LOGINhola teman-teman, selamat membaca. silakan tinggalkan jejak ya. terima kasih, lope-lope sekebon teh ❤️❤️🫶🫶
Aro dan ayah Radit setengah berlari menyusuri lorong rumah sakit. Di satu ruangan mereka bertemu petugas yang langsung mengenali Aro."Pak Gubernur," sapa si petugas sambil memberi hormat."Apa yang terjadi?""Sebelumnya saya ingin mengkonfirmasi. Apa Pak Gubernur mengenali mas ini."Si petugas menyerahkan satu KTP juga sebuah ponsel. "Iya, dia putra Pak Santosa. Staf keamanan di rumah saya.""Apa yang terjadi sama Radit, Pak?" Ayah Radit bertanya."Begini, kami menemukan Mas Radit hampir pingsan dihajar. Waktu kami temukan pelakunya sudah kabur."Ayah Radit syok. Baru minggu lalu Radit harus rawat inap karena keracunan. Dan sekarang, sang putra kembali terbaring di ranjang rumah sakit."Radit, yang sakit mana?" Pak Santosa mendekati brankar Radit. Kesedihan tampak jelas di wajah tua lelaki itu.Wajah Radit lebam. Ada perban di kepala, juga lengan. Di kaki, tangan, bahu lecet dan memar.
Suara air mengalir deras terdengar dari kamar mandi. Aro pilih melempar April keluar kamar saat menyadari perempuan itu coba menjebaknya.Daripada bercinta dengan April, Aro pilih mengguyur tubuh telanjangnya di bawah aliran air dingin.Aro sama sekali tidak peduli, April berteriak dari luar pintu. Kamar Aro terkunci ganda. Manual dan otomatis. Tak seorangpun bisa menerobos masuk kecuali Aro dan ... Lana."Lana," sebut Aro seraya mencari pelampiasan.Sudah dua kali mendapat pelepasan, tapi miliknya belum mau tidur. "Brengsek!" Aro memaki April.Berani sekali putri Arman melakukan hal menjijikkan itu. Sampai di puncak ketiga, pusaka Aro akhirnya tenang. Pria itu menghela napas. Dia mengganti pakaian dengan piyama hitam longgar lalu keluar kamar.Dia perlu teh panas setelah terkurung di kamar mandi hampir dua jam."Aro."Sang gubernur menatap dingin pada April. Wanita itu masih belum pergi rupa
Malam itu Aro tak benar-benar tidur. Dia telusuri rekaman kamera pengawas yang belakangan luput dari pantauannya. Kesibukan membuat Aro tidak sempat memeriksa apa yang telah terjadi di rumahnya.Satu persatu dia selidiki. Namun anehnya hanya kamera pengawas di sudut lorong lantai dua yang aktif. Yang lain sudah dilumpuhkan."Sial! Mereka tahu!" Makinya di tengah frustrasi yang kian merajalela. Kamera di dapur staf juga sudah lama tidak di periksa. Sejak Radit melaporkan hari itu. Hanya kejadian dia mendorong Lana yang terekam jelas.Aro menekan pelipisnya. Penyesalan terlihat jelas di parasnya. Di antara lelah juga rasa bersalah. "Lana."Untuk pertama kalinya Aro menyebut nama istrinya dengan sebak memenuhi dada. "Pulang," rintih Aro.Tubuh Aro bersandar sepenuhnya di punggung sofa. Netranya terpejam. Pikirannya mendadak kosong. Seorang Aro secara tiba-tiba kehilangan arah. Denting ponsel sang gubernur seketika mengembalikan kilat kesadaran di mata Aro. Pria itu buru-buru meraihny
"Di mana dia?" Aro nyaris mencekik Reza ketika bertanya soal Lana. "Berapa kali kubilang. Aku tidak menemukannya di sini. Atau di rumah sakit manapun di kota ini." "Laiv, di mana dia?" "Di rumah, makan sama orang tuanya." "Bohong!" "Tidak percaya. Datangi saja kediamannya jika nyalimu cukup besar." Aro menelan ludah. Kediaman Indra Wijaya. "Tidak berani?" Sindir Reza telak. "Aro, kalau Lana ingin menenangkan diri. Biarkan saja. Bukannya ini bukan kali pertama dia kabur. Tenang saja. Dia pasti pulang, kalau sudah kehabisan uang. Seperti waktu itu." Reza rasanya ingin menenggelamkan April ke lautan. Benar-benar ular betina yang wujud di dunia nyata. "Atau, Kakak blokir saja kartunya. Besok dia pasti pulang." Satu lagi perempuan dengan otak miring sebelah. Reza memicing tajam pada dua wanita yang lanjut makan anggur sambil tertawa-tawa. Katanya sakit, tapi Gita tampak baik-baik saja. Kebohongannya terlalu nyata untuk orang secerdas Aro. Sayangnya lelaki itu sep
April membekap mulut melihat Laiv baru saja menghantam rahang Aro. Tubuh sang gubernur terhuyung sebelum kembali berdiri tegak."Lana," sebut Aro. Kali ini penuh ketakutan. Penyesalan juga rasa bersalah di waktu bersamaan.Tatapannya tertuju pada brankar Lana yang mulai mendapat perawatan. Oksigen bahkan langsung dipasang. Monitor tanda vital seketika terhubung. Menunjukkan angka kecukupan oksigen yang mulai menurun."Hubungkan ke poli ortopedi. Hubungi juga dokter Jo. Kita harus melakukan pemeriksaan area tengkorak."Mendadak pandangan Aro terblokade sosok Laiv. Wajahnya memerah. Amarahnya siap diledakkan."Minggir! Jangan mendekatinya lagi. Urus saja adik sialan dan wanita licikmu itu.""Dia istriku!" Tanpa ragu Aro menyebut Lana istrinya."Jika kau menganggap dia istrimu setidaknya dia adalah prioritasmu. Dia terluka, tapi kau pilih adikmu yang pura-pura pingsan.""Gita pingsan betulan. Tidak pura-p
Dagu Aro terangkat ketika tangan Lana kembali bersiap menyerang."Ingat."Satu kata cukup untuk membuat Lana menurunkan lagi tangannya."Makanlah. Lalu turun, minta maaf.""Kenapa aku harus minta maaf?""Hasil lab-nya sudah keluar."Alis Lana menukik tajam. Netra beningnya memicing pada sang suami."Jangan bilang hasil lab-nya dimanipulasi. Atau kamu sedang menutupi kesalahan orang. Lantas menjadikanku tumbal."Aro diam. Dan itu cukup jadi jawaban untuk Lana. Dia abaikan sakit yang mendera area pribadinya ketika keluar dari kamar Aro.Kemarahan Lana tak main-main. Dia bergerak menuju tangga di mana dua orang menyeringai melihatnya.April dan Gita tersenyum satu sama lain."Mau ke mana kau bisu?!" Tatapan tajam Lana membuat April menggertakkan gigi. Namun bukan itu yang menyebabkan amarah April meledak.April melihat bekas kemerahan di leher dan dada Lana. Sebagai orang yang kerap bercinta. April tahu benar apa itu. Kissmark.Apa Aro dan Lana sudah tidur bersama? Pertanyaan itu memba







