分享

7. Punah

作者: cyllachan
last update publish date: 2026-04-01 20:00:43

"Hhhh ... sialan. Kenapa Berto harus bikin kaget seperti itu sih," gerutunya.

Aku masih diam dan menahan rasa malu yang luar biasa. Kami hening di posisi yang sama. Rasanya mau menangis. Aku bisa merasakan tangannya yang kasar dan jari-jarinya yang panjang menggenggam buah dadaku.

"Ah!"

Dan akhirnya ia melepasku. Mulutku sudah tak lagi dibungkam. Aku memeluk diriku sendiri, berusaha mengenyahkan sensasi genggamannya pada tubuhku. Wajahku merah padam. Malu dan marah. Saat aku berbalik, Aegon terlihat seperti orang bodoh. Ia memandangi tangan kirinya yang bekas memegang dadaku. Agak kebingungan, lalu sejenak jari-jarinya seperti meremas sesuatu yang gaib di udara.

Kurasa dia pun bingung habis memegang apa. Lalu mata emasnya beralih kepadaku.

"DASAR MESUM!" teriakku.

"Hah? Memangnya apa yang sudah kulakukan?!" protesnya.

"K-Kau ...! Benar-benar bodoh!"

Suara tamparan keras terdengar melengking di dalam pemandian ini. Wajah putih Aegon sudah tertengok ke samping. Dan tangan kananku telah menamparnya untuk yang kedua kali. Aku mendorong tubuhnya hingga ia terjatuh dan seluruh tubuhnya berada di dalam air. Aku buru-buru berlari ke tepi kolam untuk menyelamatkan diri. Sebelum dia bangkit dan sebelum lebih mengamuk lagi.

Susah payah kakiku melawan jeratan kolam Air Suci ini hingga akhirnya aku berhasil mencapai tepi kolam. Aku merangkak keluar. Sementara aku mendengar suara percikan air yang keras di belakangku. Saat aku menoleh wajah Aegon sudah merah mengamuk seperti kepiting rebus.

"WAAAAA MENJAUH DARIKU!"

"SINI KAU!"

Aku pikir aku sudah berhasil keluar dari marabahaya. Tetapi Aegon mendapatkan kaki kananku! Lantai area kolam jadi basah dan licin. Ia menarik kakiku dan nyaris bikin tubuhku kembali tenggelam ke pemandian. Aku berontak.

"UKH!" Kaki kananku sukses menendang wajahnya. Dan cengkeraman pria itu lepas

Aku berusaha berdiri. Tetapi Aegon sepertinya jauh lebih lihat dari pada aku. Dia berhasil keluar dari pemandian. Ia langsung menubrukku di lantai dan mencegahku berdiri dan kabur.

Kami tak memakai apa-apa. Pertarungan di kolam mandi bikin sebagian tubuhku ngilu. Dan ia konsisten menindihku.

"Kau pikir kau bisa kabur begitu saja?!" Aegon menghardikku keras. Ia menarik lenganku dan membalik tubuh ini hingga aku terlentang. Aku bisa melihat jelas mata emasnya yang marah. Mampus! Dia pasti akan membunuhku di pemandian ini!

"Lepaskan aku! Dasar brengsek!"

"Tidak! Kau harus membayar perbuatanmu!"

Tangannya mencengkeram pergelangan tanganku lebih erat. Nafasku tercekat. Posisi kami terlalu dekat—terlalu berbahaya.

"Bayar apa sih?!" bentakku. "Kau yang mulai duluan!"

"KAU yang menamparku!"

"YA KARENA KAU—"

Pintu terbuka.

"Nona Lysa—!"

Suara Hanna terhenti di tenggorokan. Di belakangnya, seorang pria berambut cokelat dengan sepasang tanduk rusa, kemungkinan besar Berto, ikut membeku di ambang pintu.

Sunyi. Benar-benar sunyi. Semua orang diam.

Aku.

Aegon.

Hanna.

Berto.

Posisi kami tidak bisa dijelaskan dengan cara yang baik.

Aku terlentang di lantai. Aegon di atasku. Tubuh kami basah. Jarak nyaris tidak ada. Dan tidak ada yang tertutup dengan layak.

Waktu seperti berhenti.

Wajah Hanna langsung merah padam.

"A-A-A-ASTAGA—!"

