LOGINPagi itu Saira mencoba mengalihkan pikirannya dengan membersihkan rumah, tetapi bayangan pesan misterius itu terus menghantuinya. Saat ia sedang menyapu ruang tamu, tiba-tiba pintu rumah diketuk keras.
Jantungnya berdegup kencang. Siapa yang datang?
Ia lantas berjalan pelan ke pintu dan mengintip dari lubang kecil. Seorang wanita berdiri di luar, mengenakan kacamata hitam besar dan mantel panjang. Saira ragu sejenak, lalu memberanikan diri membuka pintu.
“Ya? Ada yang bisa saya bantu?”
Wanita itu menurunkan kacamatanya dan tersenyum kecil. “Akhirnya aku bisa melihat wajahmu langsung.”
Saira mengernyit. “Maaf, Anda siapa?”
Wanita itu mengulurkan tangan. “Kenalkan, aku Larissa.”
Nama itu terdengar asing, tapi entah kenapa, ada sesuatu dalam tatapan wanita itu yang membuat Saira merasa tak nyaman.
Larissa tersenyum miring. “Seseorang yang seharusnya ada di tempatmu sekarang.”
Darah Saira langsung berdesir. Ini orang yang mengirim pesan itu? Saira berusaha tetap tenang. “Maaf, saya tidak mengerti maksud Anda.”
Larissa mendekat, membuat Saira reflek mundur selangkah. “Aku hanya ingin mengenalmu lebih baik. Soalnya, kamu sudah mengambil sesuatu yang berharga bagiku.”
Saira meneguk ludahnya dengan sulit. “Saya tidak mengambil apa pun dari siapa pun.”
Larissa tertawa pelan. “Oh, darling ... Dava bukan sekadar pria biasa. Dia ... spesial. Dan dia adalah milikku, bukan milikmu.”
Jantung Saira semakin berdetak kencang. Wanita ini jelas bukan orang sembarangan. “Saya tidak tahu hubungan kalian, tapi pernikahan ini sudah terjadi,” kata Saira, mencoba tetap tenang.
“Aku hanya ingin memberimu peringatan, Saira.” Tatapannya berubah tajam. “Dava tidak akan pernah mencintaimu. Tidak peduli seberapa lama kamu di sampingnya, dia tidak akan pernah memilihmu.”
Saira menggenggam erat sisi bajunya, berusaha menyembunyikan getaran di tangannya.
“Kalau kamu cerdas, kamu akan meninggalkannya sebelum semuanya menjadi lebih buruk,” lanjut Larissa sebelum berbalik dan melangkah pergi.
Saira masih berdiri terpaku di depan pintu. Apa yang baru saja terjadi? Kenapa aku harus terjebak di dalam drama percintaan mereka?
Ketika Dava pulang malam itu, Saira langsung menghampirinya. “Mas Dava, saya butuh penjelasan.”
Dava melemparkan jasnya ke sofa dan mengerutkan kening. “Tentang apa?”
Saira menggigit bibirnya sebelum berkata, “Larissa.”
Ekspresi Dava langsung berubah. Rahangnya mengeras, dan matanya menjadi lebih gelap. “Kamu bertemu dengannya?”
Saira mengangguk. “Dia datang ke sini dan mengancam saya.”
Dava mengumpat pelan dan berjalan melewati Saira, menuju jendela. Ia menarik napas dalam sebelum berkata, “Jangan percaya apa pun yang dia katakan.”
Saira menatap punggung Dava. “Dia bilang kamu miliknya.”
Dava berbalik, menatap Saira dengan sorot mata yang sulit ditebak. “Dia salah.”
“Tapi dia terlihat sangat yakin,” balas Saira cepat. “Kenapa saya harus menghadapi semua ini kalau kamu udah ada calon istri, sih, Mas?”
Dava tidak langsung menjawab. Setelah beberapa detik hening, ia berkata pelan, “Saya akan mengurus ini, kamu jangan ikut campur.”
Saira menggeleng. “Saya sudah terlibat, Mas Dava. Saya ingin tahu yang sebenarnya.”
