhitung lagi baginya. "Selanjutnya adalah menyetarakan jumlah unsur-unsur lain dengan kation, anion, hidrogen, dan oksigen. Kalau ada yang belum paham bisa ditanyakan besok." Terang Bu Puji selaku guru kimia, dan dibalas gumaman satu kelas. "Setengah jam lagi bel pulang, kalian kerjakan halaman tiga puluh, ya? Saya sedang ada tamu, jadi kalau saya belum kembali kalian nanti doa sama nyanyi sendiri saja." "Halaah~ Bu~" Satu kelas berseru sama dengan wajah lesu seolah-olah enggan ditinggal oleh Bu Puji. Dan tentu saja itu tidaklah ekspresi yang sebenarnya.Bu Puji tertawa, "Halah kalian ini, tidak usah acting, bilang aja kalian seneng kan?" Satu kelas tertawa ternyata Bu Puji tahu kalau itu hanyalah pencitraan mereka. "Ampun, Bu, hehe..." "Ya sudah kalau begitu, Bu puji keluar dulu ya... Assalamu'alaikum warah
Sanaya ternganga saat melihat apartemen yang akan dia tinggali bersama Rega tidak sama dengan apa yang dia pikirkan. 'Jangan bilang gue bakal sekamar terus sama Reganjay ini?!' Apartemen milik Rega hanya terdiri dari satu kamar, ruang tamu dan ruang tengah yang hanya dipisah oleh almari buku sebagai sekat serta dapur dan kamar mandi. "Sorry, apart gue kecil karena uang yang gue punya nggak cukup buat beli yang besar. Ini juga bekas apart-nya temen gue sendiri, makanya dijual murah." Jelas Rega seolah tahu akan pikiran Sanaya. Sanaya sedikit terhenyak saat tahu Rega membeli apartemen ini dengan uangnya sendiri, dia mengira kalau apartemen yang membelikan orang tuanya yang Sanaya tahu kaya raya. "O-oh ... iya gapapa," Balas Sanaya dengan tak enak hati, "tapi apa kita bakal sekamar?" Tanyanya pelan sambil menunduk, entah kenapa dia jadi malu sendiri bertanya tentang ini. "Ya dan seranjang." Tegas Rega sambil menatap Sanaya tajam. Sanaya langsung mendongak, "Heh Reganjay! Kok lo se
Ruang tamu rumah Rion kini begitu ramai tapi hanya ada keheningan yang tercipta di antara mereka. Mereka tidak tahu harus memulai pembicaraan darimana. Tapi akhirnya Kakek Afkar buka suara sebagai orang tertua di sana karena Ayahnya belum pulang. "Untuk Raka, saya meminta maaf atas kesalahan yang diperbuat oleh cucu saya dan membuat Sanaya ikut terseret menjadi korban di sini." Raka melirik sekilas putrinya yang duduk disebelahnya lalu kembali menatap Kakek Afkar. "Semua sudah terjadi, pak, lagipula kita tahu disini hanya kesalahpahaman. Tapi karena itu, saya ingin kalian dan sekeluarga bisa menerima Sanaya menjadi keluarga baru kalian." Balas Raka sambil menepuk pundak Sanaya pelan. "Bapak tenang aja, saya akan menjaga Sanaya. Karena dia sudah menjadi tanggung jawab saya sekarang. Dan untuk alasan apapun saya tidak akan menceraikannya." Rega berucap dengan tegas dan mantap sambil menatap Sanaya yang enggan melihat ke arahnya. Diam-diam Susi menghapus air matanya merasa bahagia,







