Mag-log inSeharusnya Arsen terbangun di tengah dentuman peluru yang mengincarnya. Namun, pagi ini sang bos mafia yang paling ditakuti itu justru disambut aroma lavender dan suara napas halus dua anak kecil di sampingnya. Di depannya, seorang wanita cantik dengan piyama tipis yang menggoda tengah sibuk mengeringkan rambut. "Siapa kalian?" tanya Arsen, suaranya sedingin es. Wanita itu hanya menoleh, memasang wajah datar sebelum berubah menjadi kesal manja. "Kamu ini... apa tidak ada candaan lain selain itu kepada istrimu sendiri? Sudah 6 tahun menikah kamu masih saja membuatku kesal pagi-pagi. Minimal sapa dulu selamat pagi, bukannya membentak seperti itu." Wanita itu mendendus kesal, lalu berjalan mendekat dengan raut wajah manja yang dipaksakan. "Ah sayang~ tolong jangan bergerak dulu. Arsya dan Anya masih tidur. Kamu tahu sendiri kan betapa sulitnya menidurkan mereka semalam?" Arsen tertegun. Ia melangkah menuju cermin dan nyaris tidak mengenali pantulan dirinya sendiri. Wajah itu kembali muda, bersih tanpa luka, tanpa tato, bahkan tindik di bibirnya pun lenyap. Saat ia masih berusaha mencerna kegilaan ini, sebuah pelukan hangat melingkar di pinggangnya dari belakang. "Kenapa? Kamu mau lanjut ke ronde kedua?" bisik wanita itu dengan nada menggoda.
view moreKepala Arsen terasa berat, tergeletak pasrah di atas meja bar yang dingin. Sementara itu tangannya memegang sebuah gelas kristal masih menyisakan seteguk cairan amber salah satu wiski kualitas terbaik yang membakar tenggorokannya setiap kali ia menegaknya.
"Bos, apa kau akan pulang dalam keadaan seperti ini?"
Suara itu datang dari Darren. Tangan kanan Arsen itu berdiri dengan posisi siaga namun matanya memandangnya cemas.
Sepanjang sepuluh tahun mengabdi, Darren belum pernah melihat sang penguasa dunia bawah, pria yang dikenal dengan julukan ‘The Iron Wolf” itu akan tampak serapuh ini.
Mata Arsen yang memerah karena pengaruh alkohol perlahan terbuka. Ia menatap Darren dengan tajam meski pandangannya sedikit bergoyang. Dunia yang kini dilihatnya terasa miring. “Ini ... sudah pukul berapa?”
“12.30, Bos,” jawab Darren sambil melirik arloji di pergelangan tangannya. "bar ini sudah hampir tutup. Sebaiknya kita pergi sebelum wartawan atau anjing-anjing polisi mengendus keberadaan, Anda.”
“Siapkan mobilku. Aku harus pulang sekarang.” Arsen berusaha untuk berdiri. Namun, saat kakinya menumpu beban tubuhnya, ia merasa keseimbangannya goyah. Tubuhnya hampir saja limbung ke samping menghantam meja bar jika Darren tidak sigap menangkap bahunya.
“Bos, Anda tidak berpikir untuk menyetir sendiri, kan? Biar saya saja yang mengantarmu,” tanya Darren sekaligus memberikan saran. Melihat kondisi Arsen yang mabuk berat seperti ini, Darren merasa ragu membiarkannya sendiri.
“Darren ...” Arsen mendesis. Nada bicaranya memang rendah, tapi bagi Darren yang sudah mengenalnya, ia tahu perisis bahwa itu bentuk peringatan Arsen yang tak terbantahkan. “apa kau sekarang sudah berani melanggar perintahku? Sejak kapan kau punya hak untuk mengatur hidupku?”
“Maaf Bos, saya hanya mengkhawatirkan Anda.” Darren menunduk dalam, menyembunyikan rasa takut sekaligus hormatnya. Dengan gerakan sigap namun hati-hati, ia memapah bahu kokoh Arsen menuju area parkir yang sepi di belakang gedung bar.
