Share

6. Air Suci

Penulis: cyllachan
last update Tanggal publikasi: 2026-03-13 13:48:26

Aku mondar-mandir di dalam kamarku. Insiden sore ini betul-betul bikin aku kepikiran. Aku jadi cemas dan gugup. Aku begitu sembrono menampar Aegon di depan semua orang. Sekarang apa? Pria itu gila. Dia bisa lakukan apapun untuk menyakitiku.

"Nona Lysa. Saya sudah siapkan handuk untuk Nona."

Hanna masuk ke kamarku dengan setumpuk handuk di tangannya.

"Handuk?"

"Ya. Saya pikir sebaiknya Nona berendam di kolam Air Suci lantai bawah. Selain bisa bikin rileks, Nona juga perlu menghilangkan luka itu."

Aku meraba leherku. Masih perih memang. Mungkin luka lecet, tapi betul-betul bikin tidak nyaman.

"Ya sudah. Ayo antarkan aku."

Aku mengekor kepada Hanna. Kami menyusuri lorong kastil dan menuruni tangga marmer. Hingga kami tiba di sebuah pintu bertahta hiasan emas kepala naga di bagian atasnya. Itu pintu berwarna hitam pekat yang menjulang tinggi dan tebal.

Hanna membukakan pintu itu untukku.

"Silahkan, Nona."

Aku melangkah masuk dan kami tiba di ruangan yang berisi loker. Ini seperti tempat pemandian air panas yang umum. Hanna membantuku melepas baju. Sekarang aku cuma pakai handuk dan sudah ingin sekali berendam.

Hanna berdiri di dekat pintu lain. Ia membukanya dan aku bisa melihat sebuah pemandian beruap yang terlihat sangat nyaman. Aku sudah melangkah masuk ke area kolam, namun Hanna cuma berdiri di daun pintu.

"Apa kau tidak ikut?"

"Oh, saya cuma bisa menaruh handuk di loker untuk Nona Lysa. Saya tidak boleh masuk. Cuma Klan Naga saja yang boleh."

"Begitu ya. Jadi kau akan menungguku selesai mandi?"

"Mmm ... saya akan kembali ke kamar Nona Lysa untuk membersihkan kamar. Nanti saya kesini lagi."

Aku mengangguk paham.

Uap hangat menyelimuti seluruh ruangan. Tempat ini sepi. Kulepas sembarangan handukku dan kubuang di tepi kolam.

Begitu kakiku melangkah masuk ke air kolam, udara terasa jauh lebih lembap dan menenangkan. Cahaya redup dari lampu-lampu kristal memantul di permukaan air yang berkilau keemasan.

".... Nyaman banget," gumamku pelan.

Aku menurunkan tubuh perlahan ke dalam air. Hangat. Bukan sekadar hangat, tapi seperti meresap sampai ke dalam tulang. Rasa perih di leherku perlahan mereda.

Aku menghela napas panjang. Untuk pertama kalinya sejak sore itu ... aku bisa sedikit rileks.

"Air Suci, ya ...," bisikku.

Mungkin memang ada efek khusus untuk klan naga. Aku menyandarkan punggungku di tepi kolam. Mata terpejam. Namun bayangan Aegon langsung muncul di kepalaku. Tatapan sepasang mata emas itu. Ancaman itu. Begitu nyata dan masih segar dalam ingatan.

Aku membuka mata.

".... Sial." Aku menenggelamkan tubuhku lebih dalam ke air. "Kenapa hidupku jadi begini sih..."

Beberapa menit berlalu. Air hangat membuatku sedikit mengantuk. Sampai ... suara pintu terbuka.

Aku langsung menegang.

"..."

Langkah kaki. Pelan. Berat. Bukan Hanna. Instingku langsung berteriak. Bahaya.

Aku refleks menenggelamkan tubuhku lebih dalam. Air sampai ke bahu ... lalu ke dagu. Kabut tipis mengaburkan pandangan.

Siluet seseorang muncul dari balik uap.

