MasukMalam terasa panjang. Saira mencoba tidur, tetapi suara langkah kaki di luar kamarnya membuatnya terjaga. Dia melirik jam di meja. Hampir tengah malam. Apa Dava masih terjaga?
Dengan hati-hati, Saira membuka pintu dan mengintip ke luar. Dava duduk di ruang tamu, hanya ditemani cahaya dari lampu di atas meja. Dia memegang gelas berisi sesuatu yang tampak seperti alkohol, menatap kosong ke depan.
Untuk pertama kalinya, Saira melihat Dava tidak dalam mode ‘CEO dingin’. Pria itu tampak lelah. Ada sesuatu di matanya, sesuatu yang selama ini tersembunyi di balik ekspresi datarnya.
Saira ingin bertanya, tapi dia ragu. Mereka bukan pasangan sungguhan. Dia tidak berhak mencampuri urusan Dava. Dia berbalik, berniat kembali ke kamar, tetapi suara Dava menghentikannya. “Kamu mau apa?”
Saira berbalik pelan. Dava menatapnya, ekspresinya sulit tebak.
“Ehm ... saya cuma mau ambil air,” bohongnya.
Dava tidak berkata apa-apa lagi, hanya kembali menatap kosong ke depan. Saira cepat-cepat mengambil air dari dapur dan kembali ke kamarnya. Tapi kali ini pikirannya penuh dengan tanda tanya. Apa yang sebenarnya terjadi dengan pria itu?
***
Keesokan paginya, Saira bangun lebih awal. Rumah itu terasa sepi. Tidak ada suara dari kamar Dava. Apakah pria itu masih tidur? Entahlah. Lalu dia berjalan menuju dapur dan mulai menyiapkan sarapan. Bukan karena dia ingin menyenangkan Dva, tetapi lebih untuk dirinya sendiri. Dia butuh sesuatu untuk mengalihkan pikirannya. Saat dia menggoreng telur, suara langkah kaki terdengar dari belakangnya. Dava muncul, mengenakan kemeja putih dengan beberapa kancing atas terbuka. Rambutnya sedikit berantakan dan wajahnya tampak sedikit lelah.
“Hari ini kamu kerja?” tanya Saira sambil tetap fokus pada masakannya.
Dava tidak menanggapi. Dia hanya berjalan ke mesin kopi dan membuat secangkir espresso. Setelah beberapa saat hening, dia akhirnya berkata, “Kamu tidak perlu melakukan ini.”
Saira meliriknya sekila. “Melakukan apa?”
“Bersikap seperti istri sungguhan.”
Saira tertawa kecil. “Santai aja, saya cuma masak buat diri sendiri. Kalau kamu mau silakan ambil.”
Dava menatapnya sejenak, lalu menghela napas. “Baiklah.”
Dia mengambil piring dan duduk di meja makan. Saira mengangkat alis, sedikit terkejut karena Dava benar-benar mengambil makanan yang dia buat. Mereka makan dalam diam. Tidak ada percakapan, tapi setidaknya suasananya tidak seburuk yang Saira bayangkan.
Saat mereka hampir selesai, ponsel Dava berdering. Dia melihat sekilas layar dan mendesah sebelum mengangkatnya.
“Ada apa?” tanyanya dengan nada datar.
Saira tidak ingin menguping, tapi sulit mengabaikan percakapan di ruangan yang sepi.
“Dava sudah menikah, Ma. Nggak perlu atur-atur hidup Dava lagi.”
Saira terdiam. Itu pasti Mama Rina. Kenapa dia kasar begitu, sih, sama mamanya sendiri. Dasar bocah durhaka!
Setelah beberap detik, Dava menutup telepon dan menatap kosong ke depan.
“Orang tuamu peduli sama kamu,” kata Saira pelan.
Dava tertawa sinis. “Mereka cuma ingin saya menikah. Sekarang sudah terjadi, jadi harusnya mereka puas.”
Saira ingin berkata sesuatu, tapi dia tahu tidak ada gunanya berdebat dengan pria yang bahkan ketus pada keluarganya sendiri. Dalam hati, dia bertanya-tanya. Apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu Dava sampai di jadi seperti ini?
