MasukSatu tetes minyak wangi antik peninggalan almarhum ayahnya mengubah Arkananta—seorang pria jomblo biasa—menjadi magnet gairah yang tak tertahankan. Keharuman misterius yang terpancar dari kulitnya menyebarkan aura feromon pekat, meruntuhkan akal sehat dan pertahanan wanita mana pun di sekitarnya. Mulai dari sang CEO cantik berhati dingin yang paling kaku, asisten pribadi yang polos, hingga socialite glamor kelas atas—semuanya bertekuk lutut dan pasrah dalam pusaran gairah di balik pintu-pintu ruangan pribadi Arka. Namun, daya pikat mistis ini membawa konsekuensi liar. Efek minyak pusaka membakar tubuh Arka dengan gejolak gairah dan stamina tiga kali lipat dari manusia normal, sekaligus memancing perhatian sindikat rahasia berbahaya yang siap meneror kehidupan wanita-wanita di sekelilingnya. Mampukah Arka melindungi mereka dan memegang kendali atas permainan berbahaya yang baru saja dimulai? "Sekali aroma itu terhirup, akal sehat tak lagi berkuasa."
Lihat lebih banyakDi atas meja—tempat yang biasanya menjadi saksi bisu perdebatan alot para direksi yang bernilai miliaran rupiah—tubuh Clarissa Nataprawira kini terbaring pasrah.
Wanita berusia dua puluh tujuh tahun yang terkenal dingin, galak, dan paling ditakuti oleh seluruh karyawan di gedung ini, sama sekali tidak menyisakan keangkuhannya malam ini.
Kemeja kerja putihnya sudah berantakan. Matanya memancarkan tatapan sayu dan pasrah setiap kali gejolak panas menyapu seluruh tubuhnya.
Di atasnya, Arka memegang kendali penuh. Pria yang biasanya hanya karyawan biasa, lajang yang selalu menunduk jika dibentak Clara, kini berada dalam posisi yang begitu dominan.
Sorot matanya tajam dan penuh percaya diri, sesuatu yang belum pernah ia miliki seumur hidupnya. Dari lehernya, terpancar aura tak kasat mata yang berpadu dengan aroma pekat, mengunci panca indra hingga wanita itu tak sanggup lagi berpikir rasional.
"Arka... ah, pelan-pelan..." bisik Clara. Suaranya bergetar penuh kepatuhan yang amat kontras dengan citranya yang biasanya kaku dan mengintimidasi.
Kenikmatan dari gesekan tubuh dan hangatnya sentuhan wanita di bawahnya membuat darah Arka berdesir hebat. Namun, lebih dari sekadar sentuhan biasa, ada sesuatu yang jauh lebih liar sedang membakar perut bagian bawah Arka saat ini.
Hawa panas dari dalam dirinya terasa bergejolak hebat, membangkitkan stamina dan nafsu membara hingga tiga kali lipat melebihi manusia normal.
Arka dapat merasakan sensasi luapan gairah yang begitu dahsyat, seolah-olah seluruh sel dalam tubuhnya menuntut untuk terus mendominasi tanpa memberikan celah sedikit pun untuk mundur.
Setiap kali Arka bergerak merapat dan menyatukan kehangatan mereka, Clara hanya bisa mendongak, mendesis menyebut nama Arka dengan nada yang begitu menggiurkan dan merdu di telinga.
Wanita itu benar-benar menyerahkan seluruh kendali dirinya, seolah akal sehatnya telah luluh lantak ditelan oleh daya pikat Arka yang tak tertahankan.
Di tengah gelombang kenikmatan yang memuncak di dalam ruangan kedap suara itu, pikiran Arka tiba-tiba melayang mundur. Menahan ritme napasnya sejenak di atas tubuh Clara yang bersimbah peluh, ia mencoba mengingat kembali...
Bagaimana bisa semua kegilaan ini terjadi?
Semuanya bermula tadi pagi, beberapa jam sebelum ia melangkahkan kaki ke kantor. Seperti biasa di hari kerja yang cukup santai sebelum jam berangkat, Arka menyempatkan diri membongkar gudang belakang rumahnya yang sudah lama berdebu.
Niat awalnya sederhana, ia hanya ingin merapikan barang rongsokan yang makin menumpuk.
Saat sedang menggeser beberapa tumpukan kardus di sudut gudang, mata Arka tertumbuk pada sebuah peti kayu kecil milik almarhum ayahnya.
Di dalamnya, tergeletak sebuah kotak kayu berukiran unik yang tampak sangat mewah dan antik dibandingkan barang-barang di sekitarnya.
Penasaran, Arka mengusap debu tebal di penutup kotak itu lalu membukanya pelan-pelan. Di atas alas beludru merah tua yang mulai kusam, terbaring sebuah botol kaca berbentuk kotak.
Cairan di dalamnya berwarna merah pekat, tampak sangat eksotis saat terkena pantulan cahaya remang gudang.