Tinggi. Bahu lebar. Dan tubuhnya hanya dibalut handuk di sekitar pinggang.

...

Oh tidak. Seorang laki-laki?!

'Siapa ...?' bisikku dalam hati.

Ia berjalan mendekati kolam, kupikir belum menyadari keberadaanku.

Aku menahan napas. Tidak bergerak. Kalau dia tahu aku di sini ... pasti memalukan.

Oh! Tuhan. Kenapa sih aku harus ada di situasi sial seperti ini?!

Pria itu berhenti di tepi kolam. Semakin lama semakin jelas. Aku bisa melihatnya. Mataku terbelalak.

Aegon! Dan dia melepas handuknya! AAAA! Aku tidak mau lihat!

Aku memejam erat, untunglah kabut uap ini membantuku untuk tidak melihat hal yang tidak-tidak. Ia melangkah mendekati kolam. Tangannya mengusap rambut hitamnya yang sedikit basah. Ia terhenti. Lalu membungkuk memungut sesuatu.

Handukku!

Sepertinya dia sudah sadar ada orang lain di sini. Tatapannya menyapu permukaan air.

Diam. Lalu menyipit.

"Siapa? Keluar sekarang."

Jantungku berhenti. Dia tahu. Aku tetap diam. Berharap dia salah. Namun ....

"Jangan membuatku mengulang," suaranya turun, dingin.

Air di sekitarku terasa lebih dingin dari sebelumnya. Aku tahu dia sudah menyadari dimana keberadaanku. Aegon masuk ke dalam kolam air dan melangkah pelan menghampiriku. Jantungku sudah mau meledak.

Perlahan ... aku muncul dari air. Hanya wajah dan sedikit kepala serta sebagian bahu yang terlihat.

"Aku ...," gumamku pelan, "... cuma mau mandi."

Hening. Kini kami sudah cukup dekat untuk bisa melihat wajah satu sama lain. Aegon menatapku. Ekspresinya tidak bisa kubaca.

Kaget?

Tidak.

Marah?

Mungkin sedikit. Tapi ada sesuatu yang lain. Aneh.

".... Kau," gumamnya pelan. Seolah memastikan.

Aku mengernyit. "Kalau bukan aku, siapa lagi?"

Ia tidak menjawab. Tatapannya turun sesaat, lalu langsung kembali ke wajahku. Namun jeda itu cukup membuatku sadar.

Sial.

Aku langsung menenggelamkan tubuhku lagi sampai sebatas leher.

"Jangan lihat ke bawah!" bentakku refleks.

Aegon mengangkat alis. ".... Aku tidak tertarik."

"Bagus!"

Sunyi. Canggung. Sangat canggung. Uap hangat kini terasa ... tidak membantu sama sekali. Aku ingin cepat-cepat minggat dari kolam ini. Tapi aku tidak pakai apa-apa! Dan handukku ada di sana!

"Kenapa kau di sini?" tanyaku akhirnya.

"Ini kastilku," jawabnya singkat. "Keluargaku yang punya semua ini."

Oh. Benar juga. Sial. Aku mendecih pelan.

"Kalau begitu tunggu di luar dulu."

"Tidak." Jawaban cepat. Tanpa ragu.

Aku menatapnya tajam. "Apa maksudmu tidak?!"

Ia melangkah mendekat ke tepi kolam.

"Kalau kau tidak mau terlihat," katanya datar, "itu masalahmu. Kau pikir kau ini siapa berani-beraninya menyuruhku keluar."

Sialan. Pria ini benar-benar deh.

"Aku tidak akan keluar sebelum kau keluar," kataku keras.

"Dan aku tidak akan pergi," balasnya.

...

Buntu. Aku menggertakkan gigi.

"Kalau begitu kita diam saja sampai salah satu menyerah."

Aegon menyeringai tipis.

"Silakan."

Sunyi kembali jatuh. Namun kali ini tegang. Berat. Ia bersandar di tepi kolam. Aku di dalam air. Jarak kami ... dekat. Terlalu dekat. Beberapa detik berlalu. Lalu ....

