MasukSuasana mencekam di lorong sempit itu akhirnya memaksa mereka berpindah ke ruang tamu. Sofa yang biasanya menjadi tempat Anton bersantai kini terasa penuh karena semua duduk dengan suasana tegang.
Allan duduk dengan postur tegap, sementara tangan kanannya tak sekalipun melepaskan rengkuhannya dari pinggang Nayara. Ia menarik tubuh istrinya merapat ke sisinya, sebuah gestur posesif dan protektif yang seperti menjadi tamparan bisu bagi Anton agar tidak berani menatap Nayara sedikit pun.
“Jelaskan padaku. Bagaimana kalian bisa tiba-tiba menikah?” ulang Riris, kini dengan nada lebih tegas.
"Aku rasa perkenalan barusan sudah cukup jelas, tapi mari kita luruskan semuanya agar tidak ada lagi... kesalahpahaman di kemudian hari," Allan memulai dengan nada datar. "Aku Allan Reunald Benjamin, putra bungsu dari Benjamin Ortega."
Mata Tante Riris maupun Anton langsung melebar. Tentu saja mereka mengenal nama itu.
Benjamin Ortega adalah salah satu konglomerat ternama di kota ini, teman lama mendiang ayah Nayara, dan satu-satunya pelanggan VIP yang sering menopang napas toko barang antik keponakannya tersebut.
"Pak Benny...?" cicit Riris dengan suara serak, seolah tak percaya.
"Benar. Meski awalnya hanya sebagai pelanggan toko, Papa saya dan ayah Nayara lama-kelamaan berteman baik layaknya sahabat,” balas Allan yang lalu menatap Nayara. “Beliau sudah menganggap Nayara seperti putrinya sendiri," lanjut Allan lancar.
Bohong jika Nayara tidak merasa takjub mendengar kebohongan elegan yang dirangkai suaminya ini. Allan memutar fakta transaksi kontrak mereka menjadi sebuah dongeng perlindungan yang bermartabat.
Allan memberikan usapan pelan yang menenangkan di sisi pinggang Nayara, seolah meyakinkan istrinya bahwa ia memegang kendali penuh.
"Pernikahan ini memang terkesan sangat mendadak," ujar Allan lagi, suaranya kini sedikit merendah namun tetap mengintimidasi. "Itu semua karena permintaan mutlak dari Papaku. Lagipula, aku sangat tidak keberatan karena sebelumnya sering mendengar tentang Nayara dari mulut Papa.”
Kalimat terakhir itu diberi penekanan khusus, diiringi lirik tajam Allan ke arah Anton yang langsung menelan ludah dengan susah payah.
"Karena itu, secara hukum saat ini status Nayara berada di bawah perlindungan keluarga Benjamin," tegas Allan. "Mulai detik ini, Nayara adalah tanggung jawab saya.”
Riris kehabisan kata-kata. Matanya hanya menatap sendu sang keponakan kesayangan.
Nayara balas menatap dengan sedikit senyum. Lalu, meraih dan menggenggam tangan Tante Riris.
“Tante, Nay izin keluar dari rumah ini. Terima kasih karena sudah mengurus Nay selama ini.”
Riris sedikit terisak. Lalu, menarik tangan Nayara masuk ke dalam dekapannya. Keduanya sejenak saling berpelukan.
Tangan Riris membelai rambut Nayara saat ia menatap wajah keponakannya. “Tante masih nggak bisa percaya. Tetapi, Tante percaya padamu.”
Nayara mengangguk. “Nay akan baik-baik saja, Tan.”
“Harus!” Riris melirik Allan, lalu kembali menatap Nayara. “Tempat ini masih rumahmu. Pulanglah kalau terjadi sesuatu yang…. “
Riris tidak melanjutkan kalimatnya. Ia juga tidak mau berburuk sangka pada Nayara dan memilih menyimpan kaka-kata itu dalam hati saja.
Melihat interaksi mengharukan antara Riris dan Nayara, Allan menatap Anton. Lelaki itu bisa menyimpulkan siapa di rumah ini yang menjadi biang masalah.
Tanpa menunggu lama moment tersebut, Allan berdiri. Ia menarik pelan Nayara lalu menyelipkan tangan istrinya ke dalam genggamannya yang besar dan hangat.
"Kopermu hanya satu?" tanya Allan melembut pada Nayara.
Nayara mengerjap. Tak mengira akan mendapat tatapan manis dari lelaki yang sejak pertemuan pertama mereka bersikap dingin tersebut.
Saking kagetnya, Nayara hanya bisa mengangguk.
Allan mengulurkan tangan, meraih gagang koper.