Ia menutup mata dengan panik, lalu berbalik sambil menabrak pintu.

"S-saya tidak melihat apa-apa! Saya tidak melihat apa-apa!"

Berto, yang masih terpaku, berkedip beberapa kali.

".... Pa-Pangeran ...," gumamnya pelan, masih mencoba mencerna situasi, "... saya ...."

".... Keluar."

Suara Aegon rendah. Berbahaya. Berto langsung tersadar.

"Baik, Pangeran!"

Ia menarik Hanna keluar dengan cepat.

Pintu ditutup.

Sunyi lagi.

Namun kali ini lebih buruk. Aku dan Aegon masih di posisi yang sama. Dan baru sekarang aku benar-benar sadar.

Wajahku langsung memanas.

"LEPASKAN AKU!"

Aku mendorongnya sekuat tenaga. Aegon akhirnya beralih ke arah lain. Aku langsung berguling menjauh, meraih handuk terdekat dan membungkus tubuhku dengan panik.

Napas berantakan. Jantung mau copot.

Sial.

Sial!

SIAL!!

Aku melirik ke arahnya. Rupanya Aegon juga sudah mengambil handuk dan melilitkan ke pinggang. Pria itu berdiri.

Air masih menetes dari rambutnya. Wajahnya merah. Aku tak tahu karena marah atau malu, atau keduanya.

Ia menatapku beberapa detik.

Lalu mengalihkan pandangan. Membuang muka dariku.

".... Dasar ceroboh," gumamnya.

"KAU yang ceroboh!" balasku cepat. "Kau menarikku!" Rasanya mau menangis. Aku menatap pintu bekas Hanna dan Berto berdiri. ".... Matilah aku. Mereka akan salah paham," kataku pelan.

"Cih. Dasar munafik. Bukankah kau merasa senang karena berhasil membuatku menyentuhmu?!"

Aku menatap jijik sekaligus jengkel kepadanya.

"Apa?! Senang apanya?! Dasar gila! Jika klan naga hancur dan yang tersisa hanya kau dan aku, AKU TIDAK AKAN SUDI BERKAWIN DENGANMU! Lebih baik aku bunuh diri dan klan naga punah!"

Dengan hati yang dongkol, aku berbalik. Hendak meninggalkan area pemandian itu. Namun ....

"AKKKH!"

Aku sudah di dorong oleh Aegon hingga terdesak ke dinding. Kali ini ia mencengkeram rahang beserta pipiku hingga aku mendongak. Aku harus menyaksikan sepasang mata emas yang berapi-api hendak memangsaku.

"KURANG AJAR! Dasar tidak tahu diri! Kau pikir kau ini siapa beraninya bicara seperti itu padaku!

"L-Lepas ... kan!"

Aku memukul-mukul tangannya supaya melepaskan cengkeramannya. Nihil. Tangan lelaki ini seperti beton. Aku tidak berdaya.

"Aku tidak tahu apa yang merasukimu. Tapi sejak kepalamu terbentur, kau semakin menyebalkan! Aku akan-."

Kalimatnya terpotong. Aku merasa tubuhku menjadi dingin. Mataku terbelalak. Aku merasa sesuatu jatuh di dekat kakiku. Hingga aku yakin, handukku sudah jatuh. Dan Aegon ... mata emasnya tak lagi menghujam kepadaku, mereka sudah jatuh ke arah lain. Ke segalanya di bawah kepalaku.

"Ja ... Jangan lihat .... AKU MALU!"

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
評論 (17)
goodnovel comment avatar
arsen
yah pake melorot segala tapi Aegon polos banget dah
goodnovel comment avatar
Mar Atus
knpa harus melorot si wkwk
goodnovel comment avatar
karin
Aegon menang buanyak ini hahaha marah tapi dapat berkah
查看全部評論

