Share

Tuduhan

Author: Sedap Malam
last update publish date: 2026-10-14 23:31:10

Dua orang perampok bertopeng bersenjatakan parang dan golok menghadang pintu, salah satu dari mereka mengamati semua barang hasil perampokan sementara yang satunya membuka akses jalan untuk melarikan diri.

"Tahan dia!" Kardi berseru, namun tak satupun dari anak buahnya yang berani maju.

"Tidak bisa satupun dari mereka yang kamu andalkan, Kardi? Kenapa tidak maju sendiri, apakah kamu takut mati?" ujar perampok itu seperti mengejek orang paling kaya di desa nelayan tersebut

"Kardi, kamu menjebakk
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
artisebuahnama
cuman satu bab perhari padahal cerita menarik
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Nelayan Perkasa Pemikat Wanita    Arman Yang Panas

    Ratna mencengkram tangan bapaknya yang hampir menanmpar Sari. "Aku sudah muak sama ulah bapak dan ibu, memalukan!" ujar Ratna. "Orang ini bikin masalah di desa kita, kemarin saat Yudha tak ada di desa, semuanya aman. Apa enggak curiga jika dia lha otak dibalik perampokan itu?" tanya Kardi."Bapak jangan asal tuduh! Kalian punya banyak musuh, harusnya intropeksi diri agar jadi orang yang disenangi. Eh, malah bertindak semaunya!" Ratna yang kesal mendorong tangan Kardi, ia kemudian beralih Sari yang masih terguncang. "Pak, sebaiknya kita pergi dulu," anak buah Kardi menarik lengan Kardi untuk menjauh. Mereka semua meninggalkan tempat tersebut, kecuali Ratna yang memapah Sari berdiri dan membawa masuk ke dalam gubuk."Maafkan keluargaku, Mbak. Aku kira sumber dari kekacauan ini berasal dari mereka, aku hampir gila memikirkan ulah mereka, ada saja gebrakannya," ungkap Ratna. "Bukankah kamu juga benci kami?" Sari mendongak, ia menatap dalam-dalam wajah Ratna. "Aku benci ketika tahu Yudha t

  • Nelayan Perkasa Pemikat Wanita    Tuduhan

    Dua orang perampok bertopeng bersenjatakan parang dan golok menghadang pintu, salah satu dari mereka mengamati semua barang hasil perampokan sementara yang satunya membuka akses jalan untuk melarikan diri."Tahan dia!" Kardi berseru, namun tak satupun dari anak buahnya yang berani maju."Tidak bisa satupun dari mereka yang kamu andalkan, Kardi? Kenapa tidak maju sendiri, apakah kamu takut mati?" ujar perampok itu seperti mengejek orang paling kaya di desa nelayan tersebut"Kardi, kamu menjebakku!" Tuan Budi yang terluka coba bangkit, namun salah satu perampok menyangka jika Tuan Budi akan memberikan perlawanan sehingga secara spontan perampok tersebut mengayunkan golok tepat menghujam bagian dada hingga mendapatkan luka yang serius."Aaaakh!" Budi berteriak keras, teriakannya iris juga menandakan bahwa ajalnya telah tiba, istrinya yang berpakaian seadanya segera menghambur memeluk jasad suaminya yang perlahan mulai kaku dan dingin."Kalian semua jahat! Ternyata ini berangkat yang kali

  • Nelayan Perkasa Pemikat Wanita    perampokan di siang hari

    "Aaaakh!" Sumiyati mendesah, ia sempat menggeliat namun ketika membuka mata melihat Tuan Budi tersenyum lebar, Sumiyati justru tak bergairah."Mundur sedikit," pinta Sumiyati, ia merasa risih apalagi gigi Tuan Budi kotor dan berwarna kuning. "Ayolah, kamu juga harus melayani aku, di kamar berbeda istriku sedang bercumbu dengan suamimu," bisik Tuan Budi. Sumiyati mengambil kain tipis berbahan sutra, ia gunakan untuk menutupi kedua matanya. Dia sebenarnya ingin berhenti tapi denyutan itu terlanjur menguasai dirinya."Sekarang lakukan," ucap Sumiyati, ia berbaring dengan kaki melebar. Sementara Tuan Budi mulai mendekatkan wajahnya pada area hutan rimba milik Sumiyati, lidah pria itu terjulur menggapai setiap sisi gua berlendir yang wangi. "Uhmm, ternyata permainan lidahmu lumayan," Sumiyati bergerak kasar, ia sampai mengangkat pinggulnya ke atas karena rasa geli yang luar biasa. Tuan Budi mengimbangi dengan remasan lembut di area gunung kembar, jemarinya bermain di ujung gunung yang ber

