MasukSicka membuka pintu kamar anaknya, berniat untuk membangunkannya. Saat pintu terbuka,terlihatlah Rega yang bertelanjang dada dan hanya memakai celana boxer yang masih tidur nyaman di kasurnya.
Sicka geleng-geleng kepala karena melihat anaknya yang hobi tidur sampai siang ketika hari Sabtu dan Minggu. Dia melangkah masuk mendekati Rega, lalu kemudian mengguncang tubuh Rega. "Bang, bangun dong! Beliin Bunda bahan buat bikin keciput di supermarket kayak biasanya." Sicka terus mengguncang tubuh Rega sampai akhirnya cowok itu menggeliat dan bangun dengan muka bantalnya. "Eng ... " Balas Rega yang masih belum sepenuhnya bangun. "Oke, Bunda taruh uang sama daftar nya di nakas, kamu mandi oke?" Sicka pun melangkah keluar. Rega mengucek matanya lalu melirik jam dinding yang menunjukkan pukul setengah sepuluh. Langsung saja dia bangun dan menuju kamar mandi untuk mandi. Tak perlu waktu lama Rega sudah keluar dari kamar dan pamitan kepada Sicka yang tengah di dapur kemudian menuju garasi untuk mengambil motornya. Dia pun mulai menjalankan motornya keluar komplek dengan kecepatan tinggi agar segera sampai ke Supermarket. - oOo - Setelah tiga puluh menit berbelanja di Supermarket Rega berjalan keluar menuju motornya yang dia pakai. Tapi saat itu dia berpapasan dengan anak Justice Warior yang tengah menatapnya dengan seringaian di wajah mereka. 'Sial, mereka main keroyokan.' Umpat Rega dalam hati. Dia bukannya takut tapi dia hanya malas saja untuk memberi mereka pelajaran. Rega pun mengambil ancang-ancang untuk berlari saat melihat anak Justice mulai turun dari motor masing-masing. Setelah dirasa waktu yang cukup tepat, Rega langsung berlari kencang ke arah kampung Maduya yang memang dekat dengan Supermarket. Ada alasan kenapa Rega masuk ke dalam kampung, dia lebih menghindari adanya perkelahian. Mungkin saja bila dia masuk kampung, anak Justice tidak akan mengejarnya, tapi dugaannya salah. Anak Justice masih mengejarnya di belakang, membuat Rega menambah kecepatan larinya dan sampai di belokan jalan disitu ada banyak pohon pisang yang tumbuh. Segera saja dia menuju kesitu dan bersembunyi hingga... Dughh "Aduhhh!!" Pekik seseorang tertimpa tubuh Rega. Rega pun segera menutup mulut yang ditimpanya tanpa melihat korbannya. "Ssstt!" Rega mendengar suara anak Justice Warior yang sudah dekat, diapun lebih merapatkan tubuhnya kepada seseorang yang ditimpanya membuat orang itu menggeliat tak nyaman. Dapat Rega lihat siluet dua orang anak Justice Warior berdiri lumayan dekat dengan posisi Rega. "Pengecut banget si bisu itu. Udahlah balik aja kita. Dia udah pergi!" Ucap salah satunya "Hooh kuy lah, nggak seru deh!" setelah itu mereka berlalu pergi. Tanpa sadar Rega menghela nafas. "Emph ..." Rega tersentak dan segera melepas tangannya yang membungkam mulut seseorang di bawahnya. Rega makin terkejut saat tau orang yang ditimpanya adalah seorang cewek. Sementara cewek itu juga sama terkejutnya karena dia baru melihat jelas wajah Rega yang menimpanya. Masih dalam posisi yang sama mereka saling diam dan memandang. Tak jauh dari mereka ada sekitar lima bapak-bapak yang berniat mengambil pisang yang sudah matang di kebun itu kemudian mereka melihat Rega tengah menimpa cewek itu. "Pak Kar! Itu mereka pada ngapain?" Tanya bapak yang berkumis tebal. "Astaghfirullah! Itu mereka mau zina pak kayaknya, ayo kita harus bawa mereka ke pak RT dan arak mereka!" Seru Pak Kar kepada bapak lainnya. Mereka langsung mendekat dimana Rega dan cewek itu berada. "ASTAGHFIRULLAH, NAK! JANGAN BERZINA!" Pekikan itu membuat Rega sadar dan segera menyingkir. Dia melihat wajah bapak-bapak didepannya yang sudah menatapnya garang. 