Masuk"Sayang..." ucap Abi sembari memperlihatkan susunan giginya yang putih kepada Nayanika, saat ia baru saja pulang ke rumah."Mama... atit," ucap Nasya sambil mencebik di gendongan sang ayah sesaat setelah melihat ibunya ini."Hah? Sakit? Apanya yang sakit?" tanya Nayanika yang dahinya sudah muncul banyak kerutan.Wajah Abi pucat mendadak. Mau berpura-pura tidak terjadi apa-apa, anaknya yang semula sudah diam malah menangis lagi di depan ibunya. Habislah ia sekarang."Ini Mama," ucap Nasya sambil memegangi kepalanya sendiri.Nayanika mengambil Nasya dari gendongan Abi dan meraba kepala sang anak, lantas langsung melotot ketika merasa sesuatu yang tak beres."Mas... Kok Nasya benjolll!?" pekik Nayanika.Abi tersenyum kaku lalu garuk-garuk kepala. "Itu... em, tadi dia jatuh. Nggak sengaja. Sungguh," ucap Abi yang kelihatan ciut nyalinya di depan sang istri yang sedang murka."Ih!! Baru sekali nggak aku awasin, Nasya malah dibikin benjol begini sih!?" omel Nayanika."M-maaf. Maaf ya? Nggak
"Kamu lagi apa, Sayang?" tanya Abi melalui sambungan telepon seluler ketika baru saja tiba di rumah yang akan mereka tempati nanti."Bungkus paket," jawab Nayanika."Lho, kok masih kamu teruskan? Aku kan udah bilang, nggak usah jualan lagi. Tinggal aja. Aku udah kasih uangnya kan ke kamu. Ya kamu pakai uangnya," ucap Abi."Ya iya, Mas. Tapi ini udah pesenan orang. Masa iya nggak aku kirim juga? Kan udah dibayar, Mas. Paling-paling aku cuma abisin stok aja ini. Abis itu udah.""Oh gitu. Ya nggak apa-apa kalau gitu. Pin-nya udah aku kirim ya? Jangan lupa di-save.""Iya, Mas. Oh iya, Nasya lagi apa sekarang? Dia nggak rewel kan di sana? Dia nanyain aku nggak?" tanya Nayanika."Aman kok. Dia kalau sudah diajak keluar, pasti lupa sama ibunya sendiri," ucap Abi."Ya baguslah. Aku takut dia nangis di jalan tadinya.""Nggak dong. Hari ini mau aku suruh tukang pasang perosotannya. Jadi Nasya pasti nggak akan mau pulang.""Terus, tinggal apa yang belum selesai, Mas?" tanya Nayanika."Tinggal ca
Di meja makan.Nasya yang bangun lebih cepat karena tidur sudah sejak dari sore itupun ikut sarapan di meja makan. Dia sedang memperhatikan sang ibu yang sedang menyuapi neneknya dan sang ayah yang menyuapi ibunya."Papa kok di cini?" tanya Nasya yang akhirnya mengeluarkan isi kepalanya.Abi menoleh dan tersenyum kepada Nasya dan gemas dengan celotehannya. "Ya Papa kan ayahnya Nasya. Suaminya Mama. Jadi, Papa di sini sekarang.""Kenapa? Nasya mau Papa suapi juga hm?" ucap Abi lagi.Nasya mengangguk dan ambil mengambil sendok di atas mangkuk Nasya lalu mulai menyodorkan ke mulut Nasya sudah menganga duluan."Cini, Papa," pinta Nasya sambil mengambil sendok dari tangan ayahnya. Ia tidak sabar untuk memakan makanannya sendiri."Nasya nanti mau ikut Papa nggak?" tanya Abi."Ikut kemana, Mas?" tanya Nayanika."Aku mau lihat pengerjaan rumah kita. Mau aku tunggui juga, jadi mereka kerjanya nggak malas-malasan," ucap Abi."Oh... aku kira mau kemana," ucap Nayanika yang lantas menyuapi sang i
Nayanika menelan salivanya sendiri. Canggung sekali seperti ini. Lagi pula, dia benar-benar tidak mau melewatkan satu malam pun untuk istirahat. Ah tapi dulu pun begitu. Dia begitu menggebu-gebu di saat malam pertama dan sekarang pun ternyata masih sama."Eum, terserah. Terserah Mas aja," jawab Nayanika yang biarpun malu tapi tetap harus melayani suaminya ini dengan sebaik-baiknya. "Jadi boleh?" tanya Abi lagi yang ingin memastikan kenyamanan istrinya ini."Iya. Em... ya udah.""Ya sudah ayo sini," ucap Abi sembari membalikkan tubuh Nayanika hingga mereka bertatap muka. Abi memperhatikan setiap garis wajah Nayanika. Sementara Nayanika kembali memalingkan wajahnya karena malu ketika ditatap seperti itu."Lihat ke sini," perintah Abi sambil menyentuh dagu Nayanika dan menariknya hingga mereka kembali saling memandang.Abi kecup bibir Nayanika, hingga yang dikecup terbelalak. Abi lakukan itu tidak hanya sekali dan ketika kancing baju teratas hendak Abi tanggalkan, Nayanika malah menyen
Setelah pesta pernikahan usai. Abi pulang bersama dengan Nayanika dan juga keluarganya. Hari ini, mereka pulang ke rumah Nayanika yang sekarang. Karena rumah yang Abi beli dari Nayanika belum selesai di renovasi. Begitulah kalau pekerjaan tidak dipantau setiap hari, lama sekali selesainya. Padahal, Abi berharap bisa langsung pindah ke rumah itu setelah resmi menikahi Nayanika. Tapi ternyata, ia diminta untuk sabar dulu dan menjalani di rumah Nayanika yang sekarang.Mobil yang Abi kemudikan sendiri itu pun tiba juga di kediaman barunya yang sementara. Dia keluar duluan untuk mengambil kursi roda di bagasi belakang dan menyiapkan untuk sang ibu mertua, yang duduk di kursi belakang bersama dengan adik iparnya."Ayo, Ma. Sini Abi bantu ya?" ucap Abi seraya mengangkat tubuh sang ibu mertua dan menaruhnya di atas kursi roda."Nasya masih tidur, Kak?" tanya Mentari yang baru keluar dari dalam mobil kepada Nayanika yang juga baru saja keluar sambil menggendong Nasya."Iya nih. Kecapekan kayak
Keesokan harinya.Tubuh Nayanika sudah berbalut gaun warna navy yang Abi berikan kepadanya. Nasya pun sama. Tapi yang baru Nayanika sadari ketika Abi datang menjemputnya adalah, bila pakaian yang mereka kenakan ini ternyata couple-an. Dia sampai se-effort ini. Nayanika kira, karena takut mempermalukan Abi jadinya dia berikan pakaian. Tapi ternyata Abi ingin menggunakan pakaian yang senada dengan anak dan juga ia calon istrinya."Ayo sini, Nasya. Papa yang gendong kamu ya?" ucap Abi ketika sudah tiba di sebuah gedung serbaguna, yang menjadi tempat acara pernikahan Meisya.Gadis kecil itu sontak datang ke dalam dekapan ayahnya. Dia sangat tenang sekaligus bingung juga melihat tempat asing ini."Ayo kita masuk," ajak Abi dan Nayanika pun langsung meneguk salivanya sendiri. Tidak tahu apa yang akan terjadi di dalam nanti. Tetapi seperti apa yang Abi katakan, tenang saja, ada dia yang mendampinginya.Nayanika jadi lebih bisa merasakan kelegaan. Dia tidak harus menjalani semuanya seorang d







