MasukSelasa, 16 Oktober 2001.
Pukul sembilan lewat dua puluh, Nadya sudah berdiri di depan meja administrasi Evergreen Language Center di Panglima Polim.
Kelas dasar jadi dibuka dengan delapan peserta. Kepastian itu diperolehnya sehari sebelumnya setelah menelepon kembali, sehingga pagi ini amplop bertuliskan Bahasa Jepang dibawa utuh dari kos.
Petugas menghitung uang di depannya.
Pendaftaran dua puluh lima ribu. Buku tiga puluh lima ribu. Biaya kursus dua ratus empat p
Minggu, 17 November 2002Minggu siang, kantor depan PT Bumi Lintas Persada terasa lebih penuh daripada biasanya. Benny Tjong duduk di salah satu sisi meja bersama Januar, sementara Arman menyiapkan beberapa lembar hitungan dan hasil inspeksi Yamashiro. Benny datang ke Jakarta Sabtu malam setelah Januar menghubunginya soal hasil inspeksi Yamashiro.Di ujung meja duduk seorang lelaki berusia menjelang enam puluh dengan rambut yang mulai banyak memutih.Kolonel (Purn.) Harjono Wiratama.Nadya belum pernah bertemu langsung dengannya. Nama Harjono beberapa kali ia dengar dari Januar dan Benny sebagai partner Jakarta yang sejak awal membantu membuka jaringan bisnis di kota itu. Dalam pekerjaan sehari-hari, sebagian besar urusannya dijalankan Arman. Namun untuk keputusan yang menyangkut modal cukup besar, lelaki itu datang sendiri.Nadya sebenarnya tidak berencana ke Cakung hari itu. Januar menelepon pagi-pagi dan mengatakan Bang Benny serta Pak Harjono mem
Jumat, 15 November 2002Jumat pagi Nadya tidak memiliki jadwal kuliah. Biasanya ia memakai waktu kosong seperti itu untuk membaca di kos, mencuci pakaian, atau tidur lebih lama setelah pulang dari Ginza. Namun sebelum pukul sembilan, ia sudah berada di gudang Cakung.Januar datang lebih pagi. Arman juga sudah berada di kantor depan dengan map hasil meeting kemarin. Di dalam gudang, beberapa pekerja memindahkan pallet kosong dan membersihkan jalur dekat pintu loading. Januar sempat menghentikan seorang pekerja yang hendak memindahkan barang hanya agar bagian depan terlihat lebih lapang.“Rapikan yang memang harus rapi,” katanya. “Jangan bikin gudang ini kelihatan beda cuma karena ada tamu.”Arman tertawa kecil. “Bagus. Nanti kalau mereka datang lagi kita enggak perlu sulap dua kali.”Nadya berjalan perlahan di antara tumpukan barang. Ia mulai memperhatikan hal-hal yang kemarin hampir tidak terpikirkan ketika melih
Kamis, 14 November 2002Pukul setengah tujuh pagi Nadya sudah duduk di kursi belakang sedan operasional PT Bumi Lintas Persada. Blus putih, rok gelap di bawah lutut, dan sepatu tertutup membuat penampilannya jauh berbeda dari pakaian kampus maupun Ginza. Di pangkuannya terletak salinan bahan presentasi yang diberikan Arman dua hari sebelumnya. Beberapa halaman sudah dipenuhi tanda kecil dan catatan dengan tulisan tangannya sendiri.Arman duduk di depan bersama Januar. Sepanjang perjalanan menuju Cikarang, lelaki itu hanya mengulang pembagian peran mereka. Ia akan memimpin presentasi, Januar menangani pertanyaan operasional, sedangkan Nadya mengikuti jalannya pertemuan dan membantu bila memang diperlukan.“Jangan merasa harus jawab semua,” pesan Arman. “Kalau purchasing tanya sesuatu yang bukan bagian kamu, kasih ke Pak Januar atau saya.”Nadya mengangguk. “Kalau bahasa Jepang?”Januar melirik dari balik kemudi. &
Selasa, 12 November 2002Kelas terakhir Nadya baru selesai ketika ponsel biru tua di dalam tasnya bergetar. Pesan Januar singkat, memintanya datang ke gudang setelah kuliah karena ada kabar dari Cikarang. Nadya hanya membalas bahwa dirinya akan datang, lalu memasukkan buku ke tas dan berjalan menuju jalan raya.Selama dua bulan terakhir, urusan PT Bumi Lintas Persadatidak banyak masuk ke jadwal hariannya. Kuliah tetap mengambil sebagian besar siang, sementara beberapa malam masih dihabiskannya di Ginza. Company profile perusahaan Januar sudah selesai dibuat, lalu email perkenalan dikirim ke Purchasing PT Yamashiro Automotive Components Indonesiamelalui alamat yang sebelumnya diberikan Yamamoto. Beberapa kelengkapan sempat diminta setelahnya, mulai dari legalitas perusahaan, informasi gudang, sampai data armada. Namun sejak dokumen terakhir dikirim sekitar dua minggu lalu, tidak ada kabar lagi.Nadya juga tidak terus
Senin, 9 September 2002“Nad, Riko berkelahi dengan Hendra.”Nadya masih berdiri di depan meja. Kunci kamar belum sempat dikeluarkan dari lubang pintu ketika kalimat Mak Su membuat tangannya menegang.“Riko bagaimana?”“Dak apa-apa. Bibirnya pecah sedikit, tangan lecet.”“Hendra?”Mak Su diam sebentar. Di belakang suaranya terdengar kendaraan lewat dan percakapan orang-orang di wartel.“Lebih parah sedikit dari Riko, tapi dak sampai apa-apa.”Nadya menarik kursi dan duduk. “Kenapa mereka berkelahi?”Sepulang sekolah, Riko mampir ke rumah Lina. Belakangan ia memang masih sesekali datang menemui ibunya meskipun lebih banyak tinggal bersama Mak Su. Ketika sampai, Lina dan Hendra sedang bertengkar.“Soal apa?”“Dak tahu jelas. Kata Riko, Hendra sudah marah-marah sebelum dia datang.”Riko awalnya tidak ikut cam
Senin, 9 September 2002Selepas kuliah, Nadya tidak langsung kembali ke kos. Di dalam tasnya, buku kecil yang biasa dipakai mencatat pengeluaran kini berisi beberapa nama tamu Jepang dari Ginza. Sejak Jumat, satu nama paling sering kembali ke pikirannya: Yamamoto.Di dekat halte, Nadya berhenti di sebuah wartel. Ia mengeluarkan kartu nama Yamamoto dari dompet dan membaca nomor ponsel pribadi yang tertulis di belakangnya. Untuk percakapan yang mungkin panjang, wartel tetap lebih murah daripada memakai ponselnya sendiri. Nadya masuk ke salah satu bilik, meletakkan tas di pangkuan, lalu menekan nomor tersebut.Sambungan terangkat setelah beberapa kali nada panggil. Suara Yamamoto terdengar bercampur bunyi mesin dan percakapan dari kejauhan. Ia masih berada di pabrik dan mempunyai beberapa menit sebelum kembali ke bagian produksi.“Aku mau tanya soal kerjaan,” kata Nadya setelah memastikan lelaki itu bisa bicara.Yamamoto sempat terdengar h