最新章節

  • Naga Penakluk Hati   114. Epilog

    Cahaya lampu neon yang putih menusuk retinaku. Bau antiseptik yang tajam menyengat hidung, memicu ingatan samar tentang sesuatu yang jauh, sesuatu yang gelap dan penuh kode. Aku mengerang, berusaha menggerakkan jari-jariku yang terasa kaku."Pasien sudah sadar. Monitor detak jantungnya stabil," suara dingin seorang pria memecah keheningan.Dokter dan perawat tampak sibuk di sekeliling ranjangku, wajah mereka serius dan profesional. Aku menatap mereka dengan tatapan bingung yang mendalam. Suaraku tercekat saat bertanya, "Aku... di mana?"Dokter itu menghela napas, melepas kacamatanya. "Selamat datang kembali, Nancy. Kau berada di fasilitas medis milik perusahaan AEON, pengembang game 'Jodoh Pangeran Naga'."Tubuhku menegang. Nama itu ... itu bukan sekadar permainan."Secara medis, seharusnya kau sudah meninggal tiga tahun lalu," lanjut dokter itu dengan nada datar. "Namun, keluarga dan perusahaan sepakat untuk tidak membiarkanmu

  • Naga Penakluk Hati   113. Kemenangan

    Enma melepaskan genggamannya, dan dunia di sekitarku kembali ke realita yang mencekam. Lututku lemas, hampir saja aku ambruk ke tanah marmer yang dingin, jika saja Aegon tidak sigap memegang bahuku. Napasku memburu, paru-paruku serasa disumpal kapas.Segala kenangan yang kulihat barusan—ratusan kematian yang menyakitkan, kegagalan yang berulang-ulang, setiap kali aku harus memilih pria yang berbeda, dan setiap kali pula permainan ini mereset diriku kembali ke titik awal—semuanya membanjiri kepalaku seperti air bah. Aku bukan hanya Lysa. Aku adalah Nancy yang terjebak di dalam neraka simulasi."Lysa, jawab aku! Apa yang dia katakan soal 'Nancy'?" Aegon mendesak, suaranya dipenuhi kecemasan yang asing, namun tatapannya kini beralih pada Enma dengan kebencian yang murni. "Enma, apa yang kau lakukan pada tunanganku?!""Tunangan?" Enma tertawa kecil, suara tawa itu begitu dingin, begitu familiar. "Kau masih terjebak dalam skrip yang mereka t

  • Naga Penakluk Hati   112. Enma Valerya

    Langit Akademi Aurelion tampak kelabu, seolah turut berduka atas kepergian sang penjaga kuil yang bijaksana. Kakek Daeruz telah tiada. Upacara pemakaman dilakukan dengan khidmat di pelataran kuil yang luas.Ikaruz berdiri di depan altar, tubuhnya tampak ringkih dibalut jubah hitam. Matanya sembab karena menangis semalaman, namun saat ia menatap kerumunan, ia berusaha menegakkan bahunya."Kakek Daeruz bukan hanya seorang penjaga kuil," Ikaruz memulai, suaranya parau namun perlahan menguat. "Bagi kalian, dia mungkin hanyalah orang tua yang mengoceh tentang masa lalu. Tapi bagiku, dia adalah perpustakaan hidup. Dia mengajarkanku bahwa mencintai seseorang dengan tulus, meski dunia memisahkanmu dengan tembok klan, adalah bentuk keberanian tertinggi. Dia tidak pernah menyesali pilihannya untuk tetap mencintai Maika hingga hembusan napas terakhirnya. Dia mengajarkanku bahwa kesetiaan bukan tentang apa yang kita dapatkan, tapi tentang apa yang kita pertahankan di dalam hat

  • Naga Penakluk Hati   111. Maika

    Kejadian di kolam bawah tanah menyisakan gema yang panjang di Akademi Aurelion. Klan duyung kini tampak menarik diri, bayang-bayang mereka tak lagi sesering sebelumnya, seolah sedang menunggu perintah baru dari para tetua mereka. Namun, perhatian yang hilang dari klan duyung justru dialihkan oleh tatapan-tatapan intens dari klan serigala. Ke mana pun aku melangkah, bisik-bisik mereka mengikutiku, seperti kawanan predator yang sedang mengamati mangsa yang menarik perhatian sang pemimpin.Rex Skarnfang akhirnya menghentikan langkahku di koridor menuju perpustakaan. Sang Alpha itu berdiri tegak, auranya yang dominan membuat beberapa murid yang lewat segera menyingkir."Kau menghindariku, Lysa," suaranya berat, namun ada nada frustrasi yang tertahan di sana. Dia melipat tangannya di dada, matanya yang tajam menuntut jawaban. "Mengapa kau terus menolak? Menjadi Luna berarti kau akan berdiri di sisiku sebagai ratu di atas segala klan serigala. Kekuatan, perlindungan, tak

