LOGINNayanika mengalami kesulitan pasca sang ayah yang harus mendekam di dalam jeruji besi. Dia meminta pertolongan kepada sahabatnya, namun tidak disangka-sangka, sahabatnya tersebut malah memanfaatkan keadaan Nayanika yang sedang membutuhkan uang untuk ibunya yang sedang sakit. Nayanika, diminta untuk menggantikannya di malam pertama, karena sahabatnya itu yang telah kehilangan kesuciannya sejak lama. Demi agar tidak tersandung masalah dengan pria yang dijodohkan dengannya. Tetapi, penyelesaian masalah sekaligus petaka lah yang Nayanika terima. Di satu sisi masalah keuangannya teratasi. Tetapi, di sisi lainnya masalah baru malah menghantui Nayanika. Berkat malam itu, malah tumbuh sosok lain di dalam diri Nayanika. Harus bagaimana sekarang? Tidak mungkin juga meminta pertanggungjawaban kepada laki-laki yang telah beristri dan lagi, laki-laki itupun tidak pernah tahu, bila dia lah wanita yang ada di atas ranjangnya ketika malam pertamanya kala itu.
View MoreI had been raised to understand that every alliance carried a cost. Tonight, the Irish came to collect theirs.
Their Don spoke of unity, of bloodlines woven together like threads in a tapestry. But I knew better. Threads can be pulled. Threads can unravel. What they wanted was not unity — it was leverage. A Ricci bound to their heiress, a puppet dressed in tailored suits.
They thought I would not see it.
The stepdaughter was polished, rehearsed, every smile sharpened into a blade. She was the one they paraded before the world, the jewel they claimed as their own. But jewels are fragile. They crack under pressure.
My father slid the photograph across the desk, and the room shifted. Not the stepdaughter. Not the jewel. A different girl. Ciara.
Her eyes told me everything her family tried to hide. Quiet. Shy. A shadow in her own home. She had been overlooked, dismissed, treated as if she were less than blood. But I saw something they did not. Strength. Not the loud kind that demands attention, but the kind forged in silence, in survival.
“They expect me to marry the other one,” I said.
My father’s silence was sharper than most men’s threats. He did not need to answer. I already knew.
I studied Ciara’s face again. She did not look like a pawn. She looked like someone who had been underestimated too many times. Someone who might understand what it meant to carry a name like a burden.
The Irish thought they were moving a piece across the board. They thought they were clever. But I was not Luca. I did not rule with fear. I ruled with precision. And precision meant choosing the piece no one expected.
I would marry Ciara.
Not the daughter they offered. Not the heiress they polished. The one they tried to forget.
And in that choice, the game changed.
The Irish Don sat across from us, his rings glinting under the low light of my father’s study. His name carried weight in his world — Declan O’Connell — a man who had built his empire on charm and cruelty in equal measure. Tonight, he came with a smile that did not reach his eyes.
“My daughter,” he said, voice smooth as whiskey, “is the future of our family. A union with the Ricci name would bind us together, make us untouchable.”
I leaned back, letting the silence stretch. My father, Luca, did not rush to fill it. He never did. Silence was his weapon, sharper than any blade.
Finally, I spoke. “Your daughter,” I said evenly, “is polished. Rehearsed. She knows how to play the part you’ve carved for her.”
Declan’s smile widened, but I saw the calculation behind it. He thought I was agreeing. He thought I was already caught in his net.
“She is everything an heiress should be,” Declan pressed. “Strong, beautiful, clever. She will stand at your side and command respect.”
I let the words hang, then answered with precision. “Your daughter will stand at my side, yes. But respect is not commanded by rehearsed smiles. Respect is earned.”
Declan’s jaw tightened, though he masked it quickly. He believed I spoke of the stepdaughter — Isolde O’Connell — the jewel he paraded before the world. Every gesture tonight was meant to steer me toward her.
But I did not give him the satisfaction of a name. Every time I spoke, it was only your daughter.
Papa’s silence was approval enough. He had already slid the photograph across my desk earlier, the one Declan had not intended me to see. Ciara. The quiet one. The forgotten one.
Declan thought he was moving a piece across the board. He thought he was clever. But I was not my father, and I was not blind.
