Home / Lainnya / Nature Squad / Bab 8-Kecurigaan

Share

Bab 8-Kecurigaan

Author: seni_okt
last update Last Updated: 2021-06-16 00:52:10

Keadaan Samudra sudah mulai membaik. Oleh karenanya pemuda itu sudah diperbolehkan pulang oleh dokter.

"Sayang, yakin mau sekolah hari ini?" tanya Dewi khawatir ketika melihat putranya sudah siap dengan seragam sekolahnya.

"Iya, Sam udah ketinggalan banyak pelajaran Bun," jawabnya, "kalau kelamaan gak masuk, nanti Sam jadi bodoh."

Jujur, dia sangat merindukan para sahabatnya. Selama hampir satu minggu tidak mendengar dan tidak melihat kekonyolan mereka rasanya ada yang kurang. Pemuda itu juga rindu mengendarai motor kesayangannya.

"Ya udah, tunggu, Bunda bawa kunci mobil dulu." Pinta Dewi hendak mengambil kunci mobil yang tergantung di tempatnya.

"Eh, mau ngapain?" tanya Samudra mengernyitkan kening.

"Bunda mau antar kamu lah, apa lagi," jawab wanita itu gemas dengan sikap Samudra yang terlihat menggemaskan.

"Jangan mulai Bun. Sam gak suka ah Bunda memperlakukan Sam kaya anak kecil gini." Pemuda itu mengerucutkan bibirnya dan merengek seperti anak kecil. Dewi mengusap rambut anak semata wayangnya lembut. Cup! dikecupnya kening Samudra dengan pergerakan yang lumayan cepat.

"Bunda." protes pemuda itu tidak suka seraya langsung menjauhkan kepalanya.

Wanita itu malah tertawa melihat anaknya yang menggeliat. Anak kecilnya telah berubah menjadi seorang remaja yang tampan.

***

Di sinilah mereka saat ini, mentertawakan kebodohan yang dibuat Rain.

"Jangan ketawa!" Sergah Rain menempelkan kedua tangannya di pinggang. Bukannya berhenti, tawa mereka malah semakin keras. Rain mengerucutkan bibirnya kesal.

"Bu, baksonya satu lagi," pesan Rain masih tampak kesal.

"Loh yang tadi udah habis neng?" tanya ibu kantin dengan polosnya.

Rain kembali melirik teman-temannya yang masih saja menertawakannya. Ia mendengkus sebal. "Sudah," jawabnya asal.

Gadis itu semakin geram dengan para pemuda di depannya itu. Rasanya ia ingin sekali menumpahkan sambal ke wajah mereka agar berhenti menertawakannya. "Berhenti tidak! Aku siram sambal mau?"

"Sedang bahas apaan sih? Seru banget," ujar Samudra yang tiba-tiba muncul serta langsung memakan bakso milik Rain yang masih tersimpan di atas meja.

"Hua air! Air!" Pemuda itu mengibas-ngibaskan tangannya seraya menjulurkan lidah. Tidak ada satu pun yang berbicara, mereka semua menatap sinis kearahnya kecuali Rain yang langsung memberinya air minum.

"Kenapa melihatku seperti itu?" Samudra mengerutkan alisnya lalu mengambil alih gelas yang di pegang Rain dan langsung meneguknya sampai tetes terakhir. Pemuda itu tidak tahu apa yang membuat mereka menatapnya seperti ini. Dia hanya menunggu teman-temannya mengatakan padanya.

"Lo itu teman kita bukan sih?" Kini Bintang yang bertanya. Namun nada suaranya seperti bukan sebuah pertanyaan. Samudra kembali mengerutkan keningnya tanda tidak mengerti maksud dari pertanyaan yang dilayangkan salah satu sahabatnya itu.

"Kita semua panik sama keadaan si Babas, lo ke mana aja?" Suaranya lebih tinggi dari biasanya, "teman susah malah ngilang."

"Bintang, udah," lerai Rain. Gadis itu tidak tega melihat Samudra dimarahi dan disalahkan. Lagi pula Samudra pasti memiliki alasan, kan? Setidaknya itulah yang gadis itu pikirkan.

"Rain, diem! si Bintang bener," tukas Dirgantara. Pemuda itu tidak suka jika adiknya membela Samudra yang menurutnya salah kali ini.

"Bang Di!" seru Rain tidak suka dengan apa yang dikatakan sang kakak.