Udara malam yang terasa menusuk tulang sedikit menyadarkan Arsen, namun tetap saja itu tak menghilangkan rasa pening di kepalanya. Sambil dibantu Darren ia berjalan tertatih menuju mobil SUV hitam miliknya.
Dan saat itu Darren memberanikan diri berbisik, “Bos, mungkin sudah saatnya Anda mencari pasangan. Agar tidak selalu berakhir seperti ini di bar-bar gelap. Setidaknya ... ada seseorang yang menunggu Anda pulang, seseorang yang akan menyapa Anda di depan pintu dan menghapus rasa kesepian itu.”
Arsen terkekeh lirih. Sebuah tawa kering yang terdengar menyedihkan menyapu kesunyian malam ini. “Pasangan? Memiliki seseorang di sisiku hanya akan menyulitkan, Darren. Bukannya itu hanya akan membuatku repot sendiri? Aku tidak butuh itu. Seorang raja tidak membutuhkan ratu yang hanya akan menjadi sasaran empuk musuh.”
Darren terdiam, namun ia sangat paham maksud dari perkataan bosnya. Bukannya Arsen tidak laku atau tidak berniat berhubungan dengan wanita. Masalahnya, pengkhianatan yang pernah diterimanya dari wanita yang paling ia percayai di masa lalu masih menjadi bayang-bayang hitam yang mencekik Arsen sampai sekarang. Baginya, cinta adalah racun yang dibungkus dengan madu yang manis, tak bisa ia tebak akan ada apa di baliknya.
DARR!
Ketika itu tiba-tiba suara ledakan memecah kesunyian malam. Sebutir peluru kaliber tinggi menghantam kaca spion mobil tepat di samping kepala Arsen, mengirimkan serpihan kaca kecil ke udara.
Sontak saja insting tajamnya menyalak. Dalam sekejap kabut alkohol di otaknya seolah tersapu oleh ketegangan yang tercipta. Arsen menyentak pegangan Darren, menjatuhkan diri ke balik pintu mobil sambil menarik pistol Glock 17 dari balik jas mahalnya. Meski kepalanya masih berputar hebat, tapi tangannya kini bergerak secara otomatis.
“Sialan! Mereka datang lebih cepat dari perkiraanku!” umpat Arsen kesal.
“Siapa mereka, Bos?!” Darren ikut berlindung di balik ban mobil dan mengeluarkan senjatanya sendiri.
“Siapa lagi?” Arsen menarik seringai-Nya sembari membalas tembakan ke arah semak-semak gelap di ujung parkiran. "aku yakin ini pasti ulah Vinco—saudara tiri bajingan itu. Vinco pasti masih menyimpan dendam padaku setelah kartel narkoba miliknya kuhancurkan bulan lalu. Dia pengecut yang hanya berani menyerang saat aku mabuk.”
Suara baku tembak pecah di parkiran sunyi itu. Arsen bergerak liar, berpindah dari satu pilar ke pilar lain. Namun, alkohol tetaplah musuh yang licik baginya. Akurasi tembakannya mulai menurun lambat laun, napasnya terengah dan pandangannya mulai berganda menjadi tak jelas.
Ia sempat melihat beberapa siluet musuhnya tumbang setelah ia lepaskan tembakan beruntun. Namun, saat ia mencoba mengganti magazin, sebuah rasa panas yang luar biasa tiba-tiba menghujam dadanya dari arah samping.
Tentu saja hal itu membuat Arsen terhuyung. Ia menunduk, melihat noda merah yang dengan cepat menyebar di kemeja putihnya dan kemudian rasa sakitnya mulai datang menyebar seolah-olah besi panas ditusuk masuk ke dalam perutnya hingga marambat ke paru-paru.
“Bos!” teriakan Darren terdengar jauh, terasa seakan sekarang ia berada di bawah air yang menenggelamkannya.
Pandangan Arsen menggelap. Perlahan membuat dunianya yang penuh kekerasan meredup. Detak jantungnya melambat, telinganya berdenging hebat, hingga akhirnya ia tak lagi merasakan dinginnya lantai aspal yang keras sebelumnya.