  • Naga Penakluk Hati   110. Pertukaran

    Air yang dingin segera menelan mereka.Aku belum pernah menyelam sedalam ini dengan tubuh nagaku, tanpa Napas Duyung. Meski ramuan itu membuatku bisa bernapas, bergerak di bawah air tetap terasa berat. Setiap kayuhan tangan membutuhkan tenaga berlipat ganda.Baelon tampak jauh lebih kesulitan.Jubah kepala akademi itu berkibar-kibar di belakangnya seperti bendera tenggelam. Jin berenang paling tenang. Sesekali ia memberi petunjuk arah agar Baelon tidak tersesat. Sementara itu aku memimpin."Arah sana," kataku sambil menunjuk ke dasar kolam."Bagaimana kau tahu?" tanya Baelon."Aku pernah diseret ke sana."Baelon mengerutkan dahi.Kami terus turun. Semakin dalam, cahaya dari permukaan semakin memudar. Batu-batu hitam besar mulai bermunculan. Kemudian Aku melihat sesuatu yang kukenal.Sekelompok rumput laut raksasa.Daunnya panjang dan tebal seperti ular hijau gelap yang melambai-lambai mengikuti

  • Naga Penakluk Hati   109. Bantuan

    Tubuhku gemetar hebat. Bukan hanya karena air kolam yang dingin, melainkan karena adrenalin yang mulai surut, menyisakan ketakutan akan keselamatan Felix. Profesor Jin mungkin terlihat akan membantuku, tapi aku tahu pria itu adalah variabel yang tidak bisa diprediksi. Aku tidak bisa mengandalkannya sepenuhnya. Aku butuh sekutu yang memiliki otoritas dan kepekaan nurani yang lebih tinggi.Dengan langkah gontai, aku menyeret diriku menuju menara Kelas Ramalan. Untunglah dia belum meninggalkan kelas ini. Profesor Cleon, seorang wanita Animari burung yang anggun dan bijaksana, sedang merapikan kartu-kartu tarot kunonya."Lysa? Ada apa denganmu? Kau terlihat seperti baru saja bangkit dari kubur," tanya Profesor Cleon, matanya yang tajam di balik kacamata berbingkai emas menyiratkan kekhawatiran.Aku tak membuang waktu. Dengan suara serak, aku menumpahkan segalanya—tentang konspirasi pembunuhan orang tua Felix, tentang jurnal yang disita, hingga penyanderaan yan

  • Naga Penakluk Hati   10. Awal Mula

    Langkahku makin cepat. Lorong kastil terasa panjang. Terlalu panjang. Sial. Aku tidak menoleh. Tidak boleh. Kalau aku menoleh, dia pasti ...."Hey!"Suaranya. Dekat. Terlalu dekat. Tanganku refleks mengepal. Aku berhenti. Namun tidak berbalik."Aku sudah bilang aku tidak akan bicara lagi denganmu,"

  • Naga Penakluk Hati   9. Takut

    Aku memakai baju tidurku sedini mungkin sebelum Hanna atau siapapun datang ke kamarku. Untunglah Hanna tak bertanya yang aneh-aneh melihat kamar yang berantakan. Pagi itu aku tidak menunggu lama setelah berdandan.Dengan wajah masih panas dan kepala penuh tanda tanya, aku langsung keluar dari kamar.

  • Naga Penakluk Hati   8. Pemilik Kamar

    Mimpi buruk yang kutakutkan terjadi. Tangan kiri Aegon yang bebas ... kini justru beralih memegang dada kananku. Aku bisa merasakan seluruh jarinya di bawah sana."Oh ... yang tadi kupegang ini rupanya?" Ia bertanya pada dirinya sendiri."Le-Lepaskan!"Tangannya malah makin menjadi. Ia meremas-remas

  • Naga Penakluk Hati   1. Gadis Prolog

    "Lysa lihat aku!" Aegon sang pangeran naga berseru. "Aku tunanganmu! Mereka bukan siapa-siapa! Ayo, pulanglah bersamaku!""Kau bicara apa hah?! Dia itu milikku! Aku telah menandainya sebagai pasanganku! Jangan macam-macam kau!" Rex si Alpha serigala menyahut dengan geraman beserta taring-taring buas

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status