مشاركة

5. Darah Murni

مؤلف: cyllachan
last update تاريخ النشر: 2026-03-13 13:47:54

Tanganku masih mengepal di samping tubuhku. Napas berat. Tenggorokan masih terasa perih bekas cengkeramannya. Aku berdiri diam beberapa saat, menatap pintu yang baru saja dibantingnya.

" .... Gila," gumamku pelan.

Ini lebih buruk dari yang kubayangkan. Di game, Aegon memang dingin dan kejam. Tapi ini ... bukan sekadar kejam. Ini personal. Ini obsesi. Dan aku adalah targetnya.

Aku mengusap leherku pelan. Masih sakit. Masih nyata.

"Oke ...," bisikku pelan. "Berarti 'lari' ... tidak akan semudah itu."

Kalau aku kabur, dia akan mengejar. Kalau aku melawan terang-terangan, dia akan menindas lebih keras. Kalau aku diam ... aku akan hancur pelan-pelan.

Sial.

Aku menatap pantulan diriku di kaca jendela. Rambut putih keperakan itu berkilau terkena cahaya. Wajah cantik ini ... bukan milikku, tapi sekarang harus kupakai untuk bertahan hidup. Tanganku masih gemetar. Aku belum beranjak dari trauma barusan. Entah sudah berapa lama aku berdiam di ruangan ini.

Suara pintu diketuk.

"Nona Lysa?" suara Hanna terdengar ragu dari luar. "Apa Nona di dalam?"

Aku langsung merapikan ekspresi.

"Iya, masuk saja."

Pintu terbuka pelan. Hanna mengintip lebih dulu sebelum masuk sepenuhnya. Matanya langsung melebar saat melihat kondisiku.

"Nona!" Ia bergegas mendekat. "Leher Nona-!"

"Tidak apa-apa," potongku cepat.

"Tapi ini jelas-jelas ...."

"Hanna."

Ia terdiam.

Aku menatapnya lurus. Lebih tenang. Lebih stabil dari sebelumnya. Aku tahu aku harus menghadapi ini sendirian. Aku tak bisa melibatkan orang-orang seperti Hanna. Dengan perangai gila Aegon, dia pasti bisa ikut celaka.

"Jangan katakan ini pada siapapun, mengerti?"

"Ta-Tapi ...!" Hanna berkaca-kaca. "Pangeran Aegon sudah kelewatan! Saya tahu Nona sangat mencintainya. Saya tahu Nona sangat ingin menjadi istrinya. Nona berkali-kali bilang kepada saya untuk memaklumi perlakuan Pangeran kepada Nona! Tapi mau sampai kapan?!" Kali ini gadis tikus itu berlinangan air mata. Aku menepuk kepalanya lembut.

"Jadi dia memang sudah sering melakukan ini kepadaku ya?" Hanna mengangguk. "Jangan khawatir. Kali ini semuanya akan berbeda." Aku tersenyum sembari menghela napas. "Mungkin aku cuma butuh waktu untuk menenangkan diri. Semua ketegangan ini bikin aku stres."

"Ah ... kalau Nona mau, Nona bisa berendam di pemandian Air Suci di lantai bawah. Saya bisa antar. Air Suci bisa menyembuhkan luka ringan." Mata Hanna menunjuk pada luka di leherku.

"Ya. Mungkin itu ide bagus. Kapan-kapan antarkan aku kesana."

"Oh! Saya hampir lupa. Raja Elron memanggil Nona di ruang tahta."

"Raja memanggilku? Ada apa?"

Hanna menggeleng.

Akhirnya aku dan Hanna keluar dari ruangan itu. Kakiku menyusuri koridor yang tak terlalu ramai. Hanna memanduku menuju ke ruang tahta.

Sesampainya di sana, aula tahta Kastil Valerya terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Langit-langit tinggi menjulang, dihiasi kandelir emas yang menggantung megah. Pilar-pilar hitam berdiri kokoh di sisi kanan dan kiri, sementara karpet merah darah membentang lurus menuju singgasana.

Di ujung sana Raja Elron Valerya duduk tegap di kursi tahtanya. Aura wibawanya menekan seluruh ruangan. Beberapa bangsawan dan pelayan berdiri berjajar di sisi, menunduk hormat. Tidak ada yang berani bersuara.

