Share

Kamar di Sebelah

Author: Rania Arkana
last update publish date: 2026-08-30 11:39:04

Nadya baru benar-benar merasakan betapa asing tempat itu setelah pintu kamar hotel tertutup di belakangnya. Tangannya masih memegang gagang pintu ketika pandangannya menyapu tempat tidur besar dengan seprai putih, telepon di meja kecil, televisi, dua kursi, teko air, dan pintu kamar mandi di sudut. Ia membuka sedikit tirai dan melihat lampu-lampu Pangkalpinang dari lantai dua.

Ini pertama kalinya ia menginap di hotel. Bahkan hal-hal sederhana membuatnya kikuk: apakah air di meja harus

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Nadya di Antara Dua Dunia   BERANGKAT

    Sebulan setelah membeli bikini biru bersama Yuli, Bali tidak lagi hanya berupa catatan di buku kecil Nadya.Legalisir ijazah tiba dari Bangka beberapa hari kemudian. Lima salinan yang sudah mendapat pengesahan sekolah langsung masuk ke map Atma Jaya bersama formulir, fotokopi identitas, pasfoto, dan catatan persyaratan yang masih harus diselesaikan. Nadya sempat kembali ke kampus untuk memastikan semuanya. Evergreen tetap berjalan dua kali seminggu, dan jadwal untuk minggu keberangkatannya sudah dipastikan agar perjalanan ke Bali tidak meninggalkan urusan yang belum jelas.Dalam sebulan itu Nadya mulai lebih mudah menangkap percakapan sederhana dalam bahasa Jepang. Ia belum sanggup mengikuti orang yang bicara cepat, tetapi tidak lagi harus menerjemahkan setiap kata di kepalanya.Menjelang akhir Februari, Yamamoto memberikan itinerary. Penerbangan Kamis pagi, 14 Maret, kembali Minggu sore. Hotel di Nusa Dua. Kamis ada meeting di Denpasar dan dinner malam hari, se

  • Nadya di Antara Dua Dunia   BUKAN SOAL BIKINI

    Selasa, 12 Februari 2002.“Kak, siang ini temenin aku cari baju.”Yuli yang sedang bersiap berangkat kerja awalnya hanya bertanya Nadya mau mencari baju apa. Baru ketika Nadya menyebut Bali, suara sepupunya berubah.“Bali? Sama Jepangmu itu?”“Yamamoto bukan Jepangku.”“Iya. Jepang punya orang lain.”Nadya mendengus, lalu menjelaskan bahwa perjalanan mereka berlangsung empat hari pada pertengahan Maret. Kamis dan Jumat masih ada urusan perusahaan, sedangkan Sabtu dan Minggu kosong. Ketika Yuli akhirnya bertanya berapa bayarannya dan mendengar angka empat juta di luar tiket, hotel, makan, serta transportasi, perempuan itu hanya bersiul kecil.“Lumayan. Berarti belanjanya pakai otak. Jangan dibayar empat juta, tiga jutanya habis sebelum berangkat.”“Itu juga yang kupikirin.”“Nah. Berarti kita masih benar-benar sepupuan.”Mereka sepa

  • Nadya di Antara Dua Dunia   SATU KAMAR

    Senin, 11 Februari 2002.Sore itu Nadya datang ke Ginza lebih awal. Mami sedang memeriksa daftar reservasi ketika ia duduk di kursi seberang dan langsung mengatakan bahwa Yamamoto mengajaknya ke Bali selama empat hari.“Empat juta di luar tiket, hotel, makan, sama transport. Kamis sama Jumat dia masih ada urusan kerja. Sabtu Minggu libur.”Mami hanya mengangguk. “Kamarnya?”Nadya terdiam.Pertanyaan itu memang sudah muncul di bukunya beberapa jam lalu, tetapi belum mempunyai jawaban.“Belum tanya.”“Ya tanya dulu.”Nadya sempat menunggu komentar lain, tetapi Mami kembali melihat daftar reservasi. Ketika ditanya apakah hanya itu sarannya, perempuan itu malah mengangkat bahu.“Soal uang kamu sudah bisa hitung sendiri. Mau pergi atau enggak juga bukan aku yang mutusin. Yang penting, jangan sampai ada hal yang baru kamu tahu setelah sampai Bali.Jawaban itu cukup.

