Share

BUDI BAIK

Kim membuka matanya perlahan, ia mencoba untuk duduk, namun kepalanya terasa begitu sakit. 888 yang melihat Kim mulai sadar langsung menghampiri dan membantu Kim untuk duduk. 

"Anda sudah sadar, Nyonya?"

"Ah, dimana ini? Kau ... Ya Tuhan kau Young Joo,kan?" ujar Kim. 

"Betul, anda demam tinggi, ketika menyebrang jalan tadi sebuah truk hampir saja menabrak anda," jawab 888.

"Kau membawaku pulang? Ah, aku minta maaf sudah merepotkan,sejak semalam aku merasakan sakit kepala,tetapi aku memaksakan untuk bekerja. Untung saja, kau melihat dan menyelamatkan diriku. Aku berhutang budi kepadamu, terima kasih banyak," ucap Kim. 

    888 tersenyum, "Lain kali, jika sakit jangan memaksakan diri nyonya. Anda bisa saja tidak selamat dan meninggal dunia di tempat kejadian," sahut 444. Kim menoleh dan tersenyum. "Ah, Chin Hae. Terima kasih juga untukmu,kalian berdua baik sekali."

"Apa kau mau kami antar ke rumah sakit, Nyonya? Sepertinya anda demam,akan berbahaya jika dibiarkan," ujar 888.

"Tidak usah repot,sore nanti aku bisa ke rumah sakit bersama Eun. Ah, jangan panggil aku nyonya, panggil saja bibi Kim," ujar Kim. 

    888 berjalan ke dapur dan mengambilkan segelas air untuk Kim."Jam berapa Hyun pulang? Apa anda sudah makan? Biar aku buatkan bubur. Tunggu sebentar ya, kau jaga Bibi Kim, Chin Hae." 

Kim hanya tersenyum lemah, sementara 888 kembali ke dapur dan membuatkan Kim semangkuk bubur. Ia merebus sebutir telur untuk Kim makan. Setelah bubur siap, ia membawanya ke ruangan depan. 

"Aku jadi merepotkan dirimu, Young Joo. Terimakasih banyak ya. Apa kalian bekerja dekat tempatku bekerja juga? Rasanya minggu lalu aku sempat bertabrakan dengan Chin Hae." 

    888 dan 444 saling berpandangan. Bagaimana mungkin menjelaskan bahwa mereka adalah malaikat maut yang seharusnya membawa jiwanya ke langit. "Kami hanya kebetulan sedang mengurus sesuatu di dekat sana," jawab 888.

"Ah, ya aku mengerti." 

    Tiba-tiba saja, Hyun Jae pulang. Ia terkejut saat melihat 888 dan 444 ada di ruang tamu bersama ibunya. 

"Ibu tidak bekerja? Ada apa ini? Mengapa mereka ada di sini?"

"Ucapkan salam dulu, Hyun. Di mana sopan santunmu? Mereka membantu ibu tadi. Kalau tidak ada mereka berdua, mungkin saat ini kau sudah berada di rumah duka untuk mengkremasi jenazah ibu," ucap Kim. 

    Hyun langsung memicingkan matanya dan menatap 888 dengan tajam. 

"Ya,kenapa menatapku begitu? Bukan aku yang menyebabkan ibumu hampir celaka," cetus 888

"Lalu??"

    Kim menarik tangan Hyun Jae agar gadis itu duduk di sampingnya. 

"Tadi pagi, ibu sudah merasa tidak enak badan. Entah mengapa tiba-tiba saja ibu demam. Jadi, ibu pulang lebih cepat. Tetapi, ketika menyeberang jalan, ibu tidak berhati-hati. Ibu tidak melihat ada truk yang melaju dengan kencang ke arah ibu. Untung saja, Young Jo mendorong ibu ke trotoar. Setelah itu, ibu pingsan dan mereka berdua yang membawa ibu pulang. Bahkan, liat ini Young Joo sudah membuatkan bubur untuk ibu. Ayo, berterimakasih pada paman Young Joo dan paman Chin Hae."

     "Maafkan aku paman, terima kasih sudah menyelamatkan ibuku," ujar Hyun Jae. 888 hanya mengangguk. 

