Share

2. Kok Dia Kaget Banget, Ya?

Om Angga tiba-tiba membuka mata, ia menatapku.

"Kenapa, Sayang? Apa sangat sakit?" tanyanya tampak khawatir. Aku menggeleng pelan. Sebenarnya masih perih usai percintaan kami, tapi tak seperih ucapannya yang mengatakan besok angkat rahim.

Bagiku, tidak sempurna menjadi seorang perempuan jika tak bisa melahirkan anak untuk suaminya, tapi Om Angga malah ingin aku angkat rahim. Mama dan papa pasti akan syok jika mendengar aku akan angkat rahim. Aku tahu walau mereka tak sepenuhnya merestui pernikahan kami, tapi mereka pasti ingin aku memiliki keturunan bukannya menjadi perempuan mandul. Perempuan yang tak memiliki anak saja akan berusaha bagaimana caranya agar hamil sampai melakukan berbagai cara dan mendatangi dokter kandungan, aku malah disuruh angkat rahim. Aku menggeleng sambil terisak, aku tidak mau angkat rahim, tidak mau pokoknya.

"Sayang, kenapa?" tanya Om Angga lagi.

"Aku gak mau angkat rahim, Om," jawabku, menatapnya sambil terisak. "Kalau rahimku diangkat, aku gak bakalan bisa punya anak sampai kapanpun. Aku gak mau angkat rahim." Aku menutupi wajah dengan kedua tangan, bahuku berguncang-guncang oleh tangis. Terasa pergerakan di dekatku, lalu tubuhku dipeluknya. Setelah cukup lama aku terisak-isak, Om Angga meraih kedua tanganku dari wajah, memaksaku untuk menatapnya. Tangannya bergerak mengusap air mataku.

"Sayang, Deri dan Ian kan anakmu juga sekarang." Suara Om Angga terdengar lembut, tapi terasa amat menyakitiku. Aku mengangguk sambil menangis.

"Iya memang, Om, tapi aku juga ingin memiliki anak dari Om, anak kita." Kutatap wajahnya penuh harap, lalu aku buru-buru melanjutkan.

"Aku gak masalah kita memiliki anak tiga atau lima tahun lagi, Om, atau menunggu Ian lulus SD aku gak masalah. Tapi aku gak mau angkat rahim." Aku berharap ia mau mengerti.

"Sayang, dengarkan aku. Aku tidak ingin lagi punya anak, dua anak saja cukup. Jadilah istri yang berbakti pada suami jangan jadi istri durhaka." Diusapnya kepalaku. Ia memelukku, tangannya terus bergerak-gerak mengusap kepalaku penuh sayang.

Aku mendongak menatapnya, ia sudah kembali memejamkan mata. Aku mengamatinya dalam diam. Kenapa harus angkat rahim, Om? Padahal jika tidak ingin punya anak banyak cara bisa KB suntik, spiral dan lainnya bukannya membuang ciptaan Allah. Dosa iya, aku jadi mandul pun iya. Angkat rahim? Aku menggeleng. Takut juga bergidik.

Aku tak bisa tidur sepanjang malam karena memikirkan tentang angkat rahim. Hiii. Aku bergidik. Takut jika harus dioperasi juga dampaknya aku tidak akan pernah punya anak seumur hidup. Tatapanku menerawang menatap langit-langit kamar, otakku berputar mencari jalan keluar dari masalah ini selain angkat rahim. Mataku membulat dan aku tersenyum saat menemukan jalan keluar yang menurutku sangat brilian. Daripada aku angkat rahim yang pasti akan membuatku mandul, kenapa tidak Om Angga saja yang vasektomi? Aku tersenyum senang karena ideku itu.

Papaku juga vasektomi. Kandungan Mama lemah. Syukurlah aku bisa bertahan sementara adik-adikku selalu meninggal dalam kandungan. Tiga kali Mama keguguran. Akhirnya, Papa memutuskan vasektomi agar Mama tak hamil lagi.

Bukankah sama saja intinya jika Om Angga vasektomi? Aku tidak akan punya anak jika dia vasektomi. Dengan bibir menyungging senyum, aku balas memeluk suamiku tercinta. Senangnya hatiku karena sudah menemukan jalan keluar.

***

Kecupan lembut di kening membangunkanku.

