MasukMalam itu butik Liora terasa berbeda, lebih rapi dari biasanya, lebih harum dengan lilin aroma mawar yang ia nyalakan khusus untuk menyambut tamu penting. Liora tak berhenti merasa gugup. Amanda Michelle. Model yang namanya sering ia dengar tetapi belum pernah ia temui langsung. Dan malam ini… Amanda akan datang melihat koleksi gaunnya sendiri.
Ketika suara mobil berhenti di depan butik, Liora merapikan rambutnya cepat-cepat. Pintu terbuka, dan Amanda melangkah masuk bersama manajernTangannya mulai gemetar. Ia memutar ulang video itu tanpa sadar, seolah berharap apa yang dilihatnya tadi hanyalah ilusi.Namun gambar itu tetap sama.Steven.Dan Amanda.Hatinya seperti diremas.“Tidak…” bisiknya lirih.Air mata yang tidak ia sadari mulai menggenang jatuh satu per satu.Ia mencoba berpikir logis. Mungkin ada penjelasan. Mungkin itu tidak seperti yang terlihat.Tapi mengapa ia tidak mengenakan kemeja?Mengapa Amanda memeluknya di atas ranjang?Mengapa video itu ada?Pertanyaan-pertanyaan itu menyerang tanpa ampun.Ponselnya terasa berat di tangan. Ia ingin menelepon Steven saat itu juga. Ingin menuntut penjelasan. Ingin mendengar suaranya.Namun pada saat yang sama, ia takut.Takut jika yang ia dengar justru akan menguatkan apa yang baru saja dilihatnya.Nomor tak dikenal itu tidak mengirim pesan apa pun selain video tersebut.
Layar itu menunjukkan panggilan video yang masih aktif.Selama beberapa detik kamera depan ponsel merekam jelas wajah Steven yang tanpa kemeja dan Amanda yang memeluknya erat di atas ranjang hotel.Posisi mereka… sangat mudah disalahartikan.“Shit.” Suara Steven berubah tegang.Tanpa berpikir panjang, ia langsung menekan tombol untuk mematikan panggilan itu. Tangannya terasa dingin.Siapa yang ada di ujung sana?Seberapa lama mereka melihat?Apakah mereka sempat merekamnya?Steven mematung beberapa detik, pikirannya berpacu cepat. Ia menatap Amanda dengan tatapan tak percaya.“Amanda!” Ia mengguncang bahu wanita itu pelan namun tegas. “Bangun! Siapa yang kau telepon tadi?”Tidak ada respons.Amanda hanya mengerang pelan, lalu kembali terdiam. Benar-benar tidak sadar.Steven mengumpat pelan. Situasi ini terasa terlalu kebetulan untuk sekadar insiden mabuk biasa.Ia seg
Suasana meja itu kembali berat.Liora menunduk, mencoba meredakan detak jantungnya sendiri. Ia tidak mau terlihat goyah.“Jadi,” ia menatap Julian kembali, “itu alasanmu memperkenalkanku pada Jessica?”Julian mengangkat alis. “Jessica?”“Ya. Kau tiba-tiba membuatku bertemu dengan Jessica. Semua terasa seperti… sudah diatur.”Julian tertawa kecil. “Tidak sengaja.”Liora menatapnya curiga.“Hanya kebetulan Jessica tertarik pada gaunmu,” lanjut Julian. “Aku tidak merencanakan apa pun. Aku hanya membuka pintu. Kau sendiri yang masuk dan membuat mereka terkesan.”Liora terdiam. Sebagian dirinya ingin percaya bahwa semuanya memang kebetulan. Bahwa Julian hanya membantu karena ia peduli.Namun sebagian kecil lainnya bertanya… apakah benar hanya itu?“Julian,” ucapnya akhirnya, “aku tidak ingin hidupku dipenuhi kecurigaan.”“Aku tidak bermaksud membuatmu curiga.”“Tapi kau m
Liora tersenyum tipis, tapi ada getir di sana. “Saat itu kami masih muda. Ego lebih besar dari komunikasi. Hal sepele bisa terlihat seperti pengkhianatan.”Julian memperhatikannya dalam diam.“Kami tidak pernah bertemu lagi selama sepuluh tahun,” lanjut Liora pelan. “Hidup berjalan sendiri-sendiri. Aku membangun butik. Dia mengembangkan bisnisnya. Kami seperti dua garis yang sempat berpotongan lalu menjauh sangat jauh.”“Dan kemudian?”“Entah takdir sedang bercanda atau memang punya rencana sendiri,” Liora menatap gelas airnya. “Kami bertemu lagi. Dalam situasi yang tidak terduga.”Julian tahu ada bagian cerita yang tidak ia ceritakan sepenuhnya, tapi ia tidak memotong.“Dan akhirnya kau menikah,” simpul Julian pelan.Liora mengangguk. “Ya.”Julian menyilangkan tangan di atas meja. “Bagaimana jika kesalahpahaman itu kembali terjadi?”Pertanyaan itu membuat Liora mengangkat wajahnya perlahan.“O
Beberapa menit kemudian, ia kembali ke kamar tidur dan mulai melepas jasnya. Kancing kemeja bagian atas sudah terbuka ketika bel kamar berbunyi.Ding-dong.Steven berhenti sejenak. “Secepat itu?” pikirnya. Mungkin John sudah mengirimkan makanan.Ia berjalan santai menuju pintu tanpa banyak curiga, membuka kunci, lalu memutar gagang pintu.Begitu pintu terbuka—Sosok yang berdiri di depannya membuat napasnya tertahan.“Amanda?”Tanpa menunggu reaksi lebih lanjut, Amanda melangkah maju dan langsung memeluknya. Tubuhnya menempel erat pada dada bidang Steven. Aroma parfum mahal bercampur dengan bau alkohol yang samar menyengat.“Steven…” bisiknya pelan, wajahnya menempel di dada Steven.Steven terkejut, refleks tangannya terangkat. “Amanda, apa yang kau lakukan?”Ia mencoba menarik tubuh wanita itu menjauh, tetapi Amanda justru semakin melekat, kedua tangannya melingkar di pinggang Steven.
“Berikan yang terbaik padaku.” Mata biru Jessica berbinar. “Kalau kau menciptakan sesuatu yang paling istimewa, aku ingin menjadi orang pertama yang memakainya.”Liora tersenyum perlahan, rasa haru dan bangga bercampur jadi satu.“Aku sangat menyukai semua gaunmu, Liora,” lanjut Jessica tulus. “Dan aku ingin berjalan di atas karpet merah dengan karya yang membuatku merasa tak tergantikan.”Liora menarik napas dalam.“Kalau begitu,” katanya mantap, “aku akan memastikan setiap gaun untukmu bukan hanya indah … tapi tak terlupakan.”***Setelah percakapan itu berakhir dengan senyum dan kesepakatan awal, Liora dan Julian akhirnya berdiri untuk pamit. Jessica kembali menjabat tangan Liora dengan hangat, tatapannya penuh keyakinan.“Aku menunggu karya berikutnya,” ucapnya pelan.Liora mengangguk hormat. “Terima kasih atas kepercayaannya.”Tania kemudian mengantar mereka keluar. Sesampainya di depan lobi utama,







