MasukSaira tidak bisa tidur setelah membaca pesan Larissa di ponsel Dava. Perempuan itu jelas masih ingin mengusik kehidupan mereka. Tapi yang lebih menganggunya adalah reaksi Dava—begitu datar, seolah ancaman itu tidak berarti apa-apa.
Keesokan paginya, Saira bangun lebih awal dari biasanya. Saat ia keluar kamar, aroma kopi sudah memenuhi dapur. Dava duduk di meja makan, membaca sesuatu di laptopnya sambil menyeruput kopi hitamnya.
Saira menarik napas dalam dan berjalan mendekat. “Pagi.”
Dava hanya melirik sekilas. “Pagi.”
Saira duduk di seberangnya. Ia menatap pria itu sebelum akhirnya bertanya, “Kamu tidak akan melakukan apa pun tentang Larissa?”
Dava tidak segera menjawab. Ia menutup laptopnya dan menatap Saira dalam-dalam. “Saya sudah terbiasa dengan cara Larissa. Jika saya merespon, itu hanya akan membuatnya semakin bersemangat.”
“Jadi kamu akan membiarkannya terus menganggu kita?”
Dava menyesap kopinya sebelum berkata, “Kita?” Ia menaikkan sebelah alis. “Ini bukan masalah kamu, Saira.”
Saira mengernyit. “Kita ini pasangan, Mas, meskipun hanya kontrak. Apa pun yang melibatkan kamu, otomatis juga melibatkan saya.”
Dava menatapnya lama sebelum menghela napas. “Saya sedang mencari cara agar dia berhenti tanpa harus membuat situasi semakin rumit. Tapi itu butuh waktu.”
Saira mendesah pelan. Setidaknya Dava tidak sepenuhnya mengabaikan ancaman ini. Tapi tetap saja, sesuatu terasa aneh. Kenapa Larissa begitu yakin bahwa Dava masih bisa ia kendalikan?
***
Beberapa jam kemudian, sebuah panggilan telepon masuk ke ponsel Dava. Saira, yang sedang duduk di ruang tamu, bisa mendengar nada suara Dava berubah ketika menjawabnya.
“Ya, Ma?”
Saira menajamkan pendengarannya. Sejak menikah, ia belum banyak berinteraksi dengan Mama Rina. Jujur saja, dia sudah sangat merindukan kehangatan dari kedua orang tua Dava.
“Hari ini?” Dava melirik jam tangannya. “Dava sibuk.”
Saira bisa mendengar suara wanita di seberang telepon berbicara cukup panjang sebelum akhirnya Dava mendesah. “Baiklah, Dava akan datang.”
Begitu panggilan berakhir, Dava melemparkan ponselnya ke sofa dan menatap Saira. “Ikut saya ke rumah orang tua saya.”
Saira terkejut. “Sekarang? Kenapa tiba-tiba?”
Dava berdiri dan meraih kunci mobil. “Mama ingin bertemu. Dan karena kita sudah menikah, kamu juga harus ikut.”
Saira menahan perasaan senangnya agar tidak membuat Dava semakin kesal. Dia senang sekali karena akhirnya bisa bertemu pasangan favoritnya.
***
Ketika mereka tiba di kediaman Keluarga Pratama, Saira bisa merasakan aura kemewahan yang begitu kuat. Rumah besar dengan taman rapi, pintu masuk yang megah, dan pelayan yang langsung membungkuk saat mereka melangkah masuk.
Begitu mereka melangkah ke ruang tamu, seorang wanita paruh baya dengan gaun elegan sudah menunggu di sofa.
“Akhirnya kalian datang juga,” ucap Mama Rina sambil berdiri dan menghampiri mereka. Tatapannya langsung tertuju ke Saira dengan binar hangat. “Saira makin cantik saja, sayang.”
Saira tersenyum sopan. “Makasih, Ma.”
Mama Rina langsung menggenggam tangan Saira erat-erat, seolah ingin menunjukkan pada Dava, “Lihat, ini menantu kesayangan Mama.”
Sekarang Mama menuntun Saira duduk di sofa. Dengan lembut, dia merapikan sedikit rambut Saira yang jatuh ke pipi, lalu menoleh ke Dava.
“Kamu jangan berdiri saja, Dava. Duduk sini di sebelah istrimu.”
Dava yang sedari tadi hanya berdiri kaku, akhirnya duduk dengan gerakan enggan. Jarak antara dia dan Saira? Jelas seperti dua benua. Tapi Mama bukan orang yang gampang dibohongi.
“Kalian ini pasangan baru, masa duduk kayak musuhan begini?” goda Mama sambil mendorong bahu Dava pelan. “Dekatan dong.”
Dava menarik napas, lalu akhirnya bergerak sedikit—cukup untuk membuat lutut mereka bersentuhan. Sentuhan kecil itu membuat detak jantung Saira naik drastis. Tapi dia berusaha terlihat tenang. Sementara Dava? Ekspresinya tetap datar, tapi tangannya yang mengepal di pangkuan.
“Kalian kenapa nggak honeymoon dulu? Kemarin juga Mama dengar ternyata kalian langsung pulang, nggak menginap dulu di hotel,” tanya Mama Rina, tatapannya bergantian antara Dava dan Saira.