Dava meletakkan ponselnya dengan kasar di atas meja, lalu mengusap wajahnya dengan tangan. Ekspresi dinginnya sedikit mengendur, seolah percakapan tadi menyedot habis energi dalam dirinya. Saira memperhatikan perubahan ekspresi itu, tapi memilih untuk tidak berkomentar. Jika Dava ingin berbicara, dia akan berbicara. Jika tidak, memaksanya hanya akan jadi bumerang.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Dava bangkit dari kursinya, mengambil jasnya yang tergantung di sandaran kursi, lalu berjalan menuju pintu.
“Saya berangkat,” katanya singkat.
Saira mengangguk pelan. “Hati-hati di jalan.”
Dava menoleh sekilas, tampak terkejut dengan ucapan Saira. Namun, dia tidak mengatakan apa-apa lagi dan langsung keluar rumah. Saira terdiam sebentar, bertanya pada diri sendiri. Memangnya aku salah ngomong, ya?
Setelah Dava pergi, Saira mulai menjelajahi rumah. Sejak tadi malam, dia belum benar-benar memperhatikan setiap sudutnya. Rumah ini memang elegan dan mewah, tapi dingin dan sepi. Tidak ada tanda-tanda bahwa seseorang benar-benar tinggal di sini sebelumnya. Bahkan di ruang tamu, tak ada satu pun foto keluarga atau dekorasi yang menunjukkan kepribadian pemiliknya.
Saira melangkah ke dapur, membuka lemari penyimpanan. Semuanya tersusun rapi, tapi tidak banyak bahan makanan. Sepertinya Dava tidak peduli soal memasak atau bahkan tidak terpikir untuk makan di rumah.
“Kalau begini terus, aku harus belanja sendiri,” gumamnya.
Dia mengambil ponselnya, mencari supermarket terdekat. Daripada hanya diam di rumah dan merasa asing di tempat ini, lebih baik dia melakukan sesuatu yang berguna.
***
Saira berjalan melewati lorong rak-rak di supermarket, memilih beberapa bahan makanan yang sekiranya akan berguna untuk beberapa hari ke depan. Ini pertama kalinya sejak menikah dia melakukan sesuatu untuk dirinya sendiri, tanpa terikat kontrak atau aturan Dava.
Saat dia hendak membayar di kasir, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk.
“Kamu yang sekarang jadi istri Dava?”
Alis Saira bertaut. Siapa ini?
Sebelum dia sempat membalas, pesan lain masuk lagi.
“Kamu pikir bisa menggantikan dia? Jangan terlalu percaya diri.”
Saira menelan ludah. Ada sensasi dingin yang menjalar di tengkuknya. Dia tidak tahu siapa pengirim pesan itu, tapi satu hal yang jelas: sesorang tidak senang dengan keberadaannya di sisi Dava. Dia menggenggam erat ponselnya, lalu buru-buru menyelesaikan pembayaran dan keluar dari supermarket. Langkahnya sedikit lebih cepat dari biasanya, seolah ada sesuatu yang mengikutinya dari belakang.
Saat dia sampai di rumah, tangannya masih gemetar halus. Saira mencoba mengabaikan pesan tadi, tapi kata-kata itu terus berputar di kepalanya.
Kamu pikir bisa menggantikan dia?
Siapa ‘dia’ yang dimaksud? Mantan Dava? Atau seseorang yang lebih dari itu? Saira memejamkan mata. Ini baru awal pernikahan mereka, dan masalah sudah datang saja. Sebenaranya, Dava pria yang seperti apa?
Aku jadi penasaran masa lalunya. Wanita seperti apa yang membuat aku diteror begini?
***
Malam itu, Saira tidak bisa tidur nyenyak. Pikirannya terus dipenuhi pertanyaan tentang pesan misterius yang diterimanya pagi tadi. Ia mencoba mencari tahu siapa pengirimnya, tetapi nomor tersebut tidak terdaftar di kontak mana pun.
Saat akhirnya ia terlelap, suara dering ponsel membangunkannya. Saira meraba ponselnya di atas nakas dan melihat layar itu menayala, menampilkan panggilan dari nomor tidak dikenal lagi. Jantungnya berdegup kencang. Tangannya ragu untuk menjawab, tapi rasa penasaran mengalahkan ketakutannya.
“Hallo?” suaranya terdengar serak.
Hening. Tidak ada suara di seberang sana.
Saira mengernyit. “Siapa ini?”
Masih tidak ada jawaban. Tetapi sebelum menutup panggilan, suara napas seseorang terdengar pelan.
“Saira ....”