I would marry his daughter. Just not the one he offered.
Declan O’Connell rose from his chair with the same polished grace he had worn all evening. His words lingered in the air like smoke, promises wrapped in velvet but sharpened beneath. He believed the deal was sealed. He believed I would take the daughter he paraded, the jewel he polished.
When the door shut behind him, silence reclaimed the room. My father remained seated, his gaze fixed on the empty chair where Declan had sat.
“You saw it,” Luca said at last. His voice was low, steady, the kind that carried more weight than any threat.
I nodded. “Your daughter,” I repeated, the phrase deliberate, the refusal to name her intentional. “They think I will take the one they polished. The one rehearsed for the stage.”
Luca’s mouth curved, not into a smile, but into something sharper. Approval. “Which is why you will not.”
I leaned forward, studying the photograph again. Ciara’s eyes met mine from the paper, quiet but unyielding. She was not the jewel. She was the shadow. And shadows endure where jewels shatter.
“They will not expect it,” I said.
“They never do,” Luca replied. His hand rested on the desk, fingers tapping once against the wood. “Declan believes he is clever. He believes he can bind us with a pawn. But you will choose the piece no one watches. And in that choice, you will break his board.”
I folded the photograph, sliding it into my jacket pocket. The decision was made. "I meant what I said, Papa. I won’t hurt her—she’s going to be my wife, my Donna."
"I know, Figlio, and your mama and I are proud of you for that. You could have chosen to treat her any other way, but you see something in her—the same thing I saw in your mother."
Not the daughter they offered. Not the heiress they polished.
The one they tried to forget.
And in that silence, father and son understood: the game had already changed.
"Ini buah-buahan buat kamu nyemil sama ada biskuitnya juga," ucap Abi yang cepat-cepat keluar dari dalam supermarket setelah mendapatkan beberapa macam makanan untuk Nayanika makan di mobil."Terima kasih, Mas," ucap Nayanika yang matanya kini sudah berbinar-binar saat Abi memberikan tiga jenis buah potong hingga cake maupun biskuit."Iya, sama-sama. Aku ke dalam lagi ya? Mau beli untuk stok di rumah. Kamu lapar terus, jadi aku harus stok yang banyak. Oh iya, mau titip apa? Nanti aku belikan sekalian," tanya Abi."Eum, keripik kentang, Mas," ucap Nayanika yang bibirnya sambil maju-maju. Tapi dikiranya Abi akan kasihan dan membelikan? Ya jelas tidak."Kurang jelas kata dokter Anita tadi?" omel Abi."Satu bungkus aja, Mas. Buat ganti punya Mentari. Aku makan punya dia soalnya waktu itu," ujar Nayanika."Bener buat ganti punya Mentari? Bukan untuk dimakan sendiri?" cecar Abi."Beneran. Sumpah deh. Waktu itu aku ambil cemilannya dia. Terus belum aku ganti.""Kapan?" tanya Abi."Ya belum l
"Bagaimana maksudnya, Dok?" tanya Abi."Ini coba dilihat lagi. Ada kantong janin di sini. Eh tapi ini... coba tunggu sebentar." Dokter Anita menggerakkan kursor dan menandai kantong janin yang terlihat pada layar monitor. "Wah kembar ini!"Nayanika yang masih shock ketika tahu hamil langsung terbelalak. Sementara si pembuat hamilnya malah tersenyum lebar. Feeling-nya memang benar-benar kuat. Sudah hamil, kembar pula. "Ini satu, ini dua, terus ini... totalnya ada tiga ini," ucap dokter Anita dan Nayanika semakin menjadi-jadi shock-nya. Abi juga sempat sedikit terkejut tapi setelah itu tersenyum lebar lagi sambil menatap sang istri."Kan? Apa aku bilang. Kembar tiga, Sayang," ucap Abiyaksa dengan bangganya.Nayanika diam saja. Tidak terbayangkan, bila ada tiga bayi di dalam perutnya sekarang ini."Jadi pantas saja ya, Dok. Hamilnya baru beberapa bulan tapi perutnya sudah kelihatan. Soalnya ada tiga bayinya ya? Terus juga, istri saya ini makan banyak sekali akhir-akhir ini. Mungkin kare