'Lepas dari mulut buaya masuk mulut harimau,' Rega tak percaya bahwa dia akan mengalaminya. - oOo - Revi yang tadinya ingin mandi terpaksa menundanya saat dia mendengar dari warga kampung yang tengah mengarak dua orang yang diduga berbuat zina di kebun pisang milik Pak Sutris. Dan dia makin terkejut saat tau yang diarak adalah sahabatnya, Sanaya. Revi menenangkan Sanaya yang terus menangis karena dia harus dinikahkan segera dengan Rega. "Hiks saya nggak berbuat zina pak hiks hiks, saya t-tadi cuma mau ngambil daun pisang " ucap Sanaya sambil sesenggukan. Revi tidak tau harus berbuat apa, karena tau akan kampung Maduya yang memiliki peraturan ada yang ketahuan warga tengah bertindak tak senonoh maka akan dinikahkan. Tidak peduli alasan apapun. Rega yang duduk di samping Sanaya diam tidak tau harus apa. Dia sudah menghubungi orangtuanya untuk datang ke kampung Maduya dan mengurus hal ini. "Apapun alasanmu, Nak, sesuai dengan peraturan yang sudah disepakati warga. Kamu harus menikah malam ini, dan segera hubungi orang tuamu untuk segera datang kemari." Jelas Pak RT yang sudah tahu Sanaya adalah warga yang menge-kos di kampungnya. Sejujurnya pak RT tahu kalau Sanaya tidak berbohong, tapi dia tak bisa apa-apa karena warga akan marah bila dia membela. Dengan tangan gemetar Sanaya memegang ponselnya lalu mulai menghubungi orangtuanya yang jauh berada di Kudus. "Halo Assalamualaikum, tumben telpon wayah awan, Nduk," Ucap seseorang disebrang sana yang di ketahui adalah ibunya Sanaya. (Tumben telpon siang nduk) Sanaya kembali menangis keras, "Hiks h-halo, buk... piye iki ..." - oOo - Malam tiba dan kini mushola sudah nampak ramai oleh warga yang ingin melihat acara akad nikah Rega dan Sanaya. Sanaya dan Rega sudah duduk bersebelahan dan di depannya ada pak penghulu yang bersiap untuk menikahkan mereka berdua. Tak hanya warga desa, di sini juga ada kepala desa dan petugas dari KUA turut hadir. Wajah Sanaya terlihat buruk karena seharian menangis, bahkan rasanya dia ingin merobek kebaya yang dia pakai sekarang. Dia menatap ke arah ibunya yang tersenyum tipis kepadanya. Mendengar berita tak mengenakkan dari anaknya membuat Susi dan Raka terkejut bukan main. Mereka tiba di Jakarta dengan cepat karena bantuan dari Sicka dan Rion yang sudah mengurus semuanya. Kini akad akan dimulai, Rega menghembuskan nafas pelan untuk mengurangi rasa gugupnya. Rega mendengarkan baik-baik penghulu yang mulai menuntunnya, "Bismillah saya terima nikah dan kawinnya Sanaya Qirani binti Raka Waseso dengan maskawin tersebut dibayar tunai!" Dengan satu tarikan, Rega berhasil mengucapakan kalimat sakral itu, semua warga yang hadir pun mengucap hamdalah begitu juga Ayah dan Bundanya. Rega menoleh untuk menatap wajah istrinya yang sudah sah baik agama maupun negara itu. Rega merasa bersalah saat melihat air mata Sanaya, gadis yang baru dikenalnya kemarin itu menetes lagi. Dia tau Sanaya disini hanya korban akibat dirinya. Setelah acara akad nikah selesai, mereka menuju rumah Rega dan keluarga besar Rega sudah menunggu disana. Rega dan Sanaya dibiarkan satu mobil berdua, dan itupun hanya keheningan yang terjadi di antara mereka. Rega yang tengah menyetir pun sesekali mencuri pandang ke arah Sanaya. Sedangkan Sanaya hanya menatap kosong ke depan tanpa ada niatan menoleh ke samping. Hancur sudah impian Sanaya yang ingin menikah dengan penuh cinta bersama orang yang dicintainya serta menggunakan gaun cantik. Semua hancur dalam sekejap. Bagaimana kalau berita menikahnya itu