"Biar aku suapi buburnya ya, bu. Setelah ini ibu tidurlah di kamar," kata Hyun Jae sambil mengambil mangkuk berisi bubur dan mulai menyuapi Kim makan. Setelah selesai, Hyun Jae memapah ibunya perlahan ke kamar tidur untuk beristirahat. Dengan penuh kasih sayang Hyun Jae membantu Kim berbaring, kemudian menyelimuti tubuh ibunya. Setelah melihat Kim tertidur, Hyun Jae pun bergegas keluar. 

    Ia melihat 888 dan 444 berdiri di depan pintu rumahnya. 

"Benarkah? Kau menyelamatkan ibuku? Seharusnya, kalian menjemput ibuku bukan? Selama beberapa hari ini kalian pasti bersembunyi dariku sehingga aku tidak bisa melihat kalian. Betul begitu?" cecar Hyun Jae. 

    444 menghela napas panjang. "Ya, dia sudah menyalahi aturan langit dan mengambil resiko untuk menyelamatkan ibumu," jawab 444 sedikit ketus. Hyun Jae mendekap mulutnya,sambil membelalakkan mata. 

"Jadi, yang dikatakan ibu benar?"

"Apa kau tau apa resikonya? Roh 888 bisa dihancurkan oleh dewa. Dan, jika itu terjadi, dia tidak akan dapat bereinkarnasi selamanya. Percuma saja ia menjalani hukuman selama hampir tiga ratus lima puluh tahun," gerutu 444.

    Hyun Jae tertegun. Ia menatap 444 dengan tatapan penuh penyesalan. "Maafkan aku, sudah marah- marah tadi. Aku tidak tau, kalau ibu ... Biasanya beberapa hari menjelang kematian, aku selalu melihat para malaikat maut. Tapi, aku tidak melihat kalian di dekat ibu. Jika saja aku tau ...."

"Kau tidak bisa melihat malaikat maut itu, karena kamilah malaikat maut yang ditugaskan untuk menjemput Ibumu. Tetapi, dia tidak tega untuk melukai perasaanmu. Dia tidak tega membayangkan jika kau menjadi anak yatim piatu nantinya," ujar 444. Hyun Jae tidak tau harus berkata apa lagi. "Maafkan aku, Paman Young Joo. Aku sudah menyebabkan kau dalam masalah."

    888 hanya tersenyum, "Kau jangan khawatir, aku akan menanggung segala resikonya," ujar 888 dengan suara mantap. Hyun Jae menarik napas panjang. Ia duduk di teras rumahnya sambil menatap kebun bunga milik ibunya dengan perasaan tak menentu. "Kalau boleh aku tau, apa alasan paman menolong ibuku? Apa paman ingat kenapa waktu yang lalu saat aku marah kepada paman karena anak kecil yang tertabrak itu? Waktu itu paman bersikeras untuk tidak menolong anak itu. Tapi, kenapa paman tiba-tiba saja berbuat kebaikan kepadaku? Bukankah akan lebih mudah jika paman sejak awal menampakkan diri sehingga aku bisa tau apa yang akan terjadi pada ibu dan menyelamatkan ibu. Kenapa paman harus mengambil resiko?" tanya Hyun Jae pada 888.

    888 menghela napas, ia pun duduk di samping Hyun Jae. "Entahlah, tiba-tiba saja, aku merasa tidak tega melihatmu khawatir.  Namun, aku juga tidak mau kau menyalahi takdir. Tapi, aku sendiri tidak tega jika kau bersedih,aku sendiri tidak mengerti kenapa aku jDI sentimentil seperti manusia. Tapi, perasaan itu begitu kuat,dan saat aku melihat ibumu, aku seperti melihatmu dikejauhan sedang melambaikan tangan dan memintaku untuk menolong ibumu," ujar 888.

    Sementara itu, raja langit dan para dewa neraka bertemu di suatu tempat yang dinamakan bukit penantian. Di bukit ini, para roh- roh yang belum dapat bereinkarnasi tinggal di suatu penginapan yang dinamakan Hotel Jeongwol. Di hotel ini para arwah- arwah yang belum waktunya reinkarnasi akan menanti. Ada yang sudah puluhan tahun, bahkan ratusan tahun menanti. Arwah-arwah yang tinggal di hotel ini adalah arwah- arwah yang baik. Mereka belum bisa reinkarnasi karena masih ada yang mereka tunggu atau masih ada yang masih membuat mereka tidak tenang meninggalkan dunia.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status