LOGIN"Mmm karena semalam aku bermimpi aku naik naga yang sangat besar!" May berseru.
Aku menyembunyikan diriku di antara rak. Cukup bisa mendengarkan percakapan mereka tanpa harus ketahuan.
"Begitu ya."
"Apa kau pernah naik naga?" tanya May.
May. Gadis lajang pertama yang akan ditemui oleh Aegon di Akademi Aurelion. Ia berasal dari klan serigala. Tubuhnya atletis parah. Rok pendek berbulu warna coklat dengan hiasan ornamen tulang belulang, tanktop bulu warna senada yang menunjukkan belahan dada dan otot-otot perutnya. Dan juga sepatu bot dengan bulu hewan. Uhh ... seandainya dulu aku rajin olahraga, mungkin aku bisa punya tubuh seperti itu.
Pertama kali melihatnya dalam game, dia sangat imut. Tapi setelah melihatnya langsung, dia imut banget! Telinga serigala abu tua di kepala, rambut panjang hitam tergerai, pipi merah muda, sepasang mata kuning yang selalu berbinar-binar. Dia adalah karakter yang polos dan ceria. Namun karena May tidak punya kelompok dalam klan serigala, ia sering dikucilkan oleh sesamanya.
Kelak Aegon akan suka dengan kepolosan dan sifatnya yang selalu optimis.
"Ya. Sesekali," ucap Aegon.
"Waaah! Apakah aku boleh mencobanya kapan-kapan?!"
Ah! Ini dia. Seharusnya dia punya tiga pilihan jawaban yang bisa meningkatkan atau menurunkan perasaan May. Jika dia menjawab 'Tergantung apakah kau punya nyali atau tidak,' itu akan menambah sedikit perasaannya. Jika ia jawab, 'Aku bisa mengajakmu kalau kau berkunjung ke Ashen Peak,' itu jawaban terbaik yang bisa meningkatkan perasaannya. Tapi jika dia ....
"Apa kau gila?! Kau pikir kau siapa? Klan rendah sepertimu mana boleh naik naga?" tukas Aegon dengan nada tinggi. Lalu ia pergi meninggalkan May yang kini seluruh wajahnya terlihat begitu terluka.
'Guobloook!'
Aku tercengang.
Apa Aegon benar-benar baru saja menjawab dengan pilihan ketiga?! Cowok itu benar-benar sinting. Ternyata secara alamiah dia akan memberi jawaban paling buruk. Huh. Aegon tidak akan pernah tahu kalau jawaban-jawaban itu kelak bisa membuatnya terbunuh.
Dalam game, hal seperti itu disebut 'Heart Event' atau Adegan Hati. Dimana akan ada adegan-adegan khusus yang bisa membuat karakter gadis lajang meningkatkan perasaannya dengan perubahan warna hati. Saat aku memainkannya, setiap gadis punya gambar hati di dada. Dari hati warna hitam kecil, ke hati warna merah besar yang berdegup-degup kencang jika ia sudah naksir mampus pada karakter utama. Dan 'Heart Event' sangatlah istimewa. Jangan sampai salah jawab. Sekalinya salah jawab akan sangat merugikan.
Aku pun beranjak dari antara rak buku. Memutuskan untuk kembali mencari Mimi si gadis kelinci. Kepalaku masih berusaha memanggil memori di sudut kepala. Seingatku, Aegon disebutkan mendatangi perpustakaan untuk mencari tahu penyebab kematian tunangannya. Ia mencari tahu lebih jauh soal naga, tapi malah berpapasan dengan May.
Apa dia masih belum bisa menerima kematian Lyla hingga berusaha keras mencari tahu. Kasihan juga Aegon.
"Ukh!"
Terlalu banyak melamun, aku menubruk seseorang sekali lagi. Tubuhku tersungkur di lantai marmer. Namun kali ini tidak ada buku berserakan atau gadis kelinci kurus yang jatuh terduduk di hadapanku. Aku mendongak.
Seorang pria berdiri tegap. Ia memakai celana coklat tua berbulu dengan sepatu bot. Seluruh otot perut dan dada yang berlekuk-lekuk terpampang bebas. Rahang nyaris kotak maskulin, bibir seksi dengan mata abu muda yang menyapukan seluruh pandangannya kepadaku. Telinga serigala abu-abunya bergerak bebas. Hidung yang tinggi dan agak bengkok mengendus-endus aromaku. Aku menelan ludah.
"Seksi banget ...," racauku.
"Apa?" pemuda itu bertanya.
Aku terbelalak.
"Rex?!"
Aku segera menutup mulutku.