"Kita kecewa sama lo, Sam." Kini giliran Angkasa yang bersuara.

"Cukup!” Seru Sarah menghampiri mereka, "kalian gak bisa terus nyalahin Sam. Dia juga gak mau kaya gini."

Sarah sudah seperti Dewi penolong untuk Samudra. Jika saja gadis itu tidak datang, habislah dia dicecar berbagai pertanyaan yang sudah pasti tidak akan pernah dijawab olehnya.

"Maksud lo apa? Seenggaknya kasih kabar lah kalau emang gak bisa, bukan malah ngilang kaya di telan bumi," tukas Angkasa dengan sorot mata penuh amarah.

"Angka!" Mata Sarah menjegil. Gadis itu tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Samudra tidak tahan lagi melihat pertengkaran antara sepupunya dengan sahabat-sahabatnya, pemuda itu langsung menarik Sarah untuk pergi dari sana.

***

"Apa yang ada di otak lo sampai bicara kaya tadi?" Samudra menjadi berang melihat kelakuan ceroboh sepupunya itu. Hampir saja teman-temannya curiga.

"Harusnya aku yang tanya. Kenapa diam aja? Aku gak bisa liat kamu disalahin terus. Mereka gak tau kebenarannya." Gadis itu masih tersulut emosi. Dia tidak habis pikir kenapa sepupunya itu diam saja saat teman-temannya menyalahkan dan memojokannya.

"Justru karena mereka gak tau." Kini Samudra juga semakin tersulut emosi.

"Sam," lirihnya. Gadis itu merasa kasihan pada pemuda di hadapannya ini. Dia selalu bersikap seakan baik-baik saja, padahal ia tahu pemuda itu jauh dari kata baik-baik saja.

"Sarah.” Panggil Samudra menurunkan pandangannya seraya meremas pundak gadis itu, “ini masalah gue sama teman-teman gue. Lo jangan bikin ini makin runyam plis."

"Aku gak terima. Seenggaknya mereka harus tau kebenarannya." Sarah benar-benar tidak suka sepupunya diperlakukan seperti tadi. Rasanya ia ingin berteriak tepat di gendang telinga mereka tentang alasan Samudra tidak datang dan seakan menghilang. Napas Samudra naik turun, pemuda itu juga terbawa emosi pada gadis yang sedang berdiri di hadapannya sekarang. Ia tidak suka ada yang mencampuri urusan pribadinya.

"Masalah Babas aja udah buat mereka khawatir, apalagi kalau mereka tau alasan gue gak datang." Samudra menatap tajam sepupu cantiknya itu, "wajar mereka marah, nanti juga bakal baik sendiri," pungkas Samudra mengakhir perdebatan.

***

Rain menemui Sarah untuk bertanya soal pernyataan yang tadi akan gadis itu utarakan pada mereka. Ia merasa ada yang tidak beres di sini dan seperti yang direncanakan sebelumnya, Rain akan menyelidikinya.

"Sarah." Panggil Rain sembari berlari menghampirinya.

Gadis itu menoleh dan sedikit terkejut dengan kedatangannya. "Eh, Rain."

"Tadi pas di kantin kamu mau ngomong apa sama kita?" tanyanya langsung to the point.

"Ini masalah gue sama teman-teman gue."

"Masalah Babas aja udah buat mereka khawatir, apalagi kalau mereka tau alasan gue gak datang."

Perkataan Samudra tiba-tiba muncul dalam pikirannya, Sarah tidak mau mengecewakan sepupunya. Biarlah mereka tahu dari mulut pemuda itu sendiri.

"Sarah." Rain melambai-lambaikan tangannya tepat di depan wajahnya.

"Lupain aja," kata Sarah dengan senyum dipaksakan.

"Duluan ya." Gadis itu memilih pergi, ia tidak ingin sampai keceplosan yang pasti akan membuat sepupunya marah padanya. Sarah meninggalkan Rain yang masih berdiri di koridor dengan wajah ditekuk. Ia masih berdiri di tempat, memerhatikan punggung gadis itu yang semakin jauh.

"Semakin mencurigakan," pikirnya.

"Rain." Panggil Tia menepuk bahunya. Membuat gadis itu terperanjat kaget.

"Kamu lagi apa berdiri sendirian di sini?" tanyanya heran melihat gadis itu berdiri seorang diri.

Rain mengerjap beberapa kali. "Nunggu pangeran berkuda putih," jawabnya asal.

