Share

8. Anomali Detak Jantung

Penulis: VILNOCTE
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-21 19:22:37

Dua jam pasca insiden kamar mandi, atmosfer di meja makan Penthouse Arcadia terasa lebih mencekik daripada tagihan listrik yang menunggak tiga bulan.

Pukul 08.00 pagi.

Citra berdiri kaku di samping troli makanan. Dia sudah berganti pakaian dengan seragam kerjanya, blazer hitam yang mulai tipis di bagian siku dan rok span yang membatasi gerak.

Matanya fokus pada teko jus jeruk, berusaha mengabaikan empat pasang mata empat pria berduit di depannya.

*Ting.*

Suara sendok perak beradu dengan piring porselen terdengar terlalu nyaring.

Elang Soerya duduk di ujung meja. Dia memotong croissant dengan presisi dokter bedah. Gerakannya lambat, anggun, dan penuh intimidasi.

Di sebelahnya, Bastian Wijaya sibuk memotret mangkuk oatmeal dari lima sudut berbeda. Flash ponselnya menyambar-nyambar, tapi tidak ada yang menegur.

Damar Langit duduk membelakangi dinding. Dia makan roti bakar dengan kecepatan militer, matanya terus memindai pintu masuk seolah pelayan yang membawa kopi mungkin adalah pembunuh bayaran yang menyamar.

Dan Raka Pradana... dia tidak makan.

CEO teknologi itu duduk diam. Matanya terkunci lurus ke arah Citra. Tatapannya kosong tapi tajam, persis seperti mesin pemindai harga di kasir minimarket yang sedang membaca barcode penyok.

Citra merasa kulit lehernya meremang. Dia menuang jus ke gelas Elang, tapi tangannya sedikit gemetar. Cairan oranye itu berguncang di dalam gelas kristal.

"Woy, Ka," celetuk Bastian tanpa mengalihkan mata dari layar ponsel.

"Lo kenapa sih? Dari tadi ngeliatin Citra kayak mau nelen dia idup-idup."

Bastian menurunkan ponselnya, menyeringai jahil.

"Jangan bilang lo naksir? Atau lo lagi ngayal jorok? Muka lo kayak orang lagi buffering film biru."

Gerakan pisau Elang terhenti.

"Jaga mulutmu, Bastian. Dan jaga matamu, Raka," tegur Elang dingin. Suaranya rendah, tapi cukup untuk membuat permukaan teh Earl Grey di cangkirnya bergetar.

"Tidak sopan menatap karyawan seperti itu saat makan. Kamu membuat selera makan saya hilang."

Raka tidak berkedip. Dia mengabaikan Elang sepenuhnya.

"Saya sedang menghitung," jawab Raka monoton. Nadanya datar, tanpa emosi. "Berapa lama waktu yang dibutuhkan epidermis manusia untuk kembali ke rona normal setelah mengalami vasokonstriksi ekstrem akibat suhu dingin."

Raka mengangkat garpu peraknya, menunjuk lurus ke wajah Citra.

"Pipi kiri Citra masih lebih pucat nol koma lima tingkat dibandingkan pipi kanan. Sirkulasi darahnya belum pulih total. Ini ketidakefisienan biologis yang menarik."

*Uhuk!*

Elang tersedak teh mahalnya. Dia menutup mulut dengan serbet linen, wajah bangsawannya memerah karena kaget.

Citra membeku. Jantungnya serasa copot. Kalau Elang tahu dia baru saja mandi di kamar mandi Raka karena insiden air dingin, tamatlah riwayatnya. Dia bisa dipecat, atau lebih parah, didenda karena kontaminasi silang antar unit.

*Sreeet.*

Kursi Raka berdecit nyaring di lantai marmer.

Pria itu berdiri. Tanpa permisi, dia berjalan memutari meja dan berhenti tepat di depan Citra. Aroma tubuh Raka yang steril, seperti bau ruang server ber-AC dingin, menusuk hidung Citra.

Jarak mereka terlalu dekat. Citra mundur selangkah, punggungnya menabrak troli.

"Pak Raka? Ngapain?" cicit Citra panik.

Raka mengangkat tangan kanannya. Dengan gerakan cepat namun klinis, dia menempelkan punggung tangannya ke dahi Citra.

Kulit bertemu kulit.

Hening total.

Damar Langit di ujung meja langsung tegang. Tangannya sudah meraba pisau roti di meja, matanya mengunci titik vital di leher Raka. Insting pembunuhnya menyala dalam sepersekian detik.

"Suhu permukaan normal. Tiga puluh enam koma lima derajat," gumam Raka. Matanya menatap kosong ke udara, seolah sedang membaca data yang muncul di retina matanya.

Dia menurunkan tangannya, lalu menatap manik mata Citra lekat-lekat.

"Tapi detak jantungmu melonjak lagi. Saya bisa melihat denyut nadi di lehermu. Frekuensinya seratus dua puluh per menit."

Raka memiringkan kepala, wajahnya benar-benar bingung. Polos seperti anak kecil yang bertanya kenapa api itu panas.