Ia berpikir, inilah akhirnya. Sang Serigala akhirnya mati di parkiran kotor bar.
Namun ...
Saat matanya ia rasakan terbuka kembali, hal pertama yang ia rasakan bukan rasa sakit, melainkan silau. Cahaya matahari pagi yang cerah menyengat penglihatannya melalui celah gorden tipis.
Arsen tersentak, bangun dengan napas memburu. Tangannya secara otomatis meraba dada, mencari lubang peluru yang baru saja menghancurkan organ dalamnya tanpa ampun.
Namun, ia tidak menemukan darah. Tangannya justru menyentuh kain halus piyama sutra berwarna biru dongker.
“Apa ... yang terjadi?” Arsen bergumam bingung. Suaranya terdengar berbeda dari biasanya. Ini jauh lebih jernih, tanpa adanya serak akibat rokok dan kebiasaannya minum-minum selama bertahun-tahun.
Saat ini juga terasa wangi lavender yang menenangkan menyeruak menyapu indra penciumannya, menggantikan bau anyir darah dan mesiu menyengat yang ia ingat beberapa detik lalu.
Ya ... beberapa detik lalu bukan?
Ia merasa tubuhnya sangat ringan. Di sampingnya, dua pasang napas halus dan teratur terdengar. Arsen menoleh dan nyaris melompat dari ranjang yang terasa sangat empuk itu.
Dua anak kecil, satu laki-laki dan satu perempuan, tertidur lelap dengan mulut sedikit terbuka di sisi kanan dan kirinya. Mereka terlihat sangat mirip satu sama lain, atau mungkin mereka kembar?
“Siapa kalian?!” bentak Arsen refleks. Suaranya cukup keras hingga menggema di ruangan luas itu.
Seorang wanita cantik yang berdiri di depan kaca rias hanya mengenakan piyama tipis yang nyaris transparan menoleh. Ia sedang sibuk mengeringkan rambut panjangnya yang basah dengan handuk. Wajahnya cantik luar biasa, namun ekspresinya tampak datar dan terbiasa dengan sikap Arsen yang aneh.
“Kamu ... apa tidak ada candaan lain selain itu kepada istrimu ini? Sudah 6 tahun menikah kamu masih saja membuatku kesal pagi-pagi, Arsen. Minimal sapa dulu selamat pagi, bukannya membentak seperti itu, hmph!” Wanita itu mendengus kesal, lalu berjalan mendekat dengan raut wajah manja yang dipaksakan. “Ah sayang~ tolong jangan bergerak dulu. Arsya dan Anya masih tidur. Kamu tahu sendiri kan betapa sulitnya menidurkan mereka semalam?”
Arsen tertegun. Kepalanya berdenyut, namun bukan karena peluru.
Mengabaikan wanita itu, ia segera beranjak dari kasur dalam keadaan setengah telanjang. Otaknya masih berada di mode “siaga”, berusaha mencerna segalanya. Ia berniat mencari ponselnya untuk menelepon Darren atau setidaknya mencari senjata untuk perlindungan diri.
Namun, langkahnya terhenti seketika di depan kaca lemari besar di sudut kamar.
Arsen mematung. Ia menatap pantulan dirinya dengan mata membelalak. Wajah di dalam cermin itu memang dirinya tapi terlihat sepuluh tahun lebih muda. Kulitnya kencang, tak ada bekas luka sayatan di pipi hasil perkelahian dengan geng musuhnya, tak ada tato naga hitam yang melilit lehernya, bahkan tindik di bibirnya pun lenyap tanpa bekas.
Ia terlihat seperti ... seorang pria biasa.
“Ini gila... apa ini mimpi?” gumamnya sambil meraba wajahnya sendiri.
Tiba-tiba, sebuah kehangatan melingkar di pinggangnya. Lengan lembut wanita itu memeluknya dari belakang, menyandarkan kepalanya di punggung Arsen. “Kenapa? Apa kamu mau lanjut ke ronde kedua?” bisiknya dengan nada menggoda.
Sensasi itu membuat bulu kuduk Arsen berdiri. “Apa maksudmu?!” Arsen spontan menyentak kasar tangan wanita itu dari pinggangnya.