"Si Sam?" Tebak Tia dengan kepala yang terus bergerak ke kiri dan ke kanan seperti mencari keberadaan seseorang.

Rain mengerutkan keningnya. "Kenapa jadi dia?"

Entah apa yang Tia pikirkan sampai bisa berpikiran pemuda tampan itu. Sam, pemuda yang diidolakan semua siswi di sekolah ini.

"Dia kan pangeran kamu," jawab Tia membuat gadis itu salah tingkah.

"Ngaco." Rain memalingkan wajahnya kala merasakan pipinya terasa panas. Mungkin saja sekarang ini pipinya sudah merona karena malu.

"Haha ... ngaco apa ngaco?" goda Tia semakin semangat menggoda teman sekelasnya itu.

"Udah ah, ayo ke kelas!" Ajak Rain langsung menariknya. Ia sangat risih digoda seperti itu terlebih godaannya itu memang fakta. Samudra adalah pangeran berkuda putih untuknya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Nature Squad   BAB 61-Nature Squad (Chat)

    Berikut kehebohan di grup Nature Squad tentang rencana liburan sekolah mereka. Sebenarnya bukan libur panjang hanya liburan sebelum ujian tiba. Ya cuma 3 hari dan tempat liburannya pun masih di Indonesia tepatnya di daerah Banten. Rain | pukul 12:00 Guys bang Di bawa pacarnya, boleh gak? Bintang | pukul 12:02 @dirgantara Wiiih punya pacar lu? Rain | pukul 12:03 Lah belum cerita bang? Waaah parah @dirgantara Rain | pukul 12:03 Ini aja kita lagi jalan bertiga Bintang | pukul 12:04 Lah ngapain lo ikut? Cosplay jadi nyamuk lo?" Samudra | pukul 12:10 Hahahahaaaaaa cosplay jadi tonggeret dia mah Samudra | pukul 12:12 Dah lah giliran gue muncul lo pada ilang. Rain | pukul 14:05 Dih datang-datang langsung ngebully. Gak like. Dirgantara | pukul 19:01 Berisik! Samudra | pukul 19:08 Cie abang abis ngapel cie.. Dirgantara | pukul 19:09 Dih kapan gue jadi abang lo? Bintang | pukul 19:11 Jleb banget. Rain | pukul 19:11 Hahahaa rasain! Samudra | pukul 19:15 yang kamu laku

  • Nature Squad   Bab 60-Dirgantara dan Dua Gadisnya

    Setelah dirasa kondisi Samudra sudah lebih baik ia pulang ke rumah dengan diantar oleh Sarah agar orangtuanya tidak curiga telah dibohongi. Sepanjang perjalanan Sarah tidak berhenti mengomelinya karena mengajaknya untuk berbohong padahal gadis itu paling tidak mau membohongi paman dan bibinya, tapi sepupunya dan kakaknya sudah terlanjur menyeret namanya dalam kebohongan tersebut. "Pokoknya ini terakhir kali kamu nyuruh aku bohong ya. Kalau bohong, bohong aja sendiri gak usah nyeret nama orang lain," oceh Sarah. Tanpa menoleh dan tetap memperhatikan jalan di depannya, Samudra menimpalinya setengah tak acuh. "Iya Sarah, iyaaa. Lo udah bilang ini puluhan kali." Oh tidak. Menjawab di saat seorang wanita sedang kesal bukan hal yang baik. Terbukti sekarang sarah mendelik sinis kearahnya serta berdecak keras. "Iya, iya, terus abis itu dilakuin lagi. Dah lah udah ketebak. Aku tau kamu, Sam. Bocah nakal." Samudra tidak membalasnya. Biarkanlah sepupunya itu terus mengoceh sepanjang jala

  • Nature Squad   Bab 59-Bertemu Camer di Depan Gereja Tua

    Sejak matahari masih malu-malu untuk menampakkan sinarnya Binar beserta kedua orang tuanya sudah berada di sebuah gereja untuk melaksanakan ibadah pagi. Di bangku kayu berwarna coklat hangat Binar duduk dengan khidmat sebelum kemudian semua jamaat berdiri seraya mengangkat tangan kanannya untuk melakukan pujian dan penyembahan. Lagu-lagu pujian menggema di dalam gereja. Kemudian setelah selesai para jamaat kembali duduk untuk sesi do'a. Diantaranya do'a untuk pengampunan dosa, do'a syafaat, dan doa syukur dan dilanjutkan dengan pembacaan alkitab. Kedua tangan Binar memegang alkitab, obsidian kembarnya membaca dengan penuh khidmat dan keimanan. Lalu kedua telinganya mendengarkan khotbah yang disampaikan pendeta. Tidak ada pikiran duniawi, semua pikiran dan hatinya ia fokuskan hanya untuk memuji Tuhan. Setelah semua rangkaian ibadah selesai Binar baru membuka handphone nya dan ternyata sudah ada 2 pesan masuk yang dua-duanya dari kekasihnya. Pesan itu berisi ucapan selamat pagi se

