Home / Lainnya / Nature Squad / Bab 55-Kuciptakan Memori Indah itu Untukmu

Share

Bab 55-Kuciptakan Memori Indah itu Untukmu

Author: seni_okt
last update Last Updated: 2021-11-18 19:57:45
Setelah pulang sekolah Samudra tidak langsung pulang ke rumahnya ataupun pergi bersama anak-anak Nature Squad seperti yang selalu mereka lakukan. Lelaki itu pergi untuk menemui teman barunya — Viola, gadis yang sempat ia pikir sebagai laki-laki botak yang hendak bunuh diri.

Diketuklah pintu kokoh tersebut. Pintu yang menghubungkan dengan sebuah ruangan penuh harapan.

“Masuk,” ucap seorang wanita paruh baya dari dalam.

Samudra menyembulkan kepalanya seperti seorang anak kecil yang sedang bermain petak umpet. Baik wanita paruh baya ataupun gadis manis yang sedang duduk di kursi roda sama-sama tidak bisa menyembunyikan tawanya melihat kelakuannya yang menggemaskan.

“Ayo masuk, Nak Sam,” ujar ibu dari Viola. Ia sudah cukup tahu siapa lelaki yang mengaku sebagai teman putrinya itu dan ia juga senang karena kehadiran Samudra, putrinya terlihat jauh lebih ceria dan banyak tersenyum. Samudra masuk dan tidak lupa untuk menutup pintunya kembali. Kemudian ia salim ke ibunya Viola dengan me
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Nature Squad   Bab 59-Bertemu Camer di Depan Gereja Tua

    Sejak matahari masih malu-malu untuk menampakkan sinarnya Binar beserta kedua orang tuanya sudah berada di sebuah gereja untuk melaksanakan ibadah pagi. Di bangku kayu berwarna coklat hangat Binar duduk dengan khidmat sebelum kemudian semua jamaat berdiri seraya mengangkat tangan kanannya untuk melakukan pujian dan penyembahan. Lagu-lagu pujian menggema di dalam gereja. Kemudian setelah selesai para jamaat kembali duduk untuk sesi do'a. Diantaranya do'a untuk pengampunan dosa, do'a syafaat, dan doa syukur dan dilanjutkan dengan pembacaan alkitab. Kedua tangan Binar memegang alkitab, obsidian kembarnya membaca dengan penuh khidmat dan keimanan. Lalu kedua telinganya mendengarkan khotbah yang disampaikan pendeta. Tidak ada pikiran duniawi, semua pikiran dan hatinya ia fokuskan hanya untuk memuji Tuhan. Setelah semua rangkaian ibadah selesai Binar baru membuka handphone nya dan ternyata sudah ada 2 pesan masuk yang dua-duanya dari kekasihnya. Pesan itu berisi ucapan selamat pagi se

  • Nature Squad   Bab 58- Jalan Pagi dan Mengakui Kesalahan

    Suara kicau burung milik tetangga menyapa orang-orang yang sedang olahraga pagi di komplek perumahan. Sepasang saudara itu salah satunya. Walaupun si adik terus merengek kelelahan, tetapi si kakak mengabaikan daan justru menarik lengan si adik agar ikut berlari dengannya meski harus sedikit memelankan kecepatannya. Dirga memberikan semangat, "Dikit lagi Rain. Lo bisa!" Sedangkan gadis itu justru semakin merajuk bahkan hampir menangis karena kakinya sudah sangat pegal. Ia rasa sebentar lagi kakinya akan lepas dari tempatnya. "Capeeeek." Dirga menghela napas dan akhirnya mengajak Rain makan ke tukang bubur ayam langganan mereka di luar komplek perumahan. Kedua kakak beradik itu berjalan berdampingan dan sesekali yang lebih besar menggoda dengan kembali berlari meninggalkannya. Rain berteriak, "Bang Di tungguin!" Setelah sampai di tempat tukung bubur ayam langganan, Rain pun langsung duduk dengan wajah yang masih cemberut karena ditinggalkan. Sedangkan si pelaku justru anteng-a