Pemuda seksi berotot, eh, maksudku pemuda yang ada di hadapanku ini adalah Rex Skarnfang! Ia sang serigala Alpha yang kelak berusaha merebut May dari Aegon.
"Apa kau akan duduk saja di sana? Mau aku bantu berdiri?" tanyanya sambil mengulurkan tangan.
Eh? Dialog ini .... Bukankah seharusnya ... ini dialognya untuk May? Seingatku, jika Aegon memberi jawaban tolol seperti barusan, Rex Skarnfang akan muncul. May dan Rex akan bertabrakan. Dari situlah Rex mulai mengenali aroma May, dan merasa May adalah belahan jiwanya.
Tunggu. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa malah aku yang bertabrakan dengannya?!
Jawabanku yang tak kunjung muncul membuat Rex berjongkok.
"Apa kau terluka?" tanyanya lagi.
Aku terlalu terpana kepada parasnya yang maskulin dan tubuhnya yang sangat seksi itu.
"Ti-tidak apa-apa. Aku ... Ah!"
Tiba-tiba ia menggendongku dengan begitu mudah. Jantungku berdegup tidak tentu. Aku bisa mencium aroma wangi beradu dengan aroma kelaki-lakian darinya. Wajahku menjadi panas.
"Terakhir aku menabrak seseorang, dia berakhir di klinik karena terluka. Sebaiknya aku bawa kau kesana untuk jaga-jaga."
Sial. Sial. Sial!
Seharusnya dia menggendong May! Bukan aku! Apa yang sebenarnya sedang terjadi?! Dan dia juga memberikan dialog untuk May kepadaku!
"A-Aku sungguh tidak apa-apa!" tukasku. Namun pria itu seperti tak memedulikan ucapanku.
"Aku akan membawamu ke klinik untuk diperiksa. Tenang saja."
Lalu ia menggendongku sepanjang jalan. Keluar dari perpustakaan, melalui koridor-koridor dalam gedung yang bercat putih gading.
"Hey, bukankah itu Rex si Alpha?" desis orang-orang.
Aku tak terlalu memerhatikan, karena aku sibuk dengan wajahku yang memanas, dan jantungku yang tidak mau tenang! Padahal aku yakin aku tak mungkin punya perasaan apa-apa pada Rex. Yah, meskipun dia sangat seksi, maskulin dan tampan, tapi ... seharusnya tidak sampai begini! Jantungku mau meledak rasanya. Apakah ini yang seharusnya May rasakan?
Tak berapa lama kemudian, kami tiba di klinik. Ada beberapa petugas di sana. Mereka menyapa Rex seperti ia memang telah sering bolak-balik ke klinik ini. Kemudian ia membawaku ke salah satu bilik kosong dengan sebuah kasur di dalamnya. Kini hanya ada kami berdua. Ia membaringkanku di kasur itu.
"Sudah sampai. Aku akan memeriksamu."
Seingatku adegan ini cukup cepat. Setelah dialog barusan, sedetik kemudian pemeriksaan kesehatannya pada May selesai. Lalu ia akan bilang, 'Aromamu menarik.' Dari dialog itulah nantinya hubungan May dan Rex akan berkembang.
"Sekarang lepaskan semua bajumu."
"Eh?" Aku terbengong.
"Lepaskan bajumu supaya bisa kuperiksa."
"Eh?! A-Apa yang ...."
Kuyakin wajahku langsung merah padam.
Di game tidak ada adegan begini woy! Apa-apaan ini! Tunggu. Apakah karena adegannya dipotong oleh sistem game, jadi aku tidak mendapati adegan pemeriksaan kesehatan?
Sekarang aku harus apa?!
Sebetulnya di awal mereka sudah menjelaskan bahwa Animari tak akan birahi cuma karena melihat tubuh polos lawan jenis. Toh yang namanya hewan, alaminya mereka tidak pernah pakai baju. Dan baju di dunia ini mayoritas adalah untuk formalitas dan menunjukkan status sosial.
"A-Aku tidak apa-apa kok, sungguh."
"Kalau kau tidak bisa melepasnya, aku bisa merobek baju itu untukmu."
"Eh! Ja-Jangan!" Kuhentikan tangan Rex sebelum tangannya yang berkuku tajam menyentuh gaun satin mahalku yang indah. Sayang kalau benda ini sampai rusak.
Aku pun akhirnya pasrah. Aku berusaha meyakinkan diri ini. Dia hanya ingin memeriksa tubuhku. Itu saja. Ya. Semoga itu saja.
Kulepaskan perlahan gaunku di hadapannya. Rex tak bereaksi apa-apa. Gaunku sudah kuletakkan di samping kasur. Tubuh ini begitu polos. Aku bisa melihat seluruh kulit perut, dan kakiku yang putih mulus di atas kasur ini.
