Mag-log inPertama kali Elora bertemu dengan Dominic adalah saat pria itu datang ke rumah. Waktu itu usia Elora baru 5 tahun.
Ayahnya mengatakan bahwa anak laki-laki kecil yang tampak suram itu adalah kakak Elora, sosok yang nantinya akan melindungi Elora kapan pun dan di mana pun. Setelah agak lebih besar, Elora kemudian baru mengetahui kalau Dominic memang diadopsi oleh ayahnya untuk dididik sebagai pengawal Elora.
Keluarga Elora sendiri merupakan keluarga berada. Musuh mereka cukup banyak, bahkan Elora pernah menjadi korban penculikan saat ia masih kecil dulu.
Karenanya, Elora tidak keberatan mendapatkan pengawalan. Toh, ia menyukai kakak angkatnya. Dominic selalu menemaninya dan tidak pernah berkata tidak padanya.
Namun, saat ini–
Elora buru-buru menarik tangannya.
“Darahnya sudah berhenti,” ucap Dominic datar setelah kembali mengecek jari Elora. Seakan yang baru saja ia lakukan adalah hal yang biasa. “Nyeri?”
Elora mengalihkan pandangannya ke ibu jarinya yang memerah. Memang sedikit nyeri, setelah dirasa-rasa. Tampaknya lukanya cukup dalam.
“Sedikit. Tapi tidak apa-apa.”
“Tunggu di sini.”
Tanpa menjelaskan lebih lanjut, Dominic berbalik pergi, membiarkan keheningan dan tensi berat menggantung kaku di udara.
Elora menghela napas panjang.
Ia meminta pegawai butik untuk mengambil beberapa foto dirinya dalam balutan gaun pengantin, lalu memutuskan untuk menyudahi sesi fitting.
Sembari berjalan keluar, ia mengirimkan foto yang sudah ada ke Kendra.
Kali ini, tidak perlu menunggu lama, balasan pria itu langsung datang.
[Cantik, kau sangat cantik! Maaf aku tidak bisa datang, rapatnya ternyata lebih lama dari yang kubayangkan.]
Pesan itu disertai foto suasana ruang rapat yang dipenuhi dokumen.
[Aku masih rapat, Sayang. Pilihlah yang paling kau suka.]
[Besok kita pilih cincin bersama ya. Tolong jangan marah.]
Elora menghela napas dan hanya memberikan emotikon sebagai jawaban.
Rasanya seperti sendirian. Padahal pernikahan seharusnya menjadi usaha dua orang. Namun, Elora paham betapa sibuknya Kendra, karena ia memang tumbuh menyaksikan kesibukan ayahnya sehari-hari.
Saat melangkah keluar dari butik, Dominic tengah berdiri tegap di samping mobil.
Pria itu mengulurkan satu tas kecil pada Elora.
“Apa ini?” tanya Elora.
“Untuk lukamu,” balas Dominic. Rupanya, pria itu tadi pergi ke apotek terdekat untuk membeli obat. “Perlu bantuan?”
“Kupakai di mobil saja,” ucap Elora kemudian sembari mengambil tas kecil itu. “Ayo pulang.”
Mobil melaju membelah jalanan kota. Di balik kaca mobil, Elora hanya memejamkan mata, berusaha meredam rasa sesak.
Andai saja … tunangannya punya seperempat saja dari kepedulian yang ditampilkan oleh Dominic. Pasti Elora akan lebih bahagia.
Sementara itu Dominic…
Gadis itu menatap pengawalnya yang tengah duduk di kursi kemudi. Tubuhnya tegap, dan sikapnya formal.
Sepeduli apa pun Dominic padanya, sesuka apa pun Elora mempunyai kepedulian seorang kakak … itu tidak mengubah kenyataan bahwa pria itu hanya melakukan kewajibannya, sesuai yang diatur oleh ayah Elora. Elora sering melupakan hal itu dan membiarkan perasaannya terbawa tanpa sadar.
Karena … mendapatkan perhatian dan kepedulian dari orang yang dekat dengannya itu bukan sesuatu yang buruk.
Namun, tulus atau tidak, gadis itu tidak akan pernah tahu.
***
Keesokan harinya.
Pagi-pagi sekali, Kendra sudah berdiri di depan pintunya membawa sebuket bunga berukuran besar dan sarapan favorit Elora sebagai penebus dosa.
Hati Elora seperti biasa, kembali luluh dengan mudah. Terlebih saat Kendra berjanji akan menunggunya di toko perhiasan untuk memilih cincin pernikahan mereka siang ini.