"Aku berubah ya?" tanyaku tiba-tiba.

Dia menatapku.

".... Sangat."

"Dan itu mengganggumu?"

"Tidak," jawabnya. "Menarik."

Sial. Kata itu lagi. Aku mendecih.

"Jangan bilang kau mulai menikmati pertengkaran kita."

"Aku menikmati melihatmu tidak lagi menangis," katanya santai. "Kau dulu cuma bisa menangis. Cengeng. Membosankan. Sekarang ... kau seperti orang lain."

Aku terdiam sesaat. Lalu menyipit.

"Memangnya kau tidak capek bertengkar? Sehari saja tidak usah mencekikku, apa tidak bisa?"

Hening. Aegon tidak menjawab. Namun tatapannya berubah. Lebih tajam. Lebih gelap.

"Jangan mengaturku," katanya pelan.

Aku menatap balik. "Jangan sentuh aku lagi."

Dan itu kesalahan. Dalam satu gerakan cepat ia mencengkeram pergelangan tanganku. Menarikku semakin dekat kepadanya. Dan ia mencengkeram leherku.

"AKH—!"

Posisi kami sangat dekat. Terlalu dekat. Tanganku refleks memegangi pergelangan tangannya yang mencekikku. Ia menyeringai.

"Sudah kubilang jangan mengaturku," desisnya. "Berani sekali lagi kau-."

"Pangeran Aegon."

Sebuah suara datang dari pintu kolam. Aku terbelalak. Dan tak tahu bagaimana Aegon juga sepertinya panik. Ia langsung melepas cekikannya dan menarik tubuhku hingga berputar seratus delapan puluh derajat. Kini kami tak berhadapan lagi. Ia sudah ada di belakang punggungku. Aku bisa merasakan seluruh kulitnya yang basah dengan otot-otot yang keras.

"MMPPH!"

Tangan kanan pria ini membungkamku. Dan tangan kirinya melingkar di tubuhku. Seakan dia memang sedang menyembunyikanku di balik punggungnya, membelakangi arah pintu.

"Sial!" Aegon mendesis.

"Pangeran Aegon?" panggil suara itu lagi. "Saya sudah membawakan anggur untuk Anda."

"Ah! Ya! Taruh saja di lantai!" sahutnya.

Lalu aku mendengar suara nampan yang menimpa lantai. Pelayan itu (mungkin) sudah terdengar melangkah pergi.

Situasi ini terlalu menegangkan. Hingga akhirnya aku sadar. Tubuh kami menempel seperti ini. Dan ... tangannya memegangi 'itu'-ku!

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (17)
goodnovel comment avatar
Diar Kunti
eh eh ehh,,, bisa gt ya aegon...ak bacanya jd tersipu malu sendiri..
goodnovel comment avatar
Mar Atus
nempel2 gitu emg boleh;(
goodnovel comment avatar
arsen
loh knp Aegon takut ketahuan kan tunangan tuh jadi aman aja
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Naga Penakluk Hati   114. Epilog

    Cahaya lampu neon yang putih menusuk retinaku. Bau antiseptik yang tajam menyengat hidung, memicu ingatan samar tentang sesuatu yang jauh, sesuatu yang gelap dan penuh kode. Aku mengerang, berusaha menggerakkan jari-jariku yang terasa kaku."Pasien sudah sadar. Monitor detak jantungnya stabil," suara dingin seorang pria memecah keheningan.Dokter dan perawat tampak sibuk di sekeliling ranjangku, wajah mereka serius dan profesional. Aku menatap mereka dengan tatapan bingung yang mendalam. Suaraku tercekat saat bertanya, "Aku... di mana?"Dokter itu menghela napas, melepas kacamatanya. "Selamat datang kembali, Nancy. Kau berada di fasilitas medis milik perusahaan AEON, pengembang game 'Jodoh Pangeran Naga'."Tubuhku menegang. Nama itu ... itu bukan sekadar permainan."Secara medis, seharusnya kau sudah meninggal tiga tahun lalu," lanjut dokter itu dengan nada datar. "Namun, keluarga dan perusahaan sepakat untuk tidak membiarkanmu