"Kami permisi dulu, Tante," ucap Allan singkat dan formal pada Tante Riris, sekadar memenuhi batas kesopanan.
Namun, tepat sebelum memutar tubuh untuk keluar, Allan menoleh lambat ke arah Anton. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, tatapannya mengunci sepasang mata lelaki itu. Ada kilat ancaman yang begitu dingin, tajam, dan mematikan di sana—sebuah peringatan bisu yang sangat jelas.
Anton refleks menelan ludah, mematung di tempatnya hingga pintu depan tertutup rapat.
Keheningan langsung menyelimuti mereka saat melangkah menuju mobil. Begitu pintu mobil mewah itu tertutup dan mengisolasi mereka dari dunia luar, kehangatan yang tadi sempat tercipta menguap tanpa sisa.
Seperti menekan sebuah sakelar, mode protektif Allan mati seketika.
Tangan kokoh yang semula melingkar hangat di pinggang Nayara langsung terlepas begitu saja. Allan menarik jarak, merapikan lengan kemejanya, lalu kembali bersandar kaku pada jok kulit.
Ekspresi Allan mendadak berubah menjadi sedingin es, kembali menjadi sosok lelaki berjarak dan tak tersentuh yang Nayara temui beberapa jam lalu.
Nayara tertegun di posisinya. Perubahan drastis itu terjadi begitu cepat hingga menyisakan debaran aneh di dadanya. Kontak fisik, dekapan hangat, dan perlakuan protektif tadi murni bagian dari sandiwara yang dirancang Allan dengan sempurna di depan Tante Riris dan Om Anton.
“Umm… terima kasih sudah datang dan menjelaskan tentang pernikahan kita.” Nayara berkata sambil meremas jemarinya.
Allan mendengus pelan. “Lain kali, kalau pergi sebaiknya kamu izin lebih dulu!”
Spontan, Nayara merengut. Ia menoleh menatap wajah Allan.
“Izin? Sama siapa? Aku nggak punya nomor teleponmu.”
Suasana di meja makan privat itu mendadak membeku. Hanya sejenak karena Jenny terlihat memutar bola matanya malas seraya melirik ke arah Allan."Ternyata anak ini masih sombong dan kasar!" cibir Jenny dengan nada sinis, menyindir protes Allan. "Cukup, Jenny! Jaga mulutmu!" bentak Pak Benny dengan suara parau namun penuh wibawa yang langsung membuat seketika seisi ruangan terdiam. Benny menatap tajam Grace, Jenny dan Andrew bergantian. "Siapa pun yang tidak bisa saling menghormati di meja ini, silakan angkat kaki sekarang juga!"Jenny mendengus pelan, memilih memalingkan wajah meski matanya masih menyiratkan kejengkelan, sementara Andrew hanya mengangkat bahunya acuh tak acuh sambil menyeringai tipis.Nayara duduk dengan sikap kaku. Lalu, mengembuskan napas perlahan saat meja itu akhirnya tenang karena sibuk memilih menu.Tiba-tiba, Allan mencondongkan tubuhnya ke dekat Nayara. Sangat dekat hingga Nayara bisa merasakan embusan napas Allan yang beraroma mint.“Mau makan apa?” tanya Al
Peringatan terselubung itu seolah menjadi pengingat yang telak. Allan pernah menegaskan bahwa meski ini adalah perjanjian kontrak, di depan publik, terutama di hadapan keluarga besar Benjamin, mereka harus tampil sebagai pasangan suami istri yang saling mencintai dan harmonis.Nayara meneguk ludahnya yang terasa pahit, berusaha menyembunyikan getaran di dadanya.Jujur saja, jika hanya harus pura-pura terpesona, itu bukanlah hal yang sulit. Allan memiliki segalanya untuk membuat wanita mana pun bertekuk lutut: garis wajah yang tegas, postur tubuh tinggi tegap yang mendominasi, serta aura ketampanan yang berbahaya dan memikat.Lelaki di sebelahnya ini memancarkan pesona alami yang begitu kuat tanpa perlu berusaha keras. Namun, justru itulah yang menakutkan bagi Nayara.Ia tidak ingin terbawa suasana. Ia tidak mau membiarkan hatinya goyah hanya karena sandiwara romantis ini, dan yang paling penting, Nayara menolak keras terlihat seperti wanita gampangan atau murahan yang bisa diatur oleh