Kurasa ini pertama kali dalam hidupku aku terbaring tanpa busana di hadapan laki-laki asing. Jantungku sudah mau copot. Kedua tanganku kututupi semampuku di bagian-bagian tertentu yang rasanya memalukan. Sementara mata serigala itu masih menyapukan seluruhnya kepadaku.
"Aku akan memeriksamu kalau-kalau ada memar atau keseleo," ucap Rex.
Ia pun memulai inspeksinya. Wajah Rex tak menunjukkan tanda-tanda seperti orang mesum atau sedang birahi. Justru dia terlihat sangat serius. Ia mulai meraba pahaku. Sentuhannya mulai kurasa dengan jelas.
Sial.
Jantungku tidak mau tenang! Ia menyentuh dan memijat singkat paha kanan dan kiriku. Sepertinya ingin tahu keadaan otot bagian dalam. Lalu ia beralih ke betis dan memeriksa pergelangan kaki.
"Kau tadi jatuh terduduk ya. Tolong berbalik, aku mau periksa tulang belakangmu."
Aku mematuhi perintahnya. Sejalan kemudian tubuhku sudah tengkurap. Tangannya yang agak kasar meraba tulang punggungku, ia urut satu persatu dengan jarinya, hingga mencapai bagian tulang yang paling bawah. Rasanya malu sekali.
Rex juga kini beralih ke paha dan betis bagian belakang. Ia meraba dan mengendus bertubi-tubi, membuat kulit putih susuku meremang dan merasakan hembusan panas napasnya.
"Tulang punggungmu baik-baik saja. Kau boleh berbalik lagi."
Aku masih mematuhinya. Tanganku kembali menutupi bagian tubuh yang memalukan. Wajah Rex lebih serius dari sebelumnya.
"Bisa tolong singkirkan tanganmu?"
"He?"
"Kalau kau tutupi begitu, aku tidak bisa periksa tulangmu yang lain."
Aku menelan ludah. Mau tak mau kulepaskan tanganku. Dadaku, perutku, seluruhnya sudah bisa ia lihat. Rex membungkukkan badannya. Wajah lelaki ini sudah dekat. Ia mengendus lagi ke kulitku. Wajahku betul-betul panas. Aku bisa merasakan seluruh napasnya menyapu dadaku.
Namun Rex mengernyit. Endusannya terhenti, dan ia menatapku.
"Kau ... sedang birahi, ya?"
"Apa yang terjadi?" tanyanya.Aku memerhatikan leher yang pejal bagai beton. Di sana ... anehnya angka meningkat sebanyak lima belas persen. Meski rantai masih berkedip berwarna putih.Tapi ... kenapa? Bukankah aku tidak bertemu dengannya dan tidak memiliki interaksi apapun dengannya selama berhari-hari? Mengapa tiba-tiba angkanya meningkat? Hal terakhir yang kulihat adalah saat sebelum aku ke kelas ramalan. Dia cuma si bodoh, serigala yang mengencingi dinding."Hmph! Rex si Alpha," ucapku dingin. "Orang-orangmu bikin ribut di kafetaria. Aku dan teman-temanku jadi tidak selera makan. Sebagai Alpha, harusnya kau lebih bisa mengendalikan sikap mereka, kan?""Dan kenapa mereka ribut-ribut di kafetaria?" selidik Rex.
Setelah masa berkabung, kegiatan belajar mengajar di akademi kembali berlangsung. Hari ini membosankan karena kelas Aritmatika. Kini sudah jam makan siang dan kuyakin semua orang beranjak menuju ke kafetaria. Aku, Mimi, Mina dan Momo, sudah seperti geng sahabat di serial-serial remaja. Kemana-mana bersama. Bedanya kami agak kutu buku dan murid rajin. Orang-orang termasuk Aegon juga sering tidak percaya denganku yang kini malah bergaul dengan orang-orang biasa seperti tiga gadis kelinci. Membahas pelajaran dan tugas-tugas. Orang-orang yang tadinya skeptis, kurasa kini mulai terbiasa dengan pemandangan ini.Setelah kupikir-pikir ... jika aku masih dalam alur permainan, seharusnya Ikaruz bisa dengan mudah menjadi milikku. Toh karena Lilia sudah tewas lebih dulu. Mungkin seharusnya aku mendekat Ikaruz agar kesempatanku memenangkan permainan ini bisa lebih mudah. Aku mengingat-ingat da
Kalau tidak salah, dia memang memanggilku dengan nama itu. Maika. Mungkin waktu itu dia tengah mengalami episode yang dia maksud. Apakah Daeruz mengalami semacam alzheimer? Pikun?"Anda waktu itu menyebut nama Maika. Apa dia adalah kenalan Anda?"Seketika wajah Daeruz berubah. Sekelebat nostalgia dan kerinduan yang menyayat hati ada di matanya. Menyakitkan, namun terasa begitu indah."Ya. Bisa dibilang begitu. Maika ... dia juga gadis naga sepertimu, yang kutemui bertahun-tahun yang lalu. Dia gadis periang yang punya senyum manis. Dia punya lesung pipit. Makanan kesukaannya kue lemon. Matanya biru secerah langit di musim panas dan rambutnya perak putih seperti sutra. Lembut dan licin.""Mirip seperti saya?"
