Home / Fantasi / Naga Penakluk Hati / 19. Murid Akademi

Share

19. Murid Akademi

Author: cyllachan
last update publish date: 2026-04-05 20:00:18

Sepasang pria burung menggiring si kakek entah kemana. Ia masih dengan suara bergetar dan penuh haru memanggil-manggil nama Maika. Entah siapa itu. Aku cuma bisa melihatnya berlalu dipapah oleh dua pria burung yang lebih muda.

"Nona Lysa, maaf sudah mengganggu Anda," ucap Ikaruz.

Jubah putih dan rambut pirangnya bertentangan dengan kul

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Naga Penakluk Hati   27. Benci

    Aku tersedak. Dan tak bisa bernapas. Tapi nampaknya Aegon tidak peduli. Ia terus mendorong dan menarik kepalaku kepada benda itu. Air mataku deras mengalir dan aku cuma bisa memejam. Antara rasa sakit dan terhina. Ia menggerak-gerakan sesukanya tanpa memikirkanku sama sekali.'Ini bukan tubuhku. Ini bukan tubuhku.'Aku mengulang lagi mantra itu. Sayangnya rasanya begitu percuma. Aku bisa mengecap seluruh rasa benda itu, seluruh rasa Aegon di mulutku. Lidahku mulai mengerti dan mengenalinya. Lama-lama aku merasa akrab dengan benda itu, seakan bukan seseorang yang asing.Aku mencium aroma yang lain. Lama kelamaan aroma itu berubah manis dan seperti buah-buahan. Aku memandang pada Aegon. Wajahnya tak lagi penuh kesombongan dan kekejaman. Ia berusaha menahan diri untuk tidak

  • Naga Penakluk Hati   26. Berhitung

    "Berto! Kunci semua pintu dan jendela! Jangan biarkan ada orang lain yang masuk dan mengganggu!"Berto si rusa pelayan ternganga melihat Aegon yang berbalut handuk di pinggang menggotongku yang setengah telanjang. Lalu Aegon membawaku ke kamarnya dan membantingku ke kasur."Aduh!"Setelah mengunci pintu, ia membuka lemari baju dan mengeluarkan sebuah benda dari sana. Ia beralih padaku dan mulai bicara."Ap-Apa itu?""Pecut lamaku, yang kupakai untuk melatih naga yang tidak bisa diatur." Ia menyeringai. "Ramalannya bilang aku bisa melakukan apapun kepadamu malam ini, bukan?" Aku mengangguk takut. "Kalau begitu, bersujudlah di lantai."

  • Naga Penakluk Hati   25. Naga Perak

    "I-Itu ... aku ...."Aku tak bisa fokus. Nyaris lupa dengan tujuanku kemari. Ini semua gara-gara tubuh Aegon yang berotot keras dan indah. Lengannya yang santai bertumpu pada tepian bak. Gara-gara rambut yang setengah basah di atas mata emas menyelidiknya.Sial. Dia seksi sekali! Mandi pun ganteng. Tidur pun ganteng. Kenapa orang sebajingan ini harus punya tubuh dan wajah yang tampan sempurna?! Bikin kesal saja!"A-Ada yang ingin aku bicarakan.""Apa?" ketusnya. "Sebaiknya hal penting. Kau mengganggu. Aku akan minta Berto mengusirmu.""Tidak! Tunggu! Itu ... umm ... apa yang kau lihat di bola kristal?"

  • Naga Penakluk Hati   24. Reyna

    "Kau ngomong apa sih?" protesku."Menggunakan tubuh adalah cara paling cepat untuk meningkatkan angka di leher mereka.""Jadi maksudmu aku harus ...." Tanpa aku menyelesaikan kalimatku, Reyna sudah mengangguk mantap. Seperti ia tahu sisa kalimat yang tidak terucap di mulutku."Mereka akan selalu merasa ketagihan pada tubuh perempuan. Katakan padaku, kau pernah melakukannya kan? Kau tahu caranya kan?"Aku menelan ludah, wajahku panas. Karena pertama kali aku melakukannya adalah dengan tubuh ini, dengan Aegon. Sial!"Ti-tidak juga sih."Jawabanku yang tanggung bikin Reyna mengerutkan kedua alisnya

  • Naga Penakluk Hati   23. Pemain Lain

    Setelah membersihkan diri, aku tak bisa berhenti bolak-balik di dalam kamar. Sepertinya kuku-kuku jariku sudah habis kugigiti.'Aku tidak bisa diam saja!' batinku.Seseorang membuka pintu."Nona Lysa ... ada yang ingin bertemu dengan Nona," ucap Hanna."Siapa?""Tiga orang gadis kelinci. Mereka bilang satu kelas dengan Nona."Aku segera keluar kamar. Ketiga gadis itu sudah ada di ruang tamu. Mereka membawa buku-bukuku. Aku malah sudah lupa dengan benda-benda itu."Lysa ... kau tidak apa-apa? Kami membawa buku-bukumu. Kau meninggalkannya di kelas." Mim

  • Naga Penakluk Hati   22. Bola Kristal

    "Paling-paling dia mau baca ramalan pernikahannya dengan Aegon. Hihi," desis seseorang di belakang punggungku.Kuyakin itu para siswa duyung tukang gosip yang menyebalkan. Tanpa berkata apapun, aku dan Aegon duduk di meja bulat itu. Aku, Lilia dan Aegon kini berada mengitari bola kristal bening yang jernih."Nah, sekarang berkonsentrasi dan rasakan dengan batinmu. Lihat bola kristal baik-baik. Biarkan benda itu berbicara kepada kalian. Lilia, silahkan cobalah."Dari dekat aku bisa melihatnya sangat elok. Oh ... lihatlah tulang selangkanya yang tegas. Rahang sempurna, tulang pipi menonjol dan kulitnya yang mulus. Dia sudah bak supermodel. Kalau di duniaku dulu, sudah pasti dia jadi gadis internet yang terkenal di seluruh jagad maya.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status