Arka memutar tutup botol itu dan mendekatkannya ke hidung.
Keharuman yang tiada tara langsung menyergap panca indranya.
Aroma manis vanila yang hangat mendominasi pada semburan awal, disusul sentuhan aroma segar biji kopi yang pekat, dalam, dan sangat maskulin.
Kombinasi wewangian itu begitu mewah dan pekat, mendadak membuat dadanya terasa amat rileks sekaligus membangkitkan gejolak gairah yang asing.
Arka langsung jatuh cinta pada aromanya detik itu juga.
Namun, di balik rasa kagumnya, Arka sempat kebingungan. Jika ini parfum milik almarhum ayahnya semasa hidup, mengapa ia belum pernah sekalipun mencium aroma seindah dan sepekat ini dari tubuh sang ayah?
Ditambah lagi, isi botol kaca itu masih hampir penuh, seolah-olah hanya pernah digunakan beberapa tetes saja.
"Apa ini parfum mahal yang hanya disimpan Ayah untuk momen tertentu?" gumam Arka pelan waktu itu.
Penasaran ingin memakainya untuk ke kantor hari ini, Arka mencoba menekan tombol semprotan di bagian atas botol.
Namun sayang, mekanisme penyemprotnya terasa macet keras dan tidak bisa dipompa sama sekali.
Karena sayang jika wewangian semenarik ini hanya didiamkan dan ia sudah terlanjur menyukai aromanya, Arka akhirnya memutar bagian penutupnya.
Ia lalu menempelkan dan mengoleskan cairan kental kemerahan itu langsung dari mulut botol ke leher kanan dan kirinya, serta sedikit di dada.
Ia sama sekali tidak curiga bahwa satu olesan kecil itu akan menjadi pemicu perubahan besar yang mengacaukan hidupnya beberapa jam kemudian.
Begitu sampai di kantor tadi siang, keanehan demi keanehan mulai bermunculan.
Beberapa staf wanita yang biasanya cuek atau hanya menyapa sekadarnya, tiba-tiba bolak-balik melewati meja kerjanya.
Saat itu Arka belum sadar bahwa cairan itu sedang membakar tubuhnya dari dalam, meningkatkan suhu badannya, dan membuat feromon pemikat di lehernya menguar semakin deras seiring berjalannya waktu.
Puncaknya terjadi ketika hari mulai gelap dan seluruh karyawan sudah pulang. Clara memanggil Arka ke ruang rapat utama di lantai atas untuk memeriksa draf proyek darurat.
Suasana gedung saat itu sudah sangat sepi.
Begitu pintu ruang rapat yang tebal itu tertutup dan Arka berdiri di samping tempat duduk Clara untuk menyodorkan berkas, pertahanan sang CEO dingin itu langsung runtuh total.
Aroma manis vanila bercampur aroma kopi panas dan feromon liar dari tubuh Arka yang mulai memuncak membuat napas Clara tertahan seketika. Mata wanita itu bergetar, kehilangan seluruh daya pikir rasionalnya.
Clara yang biasanya gemar mengomeli Arka kini menyerah, menarik kerah kemeja Arka dengan pandangan penuh gairah.
Nafsu yang membakar di antara mereka berdua akhirnya membawa pasangan bos dan bawahan ini terhempas ke atas meja rapat raksasa tersebut tanpa bisa dibendung lagi.
Sensasi kehangatan kulit Clara yang kembali merapat menarik pikiran Arka dari lamunan kejadian tadi pagi.
Sepasang mata cantik di bawahnya itu kini menatap Arka penuh ketergantungan dan kepasrahan. Jemari lentik Clara merayap naik, mencengkeram otot bahu Arka yang makin tegang akibat dorongan stamina tiga kali lipat di dalam dirinya.
Clara menyatukan bibirnya dengan leher Arka, menghirup aroma manis-panas dari minyak wangi pusaka itu secara serakah dan berulang kali.
"Arka... ah, jangan berhenti... tolong..." Suaranya benar-benar tenggelam dalam dominasi penuh pria yang selama ini hanya ia anggap sebagai staf biasa.
Arka tersenyum tipis, menikmati rasa percaya diri yang meluap tajam di dadanya.
Dengan dorongan gairah hebat yang masih membakar tubuhnya, Arka kembali melanjutkan gerakannya di atas meja rapat yang dingin, menyatukan kehangatan mereka dalam ritme yang makin memabukkan.
Setiap rintihan dan desahan Clara menjadi bahan bakar yang membuat stamina Arka tak ada habisnya.
Namun, tepat saat penyatuan mereka mencapai puncak ketegangan dan kehangatan ruangan itu makin menghimpit...
Klek.
Suara engsel pintu ruang rapat utama berderit pelan dari kejauhan. Gagang pintu berbahan stainless steel itu turut turun secara perlahan.