"Kenapa kehadiran fisik saya selalu memicu takikardia pada subjek? Apakah saya bug dalam sistem syarafmu?"

Wajah Citra memerah padam. Panas menjalar sampai ke telinga. Dia merasa seperti tikus percobaan yang sedang dibedah hidup-hidup di depan umum. Harga dirinya sebagai manajer krisis runtuh seketika.

"Bapak itu bukan bug! Bapak itu virus!"

Citra menepis tangan Raka kasar.

"Minggir! Saya mau cuci piring!"

Citra kabur ke dapur setengah berlari, meninggalkan keheningan canggung di ruang makan. Dia butuh air dingin, sabun cuci piring, dan kewarasan yang tersisa.

***

Beberapa saat kemudian, di ruang server yang gelap dan dingin Unit 04.

Damar Langit duduk di depan deretan monitor yang berkedip biru. Dia sedang memutar ulang adegan barusan di layar tablet militer-nya.

Dia menekan tombol jeda.

Gambar di layar membeku tepat saat tangan Raka menyentuh dahi Citra.

Alis Damar berkerut dalam. Tangannya merogoh saku, meremas bungkus permen karet Yosan yang dia pungut semalam. Bunyi kresek plastik itu terdengar nyaring di ruangan kedap suara ini.

"Sentuhan fisik tanpa ancaman..." gumam Damar berat.

Ada rasa tidak suka yang aneh merayap di dadanya. Rasa tidak suka yang tidak ada hubungannya dengan protokol keamanan atau ancaman fisik. Itu adalah insting purba. Sesuatu yang terancam diambil darinya.

Bagi Damar, perasaan asing itu adalah ancaman terbesar dari semuanya.

Jari-jarinya bergerak cepat di atas keyboard mekanikal. Dia mengetikkan satu perintah baru di terminal keamanannya.

*Target: Raka Pradana. Status: Potensi Gangguan.*

*Tingkatkan level pengawasan pada Subjek Citra Melati. Prioritas: Alpha.*

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Nona Hemat di Sarang Konglomerat   11. Hantu Oranye di Balik Lensa Termal

    Kaki bangku kayu itu menghantam lantai marmer dengan kasar. Citra Melati tidak berteriak. Dia bukan tipe wanita di film horor yang menjerit histeris saat tahu ada pembunuh di dalam lemari.Dia adalah wanita Petamburan yang terlatih menghadapi debt collector.Dia naik ke atas bangku. Tangan kanannya mencengkeram jeruji ventilasi AC sentral di langit-langit dapur. Wajahnya didekatkan ke celah-celah besi berdebu itu.Matanya menyipit.Di sana, tersembunyi di antara kegelapan saluran udara, ada benda kecil berbentuk bulat. Lensa. Kecil. Hitam. Dengan satu titik merah redup yang berkedip pelan.*Bip.*"Brengsek," desis Citra.Kalkulator di kepalanya langsung menyala. Pasal 31 UU ITE. Intersepsi ilegal. Denda delapan ratus juta rupiah. Angka yang seksi. Tapi lawannya adalah Damar Langit, orang yang punya tim legal sekelas monster. Menuntut Damar sama saja bunuh diri finansial.Citra turun dari bangku. Dia tidak akan menuntut lewat jalur hukum. Dia akan menuntut lewat jalur premanisme verbal

  • Nona Hemat di Sarang Konglomerat   10. Serbuk Kebahagiaan di Dapur Elit

    "Satu juta setengah."Citra Melati menatap nanar seekor Lobster Thermidor yang masih mengepul di atas troli perak. Otaknya bukan melihat makanan mewah, tapi token listrik 900 VA yang bisa menyala nonstop selama enam bulan.Pramusaji hendak menarik kembali piring itu. "Maaf, Mbak. Tuan Bastian menolak makan. Sesuai SOP, makanan lewat 30 menit harus dibuang."*Dibuang?*Insting kemiskinan Citra menjerit. Dia hampir saja minta dibungkus untuk dipanaskan di magic com kosan, tapi suara sirine memekakkan telinga memotong niatnya.*NGIIING... NGIIING...*Bukan alarm kebakaran. Itu suara rekaman Bastian Wijaya yang berteriak "HELP! EMERGENCY!" lewat interkom. Citra memijat pelipis. Dia meninggalkan lobster tragis itu dan berjalan cepat ke ruang tengah.***Bastian tergeletak dramatis di sofa kulit Chesterfield. Satu tangan terkulai ke lantai, wajah dibenamkan ke bantal bulu angsa. Di meja kopi, botol kosong Artisan Cold Brew - Extra Strong menjadi saksi bisu kebodohan manusia."Citra..." rint

