Home / Lainnya / Nature Squad / Bab 7-Khawatir

Share

Bab 7-Khawatir

Author: seni_okt
last update Last Updated: 2021-06-05 12:01:16

Sarah langsung pergi ke rumah sakit ketika mendapat kabar sepupunya masuk rumah sakit. Ia mempercepat langkahnya saat manik matanya melihat tantenya yang sedang duduk di depan ruang ICU.

"Tante, Sam kenapa?" tanya Sarah.

"Sam abis menerima panggilan dari Rain," Wanita paruh baya itu bahkan tidak sanggup melanjutkan perkataannya.

"Sa, Tante takut." Lanjutnya diiringi dengan isak tangis yang kembali pecah. Gadis itu hanya memeluk Dewi untuk memberikannya kekuatan.

Dewi langsung menghampiri Dokter Leon yang baru saja keluar dari ruang ICU, ia adalah dokter yang menangani Samudra selama ini, sekaligus kakak dari Sarah. Jadi, mereka masih satu keluarga besar.

"Kondisinya masih sangat lemah dan belum sadarkan diri, tapi Tante jangan khawatir, Sam anak yang kuat, dia gak akan kalah hanya karena ini," tutur Dokter Leon menenangkan wanita yang sedang dilanda kecemasan itu.

***

Baskara sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Bintang dan Angkasa yang menjaganya sementara Dirgantara pamit untuk mengantar Rain pulang, tapi nanti dia akan kembali dan menginap di rumah sakit.

Baskara beruntung meski ia tidak mendapatkan kasih sayang dari keluarga kandungnya, tetapi pemuda itu memiliki sahabat-sahabat yang sangat menyayanginya lebih dari seorang keluarga. Anak-anak Nature Squad akan menjadi tameng terdepan untuk melindungi dan menjaganya.

"Kok gue jadi sedih, ya?" Tanya Angkasa entah pada siapa. Melihat sahabatnya yang masih terbaring di ranjang pesakitan.

Bintang ikut melihat Baskara yang masih memejamkan matanya, alis dan dahinya mengernyit kala teringat kondisi memprihatinkan sahabatnya beberapa waktu lalu. "Semua orang juga sedih kali."

"Gue merasa jadi sahabat yang gak berguna. Kita tuh sahabatan udah setahun lebih harusnya kita udah saling tahu satu sama lainnya," ujar Angkasa merutuki ketidaktahuannya.

Bintang berdiri seraya memandangi langit malam dari balik jendela kamar. "Ada kalanya masalah itu cukup dirinya sendiri yang tau."

"Tapi, kalau udah gini kan--"

"Lo gak sholat?" Tanya Bintang melihat waktu sudah menunjukan jam sepuluh malam.

Angkasa membuka mulutnya lalu memukul dahinya pelan, seperti baru teringat sesuatu. "Lah iya! Lupa gue saking paniknya."

"Ya udah sholat dulu sana! Babas biar gue yang jagain." Bintang mendorong pelan Angkasa untuk segera melaksanakan kewajibannya. Setelah Angkasa pergi, Bintang kembali menatap luka-luka yang ada di tangan sahabatnya itu, ia bergidik ngeri.

"Gue pikir cuma masalah geu yang berat, ternyata lo punya masalah yang jauh lebih berat dari gue Bas," gumam Bintang berbicara pada orang yang bahkan tidak bisa menjawabnya.

Bintang sangat paham apa yang dirasakan oleh Baskara karena ia juga merasakannya. Hanya saja, meskipun ibunya tidak menyukainya, tidak menganggapnya, setidaknya ia masih mempunyai ayah dan saudara yang sangat sayang serta peduli padanya. Sedangkan Baskara? Dia hanya memiliki neneknya yang bahkan sekarang telah pergi meninggalkannya. Pemuda itu sebatang kara.

***

"Bintang, si Babas udah sadar?" Tanya Dirgantara seraya menjatuhkan bokongnya ke sofa panjang yang ada di ruangan tersebut. Ia menghela napas lalu membuangnya kasar untuk membuang rasa lelahnya.

"Belum." Pemuda itu ikut mendorong kaki Dirgantara agar memberi bokongnya sedikit ruang untuk ikut bergabung dengannya. Dirgantara memperhatikan Baskara dengan tatapan kasihan sekaligus bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi pada sahabatnya itu.