Dava menatapnya lama, lalu menghela napas. “Larissa hanyalah masa lalu saya. Dan dia belum bisa menerimanya.”
Saira menatap Dava dengan penuh tanda tanya. Jika Larissa benar-benar masa lalu Dava, kenapa dia masih bertingkah seolah Dava adalah miliknya? Dan yang lebih penting ... apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka?
Setelah pertemuan dengan Larissa, suasana rumah menjadi lebih tegang. Saira tidak bisa berhenti memikirkan kata-kata wanita itu. Apakah benar Dava masih terikat dengan masa lalunya? Jika ya, kenapa dia memilih pernikahan kontrak ini?
Hari itu, Dava berangkat lebih awal dari biasanya. Saira hanya melihatnya sekilas sebelum pria itu menghilang ke balik pintu dengan ekspresi datar. Tak ada percakapan, tak ada peringatan seperti kemarin.
Saira mencoba mengisi waktunya dengan melakukan sesuatu yang produktif. Ia mulai membereskan rumah, memasak makanan yang bisa bertahan lama di kulkas, dan bahkan mulai membaca buku yang ada di rak milik Dava. Namun, pikirannya tetap tidak bisa tenang.
Setelah siang, ia akhirnya memutuskan untuk keluar sebentar. Ia tahu Dava melarangnya pergi sendirian, tetapi ia tidak bisa terus-terusan terkurung di dalam rumah ini. Saat ia berjalan di trotoar dekat kompleks rumah mereka, ia merasakan sesuatu yang aneh. Seolah ada seseorang yang mengawasinya. Ia menoleh ke belakang beberapa kali, tapi tak melihat siapa pun.
Ketika ia masuk ke dalam sebuah kafe untuk membeli kopi, ponselnya kembali bergetar. Pesan baru muncul.
“Aku melihatmu. Kenapa melanggar perintah suamimu?”
Saira menegang. Matanya langsung berkeliling, mencari siapa pun yang tampak mencurigakan. Ia menggenggam ponselnya erat, lalu dengan cepat menyelesaikan pesanannya dan kembali ke rumah dengan perasaan tidak nyaman.
Begitu ia masuk ke rumah dan menutup pintu, napasnya masih terasa berat. Ia membuka pesan itu lagi, membaca ulang kata-kata yang membuatnya semakin gelisah. Siapa pun orang ini, mereka jelas mengawasinya.
Saira baru saja duduk di sofa ketika suara pintu depan terbuka. Ia melirik jam di dinding, heran karena Dava pulang lebih awal dari biasanya. Padahal, biasanya pria itu baru pulang menjelang malam.
Dava masuk dengan ekspresi serius, masih mengenakan jasnya tanda baru keluar dari kantor. “Aku pulang sebentar karena ada urusan mendadak,” katanya, seakan bisa membaca pikiran Saira yang kebingungan. Pria itu langsung melihat ekspresi Saira yang tegang.
“Apa yang terjadi?” tanyanya tajam.
Saira menelan ludah. Ia tahu jika ia menyembunyikan ini, Dava akan mengetahuinya juga. “Saya ... keluar sebentar. Dan mendapat pesan ini.” Ia menyerahkan ponselnya pada Dava.
Pria itu membaca isi pesan itu dengan rahangnya yang mengeras. “Kamu keluar rumah sendirian?” suaranya terdengar dalam, nyaris seperti geraman.
Saira mengangguk. “Saya hanya ke kafe dekat sini, Mas. Saya butuh udara segar.”
Dava memijit pelipisnya sebelum menatap Saira dengan tajam. “Saya kan sudah bilang, jangan keluar sendiri.”
Saira menghela napas. “Saya tidak bisa terus dikurung di dalam rumah.”
“Saya melakukan ini untuk keselamatanmu.”
“Tapi saya tidak bisa hidup dalam ketakutan terus-menerus!” balas Saira, suaranya meninggi. “Sampai kapan, Mas? Sampai saya benar-benar lenyap di tangan perempuan gila itu?”