“Mas Dava kan harus handle perusahaan, Ma,” ucap Saira yang tak terpikirkan jawaban lain.
“Ya ampun, Dava bilang begitu sama kamu? Perusahaan nggak ada dia juga jalan, Ra. Papa bisa urus sementara.”
“Nanti, ya, Ma honeymoon-nya. Dava lagi ada proyek besar,” jelas Dava kali ini.
“Halah, kamu ini alasan saja,” ucap Mama melirik Dava, lalu mengenggam tangan Saira. “Dava gimana setelah menikah?”
Saira tersenyum. “Mas Dava masih sama kok kayak dulu, masih sangat perhatian, Ma. Bahkan waktu aku luka sedikit aja, dia yang obatin langsung.”
Dava menoleh pelan, menatap Saira tajam. Seolah bertanya, kapan?
Mama tertawa senang. “Dengar tuh, Dav. Istrimu memuji kamu. Mama bangga akhirnya kamu bisa jadi suami yang baik. Mama kira kamu bakal kayak orang-orangan sawah saja.”
Dava hanya mengangguk kecil, seolah tak mau memperpanjang pembicaraan. Tapi matanya masih sesekali melirik ke arah Saira dan kali ini bukan karena ingin mengintimidasi. Lebih seperti ... menahan sesuatu.
“Ngomong-ngomong, malam ini kalian menginap di sini, ya,” lanjut Mama.
“Hah?” Saira dan Dava nyaris serempak.
“Mama sudah bilang sama Mbak Yuyun buat siapin kamar Dava yang dulu buat kalian.”
Saira nyaris tersedak napas. “Kamar Mas Dava?”
“Iya, Sayang” kata Mama disertai senyum kecil.
Dava langsung berdiri. “Ma, kita sebenarnya cuma—”
“Cuma apa?” potong Mama tajam seperti tahu apa yang akan dikatakan putranya.
Dava terdiam, mana bisa dia membantah mamanya. Dan untuk pertama kalinya, Saira melihat pria itu kalah telak oleh mamanya sendiri.
“Kami menginap, Ma,” jawab Saira cepat.
Dava menatap Saira kaget. Tapi Saira membalas dengan lirikan penuh kemenangan.
Mama akhirnya tersenyum puas. “Bagus. Kalau gitu sekalian dua malam saja.”
Dava sudah menduga hal ini akan terjadi, ia hanya bisa menghela napas tanpa bisa menolak.
Tak lama kemudian, pelayan datang mengantar mereka ke kamar. Dan saat pintu kamar tertutup, satu ranjang terpampang nyata di depan sana. Udara menegang. Dan dua orang dewasa terjebak dalam peran yang makin sulit dibedakan dari kenyataan.
“Jangan senyum-senyum. Kamu sengaja, ya?” Dava menatap Saira curiga.
Saira menyengir. “Apa? Saya cuma istri baik yang nggak mau ngecewain Mama mertua.”
Dava mendengus. “Ini bukan rencana yang bagus.”
“Tapi kamu belum kabur, berarti kamu juga nggak benci, kan?” balasnya tak mau kalah. “Memangnya kamu bisa membantah ucapan Mama?”
Mata mereka bertemu. Lama. Lalu ...
“Saya tidur di sofa,” gumam Dava sambil mengambil bantal.
Tapi sebelum dia sempat berjalan lebih jauh, Saira berseru. “Sofa sempit, ranjang jauh lebih luas. Kita nggak bakal sentuhan juga, kan?”
Dava berhenti. Menoleh. “Kamu makin lancang, ya?”
Saira mendekat, lalu duduk santai di ranjang. “Saya cuma ngasih tahu kamu, tidur di ranjang lebih nyaman. Kalau kamu tetap mau tidur di sofa, silakan.”
Dava memilih diam, tak menjawab. Lalu mencoba memejamkan matanya, mengabaikan Saira yang masih terduduk di atas ranjang.