"Si Angka mana?" tanya Dirgantara karena hanya Bintang yang ada di ruangan.

"Lagi sholat." Jawab Bintang yang kini sudah beralih dengan koran yang berada di atas meja kecil dekat sofa.

"Oh." Respon Dirgantara meliriknya sekilas lalu menyenderkan tubuh lelahnya seraya memijat pelipisnya ketika terasa berdenyut, pusing memikirkan masalah-masalah yang sedang terjadi hari ini.

"Lo udah sholat?" tanya Bintang tanpa mengalihkan pandangannya dari benda favoritnya itu.

"Udah pas balik gue sholat dulu," jawabnya yang kini sudah memejamkan matanya dan enggan untuk dibuka kembali. Dirgantara mulai mengantuk karena kelelahan fisik dan mental.

***

Perlahan mata lelaki itu terbuka, secercah cahaya terang mentari pagi terpancar masuk ke dalam ruang rawatnya, bau obat-obatan sudah tercium oleh inderanya.

"Bunda," panggilnya dengan volume suara yang pelan. Wajahnya masih sangat pucat dan tubuhnya juga masih terasa sangat lemas.

"Alhamdulilah, anak bunda sudah sadar." Haru Dewi. Setelah semalaman Samudra tidak sadarkan diri akhirnya putranya itu siuman pagi ini.

"Sebentar, Bunda panggilkan dokter dulu, ya." Wanita itu sedikit berlari untuk memanggil Dokter Leon. Tak lama dia kembali bersama Dokter Leon yang langsung memeriksa keadaanya.

"Bagaimana?" tanya Dewi, berharap bahwa anak lelakinya sudah baik-baik saja.

"Syukurlah keadaannya sudah jauh stabil, dua hari lagi Sam udah diperbolehkan pulang, tapi harus tetap jaga kesehatan dan obatnya jangan sampai telat diminum," jelas Dokter Leon.

"Jangan dibuang lagi." Lanjutnya dengan berbisik pada sepupunya itu sebelum beranjak dari ruangan tersebut.

Dewi tersenyum pada anak semata wayangnya, kemudian wanita itu duduk di kursi yang sudah disediakan. Meski berusaha kuat, tetap saja hati ibu mana yang tidak sakit melihat anaknya terbaring lemah di rumah sakit?

"Bunda, Sam gak suka lihat wajah Bunda murung gitu," kata Samudra menarik sudut bibir Dewi agar tersenyum.

"Nah kalau senyum kan cantik." Pemuda itu memberinya senyum tulusnya.

"Bunda kupaskan pisang, mau?" tawarnya. Sam mengangguk lalu sedetik kemudian pemuda itu langsung menanyakan ponselnya.

"Sayang, kamu baru aja siuman, kok yang dicari malah ponsel bukannya nanyain Bunda atau ayah. Hmm bunda cemburu tau sama ponsel kamu," balas Dewi dengan lembut diselingi dengan candaan agar putranya lupa dengan rasa sakitnya.

"Bunda lebay ih. Tolong ponsel Sam, bunda cantiknya aku." Samudra menyodorkan tangannya yang bebas dari infus seraya mengerucutkan bibirnya layaknya anak balita membuat wanita itu lupa bahwa putranya telah remaja. Ia menghela napasnya kemudian memberikan ponsel Samudra yang sedari tadi disimpan di dalam tas hitamnya.

"Mau telepon siapa sih anak ganteng bunda ini? Rain ya?" tebaknya. Siapa lagi orang yang bisa membuat anaknya seperti ini kalau bukan gadis itu. Samudra mengangguk seraya mencari kontak Rain di ponselnya, kemudian mengklik icon panggil. Tanpa harus menunggu lama, suara si penerima panggilan langsung memenuhi gendang telinganya.

"Hallo, Sam, kamu ke mana aja? Kenapa dari kemarin gak bisa dihubungi? Kamu kamu baik-baik aja, kan? Kamu--" kata Rain dalam satu tarikan napas. Suaranya begitu nyaring sampai membuat Sam harus sedikit menjauhkan ponselnya jika tidak ingin gendang telinganya rusak akibat pekikan gadis itu.

"Nanyanya satu-satu dong, Rain," Sam dibuat gemas olehnya. Andai saja gadis itu ada dihadapannya, mungkin hidung gadis itu sudah menjadi korban kegemasannya.

