MasukSuasana di dalam mobil terasa mencekam sepanjang perjalan pulang. Saira masih memikirkan pertemuannya dengan Larissa, sementara Dava tetap fokus menyetir, ekspresinya masih saja sulit ditebak.
Saira menggigit bibirnya. Ia ingin bertanya lebih jauh tentang cincin yang disebutkan Larissa, tetapi ia tahu Dava bukan tipe pria yang akan menjawab pertanyaan dengan mudah. Setelah beberapa menit berlalu dalam keheningan, ia akhirnya tidak bisa menahan diri.
“Mas,” panggilnya pelan.
“Hm?”
“Cincin yang Larissa bicarakan ... itu cincin apa?”
Dava tidak langung menjawab. Tangannya tetap erat menggenggam setir, seolah sedang menimbang-nimbang apakah ia akan menjawab atau tidak. Setelah beberapa detik, ia akhirnya membuka mulut.
“Itu bukan urusanmu.”
Saira menghela napas, menahan rasa frustrasi. “Saya istri kamu, Mas. Setidaknya selama setahun ini. Jika sesuatu dari masa lalu kamu bisa memengaruhi kehidupan saya, maka saya berhak tahu.”
Dava meliriknya sekilas sebelum kembali menatap jalan. “Cincin itu ... sesuatu yang sudah saya simpan sejak lama. Itu tidak ada hubungannya denganmu.”
Saira mencibir. “Kalau tidak ada hubungannya dengan saya, kenapa Larissa membicarakannya di depan saya?”
Dava mendesah. “Karena dia suka bermain drama, dan kamu terlalu mudah terpancing.”
“Saya nggak akan terpancing kalau dia tidak mengusik ketenangan saya, Mas” Saira membantah cepat. “Kamu pikir enak hidup dihantui seperti ini?”
Dava tidak menjawab. Keheningan kembali menyelimuti mereka sampai mobil berhenti di depan rumah.
Begitu masuk ke dalam rumah, Dava langsung melepas jas dan melemparnya ke sofa. Saira masih berdiri di dekat pintu, menatapnya dengan ekspresi penuh pertanyaan.
“Apa kamu benar-benar nggak akan memberi tahu saya?” tanya Saira, tangannya terlipat di depan dada.
Dava mengusap wajahnya, tampak lelah. “Saya tidak suka membahas masa lalu.”
“Tapi saya ingin tahu. Bukankah kita pasangan suami istri, setidaknya dalam kontrak?”
Dava menatapnya tajam. “Kamu benar-benar ingin tahu?”
Saira mengangguk mantap.
Dava menghela napas panjang sebelum berkata, “Saya dulu bertunangan dengan Larissa. Cincin itu miliknya.”
Saira membeku. Ia sudah menduga ada sesuatu di antara mereka, tetapi tetap saja mendengarnya langsung membuat dadanya ... entah mengapa sedikit sesak.
“Lalu ... kenapa kamu masih menyimpannya?” tanyanya pelan.
Dava meneguk airnya sebelum menjawab, “Karena saya tidak sempat mengembalikannya. Dan setelah semuanya berakhir, saya tidak peduli lagi.”
Saira terdiam. Ia ingin percaya pada kata-kata Dava, tapi perasaannya berkata lain. Sejujurnya, masih banyak tanya yang ingin ia utarakan, tapi ia tahu Dava sudah terlalu lelah. Bisa-bisa lelaki itu akan meledak jika ia tanya lebih banyak.
***
Malam itu, Saira gelisah. Pikirannya dipenuhi dengan berbagai pertanyaan yang belum terjawab. Kenapa Dava masih menyimpan cincin itu? Jika Larissa memang meninggalkannya, kenapa sekarang dia kembali?
Penasaran, Saira keluar dari kamar dan berjalan ke ruang kerja Dava. Ia ragu sejenak sebelum mendorong pintu yang ternyata tidak dikunci itu. Matanya langsung tertuju pada sebuah kotak kecil berwarna hitam di atas meja. Dengan tangan gemetar, ia membuka kotak itu dan melihat cincin berlian yang sangat indah. Tapi yang membuatnya terkejut bukan hanya itu. Di dalam kotak itu, ada secarik kertas kecil bertuliskan, “Maafkan aku.”
Saira menahan napas. Apa ini dari Larissa? Jika benar, kenapa Dava masih menyimpannya?
“Apa yang kamu lakukan di sini?” Suara dingin Dava membuatnya tersentak. Ia menoleh dan melihat pria itu berdiri di ambang pintu dengan ekspresi tajam.
Mampus! Aku ketahuan.
Dava melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya. Suasananya begitu sunyi hingga Saira bisa mendengar detak jantungnya sendiri.
“Saya tanya sekali lagi,” ucapnya dengan suara rendah. “ Apa yang kamu lakukan di sini?”
Saira menggenggam ujuang bajunya, mencoba menenangkan diri. “Saya hanya ingin tahu. Saya tidak bisa tidur karena ... penasaran.”
