LOGINSiapa yang mau nikah kontrak sama pria dingin, arogan, dan nyebelin? Tentu saja bukan Saira orangnya! Tapi nasib berkata lain. Demi menyelamatkan keluarganya dari jeratan utang yang menumpuk, dia harus menikah kontrak dengan Dava Arya Pratama—CEO muda yang terkenal kejam dan tidak percaya cinta. Bagi Dava, cinta hanyalah bualan semata. Sebab dia memiliki trauma besar yang membuatnya menutup diri dari hubungan serius. Tapi sebagai anak sulung keluarga Pratama, dia terus didesak untuk segera menikah. Namun demi menenangkan keluarganya, dia memilih pernikahan kontrak sebagai solusi. Sementara Saira? Sebagai anak sulung dari keluarga yang terlilit utang—ditambah usianya yang hampir menginjak kepala tiga, dia tidak punya pilihan. Awalnya Naira, adik Saira, yang ingin orang tuanya nikahkan, tapi gadis itu menolak mati-matian. Sedangkan Saira yang selama ini setengah mati banting tulang melunasi utang tersebut, mau tidak mau harus mengorbankan diri. Berbeda dengan Naira, penolakan dari Saira tak pernah didengar. Mulanya dia pikir ini hanya nikah kontrak biasa—tinggal bersama, saling menjaga reputasi, lalu bercerai jika waktunya telah habis. Tapi ternyata hidup satu rumah bersama Dava itu bencana! Saira yang dulu lemah dan selalu mengalah, lama-lama muak juga dengan sifat cuek pria berusia 32 tahun itu. Dan yang lebih ngeselin? Justru Saira yang dibuat jatuh hati! Namun Dava? Dia tetap dingin, tetap sulit digapai. Katanya, cinta itu tidak penting. Katanya, Saira cuma istri kontraknya. Tapi ... kenapa dia mulai cemburu kalau Saira dekat dengan pria lain? Kenapa dia mulai peduli tiap dia kesusahan? Katanya tidak percaya cinta, kok sekarang mulai mengejar Saira? Yang lebih parah? Naira ternyata menyukai Dava. Dan Saira tidak tahu lagi harus menghadapi situasi ini seperti apa. Bencana, ‘kan?
View MoreSudah hampir dua minggu Saira tinggal di rumah itu. Waktu yang cukup untuk membentuk kebiasaan, tapi belum cukup lama untuk disebut rumah. Kamar yang ditempatinya selalu rapi. Tidak ada barang yang benar-benar ia keluarkan dari koper selain pakaian seperlunya. Selebihnya tetap tersusun seperti siap dibawa pergi kapan saja. Saira duduk di tepi ranjang, menatap lemari yang pintunya setengah terbuka, seperti sedang menimbang sesuatu yang tidak kasat mata. Menjadi istri—meski hanya di atas kertas—ternyata mengubah banyak hal kecil. Waktu tidurnya ikut bergeser. Langkah kakinya pun lebih pelan setiap kali melewati ruang kerja Dava. Nada bicaranya otomatis menyesuaikan, terbentuk begitu saja. Ia menarik napas dalam-dalam. Sejak awal, ia tahu pernikahan ini bukan tentang cinta. Ia juga tidak pernah berniat menjadikannya seperti itu. Namun beber
Larissa berdiri di depan pagar rumah itu dengan senyum yang manis. Tak lama, Saira muncul dan membuka pintu tanpa ekspresi berlebih, tatapannya tenang—seperti seseorang yang lelah dengan drama buatan wanita di depannya. “Mas Dava nggak ada,” ucapnya to the point. Larissa melirik ke dalam rumah, jelas berniat masuk. “Aku ke sini mau ngobrol sama kamu,” katanya dengan senyum yang tidak juga luntur. Saira mengangguk kecil, bukan mengalah, tapi memegang kendali penuh. “Kalau mau bicara, kita bisa ke kafe dekat sini. Jangan di rumah saya.” Larissa terdiam sejenak, tidak menyangka dirinya tidak diizinkan masuk ke rumah yang seharusnya jadi miliknya sejak awal. “Oh, takut?” ejeknya, mencoba
Kamar Dava tidak berubah, gelap dan suram. Tapi malam ini tidak terasa sama. Sudah dua jam dia menatap langit-langit, lampu tidur redup menyala di sudut ruangan. Biasanya beberapa menit saja dia sudah terlelap, tapi sejak kembali dari rumah orang tuanya—sejak malam-malam ia tidur di kasur yang sama dengan Saira—tidur sendirian menjadi hal yang aneh. Ranjangnya terasa terlalu luas, dingin dan sepi. Dava mengembuskan napas kasar, membalikkan tubuhnya untuk kesekian kalinya. “Kenapa jadi begini?” gumamnya, kesal pada dirinya sendiri. Setiap kali memejamkan mata, bayangan punggung mungil Saira—yang waktu itu tidur menghadap jauh darinya—selalu muncul. Dan entah mengapa itu membuat dadanya berdesir tidak nyaman. Dava duduk, memijat leher. Shit!&nb
Panekuk stroberi sudah tersaji di meja makan, masih hangat dan menggugah selera. Saira baru saja selesai membuat cokelat panas untuk dirinya sendiri, ketika Dava menuruni tangga dengan setelannya—jas digenggaman tangan kiri. “Mau saya buatin kopi kayak biasa?” tanya Saira. Dava meletakkan jasnya di atas kursi, lalu menggulung kemejanya sampai siku. “Tidak perlu, saya saja, Ra.” Wanita itu mengangguk pahan, sejak awal dia memang sengaja tidak membuatkan kopi untuk lelaki itu. Takut Dava berpikir yang tidak-tidak atas kebaikannya yang mungkin akan dianggap sesuatu yang lain. Juga, dia tidak ingin melewati batas kontrak mereka yang semakin hari semakin kabur saja. Saira takut terjebak oleh perasaannya sendiri. “Masakan kamu selalu enak,” komentar Dava ketika mencoba sepotong panekuk buatannya. “Sudah biasa masak?” “Sejak perusahaan Papa bangkrut, aku belajar banyak hal. Ya termasuk masak, salah satu skill bertahan hidup.”






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.