"Namanya juga lagi khawatir." Terdengar sebuah protes dari Rain, Samudra sedikit terkikik geli membayangkan bagaimana lucunya ekspresi gadis itu sekarang.

"Cie yang khawatir," Pemuda itu semakin gencar menggodanya.

"Kamu ke mana aja sih? Kenapa susah banget dihubungi?" tanya Rain tidak terpengaruh dengan ledekan yang baru saja Samudra layangkan padanya yang gadis itu butuhkan sekarang ini adalah penjelasan. Sebuah penjelasan kenapa dia mematikan sambungannya begitu saja dan hilang kabar selama tiga hari ini.

"Biasa dihukum sama Bunda gak boleh keluar rumah gara-gara ngilangin Tupperware.kesayangannya." Alibinya yang terdengar begitu bodoh.

"Bohong! Waktu itu aku dengar tante Dewi teriak manggil om Anton, terus gak lama handphone kamu mati. Sebenarnya apa yang terjadi? Jujur!" Paksa Rain. Ia tidak akan percaya dengan alasan konyol seperti itu.

"Oh, itu gue gak sengaja pecahin gelas, biasalah ibu-ibu paniknya suka lebay. Oh iya, hampir lupa, gimana Babas sekarang? Sorry, gue belum bisa jenguk." Samudra menghela napas, dia merasa bersalah entah sudah berapa banyak ia berbohong pada Rain hari ini.

"Alhamdulilah keadaannya berangsur membaik. Kata dokter Babas depresi berat," jelas Rain. Nada suaranya berubah sedih. Samudra terkejut, ia mengernyit kala dadanya kembali berdenyu nyeri.

"Selama ini kita pikir Babas itu sehat-sehat aja, tapi ternyata ...." Bahkan Rain tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Gadis itu benar-benar masih tidak percaya dengan apa yang dialami salah satu sahabatnya itu.

Dan di tempat Samudra, Sarah sudah berdiri di pintu ruangan memperhatikannya sejak tadi.

"Rain, udah dulu ya, pulsa gue mau abis nih." Lagi-lagi Samudra langsung memutuskan sambungannya secara sepihak.

"Mau sampai kapan? Setidaknya mereka harus tahu," ujar Sarah membuat Sam menggelengkan kepalanya pelan.

***

Di pagi yang masih gelap, disaat matahari masih malu-malu untuk menampakkan sinarnya, pemuda jangkung itu sudah siap dengan pakaian santainya.

"Abang mau ke rumah sakit, mau ikut?" tawarnya.

"Bang Di duluan aja, Rain mau ke rumah Tia dulu." Gadis itu sibuk merapikan buku yang akan ia bawa ke dalam tas ranselnya.

"Nyalin tugas nih pasti," tebak Dirgantara kembali menggoda sang adik.

"Enak aja emangnya aku bang Di kerjasnnya nyontek," Rain mendengkus, "aku tuh mau kerja kelompok."

***

Sedari tadi pemuda itu tidak mau berbicara pada siapapun. Ia masih sangat syok ketika melihat tangannya tidak tertutup hoodie yang selalu dipakainya.

"Tinggalin gue sendiri," pinta Baskara dengan tatapan datarnya.

"Tapi, Bas--"

"Keluar!" Bentak pemuda itu seraya menunjuk pintu dengan telunjuknya. Angkasa keluar seperti yang diminta sahabatnya, ia ingin membuat sedikit ruang untuk Baskara agar dapat menenangkan pikirannya.

Baskara menatap tangannya nanar, luka-luka itu tidak tertutup dengan hoodie yang selalu ia pakai. Itu artinya teman-temannya sudah tahu dan mungkin mereka juga sudah mengetahui penyakit mentalnya.

“Apakah setelah ini gue akan kembali sendirian?” pikirnya.

"Kok di luar?" tanya Dirgantara pada Angkasa yang sedang duduk seraya memainkan game di ponselnya.

"Babas minta ditinggal." Jawab pemuda itu masih fokus pada permainan. Dirgantara melotot, tidak habis pikir pada sahabat satunya ini. Kenapa disaat seperti ini dia malah membiarkan pemuda itu seorang diri di dalam sana. Bagaimana jika dia kembali melakukan hal bodoh?

"Terus kenapa lo malah ikuti kemauan dia? Kalau dia coba ngiris lagi gimana?" Tanya Dirgantara seraya langsung merebut ponsel pemuda itu dengan kesal.