menyebar ke sekolahnya dan membuatnya dibully? Sanaya takut hal itu terjadi. Dia bukanlah gadis yang sembrono, dan bagaimana kalau orangtuanya menjadi perbincangan tetangga di desanya? Sanaya mengusap air matanya yang kembali turun. Apakah ini takdir yang digariskan oleh sang kuasa terhadapnya? Kalau dia boleh menolak, dia akan langsung menolak ini semua. Hingga Sanaya merasakan bahwa mobil yang ditumpanginya terhenti. Saat dia menoleh mobil sudah di tepi jalan. "Sanaya." Panggil Rega yang membuatnya enggan menoleh, karena cowok ini dia menjadi korban di sini. Hanya melihat wajahnya saja dia sudah benci. "Sanaya, gue pengen bicara." Panggil Rega lagi. Tapi masih sama. Sanaya tidak mau melihat wajahnya. Rega menghela nafas, dia juga merasa tertekan dengan kejadian yang menimpa dirinya, bukan hanya Sanaya saja. "Maaf." Ucapan itu akhirnya lolos dari mulut Rega yang jarang ia gunakan untuk bicara. Sanaya tengah sibuk menahan air matanya agar tak jatuh kembali. Entah kenapa mendengar kata 'maaf' dari Rega membuatnya semakin kalut ingin menangis meraung-raung. Rega kembali menjalankan mobilnya menuju rumahnya dan juga menyiapkan mental untuk menghadapi keluarga besarnya nanti.Malam ini, apartemen Rega kedatangan teman-temannya, yaitu Awan, Cristian, Jerrick, Cakra dan Udin. Sanaya yang berada di kamar bersama Raffa merasa terganggu, apalagi dia sedang menidurkan Raffa supaya ia bisa belajar saat Raffa sudah tidur."Hish! Mereka pasti belum dikasih tahu Rega kalau di sini ada anak kecil. Dasar, Rega!!" Kesalnya. "Ma-ma~ mamamm~" Sanaya tertawa mendengar celotehan Raffa, "Kamu ngomong apa sayang? Laper? Mau nyemil?" Sanaya bertanya sambil menciumi pipi gembul Raffa.Raffa tertawa lebar saat pipinya dicium oleh Sanaya, dia pun merespon dengan menarik rambut Sanaya yang terurai bebas."Aduh!! Sakit loh, Raffa..." Ringis Sanaya yang memang sensitif saat rambutnya ditarik, "Kalau Raffa laper, kita keluar kuy ambil makan sekalian tegur om-om yang berisik itu!" Sanaya kemudian mencari hijab instan dan kardigan untuk di pakai karena saat ini dia sedang memakai daster panjang. Setelah memakai itu semua, Sanaya menggendong Raffa lalu keluar kamar. Sementara di r
Kini mereka sudah berada di dalam mobil, Rega menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, sesekali ia melirik Sanaya yang tengah mengajak ngobrol bayi di gendongannya. "Lucunya~ Hih!! Gemesh pipinya embem banget kayak bakpao!" Sanaya mencium pipi bayi itu yang begitu gembul. Bayi itu tertawa saat diciumi oleh Sanaya, tangan mungilnya juga mencoba meraih wajah Sanaya meskipun tak sampai. "Lega banget ya, Ga, karena bocil udah punya ibu susu." Dalam hati, Sanaya terus bersyukur karena memiliki mertua yang baik seperti Sicka dan Rion. Meskipun pernikahannya terkesan kurang baik, tetapi ada berkah yang tidak semua orang bisa dapatkan. Karena koneksi ibu mertuanya, Sanaya tak perlu khawatir dengan kebutuhan asi anak yang dirawatnya. "Hm." "Kita kasih nama apa ya,Ga, sama anak kita?" Tanya Sanaya. Cittt Dugh "Aduh!! Rega!! Hati-hati ngapa?!" Sanaya mengelus jidatnya yang terantuk dashboard. "Hihihi~" "Yeuu~ Si bocah malah ngetawain gue..." Karena gemas deng