***
Sudah hampir dua minggu Saira tinggal di rumah itu. Waktu yang cukup untuk membentuk kebiasaan, tapi belum cukup lama untuk disebut rumah. Kamar yang ditempatinya selalu rapi. Tidak ada barang yang benar-benar ia keluarkan dari koper selain pakaian seperlunya. Selebihnya tetap tersusun seperti siap dibawa pergi kapan saja. Saira duduk di tepi ranjang, menatap lemari yang pintunya setengah terbuka, seperti sedang menimbang sesuatu yang tidak kasat mata. Menjadi istri—meski hanya di atas kertas—ternyata mengubah banyak hal kecil. Waktu tidurnya ikut bergeser. Langkah kakinya pun lebih pelan setiap kali melewati ruang kerja Dava. Nada bicaranya otomatis menyesuaikan, terbentuk begitu saja. Ia menarik napas dalam-dalam. Sejak awal, ia tahu pernikahan ini bukan tentang cinta. Ia juga tidak pernah berniat menjadikannya seperti itu. Namun beber
Larissa berdiri di depan pagar rumah itu dengan senyum yang manis. Tak lama, Saira muncul dan membuka pintu tanpa ekspresi berlebih, tatapannya tenang—seperti seseorang yang lelah dengan drama buatan wanita di depannya. “Mas Dava nggak ada,” ucapnya to the point. Larissa melirik ke dalam rumah, jelas berniat masuk. “Aku ke sini mau ngobrol sama kamu,” katanya dengan senyum yang tidak juga luntur. Saira mengangguk kecil, bukan mengalah, tapi memegang kendali penuh. “Kalau mau bicara, kita bisa ke kafe dekat sini. Jangan di rumah saya.” Larissa terdiam sejenak, tidak menyangka dirinya tidak diizinkan masuk ke rumah yang seharusnya jadi miliknya sejak awal. “Oh, takut?” ejeknya, mencoba
Kamar Dava tidak berubah, gelap dan suram. Tapi malam ini tidak terasa sama. Sudah dua jam dia menatap langit-langit, lampu tidur redup menyala di sudut ruangan. Biasanya beberapa menit saja dia sudah terlelap, tapi sejak kembali dari rumah orang tuanya—sejak malam-malam ia tidur di kasur yang sama dengan Saira—tidur sendirian menjadi hal yang aneh. Ranjangnya terasa terlalu luas, dingin dan sepi. Dava mengembuskan napas kasar, membalikkan tubuhnya untuk kesekian kalinya. “Kenapa jadi begini?” gumamnya, kesal pada dirinya sendiri. Setiap kali memejamkan mata, bayangan punggung mungil Saira—yang waktu itu tidur menghadap jauh darinya—selalu muncul. Dan entah mengapa itu membuat dadanya berdesir tidak nyaman. Dava duduk, memijat leher. Shit!&nb
Panekuk stroberi sudah tersaji di meja makan, masih hangat dan menggugah selera. Saira baru saja selesai membuat cokelat panas untuk dirinya sendiri, ketika Dava menuruni tangga dengan setelannya—jas digenggaman tangan kiri. “Mau saya buatin kopi kayak biasa?” tanya Saira. Dava meletakkan jasnya di atas kursi, lalu menggulung kemejanya sampai siku. “Tidak perlu, saya saja, Ra.” Wanita itu mengangguk pahan, sejak awal dia memang sengaja tidak membuatkan kopi untuk lelaki itu. Takut Dava berpikir yang tidak-tidak atas kebaikannya yang mungkin akan dianggap sesuatu yang lain. Juga, dia tidak ingin melewati batas kontrak mereka yang semakin hari semakin kabur saja. Saira takut terjebak oleh perasaannya sendiri. “Masakan kamu selalu enak,” komentar Dava ketika mencoba sepotong panekuk buatannya. “Sudah biasa masak?” “Sejak perusahaan Papa bangkrut, aku belajar banyak hal. Ya termasuk masak, salah satu skill bertahan hidup.”
“Kamu serius nyuruh saya ke kamar terus tidur?” omel Saira ketika tiba di kamar mereka. “Ini bahkan belum jam sepuluh malam, Mas.” Dava menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal. “Besok kita harus berangkat pagi-pagi sekali. Saya tidak mau kamu kesiangan lagi, besok senin, Ra,” ucapnya beralasan. “Saya harus ke kantor.” “Ck!” decaknya kesal. “Kamu kalau kesal begitu, saya tidur di sofa saja.” “Kenapa kesannya jadi kamu yang ngambek sih, Mas?” “Bukan begitu, Saira.” “Tahu, ah. Terserah kamu mau tidur di mana,” lanjutnya lebih kesal, lalu berbaring membelakangi Dava. “Tidur di luar sekalian, biar Mama dan Papa tahu.” Untuk pertama kalinya, Dava merasa kecil. Dia memang salah, tidak seharusnya dia datang menginterupsi obrolan dua wanita itu dengan alasan ‘sudah larut’. Dava sendiri tidak bisa mengerti mengapa kakinya melangkah ke sana dan mengetuk pintu kamar sang adik. Akhirny
Kamar luas dengan dominan warna krem itu sangat kontras dengan kamar Dava yang suram dan gelap. Saira yang baru melangkahkan kakinya masuk ke dalam, sudah dibuat takjub dengan keindahan kamar milik Davina. Rapi, cantik, dan berseni; tiga kata yang menggambarkan kamar itu. “Sini, Mbak. Duduk,” kata Davina mempersilakannya duduk di atas kasur. Saira mengikuti arahan wanita itu dan duduk di dekatnya, masih memerhatikan sekeliling kamar. “Beda banget ya sama kamar Mas Dava?” ucapnya seperti tahu isi kepala Saira. Saira langsung menoleh ke arag Davina sambil tertawa ringan. “Iya. Jauh banget.” Davina ikut tertawa, lalu memeluk bantal kecil di pangkuannya. “Kamar Mas Dava tuh mencerminkan kepribadiannya banget.” Tepatnya kepribadiannya setelah ditinggal Larissa, sambung Davina dalam hati. “Iya, lagi,” komentar Saira lalu keduanya tertawa bersama. Davina meraih kotak kecil di meja rias di sela tawanya, mengam