Dava menatapnya lama, lalu membuang napas berat. “Mulai sekarang, kalau kamu mau keluar, saya ikut.”
Saira melotot. “Apa? Itu nggak masuk akal. Bukan ini solusi yang saya inginkan.”
Dava memijit pelipisnya. “Saya akan menempatkan seorang bodyguard untuk kamu, dan untuk saat ini kita lakukan seperti yang saya katakan sebelumnya sampai saya menemukan orang yang tepat menjadi bodyguard kamu.”
Saira tahu percuma berdebat. Ia hanya mendengus kesal dan meraih ponselnya kembali. “Terserah kamu, deh, Mas.”
Dava hanya bisa menatap punggung istrinya dengan tatapan yang sulit diartikan. Dia lelah, tapi bagi Saira yang baru pertama kali merasakan diganggu seperti itu pasti lebih melelahkan.
***
Keesokan harinya, Dava benar-benar menepati ucapannya. Saat ia menyebut ingin pergi keluar, Dava yang saat itu sedang mengerjakan sesuatu di ruang kerjanya langsung menutup laptopnya dan mengambil kunci mobil.
“Saya ada rapat siang nanti, jadi kita pergi sekarang saja.”
Ketika Saira mengatakan ingin pergi ke supermarket, Dava langsung mengambil kunci mobil dan berkata, “ayo!”
Sepanjang perjalanan, Dava tetap fokus menyetir, sementara Saira menatap jendela, berpikir. Sesekali, ia melirik pria di sebelahnya. Sikapnya begitu tenang, seolah tidak ada yang mengganggunya. Apa benar dia tidak peduli? Atau dia sebenarnya tahu lebih banyak dari yang ia katakan?
Sebelum ke supermarket, mereka mampir ke sebuah toko buku kecil karena Saira ingin mencari bacaan baru. Dava, yang awalnya hanya menunggu di dekat pintu, akhirnya ikut masuk setelah bosan berdiri sendirian. Saat Saira sibuk memilih buku, Dava berjalan-jalan melihat-lihat rak.
“Bukannya kamu udah punya buku itu?” tanya Saira spontan, setelah melihat buku yang pernah dia baca dari rak buku di rumah mereka.
Dava meliriknya sekilas. “Kamu baca buku-buku saya?”
Saira mengangguk. “Nggak boleh, ya? Maaf deh, lain kali nggak lagi.”
Dia kemudian menghela napas, lalu hendak kembali melihat-lihat rak buku di seberang sebelum akhirnya Dava menahan lengannya.
“Bukan begitu maksud saya, Ra. Saya kan hanya bertanya, memangnya tidak boleh?” ucap Dava mencoba meluruskan.
“Oh, ya udah,” katanya tampak tak peduli penjelasan lelaki itu dan hendak pergi, tapi sekali lagi ditahan oleh Dava. “Apa lagi sih, Mas?”
“Saya belum selesai bicara, Saira.”
Mendengar namanya disebut, entah mengapa jantungnya mendadak berdisko. “Ya-ya ... silakan bicara,” ucapnya sedikit tergagap.
“Tidak jadi.”
“Hah? Kenapa nggak jadi?”
“Tidak ada alasan,” Dava berlalu pergi meninggalkan Saira, tanpa wanita itu tahu lelaki itu tengah tersenyum tipis setelah mengerjainya.
“Apa sih, Mas Dava itu! Ngeselin banget,” ocehnya kesal bukan main.
Setelah beberapa menit, mereka menyelesaikan pembayaran dan melanjutkan perjalanan ke supermarket. Namun, begitu mereka tiba dan mulai berbelanja, Saira merasakan sesuatu yang aneh lagi. Ia merasa ada seseorang yang memperhatikan mereka. Entah sejak kapan dia punya firasat seperti ini, apa mungkin tertular Dava?
Perlahan, ia menoleh ke salah satu lorong. Di sana, ia melihat sosok yang familir—Larissa. Wanita itu berdiri tidak jauh, mengenakan mini dress hitam yang elegan, dengan senyum liciknya masih melekat di wajah.