Aku masuk ke aula ini begitu canggung. Dan beberapa langkah di depanku Aegon. Suasana tegang sudah terasa bahkan sebelum percakapan dimulai.

Raja Elron Valerya duduk tegap. Tatapannya jatuh padaku.

"Lysa." Suaranya berat. Tidak marah. Tapi jelas tidak santai. "Aku mendengar dari pelayan ... bahwa kau mengajukan pembatalan pertunangan."

Langsung. Tanpa basa-basi. Aku menarik napas pelan.

"Benar, Yang Mulia." Beberapa orang di sisi aula tampak terkejut. Aku melanjutkan, suaraku tetap stabil. "Saya berharap Yang Mulia berkenan mengabulkannya."

Sunyi. Namun reaksi Elron tidak seperti yang kuduga. Ia menghela napas panjang. Wajahnya mengeras, bukan padaku. Melainkan ....

"Aegon."

Nada itu penuh frustrasi. Aegon, yang berdiri beberapa langkah di sampingku, menyipitkan mata.

"Apa?" jawabnya dingin.

Elron bangkit dari singgasana.

"Apa yang kau lakukan sampai Lysa ingin membatalkan pertunangan ini?"

Ruangan langsung menegang.

Aegon tertawa pendek. "Jadi sekarang salahku?"

Elron menatapnya tajam. "Tentu saja salahmu! Kau bahkan tidak bisa menjaga hubungan dengan tunanganmu sendiri!"

"Menjaga?" Aegon mengulang, sinis. "Sejak kapan aku diminta menjaga hubunganku dengan dia?"

"Sejak dia ditetapkan menjadi tunanganmu!" balas Elron lebih keras. "Dia bukan wanita biasa!" Tangannya menunjuk ke arahku. "Dia pewaris terakhir darah murni klan naga!"

Kata-kata itu menggema. Seolah menegaskan aku bukan manusia. Aku alat.

Aegon mendecih. "Ah, jadi itu lagi," katanya. "Darah murni. Selalu soal itu."

"Itu bukan perkara sepele!" bentak Elron. "Itu masa depan klan kita!"

"Masa depan?" Aegon tertawa, lebih keras kali ini. "Menggelikan sekali."

Elron mengencangkan rahangnya. "Kau benar-benar tidak mengerti, ya."

"Oh .... Aku sangat mengerti," potong Aegon tajam. "Aku sudah melihatnya seumur hidupku." Hening. Lalu ia melangkah maju. "Aku melihatnya pada Ibu."

Aula membeku.

Elron menegang.

".... Jangan kau bawa dia."

"Kenapa tidak?" balas Aegon. "Bukankah dia juga 'darah murni' yang kau lindungi mati-matian?" Tatapannya menusuk. "Dan apa hasilnya?"

Sunyi.

"DIA MATI!" lanjut Aegon pelan. "Dan KAU tidak bisa melakukan apa-apa!"

Elron menatapnya tajam. "Cukup."

"Belum," kata Aegon menggeleng. Nada suaranya berubah. Lebih rendah. Lebih kejam. "Kau tahu apa yang lucu?" lanjutnya. "Aku mencoba tidak menjadi sepertimu."

Langkahnya mendekat.

"CUKUP!"

"Tidak menjadi laki-laki lemah yang hanya bisa bergantung pada darah murni untuk merasa kuat!" Elron tidak bergerak. Namun aura di sekitarnya berubah. Berat. Berbahaya. "Dan ternyata ..." Aegon tersenyum tipis, pahit, "... aku tetap gagal."

Aku menegang.

"Aku gagal menjaga Lyla." Nama itu jatuh seperti pisau. "Dan kau tahu kenapa?" lanjutnya. Ia menatap lurus ke arah Elron. "Karena aku anakmu. Itu kutukan yang kau wariskan," katanya. "Kegagalan."

Napas beberapa orang terdengar tertahan.

"Kau gagal menjaga istrimu." Satu langkah lagi. "Aku gagal menjaga Lyla." Tatapannya menyipit. "Dan sekarang ...," Ia melirik ke arahku. "... aku harus bertunangan dengannya?" Nada jijiknya tidak disembunyikan. "Gadis murahan yang tidak berguna."

