LOGINBagi Rian Nugraha, bekerja di mansion mewah Surabaya adalah satu-satunya cara menyelamatkan kuliahnya. Namun, ia justru terjebak dalam obsesi berbahaya Nyonya Kirana, sang majikan cantik yang kesepian akibat diabaikan suaminya, Tuan Bima. Dari teror foto bersilang lipstik merah hingga malam pertama yang panas di kamar utama, Rian terlanjur melanggar batas suci kasta pelayan dan majikan. Kini, janji Rian untuk berhenti langsung hancur setelah Pak Sentot menemukan kancing kemejanya tertinggal di atas karpet bulu kamar sang nyonya besar. Apakah penyamaran hubungan terlarang ini akan langsung terbongkar dan menghancurkan hidup Rian, atau ia akan semakin tenggelam... Terjebak Hasrat Sang Majikan?
View MorePukul empat dini hari, Rian Nugraha sebagai mahasiswa miskin terasa makin menghimpit. Demi biaya kuliah dan menyambung hidup keluarganya di Gresik, Rian melamar pekerjaan baru.
Bukan lagi buruh bangunan, melainkan pelayan pribadi di sebuah kediaman mewah di Surabaya Barat. Iklan itu menawarkan gaji fantastis sebesar lima juta rupiah per bulan. Begitu melangkah masuk ke mansion megah bak istana itu, ia langsung diseret masuk. Pak Sentot, kepala pelayan berseragam kaku, menatap Rian dari ujung kepala hingga kaki. "Tubuhmu tegap, rahangmu tegas, dan dada bidangmu berisi," gumam Pak Sentot pelan. "Nyonya Kirana sendiri yang memilihmu dari foto lamaran sederhana itu." "Nyonya... memilih saya secara langsung, Pak?" tanya Rian memiringkan kepalanya. "Saya belum pernah bekerja sebagai pelayan pribadi sebelumnya." "Kamu tidak perlu banyak tanya, Rian," potong Pak Sentot dingin. "Tugasmu hanya satu: patuhi semua keinginan Nyonya Kirana tanpa bantahan." Sebelum Rian sempat mencerna kalimat itu, Pak Sentot mendorongnya ke dalam sebuah ruangan. Pintu kayu jati tebal di belakangnya langsung tertutup rapat dan terkunci otomatis. “Kriyeeeetttt!” Suara engsel pintu yang terkunci bergema, menciptakan efek kepungan yang mencekam. Rian menoleh panik, menyadari dirinya berada di dalam ruang santai pribadi yang sangat luas. Aroma parfum mawar yang tajam dengan keharuman alkohol mahal memenuhi udara. Pencahayaan di dalam ruangan itu sangat redup, hanya dibantu pendar lampu dinding temaram. "Selamat datang di istanaku, Pelayanku," sebuah suara lembut berbisik dari sudut ruangan. Rian tersentak kaget dan menoleh ke sumber suara di dekat sofa. Dari balik sofa kulit raksasa, sesosok wanita anggun berjalan mendekat dengan langkah perlahan. Wanita itu adalah Kirana Dirgantara, majikan barunya yang berusia tiga puluh tahun. Kirana hanya mengenakan gaun tidur sutra merah marun yang sangat tipis dan transparan. Lekuk tubuh matangnya yang indah terpampang nyata di bawah temaram cahaya lampu. Buah dadanya yang membusung indah hampir menyembul dari balik belahan gaunnya yang rendah. Mata Rian seketika menggelap saat otaknya menangkap pemandangan yang sangat erotis itu. Sebagai pria muda berusia dua puluh tahun, naluri lelakinya langsung bergejolak panas. Sial, pikiran ngeres langsung memenuhi kepalanya memikirkan betapa nikmatnya menyentuh tubuh mulus itu. "N-Nyonya Kirana?" panggil Rian dengan suara yang mendadak berubah serak memburu. "Pak Sentot tidak memberi tahu kalau Nyonya ada di dalam." Kirana terkekeh pelan, suara tawanya terdengar seperti bisikan magis yang membakar gairah. Ia mengabaikan jarak profesional dua meter yang seharusnya menjadi batas di antara mereka. Dengan gerakan penuh godaan, Kirana mengikis jarak hingga berdiri persis di depan Rian. "Sentot hanya menjalankan perintahku, Rian," ucap Kirana serak. "Aku yang memintanya membawamu langsung ke ruangan pribadiku ini." Rian menelan ludahnya yang terasa kesat, dada bidangnya naik turun menahan gairah mendidih. Aroma keharuman dari tubuh Kirana yang menyengat benar-benar memancing dahaga biologisnya. Pikiran nakalnya membayangkan bagaimana rasanya meremas pinggang ramping milik wanita kaya ini. "Apakah ada tugas yang harus saya bersihkan di ruangan ini, Nyonya?" tanya Rian. Mata hitamnya tidak bisa bohong, terus melirik ke arah dada Kirana yang naik turun. Kirana menyunggingkan senyuman tipis yang sarat akan pancingan berbahaya. Ia mengangkat tangan lentiknya, meletakkannya