Saira menegang. “Mas Dava ....”
Dava yang menyadari perubahan ekspresi Saira mengikuti arah tatapannya. Saat matanya menangkap sosok Larissa, ekspresi pria itu berubah gelap.
Larissa melangkah mendekat. “Oh, kebetulan sekali. Aku tidak menyangka akan bertemu kalian di sini.”
Dava langsung berdiri di depan Saira, seolah melindungi Saira agar tidak berhadapan langsung dengan wanita di depannya. “Apa yang kamu inginkan, Larissa?”
Larissa tersenyum, tapi tatapannya penuh makna. “Aku hanya ingin memastikan Saira baik-baik saja. Kamu tahu, kehidupan pernikahan bisa sangat melelahkan.”
Saira mengepalkan tangannya. “Saya tidak butuh perhatian darimu.”
“Oh, benarkah?” Larissa melirik Dava. “Dava, kamu masih menyimpan cincin itu?”
Dada Saira langsung terasa sesak. Cincin apa?
Dava menegang, rahangnya semakin mengeras. “Itu bukan urusanmu.”
Larissa tertawa kecil. “Kamu selalu sulit ditebak, Dava.” Ia lalu menatap Saira. “Aku akan menunggu kapan kamu menyerah.”
Setelahnya wanita itu berbalik dan pergi, meninggalkan keduanya dalam kebisuan yang mencekam. Saira menatap Dava dengan ekspresi penuh pertanyaan. “Cincin apa yang dia maksud?”
Dava tidak langsung menjawab. Ia hanya menggenggam troli lebih erat. “Ayo pulang!”
Saira mengangguk, meski dalam hati, ia tahu jawabannya tidak akan sederhana. Dan ia semakin yakin bahwa rahasia mengenai Larisaa jauh lebih besar dari yang ia bayangkan.
***
Sudah hampir dua minggu Saira tinggal di rumah itu. Waktu yang cukup untuk membentuk kebiasaan, tapi belum cukup lama untuk disebut rumah. Kamar yang ditempatinya selalu rapi. Tidak ada barang yang benar-benar ia keluarkan dari koper selain pakaian seperlunya. Selebihnya tetap tersusun seperti siap dibawa pergi kapan saja. Saira duduk di tepi ranjang, menatap lemari yang pintunya setengah terbuka, seperti sedang menimbang sesuatu yang tidak kasat mata. Menjadi istri—meski hanya di atas kertas—ternyata mengubah banyak hal kecil. Waktu tidurnya ikut bergeser. Langkah kakinya pun lebih pelan setiap kali melewati ruang kerja Dava. Nada bicaranya otomatis menyesuaikan, terbentuk begitu saja. Ia menarik napas dalam-dalam. Sejak awal, ia tahu pernikahan ini bukan tentang cinta. Ia juga tidak pernah berniat menjadikannya seperti itu. Namun beber
Larissa berdiri di depan pagar rumah itu dengan senyum yang manis. Tak lama, Saira muncul dan membuka pintu tanpa ekspresi berlebih, tatapannya tenang—seperti seseorang yang lelah dengan drama buatan wanita di depannya. “Mas Dava nggak ada,” ucapnya to the point. Larissa melirik ke dalam rumah, jelas berniat masuk. “Aku ke sini mau ngobrol sama kamu,” katanya dengan senyum yang tidak juga luntur. Saira mengangguk kecil, bukan mengalah, tapi memegang kendali penuh. “Kalau mau bicara, kita bisa ke kafe dekat sini. Jangan di rumah saya.” Larissa terdiam sejenak, tidak menyangka dirinya tidak diizinkan masuk ke rumah yang seharusnya jadi miliknya sejak awal. “Oh, takut?” ejeknya, mencoba