Allan tidak membalas pernyataan Nayara, Tangannya bergerak santai meraih sebuah kotak ramping berbalut lapisan hitam dari konsol tengah. Dari sana, ia mengeluarkan sebuah ponsel keluaran terbaru yang memancarkan kesan mewah dan mahal.Tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan di depan, Allan mengulurkan tangan besarnya ke arah Nayara. "Mana ponselmu?"Nayara mengedipkan mata, bingung. Jemarinya refleks merogoh tas dan menarik keluar ponsel lama miliknya. Begitu Nayara menyerahkannya, Allan langsung menyambar ponsel lama Nayara dan memindahkan data dengan cepat.Beberapa menit kemudian, ponsel baru itu diberikan ke pangkuan Nayara."Nomor teleponku sudah tersimpan di ponsel itu," ucap Allan datar, suara baritonnya kembali dipenuhi nada perintah yang tak bisa dibantah. "Mulai sekarang, kalau mau pergi, izin dulu padaku."Nayara mematut benda ramping yang kini berada di telapak tangannya. Ponsel itu terasa dingin dan tebal oleh teknologi mutlak—sangat kontras dengan kehidupannya yang b
Suasana mencekam di lorong sempit itu akhirnya memaksa mereka berpindah ke ruang tamu. Sofa yang biasanya menjadi tempat Anton bersantai kini terasa penuh karena semua duduk dengan suasana tegang.Allan duduk dengan postur tegap, sementara tangan kanannya tak sekalipun melepaskan rengkuhannya dari pinggang Nayara. Ia menarik tubuh istrinya merapat ke sisinya, sebuah gestur posesif dan protektif yang seperti menjadi tamparan bisu bagi Anton agar tidak berani menatap Nayara sedikit pun.“Jelaskan padaku. Bagaimana kalian bisa tiba-tiba menikah?” ulang Riris, kini dengan nada lebih tegas."Aku rasa perkenalan barusan sudah cukup jelas, tapi mari kita luruskan semuanya agar tidak ada lagi... kesalahpahaman di kemudian hari," Allan memulai dengan nada datar. "Aku Allan Reunald Benjamin, putra bungsu dari Benjamin Ortega."Mata Tante Riris maupun Anton langsung melebar. Tentu saja mereka mengenal nama itu. Benjamin Ortega adalah salah satu konglomerat ternama di kota ini, teman lama mendia
"Tinggal bersamaku." Kalimat itu terus terngiang, berputar-putar di benak Nayara. Ia menelan ludah, membasahi kerongkongannya yang mendadak terasa kering kerontang.Malam ini. Ia akan berada di bawah satu atap, berbagi ranjang, dan tidur berdua dengan laki-laki asing sedingin Allan? Apakah ia benar-benar siap?Namun, ketegangan yang mencekiknya perlahan mengendur saat Allan ternyata tidak ikut bersamanya. “Aku ada urusan,” ucap Allan seraya masuk ke mobil lain.Peter – asisten Allan adalah lelaki yang mudah bergaul dan efisien. Begitu tiba di apartemen mewah Allan, Nayara langsung mendapatkan tur keliling apartemen.Nayara mengekor di belakang Peter bak pengunjung yang baru pertama kali masuk ke museum teknologi. Asisten berkacamata itu mulai menjelaskan segalanya sambil terus melangkah. Mulai dari panel layar sentuh di dinding untuk mengatur suhu ruangan dan pencahayaan, tirai otomatis yang terbuka mengikuti sensor cahaya matahari, hingga sistem keamanan biometrik dan pemindai waja
Decitan pelan terdengar saat mobil mewah itu melambat dan berhenti di tepi jalan. Perlahan Allan menoleh. "Aku tidak sedang menawarimu dongeng romantis," lanjut Allan, suaranya kembali datar. "Tetapi dengan menikahiku, semua masalah finansialmu akan beres. Kamu juga bisa keluar dari rumah itu.”“Kamu tau tentang itu semua?”Allan melirik Nayara dari sudut matanya, lalu mengangguk singkat. "Kurasa kamu tidak memiliki jalan keluar lain, bukan?”Nayara membenci kenyataan bahwa apa yang diucapkan Allan benar. Meski ia mencoba mengelak, solusi menikah memang jalan pintasnya saat ini.“Baiklah.” Nayara membalas pelan. “Aku terima tawaran kontrak pernikahan denganmu.”Allan tidak berkomentar. Wajahnya pun datar saja mendengar pernyataan Nayara. Lelaki itu kembali melajukan kendaraan. Kali ini tidak ada lagi percakapan, hingga mereka berhenti di parkiran sebuah butik.“Masuklah.” Allan mengendik pada pintu butik. “Mereka sudah menunggumu.”Nayara menatap pintu mewah tersebut. Meski bingung,







