LOGINPukul 05.45 pagi.
*Sret.*
Lembar koyo kedua menempel sempurna di pinggang kiri. Panasnya langsung menjalar, seolah ada setrika uap mini yang ditempelkan paksa ke kulit.
Citra meringis. Pinggangnya rasanya mau patah. Ini semua gara-gara aksi heroik Damar Langit semalam yang membantingnya ke lantai marmer.
"Remuk. Badan gue resmi jadi kerupuk seblak," keluhnya.
Masalah bertambah karena kamar mandinya sendiri sedang mogok kerja. Saluran air mampet, menciptakan kolam limbah setinggi mata kaki.
Teknisi bilang suku cadangnya harus impor dari Italia. Omong kosong. Itu cuma akal-akalan manajemen gedung biar kelihatan elit, pikir Citra.
Sekarang opsinya hanya satu: Numpang mandi.
Unit Elang? Mustahil. Pasti sedang ritual mandi susu. Bastian? Zona bahaya, baru tidur jam tiga pagi. Damar? Masuk ke sana sama saja setor nyawa.
Target terkunci: Unit 02. Raka Pradana.
Menurut basis data di kepala Citra, CEO kaku itu punya jadwal lari pagi presisi militer selama empat puluh lima menit. Kamarnya pasti kosong.
Citra menyambar handuk dan kartu akses master. Dia berjalan terpincang-pincang keluar kamar servis.
"Misi infiltrasi dimulai. Jangan sampai kena denda."
Lorong Penthouse sunyi senyap. Karpet tebal meredam langkah kakinya yang menyeret. Dia sampai di depan pintu kamar Raka. Kartu akses master di tangannya ditempelkan.
*Bip.*
Pintu terbuka. Citra menyelinap masuk seperti maling jemuran profesional.
***
Kamar mandi Raka lebih mirip laboratorium NASA daripada tempat membersihkan daki. Putih, steril, dan penuh tombol digital.
Citra mengunci pintu. Matanya menatap panel kontrol pancuran. Ada tombol *Warm*, *Hot*, dan *Sauna*.
Otot punggungnya yang kaku berteriak minta air panas. Tapi jarinya berhenti di udara.
Otak kalkulatornya menyala.
*Tit. Tit. Tit.*
Pemanas air canggih ini pasti memakan daya minimal 2500 watt. Sepuluh menit mandi setara biaya makan siangnya di warteg selama tiga hari. Belum lagi kalau Raka menagih biaya listrik di akhir bulan. Hutang delapan belas juta kemarin saja belum lunas.
"Miskin bikin mati pelan-pelan. Hemat pangkal kaya."
Citra menggeser tuas ke kiri mentok. DINGIN.
*Byuur!*
Air sedingin es menyembur dari langit-langit. Citra menggigit bibir, menahan jeritan. Rasanya seperti dipeluk beruang kutub. Napasnya tercekat. Tapi dia tidak peduli. Dingin itu gratis.
Dia mandi secepat kilat di dalam bilik kaca buram. Teknologi Smart Glass mahal yang otomatis menjadi buram saat mendeteksi hawa panas tubuh manusia.
Setidaknya, itulah teorinya.
Di luar bilik, pintu ruang ganti terbuka.
Raka Pradana masuk. Dia batal lari karena sensor jam tangannya mendeteksi kelembapan udara terlalu tinggi. Tidak efisien untuk paru-paru. Dia memutuskan sikat gigi lebih awal.
Raka berdiri di depan wastafel. Mengambil sikat gigi elektrik.
*Ngiiiing.*
Dia menyikat dengan gerakan mekanis. Matanya menatap lurus ke depan, ke arah kaca buram pembatas shower. Bagi Raka, itu tembok solid. Dia tidak tahu ada penyusup di baliknya.
Di dalam, Citra menggigil hebat.
*Tak. Tak. Tak.*
Gigi Citra beradu. Suhu tubuhnya turun drastis disiram air es. Kulitnya membeku.
Dan di sinilah bencana teknologi terjadi.