Dadaku menegang.

"AEGON CUKUP!"

"Yang bahkan bukan apa-apa selain wadah untuk berkembang biak!"

...

Cukup.

Aku sudah tak bisa mengendalikan diri. Tamparan itu mendarat keras di pipinya. Suara itu menggema di seluruh aula. Semua orang membeku. Benar-benar membeku. Tangan kananku masih terangkat.

Napas tercekat. Jantung berdetak liar. Aegon sedikit berpaling karena hentakan itu. Matanya kaget. Seperti semua orang yang terkesiap mendapati pemandangan ini. Aku yang telah menamparnya tak akan pernah diduga oleh siapapun

Namun perlahan, sangat perlahan ... ia kembali menghadapku. Mata emasnya gelap. Dalam. Dan penuh sesuatu yang berbahaya. Aku tidak mundur.

"Jaga mulutmu," kataku dingin.

Sunyi. Tidak ada yang berani bergerak. Beberapa bangsawan bahkan menunduk lebih dalam.

Aegon menatapku lama. Sangat lama. Lalu senyum tipis muncul. Namun kali ini lebih dingin dari sebelumnya.

Lebih ... berbahaya.

".... Wah wah ...," gumamnya pelan. Suaranya rendah. Hampir seperti bisikan. "Rupanya kau berani menyentuhku."

Oh tidak. Ia mengangkat tangannya, menyentuh pipinya yang memerah. Lalu menatapku lagi. Dan kali ini tidak ada ejekan. Tidak ada jijik. Hanya niat.

"Baik," katanya pelan. Sangat tenang. Terlalu tenang. "Aku tidak akan melepaskanmu." Dadaku menegang. "Apapun yang kau lakukan." Langkahnya mendekat. Dekat sekali. Tatapannya menusuk lurus ke dalam. "Kau akan tetap di sisiku. Akan kubuat hidupmu seperti di neraka." Ia berkata lirih. Mungkin hanya aku yang bisa mendengarnya.

Ancaman itu bukan sekadar kata. Itu sumpah. Aku menahan tatapannya. Tidak mundur. Tidak gentar. Meski jantungku berteriak panik.

".... Coba saja," kataku pelan. Tatapan kami beradu. Ia memiringkan senyumnya seperti begitu bersemangat menghadapiku yang tak wajar.

Sunyi. Untuk beberapa detik tidak ada yang bergerak. Lalu suara Elron akhirnya menggema.

"CUKUP!" Aura raja itu meledak. Menekan seluruh aula. "Aegon. Mundur."

Aegon tidak langsung bergerak. Namun akhirnya ia mundur satu langkah. Tatapannya tetap padaku. Tidak lepas. Tidak berubah. Dan itu lebih menakutkan daripada kemarahan. Aku menarik napas pelan. Satu hal jadi jelas.

Aku tidak lagi hanya mencoba bertahan hidup.

Aku sudah menjadi pusat dari sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
تعليقات (23)
goodnovel comment avatar
Mar Atus
si Aegon bener2 mau balas dendamkah? tpi nnti bisa2 bucin dia
goodnovel comment avatar
arsen
jiwa Aegon aman ngga ya kok pelampiasan nya gitu
goodnovel comment avatar
karin
bakal makin banyak bahayanya karena Lysa gen murni terakhir
عرض جميع التعليقات

أحدث فصل

  • Naga Penakluk Hati   114. Epilog

    Cahaya lampu neon yang putih menusuk retinaku. Bau antiseptik yang tajam menyengat hidung, memicu ingatan samar tentang sesuatu yang jauh, sesuatu yang gelap dan penuh kode. Aku mengerang, berusaha menggerakkan jari-jariku yang terasa kaku."Pasien sudah sadar. Monitor detak jantungnya stabil," suara dingin seorang pria memecah keheningan.Dokter dan perawat tampak sibuk di sekeliling ranjangku, wajah mereka serius dan profesional. Aku menatap mereka dengan tatapan bingung yang mendalam. Suaraku tercekat saat bertanya, "Aku... di mana?"Dokter itu menghela napas, melepas kacamatanya. "Selamat datang kembali, Nancy. Kau berada di fasilitas medis milik perusahaan AEON, pengembang game 'Jodoh Pangeran Naga'."Tubuhku menegang. Nama itu ... itu bukan sekadar permainan."Secara medis, seharusnya kau sudah meninggal tiga tahun lalu," lanjut dokter itu dengan nada datar. "Namun, keluarga dan perusahaan sepakat untuk tidak membiarkanmu

