Mag-log inPikiran Citra masih panas mendidih akibat lelang harga diri di meja makan tadi saat sebuah pesan singkat dari Damar memaksanya melangkah menuju lantai gym.
Langkah kaki Citra bergema di atas lantai matras hitam yang sunyi. Aroma karet, keringat yang menguap, dan udara dingin AC sentral menyambutnya.
Di tengah ruangan, Damar Langit berdiri mematung di depan samsak tinju. Ia tidak sedang memukul. Ia hanya menunggu.
Dam
Pagi di Petamburan berjalan lambat, seolah memberi jeda bagi Citra Melati untuk bernapas setelah maraton emosi bersama Raka kemarin. Tidak ada dering telepon, tidak ada notifikasi saham, hanya suara sutil beradu dengan wajan di dapur sempit.Citra duduk di lantai, melipat tumpukan baju yang baru diangkat dari jemuran. Di sampingnya, Ibu Ayu sedang menyisir rambut yang mulai memutih, senyum jahil tersungging di bibirnya."Jadi, nanti malam giliran siapa, Nduk? Jadwalmu kok kayak dokter spesialis, padat merayap."Citra mendengus, melempar kaos oblong ke tumpukan. "Giliran Pak Damar, Bu. Si tukang pukul."Mata Ibu Ayu berbinar. "Oalah, yang badannya tegap itu? Yang kalau jalan tanahnya ikut getar? Gagah ya, Nduk. Kayak Gatotkaca.""Ish, Ibu jangan genit. Dia itu serem, Bu. Isinya curigaan mulu.""Lho, curiga itu tandanya sayang. Tandanya takut kehilangan. Daripa
Malam merayap di langit Cikini, namun bagi Raka Pradana, waktu hanyalah deretan angka yang harus dioptimasi. Setelah satu jam penuh ketegangan biometrik di bawah kubah bintang, ia memutuskan bahwa sistem pencernaan mereka membutuhkan asupan nutrisi yang memiliki presisi setara dengan algoritma servernya.Restoran "The Lab" berdiri angkuh di kawasan Menteng. Ruangannya putih bersih, tanpa sudut tajam, dan diterangi oleh lampu LED spektrum penuh yang membuat segalanya tampak steril.Tidak ada aroma makanan yang menggoda selera; yang ada hanyalah bau ozon dan udara yang difiltrasi hingga ke partikel terkecil.Chef Marco melangkah mendekat dengan jas putih kaku tanpa noda. Di tangannya, sebuah piring kaca datar membawa sesuatu yang lebih mirip eksperimen kimia daripada makan malam."Deconstructed Opor Ayam," ucap Chef Marco dengan nada khidmat, seolah sedang membacakan teks proklamasi.
Udara di dalam kubah Planetarium Cikini mendadak terasa lebih tipis, seolah sistem ventilasi baru saja menyedot seluruh oksigen dan menyisakan ruang hampa yang dingin.Tangan kanan Citra masih tertahan di dada kiri Raka. Di bawah lapisan kemeja linen yang halus dan mahal, ia bisa merasakan sebuah mesin biologis yang sedang bekerja melampaui batas amannya.Deg-deg. Deg-deg.Iramanya liar, cepat, dan sangat bertenaga. Rasanya seperti memegang kap mesin mobil sport yang sedang dipacu di lintasan balap. Citra bisa merasakan getaran itu hingga ke ujung jemarinya yang kasar dan kapalan."Satu... seratus empat puluh bpm," bisik Citra parau. Kalkulator di kepalanya mencoba melakukan sinkronisasi, namun angka-angka itu mendadak buyar."Pak, ini bukan malfungsi lagi. Ini namanya mau meledak. Bapak perlu ke UGD sekarang."Raka tidak bergerak. Punggungnya tetap
Siulan Bastian Wijaya pagi ini terdengar lebih nyaring daripada bunyi klakson ojek pangkalan di depan gang. Ia berdiri di depan wastafel dapur "Posko Cinta", memutar-mutar kunci Vespa kuningnya dengan telunjuk sambil menunggu kopi instan buatannya sendiri larut.Wajahnya cerah, matanya berbinar, dan ada aura kemenangan yang memancar dari setiap gerak-geriknya."Cit, inget nggak badut yang semalam?" Bastian menoleh ke arah Citra Melati yang sedang mengelap meja makan. "Yang hidungnya bunyi tet-tet tiap kali lo kasih duit seribuan?"Citra tertawa kecil, tawanya lepas dan tidak tertahan. "Iya, Pak. Mana dia baper lagi pas Bapak bilang hidungnya mirip tombol bel rumah. Kasihan, Pak, dia kan cuma cari nafkah.""Tapi seru, kan? Nggak ada skrip, nggak ada sutradara. Murni chaos," Bastian menyeringai, lalu menyesap kopinya dengan gaya yang sangat santai.Elang Soerya yang duduk di sofa b
Lengket.Gula kapas berwarna merah muda itu menempel di ujung hidung Bastian Wijaya, membuatnya tampak seperti badut kelas atas yang tersesat di pasar malam. Citra Melati tertawa kecil, menyobek gumpalan arum manis miliknya sendiri yang teksturnya seperti awan sintetis."Hapus tuh, Pak. Malu-maluin CEO Media kalau ada yang motret," ujar Citra sambil menyodorkan selembar tisu kasar dari saku jaketnya.Bastian tidak mengambil tisu itu. Ia justru memajukan wajahnya, membiarkan Citra yang menyeka hidungnya."Biarin aja. Lagian nggak bakal ada yang motret," gumam Bastian. Suaranya terdengar lebih tenang, tanpa nada tinggi yang biasanya ia gunakan untuk menarik perhatian.Citra mengernyit. "Tumben. Biasanya Bapak paling panik kalau angle foto nggak estetik."Bastian merogoh saku jaket denimnya, memperlihatkan ponselnya yang masih dalam kondisi mati total.
Televisi layar datar di tengah "Posko Cinta" berkedip-kedip, memantulkan cahaya biru yang tajam ke wajah empat pria yang sedang menahan napas. Di tengah layar, sebuah roda digital dengan empat warna berbeda berputar dengan kecepatan tinggi, mengeluarkan suara tik-tik-tik yang ritmis dan menyiksa saraf.Raka Pradana memegang tabletnya dengan jempol yang siap menekan tombol stop. Wajahnya sedatar permukaan meja laboratorium, namun matanya tidak berkedip."Probabilitas kemenangan masing-masing adalah dua puluh lima persen. Algoritma ini murni acak, tidak ada bias emosional," gumam Raka.Jari Raka mengetuk layar.Roda itu melambat. Jarum digitalnya melewati warna biru tua milik Elang, bergeser pelan melewati hitam milik Damar, nyaris berhenti di hijau milik Raka, namun tersentak sekali lagi sebelum akhirnya berhenti tepat di tengah warna merah muda neon.BAS