  • Nature Squad   Bab 57-Ditemenin Bobo

    Dokter Leon meminta satu kamar inap untuk sepupunya dan setelah mendapatkan kamar kosong ia langsung membawanya ke sana. Samudra dipasang masker oksigen untuk membantu pernapasannya yang hilang timbul. Setelah itu Dokter Leon menghubungi seseorang dan jika dilihat dari gaya bicaranya tidak salah lagi ia menghubungi orang tuanya Samudra. “Kak.” Panggil Samudra melepas masker oksigennya. Tahu apa yang sedang dipikirkan oleh sepupu keras kepalanya tersebut Dokter Leon langsung menempelkan jari telunjuk dan ibu jarinya berbentuk bulatan sedangkan tiga jari lainnya ia acungkan. Seakan mengatakan, oke tenang saja mereka tidak tahu kamu ada di sini. “Iya, Tante gak usah cemas Sam aman bersamaku,” pungkasnya sebelum mengakhiri teleponnya. “Bundamu gak tau kamu di sini. Aku bilang malam ini kamu menginap di rumahku karena besok ada ulangan dan meminta Sarah mengajarimu belajar.” Jelas Dokter Leon seraya memeriksa keadaan jantuk milik sepupunya tersebut. Samudra menimpali dengan su

  • Nature Squad   Bab 56-Bolehkah?

    Hari sudah sore saat mereka menyelesaikan berkeliling sekolah tersebut. Samudra memasangkan helmnya membuat gadis itu harus menahan napas karena gugup. Viola tersenyum malu serta pura-pura membenarkan letak helm nya untuk menutupi kegugupannya. "Makasih." “Untuk?” tanya Samudra sengaja menggoda gadis itu. “Untuk ini.” Tunjuknya pada helm putih yang sudah terpasang di kepalanya, “dan untuk hari ini. Makasih udah mewujudkan mimpi yang kupikir cuma akan menjadi sebuah angan.” “Sama-sama,” balas Samudra juga mengulas senyum, “lo bisa ngandelin gue.” Lanjutnya dengan berbangga diri. Tidak terasa waktu cepat berlalu. Rasanya baru saja gadis itu mengeluh kepanasan, kini sang raja sinar sudah hampir bersembunyi. Ia sangat bersyukur kepada Tuhan karena telah mempertemukannya dengan Samudra, laki-laki yang mengubah warna hidupnya yang kelabu menjadi lebih berwarna. Kini Viola semakin takut dengan kematian. Ia tidak ingin meninggalkan kebahagiaan yang baru saja dirasakannya, ia tidak ingin

  • Nature Squad   Bab 55-Kuciptakan Memori Indah itu Untukmu

    Setelah pulang sekolah Samudra tidak langsung pulang ke rumahnya ataupun pergi bersama anak-anak Nature Squad seperti yang selalu mereka lakukan. Lelaki itu pergi untuk menemui teman barunya — Viola, gadis yang sempat ia pikir sebagai laki-laki botak yang hendak bunuh diri. Diketuklah pintu kokoh tersebut. Pintu yang menghubungkan dengan sebuah ruangan penuh harapan. “Masuk,” ucap seorang wanita paruh baya dari dalam. Samudra menyembulkan kepalanya seperti seorang anak kecil yang sedang bermain petak umpet. Baik wanita paruh baya ataupun gadis manis yang sedang duduk di kursi roda sama-sama tidak bisa menyembunyikan tawanya melihat kelakuannya yang menggemaskan. “Ayo masuk, Nak Sam,” ujar ibu dari Viola. Ia sudah cukup tahu siapa lelaki yang mengaku sebagai teman putrinya itu dan ia juga senang karena kehadiran Samudra, putrinya terlihat jauh lebih ceria dan banyak tersenyum. Samudra masuk dan tidak lupa untuk menutup pintunya kembali. Kemudian ia salim ke ibunya Viola dengan me

  • Nature Squad   Bab 54-Sebuah Restu yang Masih Mengambang

    Samudra langsung menuju ke ruangan Dokter Leon. Sesekali pemuda itu menarik napasnya dalam, meski sudah berulang kali melakukan pemeriksaan, tetapi tetap saja dia selalu gugup untuk mengetahui hasilnya. Dokter Leon mulai mengeluarkan kertas yang masih tersegel, mimik wajahnya langsung berubah ketika mengetahui hasilnya dan Samudra tahu arti dari raut wajah tersebut bukanlah kabar baik. *** "Makasih untuk hari ini," ucap Binar ketika mereka telah sampai di pekarangan rumahnya. Dirgantara menjawab dengan wajah sedih, "Maaf gak sesuai rencana." Gadis itu tersenyum seraya menggelengkan kepalanya pelan. "Jangan terlalu mengumbar kata maaf. Aku senang kok." Dirgantara mencubit kedua pipi Binar dengan gemasnya. "Baik banget sih pacar aku ini, jadi makin cinta." "Kok ngobrol di luar. Ajak masuk dong, Bi," ucap seorang wanita paruh baya baru saja keluar dari dalam rumah. "Hehe, iya, Ma." Binar hanya nyengir seraya memasukan tangannya ke belakang rambutnya, "yuk!" Awalnya Dirgantara

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status