Mag-log inNayara segera keluar dari lamunan dan mengumpulkan keberaniannya.
"Ngapain Om ke sini?!" sergah Nayara refleks dengan suara bergetar menahan amarah, tubuhnya otomatis menegang dalam mode waspada.
Di depannya, Anton sunggingkan senyum manis—sebuah senyuman palsu yang justru terlihat amat culas di mata Nayara. Bahkan, Anton sengaja menampilkan raut penuh penyesalan.<
Allan mengabaikan tatapan sengit Nayara. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia memutar tubuhnya dan melangkah cepat keluar kamar menuju dapur. Tenggorokannya terasa terbakar—bukan hanya karena omelan Nayara, tapi juga karena detak jantungnya yang masih berpacu liar akibat kejadian tadi.Ia membuka pintu kulkas, mengambil botol air dingin, dan menenggaknya langsung sampai nyaris tandas. Jakunnya naik-turun seiring tegukan cepat itu, mencoba mendinginkan emosi dan rasa salah tingkah yang membakar dadanya.Dari tepi sofa, Nayara terpaku. Melihat punggung tegap Allan yang tampak begitu gusar dan napasnya yang terengah halus saat melangkah pergi, rasa bersalah perlahan merayap di dada Nayara. Dengan langkah pelan dan menggebu rasa tak enak hati, Nayara menyusul Allan ke dapur."Allan..." panggil Nayara lirih, berdiri canggung beberapa langkah di belakang pria itu.Allan meletakkan botol air ke atas meja bar dengan denting kaca yang agak keras. Ia tidak langsung memutar tubuhnya, hanya berdiri k
Strategi Nayara tepat. Begitu ia memberi lampu hijau, Anton pun pamit. Nayara menghela napas penuh kelegaan.Begitu Anton pergi, pelanggan datang. Nayara jadi cukup sibuk.Lalu, datang pelanggan lain. Nayara semakin sibuk."Mba, aku mau lihat barang yang ini." Seorang wanita menunjukkan layar ponselnya.Sekarang, Nayara tau kenapa hari ini pelanggan banyak memenuhi toko kecilnya.Iklan di media sosialnya berhasil. Banyak orang tertarik sampai mengunjungi toko karena iklan tersebut.Saking padatnya antrean pembeli, Nayara bahkan tidak sempat mengecek ponselnya. Padahal Allan mengiriminya pesan.Begitu jam operasional usai dan papan tulisan CLOSED digantung di pintu depan, seluruh energi Nayara serasa terkuras habis. Kakinya yang masih memar dan belum sepenuhnya pulih dari insiden heels semalam kini makin berdenyut parah karena dipakai berdiri seharian.Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, Nayara menyetop taksi dan pulang ke apartemen.Begitu sampai, suasana di dalam apartemen yang sejuk d
Nayara segera keluar dari lamunan dan mengumpulkan keberaniannya."Ngapain Om ke sini?!" sergah Nayara refleks dengan suara bergetar menahan amarah, tubuhnya otomatis menegang dalam mode waspada.Di depannya, Anton sunggingkan senyum manis—sebuah senyuman palsu yang justru terlihat amat culas di mata Nayara. Bahkan, Anton sengaja menampilkan raut penuh penyesalan."Sabar dulu, Nayara... Jangan galak-galak begitu," ujar Anton lembut dengan nada suara yang dibuat sehalus mungkin, melangkah satu pijakan lebih dekat ke meja dan menunjuk kursi. "Om boleh duduk di sini, ya.”Nayara tidak membalas. Ia hanya menatap Anton tetap dengan sikap waspada.“Om datang ke sini dengan niat baik. Mau minta maaf atas sikap kasa
“Kamu? Nayara istri Allan?”“Ibu Alania? Mama Allan?”Baik Nayara dan Alania menunjukkan layar ponsel masing-masing. Allan mengirimi Alania foto istrinya dan Nayara dikirimi foto mamanya. Tanpa kata, hanya foto.Nayara langsung merasa canggung. Ia segera memasukkan ponselnya dan membungkuk sedikit.“Salam kenal lagi, Ibu.”Alania terdiam. Lalu tersenyum sedikit.“Ayo, kita duduk.”Alania memimpin jalan ke meja di pojok ruangan. Ia duduk lebih dulu dan mempersilahkan Nayara.“Mau sarapan apa?” tanya Alania sambil menatap menu. “Telor setengah matang di restoran ini enak.”Nayara sebenarnya sudah sarapan. Gara-gara Allan mendadak memberitahunya, Mama Alania mengajaknya bertemu. Kalau tau, ia tidak sarapan dulu di apartemen.Sambil membalik-balik menu, Nayara mencari makanan ringan. Atau minum jus aja? Kurang sopan kah jika menolak tawaran makan dari Mama Allan ini?Nayara jadi benar-benar bingung sekaligus canggung.“Jadi, mau pesan apa?” Alania bertanya kembali saat ia telah selesai de
Demi menghindari ketegangan bagian bawah tubuhnya, Allan memilih tidur di kamar tamu. Ia menggeleng keras, kala memejamkan mata dan terbayang Nayara di ranjangnya.“Kenapa jadi mikiran dia terus?” gumam Allan kesal.Setelah memaksa diri untuk tidur, Allan akhirnya terlelap.Nayara yang bangun lebih awal merasa tubuhnya jauh lebih segar. Ia sama sekali tidak mengira bahwa Allan menginap di kamar tamu sebelah. Karena mengira hanya ada dirinya di apartemen tersebut, Nayara keluar dengan pakaian sangat santai dan polos.Ia hanya mengenakan tank top pas badan bernuansa putih tipis yang mengekspos bahu mulusnya, dipadukan dengan celana ketat legging setengah paha. Rambut panjangnya diikat asal-asalan menyerupai messy bun, menyisakan beberapa helai anak rambut yang jatuh di leher jenjangnya.Tanpa beban, Nayara melangkah santai ke dapur terbuka. Dengan gerakan lincah, ia mulai menyalakan kompor, meracik bahan-bahan sederhana untuk membuat sarapan hangat—beberapa lembar roti panggang dan tel
Langkah-langkah kaki mendekat membuat Allan dan Alania menoleh. Andrew berjalan bersisian dengan Benny sambil mengobrol.Dari pembicaraan mereka, Allan menyimpulkan bahwa Andrew sedang melaporkan perkembangan proyek yang ditanganinya.“Papa setuju dengan langkahmu. Semoga berhasil, ya.” Benny menepuk bahu Andrew.“Baik, Pa. Selamat istirahat.” Andrew lalu menatap Allan dan Alania dengan sedikit senyum. “Aku pamit.”“Sampai nanti, Andrew.” Alania membalas lembut, sementara Allan membuang wajah.Benny lalu duduk bersama mereka. Matanya langsung menatap Allan yang wajahnya sangat tidak enak dipandang.“Ada apa dengannya?” Benny bertanya pada Alania seraya mengendik pada Allan.“Bertengkar dengan istrinya.” Alania menjawab serius.“Mama sok tau!” protes Allan yang lalu mengalihkan pembicaraan. “Papa sudah minum obat?”“Lima belas menit lagi waktu minum obatnya.” Alania berdiri dan mengusap punggung Benny. “Aku siapkan obat kamu dulu, ya.”“Terima kasih.” Benny tersenyum dan mengamati Alan







