登入Plak!Menampar pipi sendiri pakai sisa telapak tangan kanan yang berlumuran darah kental tidak bikin pening di kepalaku berkurang. Malah rasa anyir darah campur daki semen merembes masuk ke sela bibirku yang pecah. Kebas. Pandangan mata asliku makin buram, cuma bisa menangkap siluet gaun hitam Haneul yang mendadak kaku berdiri di atas ubin tegel. Pendar ungu di matanya sudah hilang total, berganti warna hitam pekat yang menyumbat seluruh lingkaran kornea matanya sampai kelihatan bolong mirip lubang sumur tua mati.Tangan kabut Malakai masih menempel di dahi anak itu, menguapkan asap kelabu tipis yang baunya busuk seperti daki lapis baja yang terbakar."Haneul! Anjrit, denger kamuku, Haneul!"Suara lengkingan Vane kedengaran menjauh di sebelah kiri. Berisik. Samar-samar aku melihat dia memungut potongan pipa besi penyok dari lantai, lalu mengayunkannya sekuat tenaga ke arah lengan kabut yang keluar dari dinding uap.Wusss... klang!Gagal total. Pipa besi itu cuma memotong udara kosong,
Dar! Dar! Dar!Letusan selongsong sisa peluru keluar dari laras pistol Vane. Bising. Suara bising itu bikin gendang telinga kananku yang basah penuh cairan bening terasa makin budek berdenyut. Berantakan. Peluru timah itu tidak berbekas sama sekali, cuma menembus gumpalan asap hitam di depan dinding uap lalu memantul ke langit-langit ubin tegel sampai rontok serpihan pasirnya menimpa kelopak mataku yang lengket karena campuran keringat dan daki semen.Suara distorsi berat keluar dari tengah siluet kabut tebal itu. Denging mesinnya merusak frekuensi sikit bionik di sekitar sudut ruangan, bikin lampu sisa panel berkedip-kedip mau mati.Muntah lagi.Mengeluarkan ludah kental warna cokelat bercampur nanah dari sela bibir yang pecah berdarah. Lantai berlendir minyak ritual ini beneran bau bacin seperti lap basah yang ditinggal berminggu-minggu di dalam selokan. Mual setengah mati. Kenapa juga kain parasut jaket Vane bunyinya berisik sekali pas dia bergerak? Srek, srek, srek. Gesekan kain i
Amis. Bau minyak ritual lama yang dicampur tetesan darah busuk langsung menyergap pangkal kerongkongan begitu pintu kayu tebal itu terdorong ambruk ke dalam. Menyengat sekali. Pengapnya ruangan ini bikin napas tersendek-sendek di tenggorokan yang sudah penuh gumpalan lendir kental. Remang-remang sisa uap lilin lemak babi di sudut dinding ubin membuat genangan cairan di lantai kelihatan cokelat lengket.Deg... deg... deg...Lantai ubin retak di bawah perutku terasa bergetar beraturan. Ritme getarannya konstan, merembes dari sela beton atas menara, pertanda mesin ritual penyatuan jiwa milik Malakai sudah mulai membakar pasokan daya di lantai atas.Sreeet... sreeet...Menyeret siku kiri di atas lantai berlendir minyak ini benar-benar menghabiskan sisa tenaga bionikku. Bau sangit sisa kain jaket yang gosong nempel di daging bahu makin menjadi-jadi. Lumpuh total. Kaki kiriku sekarang cuma jadi seonggok besi tua penyok yang beratnya seperti karung semen basah, tidak bisa digerakkan sama sek
Duk! Duk! Duk!Bising sekali suara ketukan ujung sepatu bot Vane menghantam lantai. Jengkel beneran aku mendengarnya dari posisi duduk di anak tangga teratas ini. Kepala rasanya mau pecah, pening karena dahi berlemak penuh debu semen yang menempel tebal semenjak dari lorong pembuangan bawah tadi. Ludah kental warna cokelat kukeluarkan dari mulut, baunya bacin campur sisa dehidrasi parah yang bikin tenggorokan rasanya berpasir. Berapa anak tangga yang barusan kulewati ya? Seratus lima? Seratus enam? Otakku macet total, tidak bisa menghitung dengan benar karena sisa oksigen di tempat ini makin menipis bercampur uap bensin busuk dari pipa bocor.Gerbang kayu lapis besi di depan kami macet total. Pasak hidrolik kuno yang menyumbat celah tengah pintu itu sudah dipenuhi kerak karat tebal warna jingga kusam.Sreeet... klank!Meleset lagi linggis kecil rongsokan di tangan Vane. Tangannya yang belepotan oli bekas dan keringat asem kelihatan gemetaran parah sampai linggis itu jatuh menabrak ker
