Share

8. So Sweet

Author: ReyNotes
last update publish date: 2026-10-09 12:31:49

Allan tidak membalas pernyataan Nayara, Tangannya bergerak santai meraih sebuah kotak ramping berbalut lapisan hitam dari konsol tengah. Dari sana, ia mengeluarkan sebuah ponsel keluaran terbaru yang memancarkan kesan mewah dan mahal.

Tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan di depan, Allan mengulurkan tangan besarnya ke arah Nayara. "Mana ponselmu?"

Nayara mengedipkan mata, bingung. Jemarinya refleks merogoh tas dan menarik keluar ponsel lama miliknya. Begitu Nayara menyerahkannya, Allan la
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Disava lasmawati
so swett seterusnya ya allan .... jangan cuma saat pamer di umum
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • NIKAH KILAT DENGAN LELAKI DINGIN   8. So Sweet

    Allan tidak membalas pernyataan Nayara, Tangannya bergerak santai meraih sebuah kotak ramping berbalut lapisan hitam dari konsol tengah. Dari sana, ia mengeluarkan sebuah ponsel keluaran terbaru yang memancarkan kesan mewah dan mahal.Tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan di depan, Allan mengulurkan tangan besarnya ke arah Nayara. "Mana ponselmu?"Nayara mengedipkan mata, bingung. Jemarinya refleks merogoh tas dan menarik keluar ponsel lama miliknya. Begitu Nayara menyerahkannya, Allan langsung menyambar ponsel lama Nayara dan memindahkan data dengan cepat.Beberapa menit kemudian, ponsel baru itu diberikan ke pangkuan Nayara."Nomor teleponku sudah tersimpan di ponsel itu," ucap Allan datar, suara baritonnya kembali dipenuhi nada perintah yang tak bisa dibantah. "Mulai sekarang, kalau mau pergi, izin dulu padaku."Nayara mematut benda ramping yang kini berada di telapak tangannya. Ponsel itu terasa dingin dan tebal oleh teknologi mutlak—sangat kontras dengan kehidupannya yang b

  • NIKAH KILAT DENGAN LELAKI DINGIN   7. Sandiwara Sempurna

    Suasana mencekam di lorong sempit itu akhirnya memaksa mereka berpindah ke ruang tamu. Sofa yang biasanya menjadi tempat Anton bersantai kini terasa penuh karena semua duduk dengan suasana tegang.Allan duduk dengan postur tegap, sementara tangan kanannya tak sekalipun melepaskan rengkuhannya dari pinggang Nayara. Ia menarik tubuh istrinya merapat ke sisinya, sebuah gestur posesif dan protektif yang seperti menjadi tamparan bisu bagi Anton agar tidak berani menatap Nayara sedikit pun.“Jelaskan padaku. Bagaimana kalian bisa tiba-tiba menikah?” ulang Riris, kini dengan nada lebih tegas."Aku rasa perkenalan barusan sudah cukup jelas, tapi mari kita luruskan semuanya agar tidak ada lagi... kesalahpahaman di kemudian hari," Allan memulai dengan nada datar. "Aku Allan Reunald Benjamin, putra bungsu dari Benjamin Ortega."Mata Tante Riris maupun Anton langsung melebar. Tentu saja mereka mengenal nama itu. Benjamin Ortega adalah salah satu konglomerat ternama di kota ini, teman lama mendia

  • NIKAH KILAT DENGAN LELAKI DINGIN   6. Kenapa Tiba-Tiba?

    "Tinggal bersamaku." Kalimat itu terus terngiang, berputar-putar di benak Nayara. Ia menelan ludah, membasahi kerongkongannya yang mendadak terasa kering kerontang.Malam ini. Ia akan berada di bawah satu atap, berbagi ranjang, dan tidur berdua dengan laki-laki asing sedingin Allan? Apakah ia benar-benar siap?Namun, ketegangan yang mencekiknya perlahan mengendur saat Allan ternyata tidak ikut bersamanya. “Aku ada urusan,” ucap Allan seraya masuk ke mobil lain.Peter – asisten Allan adalah lelaki yang mudah bergaul dan efisien. Begitu tiba di apartemen mewah Allan, Nayara langsung mendapatkan tur keliling apartemen.Nayara mengekor di belakang Peter bak pengunjung yang baru pertama kali masuk ke museum teknologi. Asisten berkacamata itu mulai menjelaskan segalanya sambil terus melangkah. Mulai dari panel layar sentuh di dinding untuk mengatur suhu ruangan dan pencahayaan, tirai otomatis yang terbuka mengikuti sensor cahaya matahari, hingga sistem keamanan biometrik dan pemindai waja