Sensor kaca buatan Jerman itu bingung. Dia mencari tanda panas tubuh manusia, tapi yang ada di dalam sana suhunya nyaris nol derajat. Sistem mengira bilik itu kosong.
*Error. No Heat Detected. Switching to Transparent Mode.*
Perlahan tapi pasti, kaca putih susu itu memudar. Menjadi bening. Sangat bening.
Raka berhenti menyikat gigi. Busa pasta gigi masih menempel di sudut bibir. Matanya tidak berkedip. Pemandangan di depannya berubah dari tembok putih menjadi layar bioskop resolusi tinggi.
Di balik kaca, Citra Melati berdiri menyamping. Basah kuyup. Penuh busa. Tanpa sehelai benang pun.
Citra menoleh karena perubahan cahaya. Mata mereka bertemu. Hanya terpisah kaca setebal satu sentimeter yang kini sebening udara.
Waktu berhenti. Gravitasi hilang. Mulut Citra menganga.
"AAAAAAA!!!"
Suaranya tidak terdengar keluar karena kaca kedap suara. Citra panik. Dia menyilangkan tangan di dada, lalu sadar itu percuma. Akhirnya dia menjatuhkan diri ke lantai, meringkuk di balik tembok keramik bawah.
Wajahnya merah padam menahan malu yang menembus ubun-ubun.
Raka tidak membuang muka. Tidak berteriak. Tidak menutup mata.
Dia justru mendekatkan wajahnya ke kaca. Matanya menyipit analitis, seperti ilmuwan mengamati bakteri langka.
Raka mengangkat pena *stylus* yang dia pegang.
*Tung. Tung.*
Dia mengetuk kaca dua kali. Wajahnya datar tanpa ekspresi. Telunjuknya menunjuk ke arah tuas air.
Mulutnya bergerak tanpa suara: *Nyalakan air panas, bodoh.*
Citra yang gemetar antara kedinginan dan keinginan membunuh, merangkak susah payah. Dia memukul tombol PANAS sekuat tenaga.
*Zzzt.*
Uap panas menyembur. Sensor mendeteksi kehidupan. Kaca kembali menjadi putih susu dalam hitungan detik.
***
Lima menit kemudian.
Citra keluar dengan jubah mandi Raka yang kepanjangan. Handuk melilit kepala. Wajahnya merah padam, siap meledak.
"Bapak!" semprotnya. "Mata Bapak harus dicuci pakai air keras! Bapak ngintip saya! Itu pelecehan! Saya laporin ke Komnas HAM!"
Raka duduk tenang di kursi beludru, sudah rapi dengan kemeja turtleneck hitam.
"Koreksi. Saya tidak mengintip. Saya melakukan aktivitas rutin. Kamu yang menghilangkan batasan visual karena kegagalan termostat tubuh."
Raka menatap Citra. Tatapannya kosong, tanpa rasa bersalah, tanpa nafsu.
"Kenapa mandi pakai air es? Kamu mau simulasi jadi ikan beku?"
"Saya mau hemat listrik! Siapa sangka kaca mahal Bapak sebodoh itu?"
"Itu bukan bodoh. Itu glitch," jawab Raka datar. Dia memutar tabletnya ke arah Citra. "Berdasarkan durasi paparan visual dua belas detik, saya mendapatkan data yang mengganggu."
Citra melotot. "Jangan dibahas! Lupakan! Hapus ingatan Bapak!"
"Koyo di pinggang kamu," potong Raka. Telunjuknya menunjuk pinggang Citra yang tertutup jubah.
Citra ternganga. "Hah?"
"Pemasangannya asimetris. Yang kiri lebih tinggi dua sentimeter dari yang kanan. Sudut kemiringannya tujuh derajat. Itu merusak keseimbangan visual saya. Sangat tidak efisien."
Rahang Citra jatuh ke lantai. Orang ini melihatnya telanjang bulat, dan yang dikomentari adalah posisi tempelan koyo?
"Bapak... bapak ini manusia apa kalkulator rusak? Nggak punya nafsu? Nggak punya malu?"
"Saya Raka. Nafsu tidak relevan dalam pengambilan data."
Raka meletakkan tabletnya.
"Sebagai kompensasi atas ketidaknyamanan visual saya melihat koyo miring itu, saya tawarkan kesepakatan. Saya potong utang kamu lima ratus ribu rupiah. Anggap biaya tes bug sistem keamanan."
Citra terdiam. Harga dirinya berteriak minta Raka ditampar. Tapi logika kemiskinannya berteriak lebih keras. Lima ratus ribu cuma gara-gara dilihat dua belas detik? Itu tarif yang jauh lebih mahal daripada gaji sejamnya.
Citra menarik napas panjang. Naluri pedagang pasarnya mengambil alih.
"Tujuh ratus lima puluh ribu."
Raka berpikir sejenak. Matanya bergerak ke kiri atas, menghitung probabilitas.
"Tujuh ratus ribu. Dan kamu harus pakai air hangat mulai besok. Saya tidak mau sensor saya rusak lagi."
"Sepakat."
Citra membalikkan badan, berjalan cepat keluar kamar dengan perasaan campur aduk. Antara lega utang berkurang, dan ngeri karena privasinya baru saja dihargai tujuh ratus ribu perak.
Pintu tertutup.
Raka tidak langsung kembali bekerja. Dia menatap pintu itu. Jari telunjuknya mengetuk pelipis pelan.
Di dalam kepalanya, gambar koyo miring itu memang sudah dihapus. Tapi ada satu data lain yang tanpa sadar tersimpan permanen di hard drive otaknya, menolak untuk di-delete.
Detak jantung Citra saat menjerit tadi. Frekuensinya kacau, tidak beraturan, tapi anehnya... hidup.
Pukul 23.00 WIB. Waktu merayap lambat, seolah udara di dalam rumah petak itu telah berubah menjadi lem kental yang mencekik paru-paru.Citra Melati berjalan pelan. Lututnya kaku, matanya bengkak dan perih. Ia menyeret langkahnya menuju kamar tidur yang sempit, meninggalkan ruang tamu yang kini terasa seperti kuburan memori.Di bawah pendar lampu bohlam lima watt yang menguning, Citra duduk bersila di atas kasur busanya yang menipis. Tangannya yang gemetar merogoh kolong bantal, menarik keluar sebuah buku tulis bersampul batik pudar dan sebatang pulpen promosi yang tintanya sering macet.Ini adalah jangkarnya. Buku kas.Selama bertahun-tahun, buku inilah yang menyelamatkan kewarasannya. Setiap kali dunia terasa runtuh, Citra akan mengonversinya menjadi angka. Utang, cicilan, harga beras, biaya rumah sakit Ibu—semuanya bisa dihitung. Semuanya punya solusi matematis. Jika ada masalah, buatlah tabe
Pukul 23.00 WIB. Waktu merayap lambat, seolah udara di dalam rumah petak itu telah berubah menjadi lem kental yang mencekik paru-paru.Citra Melati berjalan pelan. Lututnya kaku, matanya bengkak dan perih. Ia menyeret langkahnya menuju kamar tidur yang sempit, meninggalkan ruang tamu yang kini terasa seperti kuburan memori.Di bawah pendar lampu bohlam lima watt yang menguning, Citra duduk bersila di atas kasur busanya yang menipis. Tangannya yang gemetar merogoh kolong bantal, menarik keluar sebuah buku tulis bersampul batik pudar dan sebatang pulpen promosi yang tintanya sering macet.Ini adalah jangkarnya. Buku kas.Selama bertahun-tahun, buku inilah yang menyelamatkan kewarasannya. Setiap kali dunia terasa runtuh, Citra akan mengonversinya menjadi angka. Utang, cicilan, harga beras, biaya rumah sakit Ibu—semuanya bisa dihitung. Semuanya punya solusi matematis. Jika ada masalah, buatlah tabe
Deru mesin-mesin bertenaga kuda besar itu terdengar seperti geraman hewan buas yang dipaksa mundur. Satu per satu, roda-roda lebar dari Rolls Royce, Mercedes-Benz, dan Range Rover menggilas aspal retak Petamburan untuk terakhir kalinya.Jeep Rubicon hitam doff milik Damar Langit menjadi penutup barisan, bergerak lambat seolah enggan meninggalkan medan pertempuran.Warga yang biasanya riuh rendah kini membisu. Pak RT yang sedang memegang sapu lidi berhenti bergerak di pinggir jalan. Ibu-ibu yang biasa bergosip di warung sayur hanya menatap kosong dari kejauhan.Ada beban kasat mata yang menggantung di udara pagi yang mulai terik. Atmosfer perpisahan itu terasa sangat berat, menekan dada siapa pun yang melihatnya.Citra Melati berdiri mematung di teras rumahnya. Tangannya mencengkeram tiang kayu keropos seolah itu satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak ikut terseret pergi. Matanya mengunci lam
Pukul 08.00 WIB. Udara di dalam "Posko Cinta" terasa hampa.Biasanya, jam segini aroma bawang putih yang ditumis atau wangi kopi tubruk sudah menginvasi ruangan kaca itu, bertarung dengan dinginnya AC sentral. Pagi ini, tidak ada denting spatula yang beradu dengan wajan. Tidak ada desis air mendidih.Elang, Raka, Bastian, dan Damar duduk mengelilingi meja makan lipat yang kosong melompong. Mereka saling lirik dalam diam. Rutinitas pagi yang biasanya dikendalikan oleh satu perempuan, kini mati suri. Ada ketegangan yang menyesakkan yang membuat napas terasa berat.Sreeet.Pintu kaca bergeser. Citra Melati melangkah masuk.Dia tidak mengenakan sisa kemewahan semalam. Tidak ada gaun sutra merah atau riasan elegan. Citra sengaja membungkus dirinya dengan daster batik paling kusam yang warnanya sudah pudar menjadi abu-abu pucat. Wajahnya berminyak, tanpa bedak. Matanya bengkak parah, m
Kain sutra merah itu meluncur jatuh, membentur lantai yang dingin dengan suara desir yang nyaris tak terdengar.Citra Melati berdiri mematung di depan cermin lemari plastik yang retak membelah dua pantulan wajahnya. Di bawah kakinya, gaun seharga puluhan juta itu teronggok seperti genangan darah yang membeku, menciptakan kontras yang begitu mencolok dengan dinding kamarnya yang mengelupas.Tangannya yang gemetar meraih daster batik lusuh dari gantungan kawat. Ia memakainya cepat-cepat, mencari perlindungan dari kain katun pudar yang selama bertahun-tahun menjadi zirah kemiskinannya.Tapi rasanya salah.Daster itu tidak lagi terasa seperti pelukan rumah. Kainnya terasa ganjil di kulitnya, seolah ia baru saja mengenakan kostum badut yang ukurannya mulai menyempit. Ia telah berubah, dan daster ini tidak lagi muat untuk menampung versi dirinya yang sekarang.Citra mengangkat ba
Kain sutra merah itu jatuh memeluk tubuh Citra Melati seperti aliran lava yang membeku; panas, berbahaya, dan menuntut perhatian mutlak. Di depan cermin lemari plastik yang retak di sudut, Citra menatap pantulan dirinya.Ia nyaris tidak mengenali sosok itu.Rambutnya digelung longgar, menyisakan anak rambut yang jatuh membingkai leher jenjangnya. Gaun itu mengekspos punggungnya dengan berani, sementara belahan roknya yang tinggi seolah menantang siapa pun untuk tidak menahan napas."Gila," bisik Citra. "Ini bukan baju kencan. Ini baju perang."Tok. Tok.Ketukan di pintu depan terdengar sopan namun tegas. Citra menarik napas panjang, mengenakan sepatu Manolo Blahnik yang haknya setajam silet, lalu melangkah keluar.Di teras rumah yang diterangi lampu bohlam kuning lima watt, Elang Soerya berdiri membelakangi pintu. Ia menatap langit malam Jakarta yang keruh. P