"Aaahh!" Angkasa sedikit berteriak karena ulah Dirgantara permainan yang sebentar lagi akan dimenangkannya justru malah berakhir dengan kekalahan.

"Gue juga gak akan selalai itu. Gue udah amanin semua barang yang kira-kira berbahaya. Lagian apa yang bisa membahayakan di ruangan itu?" Angkasa memutar bola matanya jelak lalu merebut kembali ponselnya, "gara-gara lo gue kalah wlah." Dia mengerucutkan bibirnya dan menatap tajam ke arah Dirgantara yang tampak tidak peduli sama sekali.

"Si Bintang belum ke sini?" tanya Dirgantara mengalihkan topik pembicaraan.

"Ini hari Minggu," balas Angkasa masih dongkol akibat ulah sahabatnya itu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Nature Squad   BAB 61-Nature Squad (Chat)

    Berikut kehebohan di grup Nature Squad tentang rencana liburan sekolah mereka. Sebenarnya bukan libur panjang hanya liburan sebelum ujian tiba. Ya cuma 3 hari dan tempat liburannya pun masih di Indonesia tepatnya di daerah Banten. Rain | pukul 12:00 Guys bang Di bawa pacarnya, boleh gak? Bintang | pukul 12:02 @dirgantara Wiiih punya pacar lu? Rain | pukul 12:03 Lah belum cerita bang? Waaah parah @dirgantara Rain | pukul 12:03 Ini aja kita lagi jalan bertiga Bintang | pukul 12:04 Lah ngapain lo ikut? Cosplay jadi nyamuk lo?" Samudra | pukul 12:10 Hahahahaaaaaa cosplay jadi tonggeret dia mah Samudra | pukul 12:12 Dah lah giliran gue muncul lo pada ilang. Rain | pukul 14:05 Dih datang-datang langsung ngebully. Gak like. Dirgantara | pukul 19:01 Berisik! Samudra | pukul 19:08 Cie abang abis ngapel cie.. Dirgantara | pukul 19:09 Dih kapan gue jadi abang lo? Bintang | pukul 19:11 Jleb banget. Rain | pukul 19:11 Hahahaa rasain! Samudra | pukul 19:15 yang kamu laku

  • Nature Squad   Bab 60-Dirgantara dan Dua Gadisnya

    Setelah dirasa kondisi Samudra sudah lebih baik ia pulang ke rumah dengan diantar oleh Sarah agar orangtuanya tidak curiga telah dibohongi. Sepanjang perjalanan Sarah tidak berhenti mengomelinya karena mengajaknya untuk berbohong padahal gadis itu paling tidak mau membohongi paman dan bibinya, tapi sepupunya dan kakaknya sudah terlanjur menyeret namanya dalam kebohongan tersebut. "Pokoknya ini terakhir kali kamu nyuruh aku bohong ya. Kalau bohong, bohong aja sendiri gak usah nyeret nama orang lain," oceh Sarah. Tanpa menoleh dan tetap memperhatikan jalan di depannya, Samudra menimpalinya setengah tak acuh. "Iya Sarah, iyaaa. Lo udah bilang ini puluhan kali." Oh tidak. Menjawab di saat seorang wanita sedang kesal bukan hal yang baik. Terbukti sekarang sarah mendelik sinis kearahnya serta berdecak keras. "Iya, iya, terus abis itu dilakuin lagi. Dah lah udah ketebak. Aku tau kamu, Sam. Bocah nakal." Samudra tidak membalasnya. Biarkanlah sepupunya itu terus mengoceh sepanjang jala

  • Nature Squad   Bab 59-Bertemu Camer di Depan Gereja Tua

    Sejak matahari masih malu-malu untuk menampakkan sinarnya Binar beserta kedua orang tuanya sudah berada di sebuah gereja untuk melaksanakan ibadah pagi. Di bangku kayu berwarna coklat hangat Binar duduk dengan khidmat sebelum kemudian semua jamaat berdiri seraya mengangkat tangan kanannya untuk melakukan pujian dan penyembahan. Lagu-lagu pujian menggema di dalam gereja. Kemudian setelah selesai para jamaat kembali duduk untuk sesi do'a. Diantaranya do'a untuk pengampunan dosa, do'a syafaat, dan doa syukur dan dilanjutkan dengan pembacaan alkitab. Kedua tangan Binar memegang alkitab, obsidian kembarnya membaca dengan penuh khidmat dan keimanan. Lalu kedua telinganya mendengarkan khotbah yang disampaikan pendeta. Tidak ada pikiran duniawi, semua pikiran dan hatinya ia fokuskan hanya untuk memuji Tuhan. Setelah semua rangkaian ibadah selesai Binar baru membuka handphone nya dan ternyata sudah ada 2 pesan masuk yang dua-duanya dari kekasihnya. Pesan itu berisi ucapan selamat pagi se