Tanganku nyaris bergetar, nyaris membuat kemersak suara pada kertas perkamen polos yang agak tebal. Aku tahu dari siapa surat ini.'Mereka akan membawa petinya untuk penguburan langit. Dan tubuh itu akan jadi makanan burung-burung di antara awan. Maaf sudah menipumu, Nancy. Aku melihat dalam ramalan bahwa aku memang akan mati. Tapi jika aku membiarkan Aegon membunuhku, dia pun akan mati. Dan kau tak akan bisa menuntaskan siklus ini.Ada banyak hal yang ingin kukatakan kepadamu. Pertama, seperti yang kubilang kemarin, kau harus memenangkan siklus ini. Menangkan semua pria sekaligus, pastikan rantai mereka menjadi hitam dan angka di leher semuanya seratus persen. Jadikan kelimanya sebagai suamimu, maka kau akan menang. Siklus berikutnya akan dimulai, kau bisa dekati salah satu dari mereka, fokus pada setiap adegan rantai yang a
Pernahkah kau berpikir di tengah malam, saat kau tidak bisa tidur ... di tengah keheningan alam yang sedang beristirahat. Pernahkah kau berpikir ... apa yang terjadi jika segala yang ada di dunia ini tidaklah nyata. Bahwa kau tidaklah nyata. Bahwa kehadiranmu di semesta ini tidak akan mengubah apapun. Bahwa apa yang kau lakukan tidak akan membuat pembeda sedikit pun. Bahwa kau tidak berarti sama sekali.Aku merasa tidak bersemangat. Yang kulakukan cuma menangis semalaman. Aku diberi tahu oleh Hanna ... bahwa besok pagi-pagi sekali seluruh akademi akan mengadakan pemakaman Lilia di kuil akademi. Hanna telah menyiapkan gaun hitam untukku. Gaun duka.Aku cuma diam dan memakainya. Kemudian turun ke lantai lorong asrama dan melangkah bersama-sama murid lain yang juga telah mengenakan baju hitam-hitam. Aku yakin ada beberapa dari m
Elina berkeringat. Dia terengah-engah. Sepertinya ia memberikan seluruh tenaga dan semangatnya untuk menuduhku. Semua mata tertuju kepadanya. Telunjuknya bergetar saat mata tajam Aegon memicing kepadanya."Katakan padaku, sejak kapan pertunanganku batal?" tanyanya."Se-sejak ... sejak ... sejak pertama mulai semester baru di akademi. K-Kau ... kalian ... kalian tidak duduk bersama dan ...."Aegon melangkah dekat padanya dan mengubah tangan kanannya kembali menjadi cakar naga. Semua orang cemas dan merinding, mengira-ngira apa yang akan dia lakukan pada Elina."Hanya karena aku tidak duduk bersama maka kau bilang pertunanganku batal? Menggelikan. Kau dan teman-temanmu terlalu sering bergosip sampai mengarang cerita b
"Paling-paling dia mau baca ramalan pernikahannya dengan Aegon. Hihi," desis seseorang di belakang punggungku.Kuyakin itu para siswa duyung tukang gosip yang menyebalkan. Tanpa berkata apapun,
"Saya ... tidak mengerti maksud Anda, Profesor."Matanya hijau jernih seperti manik-manik. Hidungnya tinggi dengan tulang pipi yang jelas. Rahang nyaris siku, dan aroma herba serta rempah mengu
Untungnya aku punya teman kecil yang bisa kuandalkan. Mimi, Mina dan Momo. Tiga gadis kelinci dari kamar bawah. Aku semakin akrab dengan mereka. Tak hanya seharian ini aku berada di kelas yang sama dengan tiga gadis kelinci, aku juga bersama para to
Sepasang pria burung menggiring si kakek entah kemana. Ia masih dengan suara bergetar dan penuh haru memanggil-manggil nama Maika. Entah siapa itu. Aku cuma bisa melihatnya berlalu dipapah oleh dua pria burung yang lebih muda.