Rega terkejut saat mendengar lengkingan Sanaya, apalagi istrinya itu langsung berlari setelah berteriak keras. Dia pun segera turun dari motor dan melepas helmnya lalu menyusul Sanaya.Rega melihat di depannya sudah ada begitu banyak warga yang mengerubung dan hal itu makin membuatnya mempercepat langkah kakinya. Setelah dia berhasil mendekat dan menyibak para warga yang berkerumun, dia mendapati Sanaya sedang menggendong bayi yang menangis kencang karena ikut terluka.Rega mendengar bahwa wanita ini korban tabrak lari, dan hal itu membuat Rega bertanya pada warga apakah sudah memanggil ambulance atau belum. "Sebentar lagi ambulance datang, Bang! Gue yang manggil." Tidak lama, ambulance datang dan segera membawa korban menuju rumah sakit terdekat. Sanaya ikut naik di dalam ambulance karena dia yang menjadi saksi sekaligus yang berani menggendong bayi korban. Rega memilih membuntuti ambulance dari belakang. Untunglah jalanan tidak macet seperti biasanya, jadi mereka tiba di rumah s
Berada di bawah kipas angin, serta guru yang tidak terlalu memperhatikan ke arahnya membuat Sanaya benar-benar harus menahan kantuk yang luar biasa. Menguap pun sudah tak terhitung lagi baginya. "Selanjutnya adalah menyetarakan jumlah unsur-unsur lain dengan kation, anion, hidrogen, dan oksigen. Kalau ada yang belum paham bisa ditanyakan besok." Terang Bu Puji selaku guru kimia, dan dibalas gumaman satu kelas. "Setengah jam lagi bel pulang, kalian kerjakan halaman tiga puluh, ya? Saya sedang ada tamu, jadi kalau saya belum kembali kalian nanti doa sama nyanyi sendiri saja." "Halaah~ Bu~" Satu kelas berseru sama dengan wajah lesu seolah-olah enggan ditinggal oleh Bu Puji. Dan tentu saja itu tidaklah ekspresi yang sebenarnya.Bu Puji tertawa, "Halah kalian ini, tidak usah acting, bilang aja kalian seneng kan?" Satu kelas tertawa ternyata Bu Puji tahu kalau itu hanyalah pencitraan mereka. "Ampun, Bu, hehe..." "Ya sudah kalau begitu, Bu puji keluar dulu ya... Assalamu'alaikum warah
Sanaya ternganga saat melihat apartemen yang akan dia tinggali bersama Rega tidak sama dengan apa yang dia pikirkan. 'Jangan bilang gue bakal sekamar terus sama Reganjay ini?!' Apartemen milik Rega hanya terdiri dari satu kamar, ruang tamu dan ruang tengah yang hanya dipisah oleh almari buku sebagai sekat serta dapur dan kamar mandi. "Sorry, apart gue kecil karena uang yang gue punya nggak cukup buat beli yang besar. Ini juga bekas apart-nya temen gue sendiri, makanya dijual murah." Jelas Rega seolah tahu akan pikiran Sanaya. Sanaya sedikit terhenyak saat tahu Rega membeli apartemen ini dengan uangnya sendiri, dia mengira kalau apartemen yang membelikan orang tuanya yang Sanaya tahu kaya raya. "O-oh ... iya gapapa," Balas Sanaya dengan tak enak hati, "tapi apa kita bakal sekamar?" Tanyanya pelan sambil menunduk, entah kenapa dia jadi malu sendiri bertanya tentang ini. "Ya dan seranjang." Tegas Rega sambil menatap Sanaya tajam. Sanaya langsung mendongak, "Heh Reganjay! Kok lo se
Ruang tamu rumah Rion kini begitu ramai tapi hanya ada keheningan yang tercipta di antara mereka. Mereka tidak tahu harus memulai pembicaraan darimana. Tapi akhirnya Kakek Afkar buka suara sebagai orang tertua di sana karena Ayahnya belum pulang. "Untuk Raka, saya meminta maaf atas kesalahan yang diperbuat oleh cucu saya dan membuat Sanaya ikut terseret menjadi korban di sini." Raka melirik sekilas putrinya yang duduk disebelahnya lalu kembali menatap Kakek Afkar. "Semua sudah terjadi, pak, lagipula kita tahu disini hanya kesalahpahaman. Tapi karena itu, saya ingin kalian dan sekeluarga bisa menerima Sanaya menjadi keluarga baru kalian." Balas Raka sambil menepuk pundak Sanaya pelan. "Bapak tenang aja, saya akan menjaga Sanaya. Karena dia sudah menjadi tanggung jawab saya sekarang. Dan untuk alasan apapun saya tidak akan menceraikannya." Rega berucap dengan tegas dan mantap sambil menatap Sanaya yang enggan melihat ke arahnya. Diam-diam Susi menghapus air matanya merasa bahagia,