Suara itu hampir berbisik. Dingin, dan membuat bulu kuduknya berdiri. Saira langsung menutup telepon dan meletakkan ponselnya jauh dari tempat tidur. Ia menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya, seolah itu bisa melindunginya dari apa pun yang sedang terjadi.
Kenapa jadi horor gini, sih? Aku lebih takut hantu daripada mantan Dava atau manusia lainnya!
***
Keesokan paginya, ia bangun dengan perasaan tidak nyaman. Begitu ia melangkah keluar dari kamar, ia mendapati Dava sudah siap dengan jasnya. Pria itu tengah duduk di meja makan, menikmati sarapan sederhana—kopi hitam dan sepotong roti panggang.
Saira ragu-ragu, sebelum akhirnya duduk di seberangnya. “Mas Dava ....”
Pria itu tidak langsung menoleh. “Apa?” ucapnya sambil fokus mengunyah.
Saira menggigit bibirnya. Ia tidak yakin bagaimana cara membicarakan pesan dan telepon misterius tadi malam. Tetapi sebelum ia sempat membuka mulut, Dava lebih dulu bersuara.
“Jangan keluar rumah sendirian lagi.”
Alis Saira bertaut. “Kenapa?”
Dava mengangkat tatapannya, menatapnya tajam. “Ada orang yang memperhatikanmu.”
Jantung Saira langsung berdetak lebih cepat. “Maksud kamu?”
Dava meletakkan cangkir kopinya dengan pelan, tatapan matanya tetap dingin.
“Saya tidak tahu siapa, tapi saya punya firasat yang bagus soal hal-hal seperti ini.”
Saira menelan ludah. Apakah Dava juga menerima ancaman? Atau dia sudah tahu sesuatu yang tidak Saira ketahui?
“Bukan ... hantu kan, Mas?” cicitnya pelan, memastikan apakah firasat yang Dava maksud sejenis indra keenam atau bukan.
“Jangan konyol kamu!” balas Dava tak habis pikir.
“Ya saya pikir Mas Dava punya indra keenam.”
“Kan saya sudah bilang, ada ‘orang’ yang memperhatikan kamu.”
“Iya, iya. Makasih udah diingatkan, lagian saya bisa jaga diri sendiri,” katanya pelan.
Dava tertawa sinis. “Benarkah? Lalu kenapa ekspresi wajahmu mengatakan kalau kamu sedang ketakutan?”
Saira terdiam. Pria ini memang dingin, tetapi dia tidak bodoh. Dia bisa membaca ekspresi orang lain dengan mudah.
“Kalau ada sesuatu yang terjadi, lebih baik katakan,” lanjut Dava. “Saya tidak suka kejutan.”
Saira ragu. Haruskah ia memberi tahu Dava tentang pesan dan telepon misterius itu? Atau lebih baik ia mencari tahu sendiri?
Pria itu menghela napas, lalu berdiri. “Terserah. Tapi saya serius. Jangan keluar rumah sendirian.”
Saira hanya bisa mengangguk. Bahkan setelah Dava pergi, kata-kata pria itu terus terngiang di kepalanya. Saharian ia menghabiskan waktu di rumah, mencoba mencari petunjuk siapa orang yang menghubunginya semalam.
Rasa penasaran dan ketakutan bercampur satu dalam pikirannya. Hingga siang hari, ponselnya kembali bergetar. Satu pesan masuk.
“Jangan terlalu nyaman di tempatmu sekarang.”
Saira terhenyak. Jari-jarinya gemetar saat membaca pesan itu. Orang ini benar-benar mengawasinya. Tapi bagaimana? Apakah ada sesorang di luar sana yang memperhatikannya dari kejauhan? Benar yang dikatakan Mas Dava, ada yang mengawasiku diam-diam.
Ia bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke jendela, mengintip ke luar dengan hati-hati. Jalanan terlihat normal, tidak ada yang mencurigakan. Namun, perasaan tidak nyaman tetap menghantuinya.
Tanpa pikir panjang, Saira mengetik balasan.
“Siapa kamu?”
Beberapa menit berlalu tanpa jawaban. Ia menunggu dengan cemas, sampai akhirnya ponselnya bergetar lagi.
“Seseorang yang lebih berhak berada di sisi Dava.”
Napas Saira tercekat. Lebih berhak? Apa maksudnya? Apakah ini mantan Dava? Atau seseorang dari masa lalunya yang belum bisa menerima pernikahan mereka?