  • Naga Penakluk Hati   113. Kemenangan

    Enma melepaskan genggamannya, dan dunia di sekitarku kembali ke realita yang mencekam. Lututku lemas, hampir saja aku ambruk ke tanah marmer yang dingin, jika saja Aegon tidak sigap memegang bahuku. Napasku memburu, paru-paruku serasa disumpal kapas.Segala kenangan yang kulihat barusan—ratusan kematian yang menyakitkan, kegagalan yang berulang-ulang, setiap kali aku harus memilih pria yang berbeda, dan setiap kali pula permainan ini mereset diriku kembali ke titik awal—semuanya membanjiri kepalaku seperti air bah. Aku bukan hanya Lysa. Aku adalah Nancy yang terjebak di dalam neraka simulasi."Lysa, jawab aku! Apa yang dia katakan soal 'Nancy'?" Aegon mendesak, suaranya dipenuhi kecemasan yang asing, namun tatapannya kini beralih pada Enma dengan kebencian yang murni. "Enma, apa yang kau lakukan pada tunanganku?!""Tunangan?" Enma tertawa kecil, suara tawa itu begitu dingin, begitu familiar. "Kau masih terjebak dalam skrip yang mereka t

  • Naga Penakluk Hati   112. Enma Valerya

    Langit Akademi Aurelion tampak kelabu, seolah turut berduka atas kepergian sang penjaga kuil yang bijaksana. Kakek Daeruz telah tiada. Upacara pemakaman dilakukan dengan khidmat di pelataran kuil yang luas.Ikaruz berdiri di depan altar, tubuhnya tampak ringkih dibalut jubah hitam. Matanya sembab karena menangis semalaman, namun saat ia menatap kerumunan, ia berusaha menegakkan bahunya."Kakek Daeruz bukan hanya seorang penjaga kuil," Ikaruz memulai, suaranya parau namun perlahan menguat. "Bagi kalian, dia mungkin hanyalah orang tua yang mengoceh tentang masa lalu. Tapi bagiku, dia adalah perpustakaan hidup. Dia mengajarkanku bahwa mencintai seseorang dengan tulus, meski dunia memisahkanmu dengan tembok klan, adalah bentuk keberanian tertinggi. Dia tidak pernah menyesali pilihannya untuk tetap mencintai Maika hingga hembusan napas terakhirnya. Dia mengajarkanku bahwa kesetiaan bukan tentang apa yang kita dapatkan, tapi tentang apa yang kita pertahankan di dalam hat

  • Naga Penakluk Hati   111. Maika

    Kejadian di kolam bawah tanah menyisakan gema yang panjang di Akademi Aurelion. Klan duyung kini tampak menarik diri, bayang-bayang mereka tak lagi sesering sebelumnya, seolah sedang menunggu perintah baru dari para tetua mereka. Namun, perhatian yang hilang dari klan duyung justru dialihkan oleh tatapan-tatapan intens dari klan serigala. Ke mana pun aku melangkah, bisik-bisik mereka mengikutiku, seperti kawanan predator yang sedang mengamati mangsa yang menarik perhatian sang pemimpin.Rex Skarnfang akhirnya menghentikan langkahku di koridor menuju perpustakaan. Sang Alpha itu berdiri tegak, auranya yang dominan membuat beberapa murid yang lewat segera menyingkir."Kau menghindariku, Lysa," suaranya berat, namun ada nada frustrasi yang tertahan di sana. Dia melipat tangannya di dada, matanya yang tajam menuntut jawaban. "Mengapa kau terus menolak? Menjadi Luna berarti kau akan berdiri di sisiku sebagai ratu di atas segala klan serigala. Kekuatan, perlindungan, tak

