Share

KARTU NAMA

Author: Rania Arkana
last update publish date: 2026-10-03 09:38:45

Selasa, 12 November 2002

Kelas terakhir Nadya baru selesai ketika ponsel biru tua di dalam tasnya bergetar. Pesan Januar singkat, memintanya datang ke gudang setelah kuliah karena ada kabar dari Cikarang. Nadya hanya membalas bahwa dirinya akan datang, lalu memasukkan buku ke tas dan berjalan menuju jalan raya.

Selama dua bulan terakhir, urusan PT Bumi Lintas Persada tidak banyak masuk ke jadwal hariannya. Kuliah tetap mengambil sebagian besar siang, sement

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Nadya di Antara Dua Dunia   MEJA PURCHASING

    Kamis, 14 November 2002Pukul setengah tujuh pagi Nadya sudah duduk di kursi belakang sedan operasional PT Bumi Lintas Persada. Blus putih, rok gelap di bawah lutut, dan sepatu tertutup membuat penampilannya jauh berbeda dari pakaian kampus maupun Ginza. Di pangkuannya terletak salinan bahan presentasi yang diberikan Arman dua hari sebelumnya. Beberapa halaman sudah dipenuhi tanda kecil dan catatan dengan tulisan tangannya sendiri.Arman duduk di depan bersama Januar. Sepanjang perjalanan menuju Cikarang, lelaki itu hanya mengulang pembagian peran mereka. Ia akan memimpin presentasi, Januar menangani pertanyaan operasional, sedangkan Nadya mengikuti jalannya pertemuan dan membantu bila memang diperlukan.“Jangan merasa harus jawab semua,” pesan Arman. “Kalau purchasing tanya sesuatu yang bukan bagian kamu, kasih ke Pak Januar atau saya.”Nadya mengangguk. “Kalau bahasa Jepang?”Januar melirik dari balik kemudi. &

  • Nadya di Antara Dua Dunia   KARTU NAMA

    Selasa, 12 November 2002Kelas terakhir Nadya baru selesai ketika ponsel biru tua di dalam tasnya bergetar. Pesan Januar singkat, memintanya datang ke gudang setelah kuliah karena ada kabar dari Cikarang. Nadya hanya membalas bahwa dirinya akan datang, lalu memasukkan buku ke tas dan berjalan menuju jalan raya.Selama dua bulan terakhir, urusan PT Bumi Lintas Persadatidak banyak masuk ke jadwal hariannya. Kuliah tetap mengambil sebagian besar siang, sementara beberapa malam masih dihabiskannya di Ginza. Company profile perusahaan Januar sudah selesai dibuat, lalu email perkenalan dikirim ke Purchasing PT Yamashiro Automotive Components Indonesiamelalui alamat yang sebelumnya diberikan Yamamoto. Beberapa kelengkapan sempat diminta setelahnya, mulai dari legalitas perusahaan, informasi gudang, sampai data armada. Namun sejak dokumen terakhir dikirim sekitar dua minggu lalu, tidak ada kabar lagi.Nadya juga tidak terus

  • Nadya di Antara Dua Dunia   KEPALA PANAS

    Senin, 9 September 2002“Nad, Riko berkelahi dengan Hendra.”Nadya masih berdiri di depan meja. Kunci kamar belum sempat dikeluarkan dari lubang pintu ketika kalimat Mak Su membuat tangannya menegang.“Riko bagaimana?”“Dak apa-apa. Bibirnya pecah sedikit, tangan lecet.”“Hendra?”Mak Su diam sebentar. Di belakang suaranya terdengar kendaraan lewat dan percakapan orang-orang di wartel.“Lebih parah sedikit dari Riko, tapi dak sampai apa-apa.”Nadya menarik kursi dan duduk. “Kenapa mereka berkelahi?”Sepulang sekolah, Riko mampir ke rumah Lina. Belakangan ia memang masih sesekali datang menemui ibunya meskipun lebih banyak tinggal bersama Mak Su. Ketika sampai, Lina dan Hendra sedang bertengkar.“Soal apa?”“Dak tahu jelas. Kata Riko, Hendra sudah marah-marah sebelum dia datang.”Riko awalnya tidak ikut cam

  • Nadya di Antara Dua Dunia   VENDOR

    Senin, 9 September 2002Selepas kuliah, Nadya tidak langsung kembali ke kos. Di dalam tasnya, buku kecil yang biasa dipakai mencatat pengeluaran kini berisi beberapa nama tamu Jepang dari Ginza. Sejak Jumat, satu nama paling sering kembali ke pikirannya: Yamamoto.Di dekat halte, Nadya berhenti di sebuah wartel. Ia mengeluarkan kartu nama Yamamoto dari dompet dan membaca nomor ponsel pribadi yang tertulis di belakangnya. Untuk percakapan yang mungkin panjang, wartel tetap lebih murah daripada memakai ponselnya sendiri. Nadya masuk ke salah satu bilik, meletakkan tas di pangkuan, lalu menekan nomor tersebut.Sambungan terangkat setelah beberapa kali nada panggil. Suara Yamamoto terdengar bercampur bunyi mesin dan percakapan dari kejauhan. Ia masih berada di pabrik dan mempunyai beberapa menit sebelum kembali ke bagian produksi.“Aku mau tanya soal kerjaan,” kata Nadya setelah memastikan lelaki itu bisa bicara.Yamamoto sempat terdengar h

  • Nadya di Antara Dua Dunia   KOMISI

    Jumat, 6 September 2002“Nadya... sama siapa?”Nadya masih menahan pintu samping yang tinggal terbuka beberapa senti. Januar sudah berada di luar, tetapi bayangan tubuhnya mungkin masih terlihat kalau ibu kos maju sedikit lagi.“Teman saya dari Bangka, Bu.”Ibu kos memandang ke arah pintu. Pagi bahkan belum benar-benar terang. “Teman kok jam segini?”“Dia ada urusan kerja pagi. Tadi mampir sebentar.”“Kok keluarnya lewat belakang?”Dari luar terdengar mesin sedan dinyalakan. Nadya berusaha tidak ikut menoleh.“Biar enggak ganggu penghuni depan.”Ibu kos mengerutkan kening. “Nadya, laki-laki enggak boleh naik ke kamar. Saya enggak mau tahu teman, saudara, atau siapa. Sekali lagi saya lihat, kamu cari kos lain.”“Iya, Bu. Maaf.”Perempuan itu masih memandanginya beberapa detik sebelum berjalan kembali ke bagian dep

  • Nadya di Antara Dua Dunia   SEBELUM PAGI

    Jumat, 6 September 2002Gerakan Januar di sampingnya membuat Nadya terbangun.Kamar masih remang, tetapi cahaya tipis sudah mulai menyelinap dari sela gorden. Untuk beberapa detik ia hanya berbaring sambil mengingat kenapa kasurnya berada di lantai dan kenapa tubuhnya terasa begitu lelah. Lalu ia melihat Januar sedang duduk di tepi kasur, meraih celana panjang yang semalam tergeletak dekat kaki mereka.“Jam berapa?” suara Nadya masih berat.“Hampir lima.”Nadya mengerang kecil dan menarik selimut sampai dada. “Cepat amat.”“Kalau tadi ada yang mau berhenti, mungkin sekarang aku sudah tidur di rumah.”“Siapa yang datang ke sini?”Januar menoleh sambil tersenyum. “Siapa yang enggak mau berhenti?”Nadya mengambil bantal dan hendak melemparkannya, tetapi buru-buru menahan tangan sendiri. Ia masih ingat dinding tipis di sebelah. Januar tertawa tanpa suara

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status