Dava menatapnya dalam, lalu melirik kotak cincin di tangannya. “Penasaran?” Ia tertawa kecil, tapi tanpa humor. “Atau kamu tidak percaya pada perkataan saya tadi?”
Saira mendongak. “Kamu sendiri yang tidak pernah menjelaskan apa pun kepada saya, Mas! Bagaimana saya bisa percaya kalau kamu selalu menutup diri?”
Dava berjalan mendekat, membuat Saira mundur hingga punggungnya menyentuh meja.
“Jadi, kamu pikir saya masih peduli pada Larissa?” tanyanya, suaranya semakin dalam.
Saira menggigit bibir. “Saya tidak tahu, Mas, cuma kamu yang tahu itu. Tapi saya hanya ingin menemukan kebenaran semua ini untuk bisa menentukan langkah apa yang perlu aku lakukan.”
Dava menatapnya lama sebelum akhirnya mengulurkan tangan dan mengambil kotak itu dari tangannya.
“Cincin ini bukan hanya milik Larissa,” katanya pelan. “Ini cincin yang seharusnya saya pakai saat menikah dengannya. Tapi pernikahan itu tidak pernah terjadi. Tidak akan pernah.”
“Kenapa?” bisik Saira.
Dava tersenyum miring. “Karena dia meninggalkan saya.”
Jantung Saira seolah berhenti berdetak. “Larissa ... meninggalkan kamu?”
Dava mengangguk. “Di hari pernikahan kami, dia menghilang. Tidak ada kabar, tidak ada penjelasan. Semua orang menunggu, termasuk saya, tetapi dia tidak pernah datang. Hanya cincin itu yang datang bersama pesan singkat di dalamnya.”
Saira terpaku. Ia tidak menyangka di balik dikap dinginnya, Dava menyimpan luka sedalam ini.
“Dan sekarang dia kembali?” tanya Saira, suaranya nyaris bergetar. “Untuk apa?”
Dava menatap cincin itu lama sebelum akhirnya berkata, “Untuk mengambil sesuatu yang bukan miliknya lagi.”
Saira menelan ludah. Ada begitu banyak pertanyaan yang ingin ia ajukan, tapi sebelum ia sempat berbicara, Dava menyimpan kembali cincin itu ke dalam laci dan menatapnya dengan serius.
“Saya tidak ingin membicarakan ini lagi,” katanya tegas. “Dan saya tidak ingin kamu menyentuh barang-barang milik saya tanpa izin lagi.”
Saira menggigit bibirnya, tetapi ia mengangguk. Ia tahu Dava sedang berada di ambang batas kesabarannya.
Saat ia berbalik untuk pergi, Dava tiba-tiba berkata, “Saira.”
Saira berhenti, lalu menoleh.
Dava menatapnya dalam. “Kalau saya memberitahumu segalanya ... apa kamu akan tetap tinggal?”
Saira tertawa hambar. “Mas ngomong apa, sih? Saya akan tetap tinggal sampai kontraknya berakhir.”
Bukan itu jawaban yang Dava inginkan, tapi jawaban itu yang paling benar mengingat kondisi mereka saat ini. Apa yang kamu harapkan sih, Dav? Kenapa tiba-tiba jadi ngelantur begini? Sadar, Dava! Pernikahan sesungguhnya hanya sebuah kemustahilan untukmu.
Dia menatap Saira, lalu berkata pelan. “Iya, memang seharusnya seperti itu kan? Bayaran atas pernikahan ini kan tidak murah.”
Saira tidak tahu harus menjawab apa. Kenapa harus bawa-bawa itu? Aku jadi nggak mau bersimpati sama kamu, Mas! Mulutmu memang nggak pernah disekolahin atau bagaimana, sih?!
Dan sebelum ia bisa membalas, layar ponsel Dava yang tergeletak di meja menyala. Sebuah pesan baru muncul.
“Kamu bisa mencoba menjauh, tapi aku tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja, Dava.”
Larissa. Itu pasti dari wanita itu. Saira menahan napas.