  • Naga Penakluk Hati   110. Pertukaran

    Air yang dingin segera menelan mereka.Aku belum pernah menyelam sedalam ini dengan tubuh nagaku, tanpa Napas Duyung. Meski ramuan itu membuatku bisa bernapas, bergerak di bawah air tetap terasa berat. Setiap kayuhan tangan membutuhkan tenaga berlipat ganda.Baelon tampak jauh lebih kesulitan.Jubah kepala akademi itu berkibar-kibar di belakangnya seperti bendera tenggelam. Jin berenang paling tenang. Sesekali ia memberi petunjuk arah agar Baelon tidak tersesat. Sementara itu aku memimpin."Arah sana," kataku sambil menunjuk ke dasar kolam."Bagaimana kau tahu?" tanya Baelon."Aku pernah diseret ke sana."Baelon mengerutkan dahi.Kami terus turun. Semakin dalam, cahaya dari permukaan semakin memudar. Batu-batu hitam besar mulai bermunculan. Kemudian Aku melihat sesuatu yang kukenal.Sekelompok rumput laut raksasa.Daunnya panjang dan tebal seperti ular hijau gelap yang melambai-lambai mengikuti

  • Naga Penakluk Hati   109. Bantuan

    Tubuhku gemetar hebat. Bukan hanya karena air kolam yang dingin, melainkan karena adrenalin yang mulai surut, menyisakan ketakutan akan keselamatan Felix. Profesor Jin mungkin terlihat akan membantuku, tapi aku tahu pria itu adalah variabel yang tidak bisa diprediksi. Aku tidak bisa mengandalkannya sepenuhnya. Aku butuh sekutu yang memiliki otoritas dan kepekaan nurani yang lebih tinggi.Dengan langkah gontai, aku menyeret diriku menuju menara Kelas Ramalan. Untunglah dia belum meninggalkan kelas ini. Profesor Cleon, seorang wanita Animari burung yang anggun dan bijaksana, sedang merapikan kartu-kartu tarot kunonya."Lysa? Ada apa denganmu? Kau terlihat seperti baru saja bangkit dari kubur," tanya Profesor Cleon, matanya yang tajam di balik kacamata berbingkai emas menyiratkan kekhawatiran.Aku tak membuang waktu. Dengan suara serak, aku menumpahkan segalanya—tentang konspirasi pembunuhan orang tua Felix, tentang jurnal yang disita, hingga penyanderaan yan

  • Naga Penakluk Hati   10. Awal Mula

    Langkahku makin cepat. Lorong kastil terasa panjang. Terlalu panjang. Sial. Aku tidak menoleh. Tidak boleh. Kalau aku menoleh, dia pasti ...."Hey!"Suaranya. Dekat. Terlalu dekat. Tanganku refleks mengepal. Aku berhenti. Namun tidak berbalik."Aku sudah bilang aku tidak akan bicara lagi denganmu,"

  • Naga Penakluk Hati   9. Takut

    Aku memakai baju tidurku sedini mungkin sebelum Hanna atau siapapun datang ke kamarku. Untunglah Hanna tak bertanya yang aneh-aneh melihat kamar yang berantakan. Pagi itu aku tidak menunggu lama setelah berdandan.Dengan wajah masih panas dan kepala penuh tanda tanya, aku langsung keluar dari kamar.

  • Naga Penakluk Hati   8. Pemilik Kamar

    Mimpi buruk yang kutakutkan terjadi. Tangan kiri Aegon yang bebas ... kini justru beralih memegang dada kananku. Aku bisa merasakan seluruh jarinya di bawah sana."Oh ... yang tadi kupegang ini rupanya?" Ia bertanya pada dirinya sendiri."Le-Lepaskan!"Tangannya malah makin menjadi. Ia meremas-remas

  • Naga Penakluk Hati   7. Punah

    "Hhhh ... sialan. Kenapa Berto harus bikin kaget seperti itu sih," gerutunya.Aku masih diam dan menahan rasa malu yang luar biasa. Kami hening di posisi yang sama. Rasanya mau menangis. Aku bisa merasakan tangannya yang kasar dan jari-jarinya yang panjang menggenggam buah dadaku."Ah!"Dan akhirnya

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status