"Pagi, Darling?" Sapa Om Angga dengan wajah segar sehabis mandi. Rambutnya basah. Aroma sampo dan sabun mandi menguar dari tubuhnya yang hanya mengenakan kaus dalam cokelat susu. Benda yang melekat pas di tubuhnya itu membuat badan suamiku terlihat begitu maskulis juga atletis. Ah gantengnya dia. Aku tersenyum kecil padanya lalu dengan manja mengulurkan tangan. Ia meraih kedua tanganku lalu menarikku perlahan hingga aku duduk di depannya yang berdiri depan ranjang. Kami berpandangan dan sama-sama tersenyum.

"Bangun lalu mandi. Setelah itu sarapan lalu kita pergi ke rumah sakit menemui temanku."

"Om aku gak mau angkat rahim. Gimana kalau--"

"Hiiiits." Belum selesai aku berkata, jari telunjuknya menempel di bibirku. Tatapan Om Angga lekat ke wajahku.

"Jangan jadi istri durhaka, Sayang. Sekarang mandi, ya? Aku sudah masak kesukaan kamu, ayam bakar lengkap dengan lalapannya."

Saat kami PDKT, Om Angga sering sekali masak buat aku. Dia baik sekali. Sering sekali aku diberi uang jajan olehnya. Dan yang paling kusukai darinya, dia tampak begitu mencintaiku. Dan itu ternyata terbukti, ini buktinya pagi-pagi sekali dia sudah masak buat aku. Harusnya kan aku yang masakin dia karena aku adalah istrinya. Ini malah kebalik. Ah senangnya aku diperlakukan bak ratu.

"Iya deh aku segera mandi," jawabku.

Nanti saja deh memberitahu ideku sambil makan. Om Arga mengulurkan tangan dan aku pun menyambutnya. Ia menarikku perlahan hingga kini kami saling berhadapan. Aku memandangnya dan tersenyum merekah.

Sungguh senangnya hatiku karena bisa menikah dengan lelaki pilihan hatiku. Ya setelah beradu argumen pada Papa dan Mama yang begitu melelahkan akhirnya aku resmi jadi istri Om Angga. Sungguh aku sangat mencintainya. Sangat sangat cinta. Tapi bukan berarti aku harus menuruti ucapannya. Cinta sih boleh, tapi bodoh jangan. Itu prinsipku. Jadi walau aku cinta mati padanya, tetap saja aku menggunakan logika. Kalau aku angkat rahim aku akan jadi mandul. Juga, aku gak tahu apa kami akan terus bersama-sama sampai mati atau tidak, itu adalah misteri. Aku belajar dari pengalaman bibi, ia dan suaminya dulu terlihat saling mencintai tapi berakhir perceraian karena suaminya selingkuh. Ya semoga saja Om Angga orangnya setia. Tapi memiliki suami ganteng macam Om Angga, tajir melintir juga penuh kasih sayang, aku was-was juga.

Cup

Kecupan pelan mendarat di keningku, Om Angga menatapku penuh cinta. Aku balas menatapnya penuh cinta juga dan mengalungkan tangan ke lehernya. Lalu dengan malu-malu aku mencium keningnya.

Ya lah aku malu-malu. Ini pertama kalinya aku mencium makhluk berjenis kelamin laki-laki. Sebelumnya enggak pernah karena aku gak pernah pacaran. Banyak teman cowok yang menembakku tapi kutolak karena tak cinta. Aku malah menyukai Om Angga.

Aku dan Om Angga itu gak pernah pacaran. Tapi kami sering tak sengaja bertemu. Kadang bertemu di taman saat aku sedang main ke taman dengan teman-teman, kadang bertemu saat aku sedang lari pagi, kadang bertemu di warung makan Padang milik sahabatku. Kata sahabatku Dayana, Om Angga adalah pelanggan tetap di warungnya. Hampir tiap Saptu Minggu datang ke warungnya. Yana bilang, Om Angga tiap makan hanya membawa dua anaknya. Om Angga terlihat begitu menyayangi anaknya, kata Yana dulu. Aku tadinya gak begitu merespons ucapan Yana. Tapi karena sering bertemu, aku lama-lama jadi penasaran. Pas aku sedang makan di warung Padang dan melihat Om Angga sedang makan dengan anak-anaknya, aku pun menghampiri. Berkata tiap aku melihat Om, selalu hanya bertiga. Istrinya gak diajak? tanyaku saat itu.