  • NIKAH KILAT DENGAN LELAKI DINGIN   5. Solusi Masalah

    Decitan pelan terdengar saat mobil mewah itu melambat dan berhenti di tepi jalan. Perlahan Allan menoleh. "Aku tidak sedang menawarimu dongeng romantis," lanjut Allan, suaranya kembali datar. "Tetapi dengan menikahiku, semua masalah finansialmu akan beres. Kamu juga bisa keluar dari rumah itu.”“Kamu tau tentang itu semua?”Allan melirik Nayara dari sudut matanya, lalu mengangguk singkat. "Kurasa kamu tidak memiliki jalan keluar lain, bukan?”Nayara membenci kenyataan bahwa apa yang diucapkan Allan benar. Meski ia mencoba mengelak, solusi menikah memang jalan pintasnya saat ini.“Baiklah.” Nayara membalas pelan. “Aku terima tawaran kontrak pernikahan denganmu.”Allan tidak berkomentar. Wajahnya pun datar saja mendengar pernyataan Nayara. Lelaki itu kembali melajukan kendaraan. Kali ini tidak ada lagi percakapan, hingga mereka berhenti di parkiran sebuah butik.“Masuklah.” Allan mengendik pada pintu butik. “Mereka sudah menunggumu.”Nayara menatap pintu mewah tersebut. Meski bingung,

  • NIKAH KILAT DENGAN LELAKI DINGIN   4. Hari ini?

    Nayara tidak menyembunyikan rasa terkejutnya mendengar lelaki tampan itu adalah Allan.“Kamu tidak berbohong, kan? Kamu betulan Allan? Kenalan Pak Benny? Bagaimana aku bisa percaya bahwa kamu adalah Allan?”Salah satu alis Allan terangkat mendengar Nayara mencecarnya dengan banyak pertanyaan. Tanpa banyak kata, Allan menunjukkan paspor-nya.Tubuh Nayara condong ke depan membaca identitas pada dokumen resmi tersebut.“Allan Reunald Benjamin.” Nayara membaca, lalu melirik Allan dan foto pada paspor. “Ternyata bukan duda tua,” gumamnya sambil menggeleng samar.“Apa maksudmu duda tua?” geram Allan.“Eh, maaf.” Nayara menunduk sedikit. “Aku pikir Pak Benny memintaku untuk menikahi temannya yang seorang duda tua.”“Jadi, Papa tidak memberitahumu bahwa aku adalah putranya?” Allan mendengus pelan.“Putra?” Nayara bergumam dalam hati dengan kedua alis Nayara saling bertautan “Bukannya anak-anak Pak Benny sudah menikah semua?”Meski sangat ingin bertanya lebih lanjut, Nayara memilih diam. Ia le

  • NIKAH KILAT DENGAN LELAKI DINGIN   3. Satu Kali Pertemuan

    Pagi-pagi sekali, Nayara menenteng tasnya, mengendap-endap keluar dari kamar. Tak lupa ia juga membawa kantong besar berisi barang-barang pemberian Darrel.Sayup-sayup terdengar suara lenguhan tertahan dan derit ranjang yang berirama. Ujung bibirnya mencebik penuh rasa muak mengetahui Tante Riris yang baik hati sedang berbagi keintiman dengan laki-laki hidung belang.Suara-suara dari dalam kamar sang tante itu membuatnya semakin menguatkan tekad untuk segera angkat kaki dari rumah ini, apa pun yang terjadi. Ia tidak mau terus hidup satu atap bersama predator yang berlindung di balik status suami tantenya.“Hari ini setelah jaga toko, aku akan cari kos-kosan.” Nayara berkata dalam hati.Nayara membuka pintu toko membuat lonceng kecil di atas pintu berdenting. Toko barang antik ini adalah satu-satunya warisan, sekaligus kepingan kenangan paling berharga yang masih ia miliki dari orang tuanya.Tatapan Nayara terpaku pada sebuah amplop cokelat yang tergeletak di lantai, tepat di dekat uj

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status