  • Nature Squad   Bab 58- Jalan Pagi dan Mengakui Kesalahan

    Suara kicau burung milik tetangga menyapa orang-orang yang sedang olahraga pagi di komplek perumahan. Sepasang saudara itu salah satunya. Walaupun si adik terus merengek kelelahan, tetapi si kakak mengabaikan daan justru menarik lengan si adik agar ikut berlari dengannya meski harus sedikit memelankan kecepatannya. Dirga memberikan semangat, "Dikit lagi Rain. Lo bisa!" Sedangkan gadis itu justru semakin merajuk bahkan hampir menangis karena kakinya sudah sangat pegal. Ia rasa sebentar lagi kakinya akan lepas dari tempatnya. "Capeeeek." Dirga menghela napas dan akhirnya mengajak Rain makan ke tukang bubur ayam langganan mereka di luar komplek perumahan. Kedua kakak beradik itu berjalan berdampingan dan sesekali yang lebih besar menggoda dengan kembali berlari meninggalkannya. Rain berteriak, "Bang Di tungguin!" Setelah sampai di tempat tukung bubur ayam langganan, Rain pun langsung duduk dengan wajah yang masih cemberut karena ditinggalkan. Sedangkan si pelaku justru anteng-a

  • Nature Squad   Bab 57-Ditemenin Bobo

    Dokter Leon meminta satu kamar inap untuk sepupunya dan setelah mendapatkan kamar kosong ia langsung membawanya ke sana. Samudra dipasang masker oksigen untuk membantu pernapasannya yang hilang timbul. Setelah itu Dokter Leon menghubungi seseorang dan jika dilihat dari gaya bicaranya tidak salah lagi ia menghubungi orang tuanya Samudra. “Kak.” Panggil Samudra melepas masker oksigennya. Tahu apa yang sedang dipikirkan oleh sepupu keras kepalanya tersebut Dokter Leon langsung menempelkan jari telunjuk dan ibu jarinya berbentuk bulatan sedangkan tiga jari lainnya ia acungkan. Seakan mengatakan, oke tenang saja mereka tidak tahu kamu ada di sini. “Iya, Tante gak usah cemas Sam aman bersamaku,” pungkasnya sebelum mengakhiri teleponnya. “Bundamu gak tau kamu di sini. Aku bilang malam ini kamu menginap di rumahku karena besok ada ulangan dan meminta Sarah mengajarimu belajar.” Jelas Dokter Leon seraya memeriksa keadaan jantuk milik sepupunya tersebut. Samudra menimpali dengan su

  • Nature Squad   Bab 56-Bolehkah?

    Hari sudah sore saat mereka menyelesaikan berkeliling sekolah tersebut. Samudra memasangkan helmnya membuat gadis itu harus menahan napas karena gugup. Viola tersenyum malu serta pura-pura membenarkan letak helm nya untuk menutupi kegugupannya. "Makasih." “Untuk?” tanya Samudra sengaja menggoda gadis itu. “Untuk ini.” Tunjuknya pada helm putih yang sudah terpasang di kepalanya, “dan untuk hari ini. Makasih udah mewujudkan mimpi yang kupikir cuma akan menjadi sebuah angan.” “Sama-sama,” balas Samudra juga mengulas senyum, “lo bisa ngandelin gue.” Lanjutnya dengan berbangga diri. Tidak terasa waktu cepat berlalu. Rasanya baru saja gadis itu mengeluh kepanasan, kini sang raja sinar sudah hampir bersembunyi. Ia sangat bersyukur kepada Tuhan karena telah mempertemukannya dengan Samudra, laki-laki yang mengubah warna hidupnya yang kelabu menjadi lebih berwarna. Kini Viola semakin takut dengan kematian. Ia tidak ingin meninggalkan kebahagiaan yang baru saja dirasakannya, ia tidak ingin

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status