tepat di dada bidang Rian yang keras. Jari-jari cantiknya mulai merayap naik, mengusap kerah kemeja seragam yang dipakai Rian. "Satu-satunya yang perlu kamu bersihkan malam ini adalah rasa kesepianku, Rian," bisik Kirana. "Nyonya... godaan Anda sungguh berbahaya," gumam Rian sambil mengepalkan tangannya. "Saya di sini bekerja sebagai pelayan, tapi Anda memancing naluri liar saya nyonya.” "Kamu pikir aku membayarmu lima juta rupiah hanya untuk menyapu lantai?" pancing Kirana. tangannya bergerak makin berani, menyusup ke balik kancing kemeja seragam Rian. Kulit jari Kirana yang dingin menyentuh langsung permukaan dada berotot milik pemuda itu. Sentuhan hangat itu bagaikan bensin yang menyiram api gairah di dalam diri Rian. Otot-otot perutnya menegang, dan bagian bawah celananya mendadak mengeras hebat. "Suamiku tidak pernah menyentuhku seperti ini, Rian," bisik Kirana lagi. Matanya yang cokelat tajam menatap lurus ke dalam manik mata Rian yang makin membara. "Dia terlalu sibuk dengan uangnya, meninggalkan aku membusuk di rumah megah ini." Rian tak lagi bersikap lemah atau pasrah seperti kelinci percobaan. Nalurinya sebagai pria dewasa langsung mengambil alih situasi yang membakar ini. "Tuan sangat bodoh menyia-nyiakan wanita seperti Anda, Nyonya," bisik Rian tajam. Sebelum Kirana sempat membalas, Rian mendadak memegang erat pinggang ramping Kirana. Dengan satu dorongan kuat, Rian membalikkan posisi tubuh mereka seketika. Kini Rian yang mengunci Kirana rapat-rapat di dinding, berdiri tegap memayungi tubuh wanita itu. Kirana sedikit tersentak kaget, namun matanya memancarkan kepuasan melihat kepriaan Rian. "Ooh, jadi pelayan baruku ini punya taring yang cukup tajam, ya?" bisik Kirana terkekeh sensual. "Bukan taring, Nyonya... tapi Anda sendiri yang membangunkan singa lapar," sahut Rian rendah. Tatapan mata Rian berubah menjadi tatapan predator yang siap menerkam mangsanya. Rian merapatkan tubuh tegapnya, menyatukan dada bidangnya dengan buah dada lunak Kirana. Ia bisa merasakan langsung betapa kerasnya ereksi biologisnya menekan bagian bawah gaun tipis Kirana. "Pilihannya sangat sederhana, Pelayan Tampanku," bisik Kirana menahan napasnya yang menderu. "Kamu melayaniku malam ini dan mendapatkan semua uang untuk ibumu di Gresik ....” "Atau kamu menolakku, dan aku pastikan kamu membusuk di penjara atas tuduhan pelecehan?" Rian menyeringai tipis, cengkeraman tangannya di pinggang Kirana makin erat. Ancaman Kirana tidak membuatnya takut, melainkan justru makin membakar darah mudanya. "Nyonya tidak perlu mengancamku dengan tuduhan palsu itu," desah Rian di depan telinga Kirana. "Karena sejak awal Nyonya mengunciku di sini... aku memang sudah berniat menikmati tubuh Anda." Jari-jari Rian yang kasar akibat kerja keras meluncur naik, mengusap leher mulus Kirana. Kirana mendesah pelan, terangsang oleh dominasi fisik dan tatapan bernafsu dari pelayannya. Pertahanan Kirana sendiri yang awalnya sok mengontrol justru runtuh di bawah cengkeraman Rian. Tubuh Rian yang perkasa sepenuhnya menguasai pergerakan Kirana di atas dinding tersebut. Rian menundukkan kepalanya, menatap bibir merona Kirana dengan mata penuh hasrat. "Buktikan padaku bahwa kamu lebih jantan dari suamiku, Rian," tantang Kirana berbisik pasrah. Rian tidak menjawab lagi dengan kata-kata. Ia langsung mendaratkan bibirnya, mengunci bibir ranum Kirana dalam pagutan panas yang liar. Ciuman Rian begitu brutal, melumat bibir Kirana tanpa menyisa ruang. Kirana mendesah dalam pagutan itu, mengalungkan tangannya ke leher tegap Rian dengan erat. Tangan Rian meremas pinggul mulus Kirana dari balik kain sutra. Aroma parfum dan gejolak nafsu saling beradu, membakar seluruh kewarasan di dalam ruangan redup itu. Tepat saat Rian hendak mengangkat paha Kirana untuk makin merapatkan kepriaannya... Tiba-tiba lampu sorot taman di luar jendela kaca raksasa menyala terang benderang. Suara raungan mesin mobil sport terdengar berhenti tepat di pelataran depan mansion. "Nyonya! Tuan mendadak pulang lebih awal!" suara Pak Sentot berteriak panik dari interkom. Suasana panas itu terputus seketika. Rian menatap Kirana dengan napas memburu dan mata membara. Langkah