Ia belum pernah disentuh oleh wanita dengan cara seperti itu selama bertahun-tahun. Sentakan itu begitu tiba-tiba hingga tubuh si wanita terdorong sedikit ke belakang, menabrak meja rias. Namun, yang lebih parah, guncangan hebat di tempat tidur saat Arsen melompat tadi membuat kedua bocah kembar itu terbangun serentak.
Dalam hitungan detik, keheningan pagi yang damai itu pecah oleh suara tangisan yang melengking memekakkan telinga.
“Arsen!” Wanita itu memekik. Wajah manjanya hilang seketika, berganti dengan kilat amarah yang murni. “Lihat apa yang kamu lakukan! Mereka baru tidur pulas sebentar dan sekarang kamu malah membuat mereka terbangun karena tindakanmu itu!”
Wanita itu berkacak pinggang, menatap Arsen dengan tatapan yang sanggup membuat nyali siapa pun menciut—bahkan bagi seorang bos mafia yang biasa menghadapi moncong senapan sekalipun.
“Jangan cuma berdiri seperti patung di sana! Cepat gendong Arsya dan tenangkan Anya! Sekarang!”
Arsen memegangi kepalanya yang terasa pusing. Ia merasa seolah otaknya akan meledak saat ini juga. Mungkin ini karena kombinasi antara sisa alkohol yang anehnya masih terasa atau mungkin dari sisa semalam di kehidupan ini dan ditambah lagi dengan suara tangis bocah di depannya.
“Bagaimana bisa aku menenangkan mereka?!” teriak Arsen frustrasi. Napasnya memburu. Ia lebih suka disuruh merakit bom daripada disuruh menghadapi bayi menangis. Kenapa jadi ia yang disuruh? Ini bukan salahnya!
“Kau ayahnya! Kenapa kau tidak bisa?! Arsen, jangan membuatku marah pagi-pagi!” wanita itu melotot tajam, sementara tangisan Arsya dan Anya makin menjadi-jadi saat melihat ayah mereka justru berteriak.
Arsen berdesis saat sebuah cubitan kuat dan menyakitkan mendarat di pinggangnya. “Kenapa malah mencubitku?!”
Rasanya Arsen tak terima dengan sikap seenaknya wanita itu.
“Karena kamu tidak berguna kalau hanya berteriak! Cepat peluk mereka atau aku tidak akan memberimu sarapan dan kamu tidur di sofa sebulan! Cepat Arsen!” tekan wanita itu dengan mata yang masih melotot tajam ke arahnya.
Arsen—sang pembunuh berdarah dingin yang biasa memerintah ribuan nyawa kini hanya bisa berdiri mematung dengan tangan gemetar. Ia menatap dua makhluk kecil yang kini duduk di kasur, mengusap mata mereka yang basah, dan mengulurkan tangan mungil mereka ke arahnya sambil merengek, “Papa... Papa...”
‘Sial, apa yang harus kulakukan? Bagaimana cara memegang makhluk sekecil ini tanpa mematahkan tulang mereka?’ batin Arsen diliputi rasa bingung.
Ia memandang wanita itu—istrinya yang masih melotot, lalu beralih ke dua “monster kecil” di kasur.
Inilah pertempuran paling berat dalam hidup Arsen Exallen.