Kamar Dava tidak berubah, gelap dan suram. Tapi malam ini tidak terasa sama. Sudah dua jam dia menatap langit-langit, lampu tidur redup menyala di sudut ruangan. Biasanya beberapa menit saja dia sudah terlelap, tapi sejak kembali dari rumah orang tuanya—sejak malam-malam ia tidur di kasur yang sama dengan Saira—tidur sendirian menjadi hal yang aneh. Ranjangnya terasa terlalu luas, dingin dan sepi. Dava mengembuskan napas kasar, membalikkan tubuhnya untuk kesekian kalinya. “Kenapa jadi begini?” gumamnya, kesal pada dirinya sendiri. Setiap kali memejamkan mata, bayangan punggung mungil Saira—yang waktu itu tidur menghadap jauh darinya—selalu muncul. Dan entah mengapa itu membuat dadanya berdesir tidak nyaman. Dava duduk, memijat leher. Shit!&nb
Panekuk stroberi sudah tersaji di meja makan, masih hangat dan menggugah selera. Saira baru saja selesai membuat cokelat panas untuk dirinya sendiri, ketika Dava menuruni tangga dengan setelannya—jas digenggaman tangan kiri. “Mau saya buatin kopi kayak biasa?” tanya Saira. Dava meletakkan jasnya di atas kursi, lalu menggulung kemejanya sampai siku. “Tidak perlu, saya saja, Ra.” Wanita itu mengangguk pahan, sejak awal dia memang sengaja tidak membuatkan kopi untuk lelaki itu. Takut Dava berpikir yang tidak-tidak atas kebaikannya yang mungkin akan dianggap sesuatu yang lain. Juga, dia tidak ingin melewati batas kontrak mereka yang semakin hari semakin kabur saja. Saira takut terjebak oleh perasaannya sendiri. “Masakan kamu selalu enak,” komentar Dava ketika mencoba sepotong panekuk buatannya. “Sudah biasa masak?” “Sejak perusahaan Papa bangkrut, aku belajar banyak hal. Ya termasuk masak, salah satu skill bertahan hidup.”
“Kamu serius nyuruh saya ke kamar terus tidur?” omel Saira ketika tiba di kamar mereka. “Ini bahkan belum jam sepuluh malam, Mas.” Dava menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal. “Besok kita harus berangkat pagi-pagi sekali. Saya tidak mau kamu kesiangan lagi, besok senin, Ra,” ucapnya beralasan. “Saya harus ke kantor.” “Ck!” decaknya kesal. “Kamu kalau kesal begitu, saya tidur di sofa saja.” “Kenapa kesannya jadi kamu yang ngambek sih, Mas?” “Bukan begitu, Saira.” “Tahu, ah. Terserah kamu mau tidur di mana,” lanjutnya lebih kesal, lalu berbaring membelakangi Dava. “Tidur di luar sekalian, biar Mama dan Papa tahu.” Untuk pertama kalinya, Dava merasa kecil. Dia memang salah, tidak seharusnya dia datang menginterupsi obrolan dua wanita itu dengan alasan ‘sudah larut’. Dava sendiri tidak bisa mengerti mengapa kakinya melangkah ke sana dan mengetuk pintu kamar sang adik. Akhirny
Kamar luas dengan dominan warna krem itu sangat kontras dengan kamar Dava yang suram dan gelap. Saira yang baru melangkahkan kakinya masuk ke dalam, sudah dibuat takjub dengan keindahan kamar milik Davina. Rapi, cantik, dan berseni; tiga kata yang menggambarkan kamar itu. “Sini, Mbak. Duduk,” kata Davina mempersilakannya duduk di atas kasur. Saira mengikuti arahan wanita itu dan duduk di dekatnya, masih memerhatikan sekeliling kamar. “Beda banget ya sama kamar Mas Dava?” ucapnya seperti tahu isi kepala Saira. Saira langsung menoleh ke arag Davina sambil tertawa ringan. “Iya. Jauh banget.” Davina ikut tertawa, lalu memeluk bantal kecil di pangkuannya. “Kamar Mas Dava tuh mencerminkan kepribadiannya banget.” Tepatnya kepribadiannya setelah ditinggal Larissa, sambung Davina dalam hati. “Iya, lagi,” komentar Saira lalu keduanya tertawa bersama. Davina meraih kotak kecil di meja rias di sela tawanya, mengam