Saira menatap pesan itu lama, berusaha mencari arti di balik kata-katanya. Namun, semakin ia mencoba memahami, semakin banyak pertanyaan yang muncul.
Ketika sore tiba, Dava pulang lebih awal dari biasanya. Begitu masuk rumah, ia langsung melihat ekspresi tegang di wajah istrinya.
“Ada apa?” tanyanya tanpa basa-basi.
Saira menatapnya, ragu-ragu. Tapi kali ini, ia merasa perlu memberitahu Dava.
“Saya mendapat pesan lagi.”
Mata Dava sedikit menyipit. “Dari nomor yang sama?”
Saira mengangguk. Ia menyerahkan ponselnya pada Dava, membiarkan pria itu membaca sendiri. Ekspresi Dava tidak berubah, tapi ada ketegangan yang jelas di matanya. Setelah membaca pesan itu, ia mengembalikan ponsel pada Saira dan menghela napas.
“Kamu harus hati-hati.”
“Jadi kamu tahu siapa yang mengirim ini?” tanya Saira, mencoba mencari petunjuk dari ekspresi Dava.
Dava menggeleng. “Saya punya beberapa dugaan. Tapi saya tidak bisa memastikan sebelum mendapatkan lebih banyak informasi.”
Saira mengernyit. “Apa ini ada hubungannya dengan masa lalumu?”
Dava tidak langsung menjawab. Pria itu menatapnya dalam-dalam, lalu berkata, “Jangan terlalu banyak bertanya, Saira. Beberapa hal lebih baik tidak kamu ketahui.”
Saira menggigit bibirnya. Jawaban itu hanya membuatnya semakin penasaran.
***
Malam itu, suasana rumah terasa sunyi dari biasanya. Saira tidak bisa berhenti memikirkan kata-kata Dava. Apa yang sebenarnya dia sembunyikan? Dan kenapa ada seseorang yang begitu terobsesi dengan pernikahan mereka?
Saira mengambil ponselnya dan menatap layar. Pesan terakhir dari orang misterius itu masih ada di sana.
“Seseorang yang lebih berhak berada di sisi Dava.”
Saira menarik napas panjang. Jika orang ini berpikir dia tidak pantas menjadi istri Dava, maka dia harus mencari tahu alasannya. Tidak peduli seberapa dalam rahasia itu tersembunyi, Saira bertekad untuk mengungkapnya.
***
Sudah hampir dua minggu Saira tinggal di rumah itu. Waktu yang cukup untuk membentuk kebiasaan, tapi belum cukup lama untuk disebut rumah. Kamar yang ditempatinya selalu rapi. Tidak ada barang yang benar-benar ia keluarkan dari koper selain pakaian seperlunya. Selebihnya tetap tersusun seperti siap dibawa pergi kapan saja. Saira duduk di tepi ranjang, menatap lemari yang pintunya setengah terbuka, seperti sedang menimbang sesuatu yang tidak kasat mata. Menjadi istri—meski hanya di atas kertas—ternyata mengubah banyak hal kecil. Waktu tidurnya ikut bergeser. Langkah kakinya pun lebih pelan setiap kali melewati ruang kerja Dava. Nada bicaranya otomatis menyesuaikan, terbentuk begitu saja. Ia menarik napas dalam-dalam. Sejak awal, ia tahu pernikahan ini bukan tentang cinta. Ia juga tidak pernah berniat menjadikannya seperti itu. Namun beber
Larissa berdiri di depan pagar rumah itu dengan senyum yang manis. Tak lama, Saira muncul dan membuka pintu tanpa ekspresi berlebih, tatapannya tenang—seperti seseorang yang lelah dengan drama buatan wanita di depannya. “Mas Dava nggak ada,” ucapnya to the point. Larissa melirik ke dalam rumah, jelas berniat masuk. “Aku ke sini mau ngobrol sama kamu,” katanya dengan senyum yang tidak juga luntur. Saira mengangguk kecil, bukan mengalah, tapi memegang kendali penuh. “Kalau mau bicara, kita bisa ke kafe dekat sini. Jangan di rumah saya.” Larissa terdiam sejenak, tidak menyangka dirinya tidak diizinkan masuk ke rumah yang seharusnya jadi miliknya sejak awal. “Oh, takut?” ejeknya, mencoba