Bersambung…
NGUOOONGGG!Suara sirene darurat mendadak melengking nyaring beradu dengan suara deru hujan deras dan hempasan gelombang laut yang menghantam lambung kapal.Lampu-lampu indikator merah di sepanjang dinding kapal kargo Black Hydra berkedip-kedip cepat.Di atas geladak utama, delapan pengawal berseragam Vipera Syndicate bergerak sigap. Mereka mengacungkan senapan serbu ke berbagai arah seraya memindai area penumpukan kargo di bawah dermaga.“Semua pos, lapor!” bentak sang komandan pengawal dari balik pagar besi geladak. Tangannya menekan kuat alat komunikasi di telinganya. “Kenapa dua orang di bawah tidak menjawab radio?!”Tak ada suara balasan yang jelas dari saluran radio komunikasi mereka.“Cek area kontainer merah sekarang! Jangan biarkan kargo utama terhambat!” lanjut komandan itu dengan raut wajah yang mulai panik.Di bawah, di balik bayangan kontainer nomor 402, Arsen berdiri tenang tanpa sedikit pun menunjukkan rasa gentar. Tangan tegapnya sudah memegang tuas pengunci uta
“Sinyal kamera pengawas di dermaga barat berhasil kita retas, Bos,” suara Raka terdengar jernih dari balik earpiece di telinga Arsen. “Aku sudah pasang tampilan looping sepuluh detik. Penjaga ruang kontrol tidak akan sadar kalau kita sudah masuk.”“Kerja bagus, Raka,” sahut Nathan memotong dari saluran yang sama dengan nada bangga. “Aku hampir lupa kalau sebelum jadi tangan kanan Arsen, kau itu peretas ulung yang pernah membobol pangkalan data balai kota. Kolaborasi kita malam ini benar-benar tidak ada tandingannya.”Arsen mengambil posisi berjongkok di balik bayangan kontainer baja berukuran raksasa perlahan menghembuskan napas pelan. Udara malam di pelabuhan Ozer terasa begitu dingin.“Fokus,” tegur Arsen rendah. Suaranya dingin, memotong gurauan dua rekannya. “Berapa banyak orang di dermaga barat?”“Ada dua belas pengawal bersenjata dari Vipera Syndicate yang menyebar di sekitar menara kran,” jawab Raka cepat seraya mengetik kode di tablet di pangkuannya. “Mereka menyamar pakai
Viona melangkah mendekat, menggenggam lengan sang kakek dengan lembut namun tegas. “Kakek ... dengarkan aku. Elian sudah mengorbankan seluruh nama keluarga ini demi ambisi gilanya bersama Vipera Syndicate. Dia bahkan tega mencoba membunuh Arsen! Sampai kapan Kakek akan membiarkan Elian dan paman berbuat sekehendak hati mereka?”Leo menghembuskan napas panjang yang terasa berat. Terlihat kerutan di wajah tua itu tampak bertambah dalam dan memancarkan pergolakan batin yang membakar jiwanya.“Kakek tidak pernah membela tindakan gila Elian, Viona,” tutur Leo lirih, suaranya parau menahan sesak di dada. “Kakek hanya bertahan agar tidak terjadi pertumpahan darah sesama keluarga di tanah Ozer ini.”“Tapi Elian tidak pernah menganggap Arsen sebagai saudaranya bahkan keluarga!” sela Viona dengan intonasi meninggi, kepedihan memancar jelas dari matanya. “Bagi Elian, Arsen hanyalah ancaman yang harus dimusnahkan! Jika Kakek tetap diam, malam ini salah satu dari mereka akan mati di pelabuhan itu
“Bagaimana mungkin … ” suara Viona bergetar pelan saat ia perlahan berdiri dari sofa. “Kakek bilang ... kau menghilang tanpa jejak lima tahun lalu setelah kecelakaan itu dan kau koma.”Keheningan seketika menyelimuti ruang tamu utama yang megah itu. Pandangan Viona terkunci sepenuhnya pada sosok tegap Arsen. Jemari lentik wanita itu meremas tepi kemeja flanelnya, memperlihatkan guncangan emosi yang mendalam di balik wajah tenangnya.Gadis kecil di sampingnya berkedip polos, memandang ibunya dan Arsen bergantian seraya tetap mengemut permen lolipopnya. Arsen berdiri bergeming di tengah ruangan, membiarkan mata elangnya menelusuri setiap inci ekspresi wajah Viona. Di dalam benaknya, pertanyaan demi pertanyaan berkecamuk tajam. Sejauh mana wanita ini mengenal sosok Arsen Exallen yang asli? Seperti apa sebenarnya bentuk hubungan mereka di masa lalu sebelum tragedi lima tahun lalu merenggut ingatannya? Dan yang paling penting ... apakah Viona benar-benar bisa dipercaya?Namun, tatkala
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
RebyuMore