  • Naga Penakluk Hati   113. Kemenangan

    Enma melepaskan genggamannya, dan dunia di sekitarku kembali ke realita yang mencekam. Lututku lemas, hampir saja aku ambruk ke tanah marmer yang dingin, jika saja Aegon tidak sigap memegang bahuku. Napasku memburu, paru-paruku serasa disumpal kapas.Segala kenangan yang kulihat barusan—ratusan kematian yang menyakitkan, kegagalan yang berulang-ulang, setiap kali aku harus memilih pria yang berbeda, dan setiap kali pula permainan ini mereset diriku kembali ke titik awal—semuanya membanjiri kepalaku seperti air bah. Aku bukan hanya Lysa. Aku adalah Nancy yang terjebak di dalam neraka simulasi."Lysa, jawab aku! Apa yang dia katakan soal 'Nancy'?" Aegon mendesak, suaranya dipenuhi kecemasan yang asing, namun tatapannya kini beralih pada Enma dengan kebencian yang murni. "Enma, apa yang kau lakukan pada tunanganku?!""Tunangan?" Enma tertawa kecil, suara tawa itu begitu dingin, begitu familiar. "Kau masih terjebak dalam skrip yang mereka t

  • Naga Penakluk Hati   112. Enma Valerya

    Langit Akademi Aurelion tampak kelabu, seolah turut berduka atas kepergian sang penjaga kuil yang bijaksana. Kakek Daeruz telah tiada. Upacara pemakaman dilakukan dengan khidmat di pelataran kuil yang luas.Ikaruz berdiri di depan altar, tubuhnya tampak ringkih dibalut jubah hitam. Matanya sembab karena menangis semalaman, namun saat ia menatap kerumunan, ia berusaha menegakkan bahunya."Kakek Daeruz bukan hanya seorang penjaga kuil," Ikaruz memulai, suaranya parau namun perlahan menguat. "Bagi kalian, dia mungkin hanyalah orang tua yang mengoceh tentang masa lalu. Tapi bagiku, dia adalah perpustakaan hidup. Dia mengajarkanku bahwa mencintai seseorang dengan tulus, meski dunia memisahkanmu dengan tembok klan, adalah bentuk keberanian tertinggi. Dia tidak pernah menyesali pilihannya untuk tetap mencintai Maika hingga hembusan napas terakhirnya. Dia mengajarkanku bahwa kesetiaan bukan tentang apa yang kita dapatkan, tapi tentang apa yang kita pertahankan di dalam hat

  • Naga Penakluk Hati   111. Maika

    Kejadian di kolam bawah tanah menyisakan gema yang panjang di Akademi Aurelion. Klan duyung kini tampak menarik diri, bayang-bayang mereka tak lagi sesering sebelumnya, seolah sedang menunggu perintah baru dari para tetua mereka. Namun, perhatian yang hilang dari klan duyung justru dialihkan oleh tatapan-tatapan intens dari klan serigala. Ke mana pun aku melangkah, bisik-bisik mereka mengikutiku, seperti kawanan predator yang sedang mengamati mangsa yang menarik perhatian sang pemimpin.Rex Skarnfang akhirnya menghentikan langkahku di koridor menuju perpustakaan. Sang Alpha itu berdiri tegak, auranya yang dominan membuat beberapa murid yang lewat segera menyingkir."Kau menghindariku, Lysa," suaranya berat, namun ada nada frustrasi yang tertahan di sana. Dia melipat tangannya di dada, matanya yang tajam menuntut jawaban. "Mengapa kau terus menolak? Menjadi Luna berarti kau akan berdiri di sisiku sebagai ratu di atas segala klan serigala. Kekuatan, perlindungan, tak