  • Nadya di Antara Dua Dunia   EMPAT HARI

    Senin, 11 Februari 2002.“Kalau aku ikut, aku ikut sebagai apa?”Pertanyaan itu akhirnya keluar setelah beberapa menit Nadya memandangi Yamamoto. Lelaki Jepang itu sempat berpikir sebelum menjelaskan bahwa Kamis dan Jumat ia mempunyai urusan perusahaan di Bali. Meeting berlangsung siang hari dan mungkin dilanjutkan dinner bersama relasi pada malamnya. Sabtu dan Minggu tidak ada agenda kerja. Nadya tidak perlu ikut meeting, hanya beberapa dinner kalau diperlukan, sedangkan waktu lainnya bisa mereka gunakan bersama.“Jadi aku kerja atau liburan?”“Both.”Nadya mengernyit. “Enak banget jawabnya.”Yamamoto tertawa kecil. Ia lalu menegaskan bahwa Nadya tidak dibawa sebagai penerjemah. Bahasa Jepangnya memang mulai membaik, tetapi belum cukup untuk mengikuti pembicaraan teknis yang cepat. Ia hanya menyukai cara Nadya mendengarkan, mengingat orang, dan mencoba memahami pembicaraan. Gunawan dan Kobayas

  • Nadya di Antara Dua Dunia   LIHAT AKU

    Sabtu, 16 Maret 2002.Pagi itu Nadya sudah mengenakan bikini biru di balik kaus putih dan celana pendek krem ketika Yamamoto keluar dari kamar mandi. Ia hanya mengatakan ingin ke pantai. Yamamoto mengikutinya tanpa banyak bertanya, mungkin masih mengingat ucapan semalam bahwa hari itu Nadya yang menentukan.Di bawah payung pantai, Yamamoto melepas kaus. Tangan Nadya yang sedang membuka tas langsung berhenti. Selama ini ia lebih sering melihat lelaki itu dalam kemeja atau jas. Di bawah matahari, tubuhnya ternyata masih sangat terawat. Bahunya lebar, dada dan lengannya padat, sementara perutnya cukup rata. Garis otot di punggung ikut bergerak ketika ia membungkuk mengambil handuk.“Umur kamu sebenarnya berapa?”“Thirty-nine.”Nadya memandang sekali lagi, kali ini terang-terangan. Yamamoto menangkap tatapannya dan tersenyum sebelum berjalan menuju air. Nadya ikut menahan senyum. Ia teringat lelaki itu pernah menyebut jogging dan gym, sementara pilihan makannya hampir selalu sederhana. Pa

  • Nadya di Antara Dua Dunia   BUKAN BOOKING

    Minggu, 10 Februari 2002.Nadya bangun hampir pukul sebelas. Gaun Ginza masih tergeletak di kursi, sementara bekas merah di pergelangan tangannya sudah memudar. Malam ini ia tidak bekerja. Bukan berhenti, hanya satu malam tanpa contest, room karaoke, dan lelaki yang tidak dikenalnya.Menjelang sore ia menelepon Mami. Budi juga libur karena rahangnya masih bengkak, sedangkan urusan Harsono sudah diambil alih manajemen. Setelah menutup telepon, Nadya sengaja tidak membuka buku pengeluaran. Kos, Evergreen, Atma Jaya, dan kiriman ke Bangka memang tidak ikut libur, tetapi malam ini ia tidak ingin menghitung.Ia belajar sampai hampir pukul sepuluh sebelum ponselnya berbunyi.Yamamoto.Lelaki itu rupanya sempat menelepon Ginza dan mendengar kejadian semalam dari Mami.“How is your wrist?”“Sudah hampir hilang.”Yamamoto diam sebentar. “And you?”Pertanyaan kedua justru membuat Nadya terdiam.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status