Dan benar saja, berbeda dari saat di butik kemarin, kali ini pria itu bahkan mengirimkan foto dirinya yang sudah tiba lebih awal di toko perhiasan.
[Kamu di mana?] tanyanya lewat pesan singkat.
[Sebentar lagi. Aku sudah di jalan] balas Elora.
Mobil hitam yang dikemudikan Dominic berhenti dengan mulus di depan toko perhiasan. Kendra segera membukakan pintu dan mengulurkan tangannya hangat.
“Ayo, Sayang. Aku sudah menunggumu dari tadi,” sambut Kendra manis.
Elora menyambut uluran tangan itu. Kendra merangkul bahunya mesra seraya melirik sosok serba hitam di belakang mereka. “Kau pergi diantar bodyguard-mu?”
“Iya. Itu kan tugasnya, mengikutiku dan menjagaku.”
“Hm. Baiklah, ayo masuk.”
Mereka disambut ramah oleh staf toko dan langsung diarahkan menuju ruang konsultasi privat. Dominic melangkah dalam diam di belakang mereka, mempertahankan jarak aman namun matanya tak pernah lepas mengawasi Elora.
“Selamat datang, Tuan, Nona. Silakan, desainer kami sudah menunggu,” panggil pegawai toko anggun.
Di dalam ruangan yang elegan itu, beberapa pasang sampel cincin berkilauan di atas bantal beludru hitam.
“Silakan dicoba dulu cincinnya,” ujar sang desainer ramah.
Elora dan Kendra saling memasangkan cincin ke jari manis satu sama lain. Namun, ada keraguan samar saat Elora memandangi benda lingkar yang menempel di jarinya.
“Aku ingin melihat model lain. Bagaimana dengan yang ini?” tanya Elora menunjukkan pilihan lain.
Kendra baru saja hendak mengangguk ketika ponsel di saku jasnya bergetar tajam. Wajah pria itu seketika berubah serius saat membaca pesan di layarnya. Ia berdiri secara mendadak, membuat Elora tersentak kaget.
“Ada apa, Kendra?”
“Elora... lihat ini!” Kendra menyodorkan layarnya, memperlihatkan pesan darurat mengenai rapat klien penting yang mendadak dimajukan. “Aku harus pergi sekarang juga. Waktuku sangat mendesak!”
Wajah Elora seketika berubah. Dominic menyadari perubahan ekspresinya.Ia segera berbalik menghadap Elora, mengabaikan mikrofon yang masih terarah kepadanya."Elora, tidak perlu menjawab nya. Ayo, kita-"Perempuan itu mengangkat wajah dan menatap wartawan di depannya. "Jika Anda ingin menulis berita, tulislah bahwa kami telah tiba dengan selamat. Itu fakta yang bisa Anda pastikan sendiri.""Apakah itu berarti Anda menolak memberikan klarifikasi?""Klarifikasi apa? Aku hanya tidak ingin membiarkan Anda memancing jawaban yang bisa dipelintir menjadi sesuatu yang tidak pernah saya katakan." Jelas Elora mantap."Sudah? Beri kami jalan. Aku dan suamiku baru saja kembali dari perjalanan jauh." Elora menggeser tubuhnya dan menggandeng lengan dominic."Ayo suamiku." Ujarnya, Dominic melihat keberanian Elora. Dominic segera memberi isyarat kepada beberapa orang yang sejak tadi bergerak mendekat tanpa Elora ketahui.Namun, Adrian masih sempat melontarkan satu pertanyaan terakhir sebelum mereka
Pelabuhan utama sudah ramai ketika kapal mereka akhirnya merapat. Beberapa kendaraan telah menunggu di area khusus penumpang, sementara para awak kapal sibuk mengatur proses penurunan barang bawaan. Di antara kerumunan itu, seorang pria berkemeja biru muda berdiri sambil memegang kamera dan ponsel.Sebuah kartu pengenal melingkar di leher pria itu. Dia berada disana sejak pagi untuk bertugas meliput kedatangan sejumlah tokoh bisnis di pelabuhan tersebut. Merasa bosan, matanya bergerak kesana-kemari hingga memperhatikan kapal pribadi yang baru saja bersandar.Seketika rasa bosannya berubah. Matanya melihat informasi baru yang baru saja datang. Dia langsung mengenali nya. Sosok perempuan yang menjadi topik pembicaraan hingga sekarang dan pria yang berjalan di sampingnya— Dominic seorang bodyguard yang menjadi suaminya Wartawan itu segera menurunkan ponselnya, memeriksa sekali lagi wajah keduanya, kemudian membuka galeri gambar di perangkatnya dengan sebuah pesan yang mengatakan keterla
