Belinyu, BangkaAgustus 2000“Kalau uangnya belum ada, adikmu ikut kerja besok.”Tangan Nadya Thung berhenti di atas buku utang.Bahar berdiri di seberang meja warung dengan rokok di bibir. Lumpur tambang mengering hingga lutut celananya. Di belakangnya, pompa pencucian timah meraung tanpa henti. Setiap truk melintas, gelas-gelas di rak kayu beradu.Riko berdiri di samping Nadya dengan seragam SMP yang mulai sempit. Kedua tangannya mengepal.“Adikku masih sekolah,” kata Nadya.“Sekolah dak bisa bayar utang.”“Ibu akan bayar setelah pekerja menerima upah dan melunasi utang warung.”Bahar tertawa pendek. “Orang berutang ngomongnya selalu sama.”Nadya kembali melihat buku di hadapannya. Hampir setiap hari ia membantu Lina mencatat pesanan kopi, nasi, rokok, dan minyak tanah. Ia mengenali angka-angka itu lebih baik daripada Bahar.Tiga bulan lalu, Lina meminjam Rp380.000 untuk menambah persediaan warung. Dalam buku Bahar, jumlahnya sudah berubah menjadi Rp620.000.Dua pembayaran belum dic
Huling Na-update : 2026-08-11 Magbasa pa