Share

Bab 6

"LELA!" Panggilan dari luar begitu keras. Seorang pria dengan jaket jeans berwarna pudar tengah berkacak pinggang. Lelaki hitam kekar dengan rambut ikal terus memanggil Lela dengan kencang di depan kontrakan. Membuat tetangga yang sedang tidur siang itu merasa terganggu.

Lela membuka pintu. Ia melihat pria itu dan menatapnya dengan malas. "Ada apa? Hutang gue udah lunas, ya, sama elu. Sekarang apa lagi?" Lela menyedekapkan kedua tangannya di depan dada.

"Elu, kan, malam itu janji sama klien gue. Kenapa tadi malem, elu, pulang? Gua kagak mau tau, ntar malem elu mesti dateng dan penuhi permintaan dia," ucap pria itu dengan kasar.

Lela menghela napas panjang. Ia menatap ke lain arah dan mencoba memikirkan jalan lain. "Gue ganti, deh, kerugian elu. Berape emang?"

"Cuih!" Pria bernama Baron itu meludah ke depan Lela. "Duit dari mane, lu? Orang hutang elu sama si Bagio aja masih banyak."

"Heh, gue udah bayar, ya, tadi pagi! Tinggal dikit lagi kelar. Tinggal bilang aja gue ganti berapa?" Seakan menantang, Lela tak pernah takut dengan pria itu. Ia mengeluarkan dompetnya dan menarik sepuluh lembaran merah. Lalu, melemparkannya di depan muka pria itu.

"Makan, tuh, duit! Jangan coba-coba ganggu gue lagi!" Lela hendak masuk tetapi pria itu mencegah.

"Tunggu! Oke-oke, gua akuin elu sekarang beda. Udah punya duit banyak." Lela tersenyum sinis. "Tapi, gua bener- bener dikejar sama, tuh, laki. Dia butuh elu malam ini juga. Tolong, cariin lah penggantinya!"

"Yang lain aja. Gue kagak bisa dan kagak ada temen lain yang mau. Mereka udah punya jadwal semua."

Pria itu menoleh ke dalam saat Berlian tak sengaja melintas. Kedua matanya melebar dan langsung memberi kode pada Lela dengan menaikkan kedua alisnya.

"Ah, kagak! Dia anak gue, mau elu embat juga? Langkahin dulu mayat gue!" Pintu segera ia tutup rapat dan kancing dari dalam. Lela menarik lengan Berlian ketika gadis itu tengah menuang air minum.

"Heh, gue bilangin, jangan sekali-kali elu buka jilbab apalagi di depan ada laki-laki!"

Berlian yang terkejut dan tak tahu maksud Ibunya pun masih terdiam.

"Denger kagak?" bentak Lela dengan keras.

"Berlian, kan, di dalam rumah, Bu. Ibu, aja enggak pakai jilbab dan selalu keluar malam dengan pakaian kurang bahan," jawab gadis itu dengan polosnya.

"Ya ... ya, elu enggak usah niruin gue!" Lela terbata-bata saat mengatakan alasannya.

"Kenapa, Bu? Bukannya anak itu menurut kelakuan orangtuanya? Ibu aja begini, kenapa Berlian enggak boleh?" Dadanya semakin sesak kala menjawab setiap kalimat dari Ibunya. Berlian merasakan kedua matanya berembun dan hidung begitu perih.

Gadis itu memalingkan wajahnya dan segera menarik sehelai pasmina untuk menutupi kepalanya. Tak punya jawaban lagi, Lela kesal dan pergi.

Barang-barang sudah siap, Lela dan gadis itu masih sedikit kaku karena hal tadi siang. Berlian duduk dengan kedua kaki terlipat seraya menutup sebagian tubuhnya dengan kain. Mereka memang hanya punya selembar kain untuk menyelimuti kala malam. Tak ada kehangatan yang mereka rasakan kecuali matahari bersinar.

"Kamu tunggu di sini dulu!" kata Lela. Ia keluar karena mendapat pesan singkat dari seorang pria yang sejak dulu mendiami relung hatinya.

Diam-diam pula Berlian mengikuti Ibunya dari belakang dengan mengendap-endap. Di balik tong sampah besar, gadis itu melihat Ibunya bertemu dengan seorang pria tempo lalu. Pria yang sama yang sempat menjamah Lela meski di jalanan.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status