Kamar Dava tidak berubah, gelap dan suram. Tapi malam ini tidak terasa sama. Sudah dua jam dia menatap langit-langit, lampu tidur redup menyala di sudut ruangan. Biasanya beberapa menit saja dia sudah terlelap, tapi sejak kembali dari rumah orang tuanya—sejak malam-malam ia tidur di kasur yang sama dengan Saira—tidur sendirian menjadi hal yang aneh. Ranjangnya terasa terlalu luas, dingin dan sepi. Dava mengembuskan napas kasar, membalikkan tubuhnya untuk kesekian kalinya. “Kenapa jadi begini?” gumamnya, kesal pada dirinya sendiri. Setiap kali memejamkan mata, bayangan punggung mungil Saira—yang waktu itu tidur menghadap jauh darinya—selalu muncul. Dan entah mengapa itu membuat dadanya berdesir tidak nyaman. Dava duduk, memijat leher. Shit!&nb
Panekuk stroberi sudah tersaji di meja makan, masih hangat dan menggugah selera. Saira baru saja selesai membuat cokelat panas untuk dirinya sendiri, ketika Dava menuruni tangga dengan setelannya—jas digenggaman tangan kiri. “Mau saya buatin kopi kayak biasa?” tanya Saira. Dava meletakkan jasnya di atas kursi, lalu menggulung kemejanya sampai siku. “Tidak perlu, saya saja, Ra.” Wanita itu mengangguk pahan, sejak awal dia memang sengaja tidak membuatkan kopi untuk lelaki itu. Takut Dava berpikir yang tidak-tidak atas kebaikannya yang mungkin akan dianggap sesuatu yang lain. Juga, dia tidak ingin melewati batas kontrak mereka yang semakin hari semakin kabur saja. Saira takut terjebak oleh perasaannya sendiri. “Masakan kamu selalu enak,” komentar Dava ketika mencoba sepotong panekuk buatannya. “Sudah biasa masak?” “Sejak perusahaan Papa bangkrut, aku belajar banyak hal. Ya termasuk masak, salah satu skill bertahan hidup.”
“Kamu serius nyuruh saya ke kamar terus tidur?” omel Saira ketika tiba di kamar mereka. “Ini bahkan belum jam sepuluh malam, Mas.” Dava menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal. “Besok kita harus berangkat pagi-pagi sekali. Saya tidak mau kamu kesiangan lagi, besok senin, Ra,” ucapnya beralasan. “Saya harus ke kantor.” “Ck!” decaknya kesal. “Kamu kalau kesal begitu, saya tidur di sofa saja.” “Kenapa kesannya jadi kamu yang ngambek sih, Mas?” “Bukan begitu, Saira.” “Tahu, ah. Terserah kamu mau tidur di mana,” lanjutnya lebih kesal, lalu berbaring membelakangi Dava. “Tidur di luar sekalian, biar Mama dan Papa tahu.” Untuk pertama kalinya, Dava merasa kecil. Dia memang salah, tidak seharusnya dia datang menginterupsi obrolan dua wanita itu dengan alasan ‘sudah larut’. Dava sendiri tidak bisa mengerti mengapa kakinya melangkah ke sana dan mengetuk pintu kamar sang adik. Akhirny
Kamar luas dengan dominan warna krem itu sangat kontras dengan kamar Dava yang suram dan gelap. Saira yang baru melangkahkan kakinya masuk ke dalam, sudah dibuat takjub dengan keindahan kamar milik Davina. Rapi, cantik, dan berseni; tiga kata yang menggambarkan kamar itu. “Sini, Mbak. Duduk,” kata Davina mempersilakannya duduk di atas kasur. Saira mengikuti arahan wanita itu dan duduk di dekatnya, masih memerhatikan sekeliling kamar. “Beda banget ya sama kamar Mas Dava?” ucapnya seperti tahu isi kepala Saira. Saira langsung menoleh ke arag Davina sambil tertawa ringan. “Iya. Jauh banget.” Davina ikut tertawa, lalu memeluk bantal kecil di pangkuannya. “Kamar Mas Dava tuh mencerminkan kepribadiannya banget.” Tepatnya kepribadiannya setelah ditinggal Larissa, sambung Davina dalam hati. “Iya, lagi,” komentar Saira lalu keduanya tertawa bersama. Davina meraih kotak kecil di meja rias di sela tawanya, mengam