  • Nelayan Perkasa Pemikat Wanita    Tukar Pasangan

    Malam itu di rumah Kardi, sepasang suami istri baru saja turun dari kapal dan langsung menuju ke rumahnya. Cantik dan tampan, cara berpakaian Mereka terlihat jika mereka ini bukan orang sembarangan melainkan dari kalangan bangsawan atau pejabat."Tuan Kardi, rumahmu besar juga. Pantas kamu sangat dihormati di tempat ini," si pria langsung menyalami Kardi yang menyambutnya di pintu masuk."Tuan Budi bisa aja. Apa yang aku miliki ini tidak ada apa-apanya dengan kekayaan Tuan Budi. Bahkan separuhnya pun tidak," Kardi merendah.Mereka kemudian masuk ke ruang tamu, sajian anggur dan buah-buahan menghampar di meja besar. Para pelayan langsung mundur membiarkan mereka bertiga mengobrol panjang lebar."Jadi seperti yang kita sepakati, malam ini kita akan tukar pasangan ... kamu tidur dengan Romlah, istriku ... sedangkan aku dengan Sumiyati. Begitu bukan?" tanya Tuan Budi."Ya, benar ... istrimu sangat cantik, dia masih terlihat muda. Bahkan jika tidak kamu perkenalkan sebagai istri, tentu aku

  • Nelayan Perkasa Pemikat Wanita    Jatuh Cinta Sesakit ini .....

    Paginya, Irawan sudah berkemas dengan beberapa tas. Seorang pria paruh baya berdiri di depan pintu, menunggu Irawan pergi. "Pak, berapa lama aku harus di sana?" tanya Irawan. "Bapak belum bisa pastikan, coba sekitar dua Minggu dulu untuk melihat potensinya," jawab Suseno..Irawan terdiam, kenapa ia tiba-tiba harus pergi dari sini? Apakah bapaknya mulai curiga tentang pengeluaran yang ia berikan pada Wati beberapa waktu lalu? Begitu yang ia pikirkan."Mas Wawan, mari ... mumpung masih pagi, ombak lautan masih tenang," pria paruh baya yang merupakan pengemudi perahu mengangkat tas Wawan. "Tapi, Pak ...," sekali lagi Irawan memandang bapaknya, namun sepertinya si bapak tak sedikitpun merubah keputusannya mengirim Wawan ke desa lain dengan alasan buka cabang usaha."Kamu itu cuma pergi dua Minggu, kenapa seolah bapak nyuruh kamu pergi berperang? Kamu itu laki-laki lho, Wan. Harus siap mencari pengalaman," tukas Suseno."Hmmm, baik, Pak. Aku pamit dulu," Irawan mencium punggung tangan bapa

  • Nelayan Perkasa Pemikat Wanita    Godaan Janda Bohay

    Sejak Wati menjadi pembantu di rumah mereka, Irawan merasa tak nyaman. Seringkali saat ia berdekatan dengan Wati, ayahnya selalu memperhatikan. Suseno melihat gelagat Irawan yang sudah pantas mendapatkan pasangan, namun jika ia berada di dekat Wati justru Suseno kuatir Irawan kesulitan mendapatkan pasangan. Malam yang dingin di mana angin laut berhembus kencang ke daratan, Suseno tidak bisa tidur. Dia menggunakan jaket tebal untuk menghangatkan badannya. Segelas tuak dari ketan merah menjadi penambah penghangat suasana. Dia duduk sambil menikmati alunan musik keroncong yang keluar dari corong speaker radio. Namun di sela-sela musik yang dia dengarkan, telinga Suseno menangkap suara seorang perempuan bersenandung berpadu dengan gemericik air. Waktu menunjukkan pukul setengah delapan, biasanya Wati sudah pulang namun kali ini masih di sini. Untuk meyakinkan diri, dia mengencilkan radio."Nanananana ... cintaku bertambah selalu, padamuuuu! Oh pujaan hati!" begitu Wati bernyanyi, suara

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status