Om Angga menjawab, Mama Deri dan Ian sudah meninggal. Aku simpati padanya. Dari situ kami mulai dekat. Tiap tak sengaja berpaspasan di jalan, kami menyempatkan mengobrol. Lama-lama, aku kesemsem berat pada Om Angga. Semakin klepek-klepek. Jadi aku menembaknya duluan. Tapi aku ditolak olehnya. Memalukan, iyakan? Ha ha.

Iya, malu banget aku saat itu, anak kelas dua SMA nembak duda eh ditolak. Hu-saa. Jadi karena malu, aku selalu menghindar tiap bertemu dengannya. Aku terus menghindar, hingga pada suatu hari saat aku kembali menghindar, Om Angga mengejarku. Dia mengatakan, dia juga mencintaiku. Tapi dia tidak mau pacaran, katanya. Tapi kalau aku benar-benar cinta padanya, maka begitu lulus sekolah, aku mau dia nikahi. Tentu saja aku langsung mau. Aku jingkrak-jingkrak kegirangan. Aku suka dia aku sayang dia dan dia bilang mau menikahiku, tentu saja aku senang.

Dan seperti yang kalian ketahui, kami sudah jadi pasangan menikah sekarang. Aku bahagia tentu saja.

"Ya sudah. Aku tunggu di ruang makan. Mau dibuatkan susu apa cokelat?" tanyanya dengan senyum terulas di bibirnya.

"Cokelat. Om kan tau aku sukanya cokelat." Balasku sambil sedikit merajut.

"Baiklah. Aku buatkan cokelat. Segera mandi, ya?" Dia menekan hidungku.

Dikecupnya keningku, lalu ia berjalan keluar kamar. Sepeninggalnya aku segera mandi, mengganti baju dengan dres semata kaki, menyisir rambut di cermin setelah itu keluar kamar. Aku menuju ke ruang makan dengan pelan karena masih sakit usai percintaan semalam, tampak suamiku duduk di kursi tengah menyeruput kopi.

Aku menggeser kursi lalu duduk di hadapannya. Di meja telah terhidang ayam bakar lengkap dengan lalapan dan sambal yang tampak begitu menggoda. Ada dua piring masing-masing berisi nasi. Gimana gak meleleh coba, aku dengan perhatiannya? Aku meraih gelas berisi cokelat lalu menyeruputnya perlahan.

"Enak sekali buatan suamiku tercinta." Pujiku yang membuatnya tersenyum.

"Tadi aku sudah bilang pada Ibu, agar Deri dan Ian diantar kesini satu Minggu lagi setelah kita pulang bulan madu, Sayang," katanya diiringi senyuman.

"Memangnya Om gak kerja?" tanyaku yang diluapi perasaan bahagia. Bulan madu, aaaa senangnya. Senang banget, asli.

"Tentu saja aku sudah cuti. Mana mungkin tidak cuti di hari spesial kita, Sayang," katanya yang membuatku lagi-lagi tersenyum merekah. Aku klepek-klepek terbuai cinta.

"Setelah sarapan kita langsung ke rumah sakit, ya? Aku sudah buat janji temu dengan temanku."

Sebaiknya aku memberitahu ideku padanya. Aku yakin pasti dia sebelumnya gak memikirkan hal ini.

Suamiku meraih potongan ayam bakar lalu meletakkannya ke piringku, lalu ia mengambil untuk dirinya sendiri.

"Makan, Sayang."

Aku mengangguk. Om Angga mencubit daging ayam, meletakkannya ke nasi, diberi sambal lalu menyuapkannya ke mulut.

"Om, aku gak mau angkat rahim. Gimana kalau Om aja vasektomi? Kan intinya sama, aku gak mungkin hamil kalau Om vasektomi," kataku dengan tatapan ke arahnya.

UHUK-UHUK!

Bahunya bergetar-getar karena tersedak. Wajahnya memerah mungkin karena pedasnya sambal. Aku mengulurkan gelas berisi air putih padanya. Dia meraihnya lalu menyeruputnya.

"Kalau aku angkat rahim pasti belum pulih juga saat kita bulan madu. Jadi, Om yang vasektomi saja, ya? Kan kata Om, dua anak cukup."

Uhuk-uhuk!

Dia kembali tersedak. Aku memperhatikannya dengan heran. Kenapa dia sampai kaget begitu kan sama saja intinya. Iyakan? Aneh dia sampai tersedak-sedak begitu.

#Agaknya Mas Angga begitu kaget sampai tersedak-sedak gitu.

Komen (1)
goodnovel comment avatar
Chika Nabila Khoirunnisa
cerita nya baguuuss bngeet
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status