  • Nona Hemat di Sarang Konglomerat   9. Daki Miliarder

    Pukul 23.45.Aroma lavender mahal dari *diffuser* otomatis di lorong Penthouse malam ini kalah telak. Ia mati kutu, tercekik oleh bau yang jauh lebih agresif, pedas, dan merakyat.Di pantry yang sunyi, Citra Melati sedang melakukan operasi penyelamatan diri sendiri. Dia berdiri di depan pantulan kaca oven *built-in* yang gelap, meringis sambil mengoleskan gel lengket berwarna putih keruh ke leher.Bau methyl salicylate dosis tinggi langsung menguar. Baunya tajam, menusuk hidung, jenis aroma yang biasa tercium di bus malam antar-provinsi atau ruang tunggu tukang urut patah tulang."Gila. Bahu rasanya kayak abis manggul beras raskin lima karung," desis Citra pelan.Ini oleh-oleh dari insiden tiga hari lalu. Damar Langit dan teknik tackle anti-terornya yang berlebihan itu sukses membuat otot trapezius Citra meradang. Citra melirik pot kaca kecil di tangannya. Isinya tinggal setengah.*Tit. Tit. Tit.*Kalkulator di kepalanya berbunyi. Harga balsam dua belas ribu. Kalau dia beli baru sebel

  • Nona Hemat di Sarang Konglomerat   8. Anomali Detak Jantung

    Dua jam pasca insiden kamar mandi, atmosfer di meja makan Penthouse Arcadia terasa lebih mencekik daripada tagihan listrik yang menunggak tiga bulan.Pukul 08.00 pagi.Citra berdiri kaku di samping troli makanan. Dia sudah berganti pakaian dengan seragam kerjanya, blazer hitam yang mulai tipis di bagian siku dan rok span yang membatasi gerak.Matanya fokus pada teko jus jeruk, berusaha mengabaikan empat pasang mata empat pria berduit di depannya.*Ting.*Suara sendok perak beradu dengan piring porselen terdengar terlalu nyaring.Elang Soerya duduk di ujung meja. Dia memotong croissant dengan presisi dokter bedah. Gerakannya lambat, anggun, dan penuh intimidasi.Di sebelahnya, Bastian Wijaya sibuk memotret mangkuk oatmeal dari lima sudut berbeda. Flash ponselnya menyambar-nyambar, tapi tidak ada yang menegur.Damar Langit duduk membelakangi dinding. Dia makan roti bakar dengan kecepatan militer, matanya terus memindai pintu masuk seolah pelayan yang membawa kopi mungkin adalah pembunuh

  • Nona Hemat di Sarang Konglomerat   7. Kalkulasi Harga Diri di Bawah Nol Derajat

    Pukul 05.45 pagi.*Sret.*Lembar koyo kedua menempel sempurna di pinggang kiri. Panasnya langsung menjalar, seolah ada setrika uap mini yang ditempelkan paksa ke kulit.Citra meringis. Pinggangnya rasanya mau patah. Ini semua gara-gara aksi heroik Damar Langit semalam yang membantingnya ke lantai marmer."Remuk. Badan gue resmi jadi kerupuk seblak," keluhnya.Masalah bertambah karena kamar mandinya sendiri sedang mogok kerja. Saluran air mampet, menciptakan kolam limbah setinggi mata kaki.Teknisi bilang suku cadangnya harus impor dari Italia. Omong kosong. Itu cuma akal-akalan manajemen gedung biar kelihatan elit, pikir Citra.Sekarang opsinya hanya satu: Numpang mandi.Unit Elang? Mustahil. Pasti sedang ritual mandi susu. Bastian? Zona bahaya, baru tidur jam tiga pagi. Damar? Masuk ke sana sama saja setor nyawa.Target terkunci: Unit 02. Raka Pradana.Menurut basis data di kepala Citra, CEO kaku itu punya jadwal lari pagi presisi militer selama empat puluh lima menit. Kamarnya pasti

  • Nona Hemat di Sarang Konglomerat   6. Pelukan di Titik Nol

    Hantaman itu datang tanpa permisi. Bahu kekar sekeras beton menabrak perut Citra dengan presisi militer.*BUGH!*Dunia Citra berputar seratus delapan puluh derajat. Punggungnya menghantam lantai marmer dingin. Napasnya dipaksa keluar dari paru-paru. Belum sempat dia mengaduh, beban seberat delapan puluh kilogram menimpanya.Damar Langit tidak sekadar menjatuhkannya. Dia melakukan teknik perisai hidup.Pria itu menindih tubuh Citra, menekan kepala gadis itu agar menempel ke lantai dengan telapak tangannya yang besar. Lutut Damar mengunci di antara kedua paha Citra. Dada bidangnya menekan dada Citra sampai gadis itu sesak napas.Wajah Damar terbenam di ceruk leher Citra. Napasnya panas dan memburu gila-gilaan."Pak! Lepasin! Berat!" Citra meronta panik. Tangannya memukul punggung jas mahal itu. "Bapak gila ya?!""DIAM!"Bentakan itu bukan nada marah. Itu suara putus asa. Suara orang yang sedang menawar nyawa pada malaikat maut."TIARAP! JANGAN BERGERAK! PECAHANNYA MENYEBAR!"Tangan Dama

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status