  • Nature Squad   Bab 58- Jalan Pagi dan Mengakui Kesalahan

    Suara kicau burung milik tetangga menyapa orang-orang yang sedang olahraga pagi di komplek perumahan. Sepasang saudara itu salah satunya. Walaupun si adik terus merengek kelelahan, tetapi si kakak mengabaikan daan justru menarik lengan si adik agar ikut berlari dengannya meski harus sedikit memelankan kecepatannya. Dirga memberikan semangat, "Dikit lagi Rain. Lo bisa!" Sedangkan gadis itu justru semakin merajuk bahkan hampir menangis karena kakinya sudah sangat pegal. Ia rasa sebentar lagi kakinya akan lepas dari tempatnya. "Capeeeek." Dirga menghela napas dan akhirnya mengajak Rain makan ke tukang bubur ayam langganan mereka di luar komplek perumahan. Kedua kakak beradik itu berjalan berdampingan dan sesekali yang lebih besar menggoda dengan kembali berlari meninggalkannya. Rain berteriak, "Bang Di tungguin!" Setelah sampai di tempat tukung bubur ayam langganan, Rain pun langsung duduk dengan wajah yang masih cemberut karena ditinggalkan. Sedangkan si pelaku justru anteng-a

  • Nature Squad   Bab 57-Ditemenin Bobo

    Dokter Leon meminta satu kamar inap untuk sepupunya dan setelah mendapatkan kamar kosong ia langsung membawanya ke sana. Samudra dipasang masker oksigen untuk membantu pernapasannya yang hilang timbul. Setelah itu Dokter Leon menghubungi seseorang dan jika dilihat dari gaya bicaranya tidak salah lagi ia menghubungi orang tuanya Samudra. “Kak.” Panggil Samudra melepas masker oksigennya. Tahu apa yang sedang dipikirkan oleh sepupu keras kepalanya tersebut Dokter Leon langsung menempelkan jari telunjuk dan ibu jarinya berbentuk bulatan sedangkan tiga jari lainnya ia acungkan. Seakan mengatakan, oke tenang saja mereka tidak tahu kamu ada di sini. “Iya, Tante gak usah cemas Sam aman bersamaku,” pungkasnya sebelum mengakhiri teleponnya. “Bundamu gak tau kamu di sini. Aku bilang malam ini kamu menginap di rumahku karena besok ada ulangan dan meminta Sarah mengajarimu belajar.” Jelas Dokter Leon seraya memeriksa keadaan jantuk milik sepupunya tersebut. Samudra menimpali dengan su

  • Nature Squad   Bab 56-Bolehkah?

    Hari sudah sore saat mereka menyelesaikan berkeliling sekolah tersebut. Samudra memasangkan helmnya membuat gadis itu harus menahan napas karena gugup. Viola tersenyum malu serta pura-pura membenarkan letak helm nya untuk menutupi kegugupannya. "Makasih." “Untuk?” tanya Samudra sengaja menggoda gadis itu. “Untuk ini.” Tunjuknya pada helm putih yang sudah terpasang di kepalanya, “dan untuk hari ini. Makasih udah mewujudkan mimpi yang kupikir cuma akan menjadi sebuah angan.” “Sama-sama,” balas Samudra juga mengulas senyum, “lo bisa ngandelin gue.” Lanjutnya dengan berbangga diri. Tidak terasa waktu cepat berlalu. Rasanya baru saja gadis itu mengeluh kepanasan, kini sang raja sinar sudah hampir bersembunyi. Ia sangat bersyukur kepada Tuhan karena telah mempertemukannya dengan Samudra, laki-laki yang mengubah warna hidupnya yang kelabu menjadi lebih berwarna. Kini Viola semakin takut dengan kematian. Ia tidak ingin meninggalkan kebahagiaan yang baru saja dirasakannya, ia tidak ingin

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status