Klek... krek... sreeet.Menyeret dengkul kiri di atas batu yang dilapisi lumut basah rasanya mirip mencungkil daging pakai sendok karatan. Bunyi patahan engsel bionik di lututku bergaung bising tiap kali dipaksa menekuk. Licin. Tetesan oli hitam dari pipa plafon bikin setiap pijakan anak tangga melingkar ini jadi jebakan rongsokan. Bau bensin busuk campur uap pengap langsung menyumbat sisa lubang respirator baja di hidungku.Otakku rasanya seperti dinamo kipas angin tua yang dipaksa berputar di dalam lumpur. Macet. Susah sekali cuma buat memikirkan berapa jumlah anak tangga yang tersisa sebelum kami semua pingsan di jalan.Hah... hah... hah...Napas Vane kedengaran memburu di barisan paling depan. Senter kecil di tangan kirinya mulai berkedip-kedip, lampunya kuning redup mirip kunang-kunang mau mati. Lorong tangga ini beneran sempit, lebarnya tidak sampai semeter, bikin bahu zirahku bergesekan terus sama dinding batu yang berlendir kelabu."Buruan naik! Langkahmu lambat kayak siput om
Amis. Mulutku penuh rasa tembaga campur lumpur kotor. Meludah ke lantai basah cuma bikin sisa darah hitam mengotori genangan air. Napasku berbunyi mengi. Menarik udara terasa sangat berat di ruangan bawah tanah ini. Bau kabel gosong dari dalam zirah dadaku menguap tajam sampai bikin mata perih.Ujung sepatu botku lengket. Karet solnya menempel kuat di lumpur saluran pembuangan.Pilar beton ini berjamur basah. Menyandarkan punggung ke semen lembap bikin rasa dingin meresap lambat ke tulang belakang. Sakit. Menggeser bahu sedikit saja rasanya mau putus.Napas Haneul berbunyi seperti peluit rusak. Jemari tangannya terus menggaruk ujung gaun hitamnya sampai kainnya robek memanjang. Berdiri dua meter dariku, pundaknya naik turun terlalu cepat menahan beban. Ujung sepatunya tertutup lapisan es hitam. Es itu pelan-pelan menjalar ke ubin lantai mencari jalan."Mundur, Hamin," kata Jiran tanpa menoleh. Suara kakek itu serak. Tangan keriputnya menarik kerah jaketku kasar ke arah belakang.Menye
Bab 105: Rasa Manis yang TerakhirPintu lift di depanku bergetar kayak mau copot. Lumut bionik warna hijau neon yang nempel di sela baja itu berdenyut cepat, ngeluarin cairan lengket bau cuka busuk. Bau yang bikin mual. Sialnya, hidungku yang sebelah kanan masih organik, jadi bau sialan ini langsun
Bab 103: Hitungan Mundur di Ujung LorongSreeet.Lantai besi ini licin sekali. Lebih mirip lantai tukang jagal daripada lorong menara, gara-gara genangan oli encer bercampur cairan pendingin yang bocor dari dinding. Di dalam kepalaku, angka digital itu terus bergerak turun tanpa ampun.08:14. Delap
Bab 102: Besi Berkarat dan Air Mata yang BekuDug!Kepalaku membentur dinding lift saat kotak besi ini mendadak ngerem mendadak. Sialan. Bergetar hebat, lift ini seolah mau rontok dari kabel bajanya. Angka merah di atas pintu berkedip kaku, menunjukkan nomor 130.Bau cairan hidrolik yang bocor meny
Bab 100: Titik Beku di Nadi PerakAngka nol di monitor pergelangan tanganku tinggal menunggu waktu. Berkedip. Sialan, tiga menit terasa pendek sekali kalau otakmu sedang digerogoti cairan perak stimulan. Aku bisa merasakan ujung-ujung saraf di kepalaku mulai kebas, pelan-pelan merambat turun ke ten