Keesokan harinya. Keanehan Nayanika semalam rupanya masih berlanjut. Setelah makan dan dilanjutkan dengan memakan makanan yang lainnya juga. Ia sampai begah melihatnya tapi Nayanika malah santai-santai saja. Hingga pada siang harinya Abi yang sudah sangat gemas sekalipun menghampiri Nayanika dulu sebelum siap-siap pergi bekerja."Sayang?" panggil Abi."Hm? Kenapa, Mas?" sahut Nayanika yang matanya sudah kelihatan sayu."Ngantuk ya?" sambung Abi."Iya nih. Niat mau nemenin Nasya malah ikut-ikutan ngantuk juga." Nayanika menaruh telapak tangan kanannya di mulut dan lantas menguap."Eum, mau nggak besok atau pas libur nanti kita pergi ke rumah sakit," bujuk Abi."Hm? Rumah sakit? Mau ngapain emangnya, Mas? Ikut Mas praktek?" tanya Nayanika."Bukan. Bukan ikut praktek. Ya tapi... kita pergi periksa ke dokter," ujar Abi pelan-pelan."Buat apa?" tanya Nayanika."Ya buat periksa. Periksa keadaan kamu.""Aku?" ucap Nayanika dan Abi pun mengangguk cepat."Yang sakit terus muntah-muntah kan, Ma
Setelah muntah-muntah, Abi tidak lagi menghubungi Nayanika. Tetapi, dia selesaikan dulu pekerjaannya dan lantas pulang dengan terburu-buru. Sebelum bertolak dari rumah sakit tadi, Abi mengabarkan bila sudah akan melakukan perjalanan ke rumah dansetibanya di sana, ia pun langsung disambut oleh Nayanika yang kini berdiri di teras rumah."Sayang..." Abi merengek dan segera memeluk Nayanika. Ia sandarkan juga kepalanya di pundak istrinya itu dan mengadu seperti seorang anak kecil."Kenapa, Mas?" tanya Nayanika sambil menyentuh punggung Abi dengan kedua tangannya."Aku muntah-muntah terus. Tapi pas diperiksa katanya nggak apa-apa. Kira-kira aku kenapa ya? Apa aku kurang healing? Atau kurang dimanjain istri?" keluh Abi dan punggungnya itu langsung kena cubit sang istri."Aduh! Kok malah dicubit sih, Sayang?" keluh Abi."Ya lagian mual-mual masa iya hubungannya sama healing terus gara-gara ngga dimanjain istri juga. Teori dari mana itu?""Ya kan siapa tahu, Sayang. Abisnya mendadak banget a
Beberapa hari berikutnya.Nayanika baru saja selesai mandi. Ketika keluar kamar dan melihat sang suami yang tengah duduk di atas ranjang sambil menatap Nasya tadinya. Tetapi, saat melihat Nayanika yang hanya berada dalam balutan handuk saja, perhatian suaminya itupun teralihkan total.Dia memandang
"Sayang..." ucap Abi sembari memperlihatkan susunan giginya yang putih kepada Nayanika, saat ia baru saja pulang ke rumah."Mama... atit," ucap Nasya sambil mencebik di gendongan sang ayah sesaat setelah melihat ibunya ini."Hah? Sakit? Apanya yang sakit?" tanya Nayanika yang dahinya sudah muncul b
"Kamu lagi apa, Sayang?" tanya Abi melalui sambungan telepon seluler ketika baru saja tiba di rumah yang akan mereka tempati nanti."Bungkus paket," jawab Nayanika."Lho, kok masih kamu teruskan? Aku kan udah bilang, nggak usah jualan lagi. Tinggal aja. Aku udah kasih uangnya kan ke kamu. Ya kamu p
"Papa mamam?" ucap Nasya sambil menjulurkan sendok berisi makanannya kepada Abi.Abi tersenyum tipis. "Nggak sayang. Kamu aja yang mam ya? Papa masih kenyang," ucap Abiyaksa."Papa nda mau?" tanya Nasya."Iya. Buat kamu ya? Perut Papa masih kenyang nih," ucap Abi sambil mengusap-usap perutnya sendi


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore