Home / Romansa / Nona Hemat di Sarang Konglomerat / 7. Kalkulasi Harga Diri di Bawah Nol Derajat

Share

7. Kalkulasi Harga Diri di Bawah Nol Derajat

Author: VILNOCTE
last update Last Updated: 2026-01-21 19:22:33

Pukul 05.45 pagi.

*Sret.*

Lembar koyo kedua menempel sempurna di pinggang kiri. Panasnya langsung menjalar, seolah ada setrika uap mini yang ditempelkan paksa ke kulit.

Citra meringis. Pinggangnya rasanya mau patah. Ini semua gara-gara aksi heroik Damar Langit semalam yang membantingnya ke lantai marmer.

"Remuk. Badan gue resmi jadi kerupuk seblak," keluhnya.

Masalah bertambah karena kamar mandinya sendiri sedang mogok kerja. Saluran air mampet, menciptakan kolam limbah setinggi mata kaki.

Teknisi bilang suku cadangnya harus impor dari Italia. Omong kosong. Itu cuma akal-akalan manajemen gedung biar kelihatan elit, pikir Citra.

Sekarang opsinya hanya satu: Numpang mandi.

Unit Elang? Mustahil. Pasti sedang ritual mandi susu. Bastian? Zona bahaya, baru tidur jam tiga pagi. Damar? Masuk ke sana sama saja setor nyawa.

Target terkunci: Unit 02. Raka Pradana.

Menurut basis data di kepala Citra, CEO kaku itu punya jadwal lari pagi presisi militer selama empat puluh lima menit. Kamarnya pasti kosong.

Citra menyambar handuk dan kartu akses master. Dia berjalan terpincang-pincang keluar kamar servis.

"Misi infiltrasi dimulai. Jangan sampai kena denda."

Lorong Penthouse sunyi senyap. Karpet tebal meredam langkah kakinya yang menyeret. Dia sampai di depan pintu kamar Raka. Kartu akses master di tangannya ditempelkan.

*Bip.*

Pintu terbuka. Citra menyelinap masuk seperti maling jemuran profesional.

***

Kamar mandi Raka lebih mirip laboratorium NASA daripada tempat membersihkan daki. Putih, steril, dan penuh tombol digital.

Citra mengunci pintu. Matanya menatap panel kontrol pancuran. Ada tombol *Warm*, *Hot*, dan *Sauna*.

Otot punggungnya yang kaku berteriak minta air panas. Tapi jarinya berhenti di udara.

Otak kalkulatornya menyala.

*Tit. Tit. Tit.*

Pemanas air canggih ini pasti memakan daya minimal 2500 watt. Sepuluh menit mandi setara biaya makan siangnya di warteg selama tiga hari. Belum lagi kalau Raka menagih biaya listrik di akhir bulan. Hutang delapan belas juta kemarin saja belum lunas.

"Miskin bikin mati pelan-pelan. Hemat pangkal kaya."

Citra menggeser tuas ke kiri mentok. DINGIN.

*Byuur!*

Air sedingin es menyembur dari langit-langit. Citra menggigit bibir, menahan jeritan. Rasanya seperti dipeluk beruang kutub. Napasnya tercekat. Tapi dia tidak peduli. Dingin itu gratis.

Dia mandi secepat kilat di dalam bilik kaca buram. Teknologi Smart Glass mahal yang otomatis menjadi buram saat mendeteksi hawa panas tubuh manusia.

Setidaknya, itulah teorinya.

Di luar bilik, pintu ruang ganti terbuka.

Raka Pradana masuk. Dia batal lari karena sensor jam tangannya mendeteksi kelembapan udara terlalu tinggi. Tidak efisien untuk paru-paru. Dia memutuskan sikat gigi lebih awal.

Raka berdiri di depan wastafel. Mengambil sikat gigi elektrik.

*Ngiiiing.*

Dia menyikat dengan gerakan mekanis. Matanya menatap lurus ke depan, ke arah kaca buram pembatas shower. Bagi Raka, itu tembok solid. Dia tidak tahu ada penyusup di baliknya.

Di dalam, Citra menggigil hebat.

*Tak. Tak. Tak.*

Gigi Citra beradu. Suhu tubuhnya turun drastis disiram air es. Kulitnya membeku.

Dan di sinilah bencana teknologi terjadi.

Sensor kaca buatan Jerman itu bingung. Dia mencari tanda panas tubuh manusia, tapi yang ada di dalam sana suhunya nyaris nol derajat. Sistem mengira bilik itu kosong.

*Error. No Heat Detected. Switching to Transparent Mode.*

Perlahan tapi pasti, kaca putih susu itu memudar. Menjadi bening. Sangat bening.

Raka berhenti menyikat gigi. Busa pasta gigi masih menempel di sudut bibir. Matanya tidak berkedip. Pemandangan di depannya berubah dari tembok putih menjadi layar bioskop resolusi tinggi.

Di balik kaca, Citra Melati berdiri menyamping. Basah kuyup. Penuh busa. Tanpa sehelai benang pun.

Citra menoleh karena perubahan cahaya. Mata mereka bertemu. Hanya terpisah kaca setebal satu sentimeter yang kini sebening udara.

Waktu berhenti. Gravitasi hilang. Mulut Citra menganga.

"AAAAAAA!!!"

Suaranya tidak terdengar keluar karena kaca kedap suara. Citra panik. Dia menyilangkan tangan di dada, lalu sadar itu percuma. Akhirnya dia menjatuhkan diri ke lantai, meringkuk di balik tembok keramik bawah.

Wajahnya merah padam menahan malu yang menembus ubun-ubun.

Raka tidak membuang muka. Tidak berteriak. Tidak menutup mata.

Dia justru mendekatkan wajahnya ke kaca. Matanya menyipit analitis, seperti ilmuwan mengamati bakteri langka.

Raka mengangkat pena *stylus* yang dia pegang.

*Tung. Tung.*

Dia mengetuk kaca dua kali. Wajahnya datar tanpa ekspresi. Telunjuknya menunjuk ke arah tuas air.

Mulutnya bergerak tanpa suara: *Nyalakan air panas, bodoh.*

Citra yang gemetar antara kedinginan dan keinginan membunuh, merangkak susah payah. Dia memukul tombol PANAS sekuat tenaga.

*Zzzt.*

Uap panas menyembur. Sensor mendeteksi kehidupan. Kaca kembali menjadi putih susu dalam hitungan detik.

***

Lima menit kemudian.

Citra keluar dengan jubah mandi Raka yang kepanjangan. Handuk melilit kepala. Wajahnya merah padam, siap meledak.

"Bapak!" semprotnya. "Mata Bapak harus dicuci pakai air keras! Bapak ngintip saya! Itu pelecehan! Saya laporin ke Komnas HAM!"

Raka duduk tenang di kursi beludru, sudah rapi dengan kemeja turtleneck hitam.

"Koreksi. Saya tidak mengintip. Saya melakukan aktivitas rutin. Kamu yang menghilangkan batasan visual karena kegagalan termostat tubuh."

Raka menatap Citra. Tatapannya kosong, tanpa rasa bersalah, tanpa nafsu.

"Kenapa mandi pakai air es? Kamu mau simulasi jadi ikan beku?"

"Saya mau hemat listrik! Siapa sangka kaca mahal Bapak sebodoh itu?"

"Itu bukan bodoh. Itu glitch," jawab Raka datar. Dia memutar tabletnya ke arah Citra. "Berdasarkan durasi paparan visual dua belas detik, saya mendapatkan data yang mengganggu."

Citra melotot. "Jangan dibahas! Lupakan! Hapus ingatan Bapak!"

"Koyo di pinggang kamu," potong Raka. Telunjuknya menunjuk pinggang Citra yang tertutup jubah.

Citra ternganga. "Hah?"

"Pemasangannya asimetris. Yang kiri lebih tinggi dua sentimeter dari yang kanan. Sudut kemiringannya tujuh derajat. Itu merusak keseimbangan visual saya. Sangat tidak efisien."

Rahang Citra jatuh ke lantai. Orang ini melihatnya telanjang bulat, dan yang dikomentari adalah posisi tempelan koyo?

"Bapak... bapak ini manusia apa kalkulator rusak? Nggak punya nafsu? Nggak punya malu?"

"Saya Raka. Nafsu tidak relevan dalam pengambilan data."

Raka meletakkan tabletnya.

"Sebagai kompensasi atas ketidaknyamanan visual saya melihat koyo miring itu, saya tawarkan kesepakatan. Saya potong utang kamu lima ratus ribu rupiah. Anggap biaya tes bug sistem keamanan."

Citra terdiam. Harga dirinya berteriak minta Raka ditampar. Tapi logika kemiskinannya berteriak lebih keras. Lima ratus ribu cuma gara-gara dilihat dua belas detik? Itu tarif yang jauh lebih mahal daripada gaji sejamnya.

Citra menarik napas panjang. Naluri pedagang pasarnya mengambil alih.

"Tujuh ratus lima puluh ribu."

Raka berpikir sejenak. Matanya bergerak ke kiri atas, menghitung probabilitas.

"Tujuh ratus ribu. Dan kamu harus pakai air hangat mulai besok. Saya tidak mau sensor saya rusak lagi."

"Sepakat."

Citra membalikkan badan, berjalan cepat keluar kamar dengan perasaan campur aduk. Antara lega utang berkurang, dan ngeri karena privasinya baru saja dihargai tujuh ratus ribu perak.

Pintu tertutup.

Raka tidak langsung kembali bekerja. Dia menatap pintu itu. Jari telunjuknya mengetuk pelipis pelan.

Di dalam kepalanya, gambar koyo miring itu memang sudah dihapus. Tapi ada satu data lain yang tanpa sadar tersimpan permanen di hard drive otaknya, menolak untuk di-delete.

Detak jantung Citra saat menjerit tadi. Frekuensinya kacau, tidak beraturan, tapi anehnya... hidup.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Nona Hemat di Sarang Konglomerat   11. Hantu Oranye di Balik Lensa Termal

    Kaki bangku kayu itu menghantam lantai marmer dengan kasar. Citra Melati tidak berteriak. Dia bukan tipe wanita di film horor yang menjerit histeris saat tahu ada pembunuh di dalam lemari.Dia adalah wanita Petamburan yang terlatih menghadapi debt collector.Dia naik ke atas bangku. Tangan kanannya mencengkeram jeruji ventilasi AC sentral di langit-langit dapur. Wajahnya didekatkan ke celah-celah besi berdebu itu.Matanya menyipit.Di sana, tersembunyi di antara kegelapan saluran udara, ada benda kecil berbentuk bulat. Lensa. Kecil. Hitam. Dengan satu titik merah redup yang berkedip pelan.*Bip.*"Brengsek," desis Citra.Kalkulator di kepalanya langsung menyala. Pasal 31 UU ITE. Intersepsi ilegal. Denda delapan ratus juta rupiah. Angka yang seksi. Tapi lawannya adalah Damar Langit, orang yang punya tim legal sekelas monster. Menuntut Damar sama saja bunuh diri finansial.Citra turun dari bangku. Dia tidak akan menuntut lewat jalur hukum. Dia akan menuntut lewat jalur premanisme verbal

  • Nona Hemat di Sarang Konglomerat   10. Serbuk Kebahagiaan di Dapur Elit

    "Satu juta setengah."Citra Melati menatap nanar seekor Lobster Thermidor yang masih mengepul di atas troli perak. Otaknya bukan melihat makanan mewah, tapi token listrik 900 VA yang bisa menyala nonstop selama enam bulan.Pramusaji hendak menarik kembali piring itu. "Maaf, Mbak. Tuan Bastian menolak makan. Sesuai SOP, makanan lewat 30 menit harus dibuang."*Dibuang?*Insting kemiskinan Citra menjerit. Dia hampir saja minta dibungkus untuk dipanaskan di magic com kosan, tapi suara sirine memekakkan telinga memotong niatnya.*NGIIING... NGIIING...*Bukan alarm kebakaran. Itu suara rekaman Bastian Wijaya yang berteriak "HELP! EMERGENCY!" lewat interkom. Citra memijat pelipis. Dia meninggalkan lobster tragis itu dan berjalan cepat ke ruang tengah.***Bastian tergeletak dramatis di sofa kulit Chesterfield. Satu tangan terkulai ke lantai, wajah dibenamkan ke bantal bulu angsa. Di meja kopi, botol kosong Artisan Cold Brew - Extra Strong menjadi saksi bisu kebodohan manusia."Citra..." rint

  • Nona Hemat di Sarang Konglomerat   9. Daki Miliarder

    Pukul 23.45.Aroma lavender mahal dari *diffuser* otomatis di lorong Penthouse malam ini kalah telak. Ia mati kutu, tercekik oleh bau yang jauh lebih agresif, pedas, dan merakyat.Di pantry yang sunyi, Citra Melati sedang melakukan operasi penyelamatan diri sendiri. Dia berdiri di depan pantulan kaca oven *built-in* yang gelap, meringis sambil mengoleskan gel lengket berwarna putih keruh ke leher.Bau methyl salicylate dosis tinggi langsung menguar. Baunya tajam, menusuk hidung, jenis aroma yang biasa tercium di bus malam antar-provinsi atau ruang tunggu tukang urut patah tulang."Gila. Bahu rasanya kayak abis manggul beras raskin lima karung," desis Citra pelan.Ini oleh-oleh dari insiden tiga hari lalu. Damar Langit dan teknik tackle anti-terornya yang berlebihan itu sukses membuat otot trapezius Citra meradang. Citra melirik pot kaca kecil di tangannya. Isinya tinggal setengah.*Tit. Tit. Tit.*Kalkulator di kepalanya berbunyi. Harga balsam dua belas ribu. Kalau dia beli baru sebel

