Masuk“Berikan yang terbaik padaku.” Mata biru Jessica berbinar. “Kalau kau menciptakan sesuatu yang paling istimewa, aku ingin menjadi orang pertama yang memakainya.”
Liora tersenyum perlahan, rasa haru dan bangga bercampur jadi satu.“Aku sangat menyukai semua gaunmu, Liora,” lanjut Jessica tulus. “Dan aku ingin berjalan di atas karpet merah dengan karya yang membuatku merasa tak tergantikan.”Liora menarik napas dalam.“Kalau begitu,” katanya mantap, “aku akanSuasana meja itu kembali berat.Liora menunduk, mencoba meredakan detak jantungnya sendiri. Ia tidak mau terlihat goyah.“Jadi,” ia menatap Julian kembali, “itu alasanmu memperkenalkanku pada Jessica?”Julian mengangkat alis. “Jessica?”“Ya. Kau tiba-tiba membuatku bertemu dengan Jessica. Semua terasa seperti… sudah diatur.”Julian tertawa kecil. “Tidak sengaja.”Liora menatapnya curiga.“Hanya kebetulan Jessica tertarik pada gaunmu,” lanjut Julian. “Aku tidak merencanakan apa pun. Aku hanya membuka pintu. Kau sendiri yang masuk dan membuat mereka terkesan.”Liora terdiam. Sebagian dirinya ingin percaya bahwa semuanya memang kebetulan. Bahwa Julian hanya membantu karena ia peduli.Namun sebagian kecil lainnya bertanya… apakah benar hanya itu?“Julian,” ucapnya akhirnya, “aku tidak ingin hidupku dipenuhi kecurigaan.”“Aku tidak bermaksud membuatmu curiga.”“Tapi kau m
Liora tersenyum tipis, tapi ada getir di sana. “Saat itu kami masih muda. Ego lebih besar dari komunikasi. Hal sepele bisa terlihat seperti pengkhianatan.”Julian memperhatikannya dalam diam.“Kami tidak pernah bertemu lagi selama sepuluh tahun,” lanjut Liora pelan. “Hidup berjalan sendiri-sendiri. Aku membangun butik. Dia mengembangkan bisnisnya. Kami seperti dua garis yang sempat berpotongan lalu menjauh sangat jauh.”“Dan kemudian?”“Entah takdir sedang bercanda atau memang punya rencana sendiri,” Liora menatap gelas airnya. “Kami bertemu lagi. Dalam situasi yang tidak terduga.”Julian tahu ada bagian cerita yang tidak ia ceritakan sepenuhnya, tapi ia tidak memotong.“Dan akhirnya kau menikah,” simpul Julian pelan.Liora mengangguk. “Ya.”Julian menyilangkan tangan di atas meja. “Bagaimana jika kesalahpahaman itu kembali terjadi?”Pertanyaan itu membuat Liora mengangkat wajahnya perlahan.“O
Beberapa menit kemudian, ia kembali ke kamar tidur dan mulai melepas jasnya. Kancing kemeja bagian atas sudah terbuka ketika bel kamar berbunyi.Ding-dong.Steven berhenti sejenak. “Secepat itu?” pikirnya. Mungkin John sudah mengirimkan makanan.Ia berjalan santai menuju pintu tanpa banyak curiga, membuka kunci, lalu memutar gagang pintu.Begitu pintu terbuka—Sosok yang berdiri di depannya membuat napasnya tertahan.“Amanda?”Tanpa menunggu reaksi lebih lanjut, Amanda melangkah maju dan langsung memeluknya. Tubuhnya menempel erat pada dada bidang Steven. Aroma parfum mahal bercampur dengan bau alkohol yang samar menyengat.“Steven…” bisiknya pelan, wajahnya menempel di dada Steven.Steven terkejut, refleks tangannya terangkat. “Amanda, apa yang kau lakukan?”Ia mencoba menarik tubuh wanita itu menjauh, tetapi Amanda justru semakin melekat, kedua tangannya melingkar di pinggang Steven.
“Berikan yang terbaik padaku.” Mata biru Jessica berbinar. “Kalau kau menciptakan sesuatu yang paling istimewa, aku ingin menjadi orang pertama yang memakainya.”Liora tersenyum perlahan, rasa haru dan bangga bercampur jadi satu.“Aku sangat menyukai semua gaunmu, Liora,” lanjut Jessica tulus. “Dan aku ingin berjalan di atas karpet merah dengan karya yang membuatku merasa tak tergantikan.”Liora menarik napas dalam.“Kalau begitu,” katanya mantap, “aku akan memastikan setiap gaun untukmu bukan hanya indah … tapi tak terlupakan.”***Setelah percakapan itu berakhir dengan senyum dan kesepakatan awal, Liora dan Julian akhirnya berdiri untuk pamit. Jessica kembali menjabat tangan Liora dengan hangat, tatapannya penuh keyakinan.“Aku menunggu karya berikutnya,” ucapnya pelan.Liora mengangguk hormat. “Terima kasih atas kepercayaannya.”Tania kemudian mengantar mereka keluar. Sesampainya di depan lobi utama,
Jessica.Aktris film papan atas yang wajahnya sering menghiasi layar bioskop dan majalah fashion.Rambut hitam panjangnya tergerai lembut, kontras dengan mata birunya yang tajam namun hangat. Bibir kecilnya melengkung membentuk senyum ramah. Tubuhnya tinggi ramping dengan proporsi bak boneka barbie, anggun, hampir terlalu sempurna untuk nyata.“Julian,” sapanya hangat, lalu menoleh pada Liora. “Dan ini pasti Liora.”“Iya,” jawab Julian.Jessica melangkah mendekat dan menjabat tangan Liora tanpa kesan sombong sedikit pun. “Aku sudah melihat beberapa foto gaunmu. Aku tidak sabar melihat langsung.”Sambutan hangat itu sedikit meredakan ketegangan di dada Liora.“Terima kasih sudah memberi kesempatan,” jawab Liora sopan.Mereka duduk sejenak di ruang tamu suite yang luas. Jendela besar memperlihatkan pemandangan kota dari ketinggian. Setelah berbincang ringan tentang proyek film terbaru Jessica dan rencana acara red
Butik Liora kembali ramai.Sejak pagi, pintu kaca itu tak berhenti terbuka dan tertutup. Beberapa klien baru datang dengan antusias, sebagian membawa foto dari ponsel mereka.“Ini gaun yang dipakai Amanda kemarin, kan?” tanya salah satu wanita muda sambil menunjukkan gambar yang sudah beredar di media sosial.Liora tersenyum sopan, meski di dalam hati ia benar-benar bingung.Bagaimana berita itu bisa menyebar secepat ini?Amanda bahkan belum secara resmi tampil di acara besar mana pun dengan gaun tersebut. Namun kabar bahwa model ternama itu mencoba koleksi Liora sudah cukup membuat nama butik kecilnya mendadak diperbincangkan.Beberapa klien bergantian mencoba gaun biru bertumpuk tulle. Ada juga yang langsung meminta melihat gaun putih dengan cape elegan. Bahkan gaun glitter biru yang sebelumnya disebut terlalu seperti putri dongeng kini justru paling banyak diminati.Liora berdiri di tengah ruangan, membantu mengatur j