Pagi itu, pulau yang selama hampir sebulan menjadi tempat Dominic dan Elora bersembunyi dari hiruk-pikuk dunia perlahan diselimuti kesibukan. Angin laut bertiup lembut, membawa aroma asin yang bercampur dengan wangi pepohonan basah setelah hujan semalam. Di kejauhan, sebuah kapal berwarna putih dengan lambung gelap telah bersandar di dermaga pribadi, menunggu penumpangnya kembali ke kota.Elora berdiri di depan teras vila dengan sebuah cangkir teh di tangan. Tatapannya tertuju pada kapal yang bersandar.Hampir sebulan. Waktu yang awalnya terasa panjang kini justru berlalu terlalu cepat.Di pulau ini, ia belajar mengenal Dominic dengan cara yang berbeda. Bukan hanya pria yang selalu tahu bagaimana memenuhi keinginannya, bukan pula sosok yang terbiasa menyelesaikan segala sesuatu sebelum orang lain sempat mengeluh. Di tempat yang jauh dari keramaian, Elora menemukan sisi Dominic yang jarang diperlihatkan kepada dunia. Dan tanpa disadarinya, ia mulai mengingat hal-hal kecil tentang pria
Pagi hari di pulau tropis itu menyambut dengan bias cahaya keemasan yang menembus celah-celah tirai kamar vila. Suara deburan ombak terdengar lebih lembut, seolah ikut merayakan lembaran baru yang terbuka bagi dua insan di dalam ruangan tersebut.Elora terbangun dalam dekapan hangat lengan kokoh Dominic. Entah kapan, posisi tidurnya sudah begitu dekat dengan dominic. Seolah mencari jalannya sendiri setelah malam kemarin yang mengubah panggilan dan mengikis sedikit jarak diantara mereka. Dekapan hangat lengan dominic menghadirkan rasa aman yang terasa berbeda-beda setiap Elora mendapatkannya. Apakah karena jarak yang mulai berkurang itu? Atau karena status mereka yang berbeda sekarang dan dia menyadarinya. Dominic, yang ternyata sudah terjaga lebih dulu, menatap wajah Elora yang masih setengah sadar dengan sorot mata penuh pemujaan. Jemarinya dengan telaten merapikan helaian rambut hitam Elora yang berantakan di atas bantal."Kau sudah terlihat lebih baik. Wajahmu kembali bersinar, ap
Dua kali nama itu disebut, mengalir begitu ringan namun menghujam telak di antara keheningan vila yang ditemani deburan ombak.Dominic tidak langsung bergerak. Tatapannya yang tajam, yang biasanya mampu melumpuhkan lawan bicara dalam hitungan detik, kini mendadak kehilangan taringnya. Ada ketegangan yang kasat mata di udara bukan ketegangan seorang pengawal melainkan ketegangan dua insan yang sengaja meruntuhkan tembok benteng pertahanan mereka sendiri.Pria itu meletakkan sendok peraknya perlahan ke atas piring kecil di sisi mangkuk. Suara dentingan logam itu beradu pelan, seolah menjadi penanda berakhirnya batasan-batasan formal yang selama ini dia jaga mati-matian.Ia menegakkan tubuhnya, postur tegapnya kini condong ke depan, menatap Elora seolah tengah menilai apakah gadis di hadapannya ini benar-benar menyadari apa yang baru saja ia lakukan. "Elora, kau sadar dengan apa yang kau katakan?" Elora mengangguk. "Aku sadar.""Aku berpikir..... Setelah yang terjadi, saat kita disini.
Suasana ruang makan di vila itu terasa temaram, berat oleh angin laut malam yang berembus pelan dan suara deburan ombak yang menghantam karang di luar sana. Hanya diterangi cahaya lampu gantung kekuningan yang menggantung di atas meja kayu jati, pemandangan malam di pulau tropis itu tampak begitu intim.Dominic melangkah kecil melihat kejutan yang dimaksud oleh Elora. Di atas meja, dua mangkuk keramik putih mengepulkan uap tipis, menyebarkan aroma gurih mentega, bawang putih, dan jamur yang kaya.Elora berdiri di sisi meja dengan tangan bertaut di depan apron-nya, menatap cemas sekaligus antusias ke arah pria yang baru saja duduk di hadapannya.Dominic, dengan postur tegap khas melirik mangkuk di depannya sebelum mengangkat pandangan menatap Elora. Alis kirinya sedikit terangkat."Apa ini kejutan nya?" tanya Dominic, suaranya berat dan datar, namun matanya mengamati detail kecil dari senyuman Elora dan tangannya yang mempersilahkan. Tidak tau kapan Elora memasak nya, mungkin saat dia