***
Sudah hampir dua minggu Saira tinggal di rumah itu. Waktu yang cukup untuk membentuk kebiasaan, tapi belum cukup lama untuk disebut rumah. Kamar yang ditempatinya selalu rapi. Tidak ada barang yang benar-benar ia keluarkan dari koper selain pakaian seperlunya. Selebihnya tetap tersusun seperti siap dibawa pergi kapan saja. Saira duduk di tepi ranjang, menatap lemari yang pintunya setengah terbuka, seperti sedang menimbang sesuatu yang tidak kasat mata. Menjadi istri—meski hanya di atas kertas—ternyata mengubah banyak hal kecil. Waktu tidurnya ikut bergeser. Langkah kakinya pun lebih pelan setiap kali melewati ruang kerja Dava. Nada bicaranya otomatis menyesuaikan, terbentuk begitu saja. Ia menarik napas dalam-dalam. Sejak awal, ia tahu pernikahan ini bukan tentang cinta. Ia juga tidak pernah berniat menjadikannya seperti itu. Namun beber
Larissa berdiri di depan pagar rumah itu dengan senyum yang manis. Tak lama, Saira muncul dan membuka pintu tanpa ekspresi berlebih, tatapannya tenang—seperti seseorang yang lelah dengan drama buatan wanita di depannya. “Mas Dava nggak ada,” ucapnya to the point. Larissa melirik ke dalam rumah, jelas berniat masuk. “Aku ke sini mau ngobrol sama kamu,” katanya dengan senyum yang tidak juga luntur. Saira mengangguk kecil, bukan mengalah, tapi memegang kendali penuh. “Kalau mau bicara, kita bisa ke kafe dekat sini. Jangan di rumah saya.” Larissa terdiam sejenak, tidak menyangka dirinya tidak diizinkan masuk ke rumah yang seharusnya jadi miliknya sejak awal. “Oh, takut?” ejeknya, mencoba
Kamar Dava tidak berubah, gelap dan suram. Tapi malam ini tidak terasa sama. Sudah dua jam dia menatap langit-langit, lampu tidur redup menyala di sudut ruangan. Biasanya beberapa menit saja dia sudah terlelap, tapi sejak kembali dari rumah orang tuanya—sejak malam-malam ia tidur di kasur yang sama dengan Saira—tidur sendirian menjadi hal yang aneh. Ranjangnya terasa terlalu luas, dingin dan sepi. Dava mengembuskan napas kasar, membalikkan tubuhnya untuk kesekian kalinya. “Kenapa jadi begini?” gumamnya, kesal pada dirinya sendiri. Setiap kali memejamkan mata, bayangan punggung mungil Saira—yang waktu itu tidur menghadap jauh darinya—selalu muncul. Dan entah mengapa itu membuat dadanya berdesir tidak nyaman. Dava duduk, memijat leher. Shit!&nb
Panekuk stroberi sudah tersaji di meja makan, masih hangat dan menggugah selera. Saira baru saja selesai membuat cokelat panas untuk dirinya sendiri, ketika Dava menuruni tangga dengan setelannya—jas digenggaman tangan kiri. “Mau saya buatin kopi kayak biasa?” tanya Saira. Dava meletakkan jasnya di atas kursi, lalu menggulung kemejanya sampai siku. “Tidak perlu, saya saja, Ra.” Wanita itu mengangguk pahan, sejak awal dia memang sengaja tidak membuatkan kopi untuk lelaki itu. Takut Dava berpikir yang tidak-tidak atas kebaikannya yang mungkin akan dianggap sesuatu yang lain. Juga, dia tidak ingin melewati batas kontrak mereka yang semakin hari semakin kabur saja. Saira takut terjebak oleh perasaannya sendiri. “Masakan kamu selalu enak,” komentar Dava ketika mencoba sepotong panekuk buatannya. “Sudah biasa masak?” “Sejak perusahaan Papa bangkrut, aku belajar banyak hal. Ya termasuk masak, salah satu skill bertahan hidup.”
“Kamu serius nyuruh saya ke kamar terus tidur?” omel Saira ketika tiba di kamar mereka. “Ini bahkan belum jam sepuluh malam, Mas.” Dava menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal. “Besok kita harus berangkat pagi-pagi sekali. Saya tidak mau kamu kesiangan lagi, besok senin, Ra,” ucapnya beralasan. “Saya harus ke kantor.” “Ck!” decaknya kesal. “Kamu kalau kesal begitu, saya tidur di sofa saja.” “Kenapa kesannya jadi kamu yang ngambek sih, Mas?” “Bukan begitu, Saira.” “Tahu, ah. Terserah kamu mau tidur di mana,” lanjutnya lebih kesal, lalu berbaring membelakangi Dava. “Tidur di luar sekalian, biar Mama dan Papa tahu.” Untuk pertama kalinya, Dava merasa kecil. Dia memang salah, tidak seharusnya dia datang menginterupsi obrolan dua wanita itu dengan alasan ‘sudah larut’. Dava sendiri tidak bisa mengerti mengapa kakinya melangkah ke sana dan mengetuk pintu kamar sang adik. Akhirny
Kamar luas dengan dominan warna krem itu sangat kontras dengan kamar Dava yang suram dan gelap. Saira yang baru melangkahkan kakinya masuk ke dalam, sudah dibuat takjub dengan keindahan kamar milik Davina. Rapi, cantik, dan berseni; tiga kata yang menggambarkan kamar itu. “Sini, Mbak. Duduk,” kata Davina mempersilakannya duduk di atas kasur. Saira mengikuti arahan wanita itu dan duduk di dekatnya, masih memerhatikan sekeliling kamar. “Beda banget ya sama kamar Mas Dava?” ucapnya seperti tahu isi kepala Saira. Saira langsung menoleh ke arag Davina sambil tertawa ringan. “Iya. Jauh banget.” Davina ikut tertawa, lalu memeluk bantal kecil di pangkuannya. “Kamar Mas Dava tuh mencerminkan kepribadiannya banget.” Tepatnya kepribadiannya setelah ditinggal Larissa, sambung Davina dalam hati. “Iya, lagi,” komentar Saira lalu keduanya tertawa bersama. Davina meraih kotak kecil di meja rias di sela tawanya, mengam