  • Nona Hemat di Sarang Konglomerat   8. Anomali Detak Jantung

    Dua jam pasca insiden kamar mandi, atmosfer di meja makan Penthouse Arcadia terasa lebih mencekik daripada tagihan listrik yang menunggak tiga bulan.Pukul 08.00 pagi.Citra berdiri kaku di samping troli makanan. Dia sudah berganti pakaian dengan seragam kerjanya, blazer hitam yang mulai tipis di bagian siku dan rok span yang membatasi gerak.Matanya fokus pada teko jus jeruk, berusaha mengabaikan empat pasang mata empat pria berduit di depannya.*Ting.*Suara sendok perak beradu dengan piring porselen terdengar terlalu nyaring.Elang Soerya duduk di ujung meja. Dia memotong croissant dengan presisi dokter bedah. Gerakannya lambat, anggun, dan penuh intimidasi.Di sebelahnya, Bastian Wijaya sibuk memotret mangkuk oatmeal dari lima sudut berbeda. Flash ponselnya menyambar-nyambar, tapi tidak ada yang menegur.Damar Langit duduk membelakangi dinding. Dia makan roti bakar dengan kecepatan militer, matanya terus memindai pintu masuk seolah pelayan yang membawa kopi mungkin adalah pembunuh

  • Nona Hemat di Sarang Konglomerat   7. Kalkulasi Harga Diri di Bawah Nol Derajat

    Pukul 05.45 pagi.*Sret.*Lembar koyo kedua menempel sempurna di pinggang kiri. Panasnya langsung menjalar, seolah ada setrika uap mini yang ditempelkan paksa ke kulit.Citra meringis. Pinggangnya rasanya mau patah. Ini semua gara-gara aksi heroik Damar Langit semalam yang membantingnya ke lantai marmer."Remuk. Badan gue resmi jadi kerupuk seblak," keluhnya.Masalah bertambah karena kamar mandinya sendiri sedang mogok kerja. Saluran air mampet, menciptakan kolam limbah setinggi mata kaki.Teknisi bilang suku cadangnya harus impor dari Italia. Omong kosong. Itu cuma akal-akalan manajemen gedung biar kelihatan elit, pikir Citra.Sekarang opsinya hanya satu: Numpang mandi.Unit Elang? Mustahil. Pasti sedang ritual mandi susu. Bastian? Zona bahaya, baru tidur jam tiga pagi. Damar? Masuk ke sana sama saja setor nyawa.Target terkunci: Unit 02. Raka Pradana.Menurut basis data di kepala Citra, CEO kaku itu punya jadwal lari pagi presisi militer selama empat puluh lima menit. Kamarnya pasti

  • Nona Hemat di Sarang Konglomerat   6. Pelukan di Titik Nol

    Hantaman itu datang tanpa permisi. Bahu kekar sekeras beton menabrak perut Citra dengan presisi militer.*BUGH!*Dunia Citra berputar seratus delapan puluh derajat. Punggungnya menghantam lantai marmer dingin. Napasnya dipaksa keluar dari paru-paru. Belum sempat dia mengaduh, beban seberat delapan puluh kilogram menimpanya.Damar Langit tidak sekadar menjatuhkannya. Dia melakukan teknik perisai hidup.Pria itu menindih tubuh Citra, menekan kepala gadis itu agar menempel ke lantai dengan telapak tangannya yang besar. Lutut Damar mengunci di antara kedua paha Citra. Dada bidangnya menekan dada Citra sampai gadis itu sesak napas.Wajah Damar terbenam di ceruk leher Citra. Napasnya panas dan memburu gila-gilaan."Pak! Lepasin! Berat!" Citra meronta panik. Tangannya memukul punggung jas mahal itu. "Bapak gila ya?!""DIAM!"Bentakan itu bukan nada marah. Itu suara putus asa. Suara orang yang sedang menawar nyawa pada malaikat maut."TIARAP! JANGAN BERGERAK! PECAHANNYA MENYEBAR!"Tangan Dama

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status