Brak!
Seseorang dari luar koridor mencoba mendorong pintu ruang rapat, pintu yang untungnya sempat terkunci secara otomatis dari dalam.
Sabira mencoba mempertahankan keangkuhannya sebagai putri konglomerat, namun efek minyak pusaka itu membakar daya pikir rasionalnya. Bukannya menjauh, Sabira justru melangkah maju dengan jemari gemetar, memangkas jarak di antara mereka hingga aroma leher Arka berada tepat di depan hidungnya. "Mbak Sabira, tolong tahan diri sebentar," bisik Arka pelan sambil memegang kedua bahu mulus Sabira untuk menahannya agar tidak makin menempel. "Saya datang bukan buat main-main. Nyawa orang-orang di sekitar saya lagi terancam." Sentuhan tangan Arka di bahunya justru membuat Sabira mendesah halus. Wanita cantik itu menempelkan telapak tangannya ke dada tegap Arka, merasakan detak jantung Arka yang berpacu kencang di balik kain kemeja. Hawa panas dari tubuh Arka yang membara tiga kali lipat membuat dada Sabira berdebar tak terkendali. "Jelaskan... cepat," bisik Sabira penuh usaha mengontrol napasnya yang makin berat, matanya yang sayu terus-menerus melirik ke arah leher Arka yang menguarka
Layar monitor PC di meja kerja Arka seolah membeku, menyorotkan baris-baris kalimat ancaman dari email terenkripsi yang baru saja dibukanya. Setiap kata dalam subject [Peringatan Terakhir] menggores tengkuknya dengan rasa dingin yang menyengat. Dia terdiam sejenak. Kepalanya memproses semua pesan ancaman yang mulai menerornya sejak ia menemukan minyak wangi aneh itu di gudang. "Kami tahu bau itu sudah menguasai tempat kerjamu, Arkananta. Ramuan itu bukan milik keluargamu. Jika dalam 24 jam botol itu tidak kamu serahkan ke alamat yang kami tentukan, orang-orang terdekatmu yang akan menjadi korbannya." Dada Arka berhembus naik turun dengan cepat. Ia melirik ke arah pintu kaca ruang kerja Clara di ujung lorong, lalu mengalihkan pandangan ke meja kerja Bening yang baru saja kembali dari ruang arsip dengan pipi masih merona. Bayangan akan bahaya yang mengintai dua wanita yang baru saja memadu kehangatan bersamanya itu membuat darah Arka mendadak dingin. "Gawat..." Minyak wangi
Dengan langkah kaki yang agak sedikit gemetar dan stamina yang masih meluap-luap, Arka akhirnya keluar dari ruangan pribadi Clara. Jam dinding sudah menunjukkan pukul dua siang lewat sedikit—artinya ia telah menghabiskan waktu lebih dari satu jam dari batas jam istirahat kantor demi meladeni permainan liar sang wanita itu. Saat Arka baru saja menarik kursi dan terduduk di meja kerjanya, Bening langsung berjalan mendekat. Gadis asisten pribadi berwajah manis itu tampak mengamati Arka dari atas sampai bawah. Hidungnya menyerap sisa wangi yang memancar makin pekat dari tubuh Arka yang masih hangat bersimbah keringat. "Mas Arka..." panggil Bening pelan, suaranya terdengar agak tertahan. "Bisa tolongin Bening sebentar gak? Ada berkas laporan keuangan tahun lalu di ruang arsip yang posisinya agak tinggi di rak atas. Bening gak nyampe." Arka mengangguk santai. "Bisa, Ning. Ayo." Mereka berdua berjalan menyusuri koridor sepi menuju ruang arsip khusus yang terletak di sudut palin
Arka menatap layar ponselnya sejenak dengan dahi berkerut. Pesan ancaman tentang minyak pusaka dari nomor tak dikenal itu masih terpampang di layar. Ada sedikit rasa ganjil yang terbesit di dadanya, tapi Arka memilih untuk mengabaikan pesan tersebut. Ia menganggap nomor itu bisa saja cuma ulah orang iseng. Ia menekan tombol daya untuk mematikan ponsel, memasukkan botol kaca tua itu kembali ke dalam kotak ukiran kayu, lalu melangkah masuk ke dalam kamar untuk beristirahat. Keesokan paginya menjadi penanda masuknya hari kedua sejak pengolesan pertama minyak pusaka peninggalan sang ayah. Begitu terbangun dari tidurnya, Arka mendapati tubuhnya terasa sangat bertenaga. Aura yang memancar dari dirinya membuat atmosfer di koridor kantor mendadak terasa berbeda. Beberapa staf wanita yang biasanya cuek, kini refleks menolehkan kepala saat Arka melintas di depan mereka. Mereka menghirup udara di sekitar langkah Arka sambil menahan napas dengan tatapan terpesona. Saat Arka baru saja du






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.