kaki Tuan Bima kini terdengar makin dekat, berjalan menaiki tangga menuju ruangan tersebut. Akankah Rian tertangkap basah di malam pertamanya bekerja dalam posisi yang sangat berbahaya ini?Di salah satu layar pengawas, terlihat gambar koridor luar kamar utama dan jalur kabel di plafon mansion."Aku mengetuk jendela untuk memperingatkan kalian, Rian!" tegas Pak Sentot dengan mata menajam."Kalian terlalu bodoh dan dimabuk nafsu! Kalian pikir cuma Kirana yang memasang kamera tersembunyi di rumah ini?!"Rian mengerutkan dahi, hatinya mendadak mencelos tajam. "Maksud Bapak apa?"Pak Sentot bangkit dari kursinya, berjalan mendekati salah satu monitor berukuran besar.Ia menekan beberapa tombol pada keyboard tua di mejanya, hingga layar monitor itu menampilkan rekaman frekuensi sinyal tersembunyi."Kamera tersembunyi yang terpasang di atas lampu gantung kamar utama itu... memang milik Nyonya Kirana," jelas Pak Sentot pelan."Tapi apa yang Nyonya Kirana tidak tahu adalah... Tuan Bima sudah menyadap seluruh jaringan kamera itu sejak tiga bulan lalu!"DEG!Jantung Rian serasa berhenti berdetak seketika.Darah di tubuhnya mendadak dingin membeku."A-apa?!" bisik Rian d
Di atas lantai semen yang berdebu itu, terdapat bercak air yang masih basah, seperti tetesan dari pakaian atau kain yang baru saja diperas.Dan tak jauh dari bercak air itu, ada sebuah benda kecil berwarna emas berkilat di bawah temaram lampu.Rian mengulurkan tangannya, memungut benda tersebut.Itu adalah sebuah kancing jas berbahan logam kuningan yang terlepas, dengan ukiran logo jangkar kecil di tengahnya.Rian membelalakkan matanya saat mengenali logo tersebut."Ini... ini kan kancing seragam kepala pelayan?!" bisik Rian terperangah."Kancing seragamnya Pak Sentot!"Pikiran Rian mendadak kacau.Pak Sentot? Orang tua yang tadi sore menyelamatkannya dari jebakan lemari?Pria tua yang tampak lemah lembut dan penurut itu... apakah dia selama ini bekerja sebagai mata-mata Tuan Bima untuk mengawasi setiap gerak-gerik Kirana?"Waduh, Gusti... ternyata Pak Sentot mukanya dua!" umpat Rian penuh amarah tertahan."Pantesan tadi dia pura-pura mecahin gelas wiski buat nyelametin aku
Uap hangat di kamar mandi berdinding kaca buram itu mendadak terasa dingin dan mencekam.Gemercik air shower yang tadinya terdengar sensual kini berubah menjadi suara latar yang mengintimidasi.Di balik kaca buram yang berkabut, bayangan samar sosok tinggi tegap itu perlahan memudar, menyatu dengan kegelapan lorong rahasia di luar sana.Rian membeku di tempat, mematungkan seluruh gerakan tubuhnya."Si Bambang" yang beberapa detik lalu baru saja menumpahkan benih panasnya dan masih tersisa gairah, seketika menciut layaknya kerupuk kena air hujan.Rasa panik yang luar biasa mendadak menjalar gila-gilaan dari telapak kaki hingga ke ujung kepalanya."Waduh, Gusti... mampus aku!" batin Rian histeris, otaknya mendadak blank."Itu siluman apa manusia yang ngetuk jendela?! Kelihatan jelas banget tadi dari luar! Kalau itu mata-matanya Tuan Bima, fix besok namaku cuma tinggal nama di batu nisan!""Rian... kenapa diam aja, ada yang kami pikirkan?" bisik Kirana dengan suara parau yang gem
Pintu kamar mandi ditutup rapat. Uap hangat langsung naik dari shower yang Kirana nyalakan setengah. Kaca buram di sekeliling dinding bikin ruangan itu terasa pengap, basah, dan penuh godaan.Rian masih sempat melirik ke jendela yang tadi ada ketukan. “Nyonya… tadi beneran ada yang ngetuk deh,” bisiknya sambil napas masih memburu.Kirana cuma tersenyum nakal, lalu langsung ngunci pintu. “Biarin aja. Malam ini kamu harus muasin aku, Rian.”Si Bambang di dalem celananya langsung ngegantung kaku cuma gara-gara nada suara Kirana. Wanita itu dorong dia sampe punggungnya nempel ke kaca yang udah mulai berkabut. Jari-jari lentiknya buka kancing kemeja Rian satu-satu dengan sengaja pelan, terus ditarik sampe dada bidang sama perut berototnya kebuka semua. Jari Kirana ngusap pelan dari dada turun ke perut, ngerasain setiap otot yang menegang.“Masih muda… masih polos… tapi badanmu udah sekeras gini,” gumam Kirana sambil ngusap dada Rian. Tangannya turun lebih berani, ngeremes Si Bambang da
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.