  • Naga Penakluk Hati   110. Pertukaran

    Air yang dingin segera menelan mereka.Aku belum pernah menyelam sedalam ini dengan tubuh nagaku, tanpa Napas Duyung. Meski ramuan itu membuatku bisa bernapas, bergerak di bawah air tetap terasa berat. Setiap kayuhan tangan membutuhkan tenaga berlipat ganda.Baelon tampak jauh lebih kesulitan.Jubah kepala akademi itu berkibar-kibar di belakangnya seperti bendera tenggelam. Jin berenang paling tenang. Sesekali ia memberi petunjuk arah agar Baelon tidak tersesat. Sementara itu aku memimpin."Arah sana," kataku sambil menunjuk ke dasar kolam."Bagaimana kau tahu?" tanya Baelon."Aku pernah diseret ke sana."Baelon mengerutkan dahi.Kami terus turun. Semakin dalam, cahaya dari permukaan semakin memudar. Batu-batu hitam besar mulai bermunculan. Kemudian Aku melihat sesuatu yang kukenal.Sekelompok rumput laut raksasa.Daunnya panjang dan tebal seperti ular hijau gelap yang melambai-lambai mengikuti

  • Naga Penakluk Hati   109. Bantuan

    Tubuhku gemetar hebat. Bukan hanya karena air kolam yang dingin, melainkan karena adrenalin yang mulai surut, menyisakan ketakutan akan keselamatan Felix. Profesor Jin mungkin terlihat akan membantuku, tapi aku tahu pria itu adalah variabel yang tidak bisa diprediksi. Aku tidak bisa mengandalkannya sepenuhnya. Aku butuh sekutu yang memiliki otoritas dan kepekaan nurani yang lebih tinggi.Dengan langkah gontai, aku menyeret diriku menuju menara Kelas Ramalan. Untunglah dia belum meninggalkan kelas ini. Profesor Cleon, seorang wanita Animari burung yang anggun dan bijaksana, sedang merapikan kartu-kartu tarot kunonya."Lysa? Ada apa denganmu? Kau terlihat seperti baru saja bangkit dari kubur," tanya Profesor Cleon, matanya yang tajam di balik kacamata berbingkai emas menyiratkan kekhawatiran.Aku tak membuang waktu. Dengan suara serak, aku menumpahkan segalanya—tentang konspirasi pembunuhan orang tua Felix, tentang jurnal yang disita, hingga penyanderaan yan

  • Naga Penakluk Hati   10. Awal Mula

    Langkahku makin cepat. Lorong kastil terasa panjang. Terlalu panjang. Sial. Aku tidak menoleh. Tidak boleh. Kalau aku menoleh, dia pasti ...."Hey!"Suaranya. Dekat. Terlalu dekat. Tanganku refleks mengepal. Aku berhenti. Namun tidak berbalik."Aku sudah bilang aku tidak akan bicara lagi denganmu,"

  • Naga Penakluk Hati   3. Elron

    "Nona Lysa? Anda tidak apa-apa?" Hanna membuyarkan lamunanku."A-Aku cuma ... sedang berusaha mengingat-ingat.""Ah ... begitu ... syukurlah. Saya harap Nona bisa betul-betul ingat," semburat kelegaan tercipta di wajahnya.Karakter seperti Hanna, ras tikus dan yang bukan termasuk ras-ras tokoh penti

  • Naga Penakluk Hati   2. Sang Tunangan

    Tubuhku lemas. Punggungku pasrah menyandar pada sandaran kasur. Gadis bernama Hanna begitu cemas memandangiku. Sementara aku, bengong seperti orang bodoh.Kucerna betul-betul apa yang tengah terjadi kepadaku.Aku, Nancy. Beberapa saat lalu hal terakhir yang kuingat adalah bersama sahabatku Abigail.

  • Naga Penakluk Hati   1. Gadis Prolog

    "Lysa lihat aku!" Aegon sang pangeran naga berseru. "Aku tunanganmu! Mereka bukan siapa-siapa! Ayo, pulanglah bersamaku!""Kau bicara apa hah?! Dia itu milikku! Aku telah menandainya sebagai pasanganku! Jangan macam-macam kau!" Rex si Alpha serigala menyahut dengan geraman beserta taring-taring buas

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status