LOGINElora ditinggalkan saat hari pernikahannya. Rasa malu dan kecewa bercampur aduk dirasakannya. Ditengah rasa malu dan kekecewaan itu, sang bodyguard yang merupakan kakak angkatnya menjadi pengganti pria. Bagaimanakah kelanjutannya?
View More“Nona, bisa kita mulai?”
Suara pegawai butik seketika menyadarkan Elora. Matanya yang sejak tadi terpaku memandang jendela toko kemudian beralih ke arah si pegawai.
“Sebentar, ya... bisakah kita tunggu sebentar lagi?” Elora berucap sopan.
Pegawai itu mengangguk sembari tersenyum, lalu pergi ke ujung ruangan untuk mempersiapkan deretan gaun pengantin di gantungan.
Sementara itu, duduk di tengah ruang tunggu butik kenamaan yang letaknya di tengah kota itu, Elora kembali menoleh ke arah jendela depan toko, menunggu tunangannya yang tidak kunjung tiba meski jadwal mereka untuk mencoba busana pengantin seharusnya sudah dimulai sejak satu jam yang lalu.
Tanpa sadar, Elora meremas jemarinya sendiri.
Di mana kau, Kendra? batinnya.
Elora mengeluarkan ponselnya dari dalam tas, lalu mengecek pesan terakhirnya untuk sang tunangan.
Terakhir, Kendra, tunangannya tersebut, mengatakan bahwa ia akan ke butik untuk fitting busana pengantin siang ini. Elora membalas pesannya dengan riang, berpikir bahwa ia akhirnya bisa menghabiskan waktu dengan pria sibuk itu.
Namun, setelahnya, Kendra tidak ada kabar.
Pesan demi pesan yang ia kirimkan tadi hanya menghasilkan centang dua tanpa balasan.
Paling tidak, seharusnya, apabila benar-benar sibuk, Kendra bisa memberitahunya. Jadi ia bisa menjadwalkan ulang untuk agenda ini nanti. Toh selama ini, Elora tidak pernah tidak pengertian terhadap pria yang telah memimpin perusahaan besar tersebut.
Elora meletakkan ponselnya dan menghela napas pelan, lalu mengambil minuman yang tersaji di atas meja.
Ia dan Kendra sudah berpacaran sejak mereka duduk di bangku kuliah. Elora jatuh hati saat pria itu dengan berani meminta izin pada ayah Elora untuk mengajaknya datang ke sebuah pesta kampus. Sebelumnya, semua pria takut mendekati Elora karena latar belakang keluarganya. Kendra yang pertama.
Sejak saat itu, Elora mengukuhkan hatinya hanya untuk Kendra.
Namun, masa-masa manis itu sekarang terasa begitu jauh. Sejak Kendra mengambil alih posisi pimpinan perusahaan keluarga, pria itu jadi makin sibuk. Sampai-sampai jarang meluangkan waktu untuk Elora.
Begitu pula saat ini. Padahal keduanya akan menikah dalam waktu kurang dari dua minggu. Seharusnya–
Brrt, brrt!
Gadis itu langsung mengambil ponselnya begitu benda itu bergetar. Matanya berbinar saat membuka aplikasi pesan instan.
[Maaf, Sayang. Rapat Glory Mall mundur. Investornya gila! Tunggu aku 20 menit lagi. Aku mau lihat kamu jadi pengantinku. – K]
Elora menghela napas pelan, lega. Senyum manis kemudian terukir di bibirnya.
Ia memanggil penata gaun dan berkata, "Tolong siapkan ruang fitting. Tunanganku sebentar lagi datang."
“Baik, Nona.”
Elora mengamati para pegawai butik bergerak cekatan. Mempersiapkan beberapa jenis gaun yang akan dicoba Elora, sesuai permintaan yang disampaikan Elora tempo hari. Senyum tak lepas dari bibir Elora selama itu terjadi.
Namun, meski dua puluh menit telah berlalu–bahkan nyaris satu jam, Kendra tak kunjung menampakkan batang hidungnya.
Kini, senyum itu kembali lenyap dari bibir Elora.
Meski begitu, sebagai nona muda yang terlatih menjaga sikap sejak kecil, Elora tidak marah-marah atau membuat keributan.
"Nona, bagaimana kalau mencoba gaunnya terlebih dahulu?" saran sang penata gaun dengan lembut. “Jadi saat calon suami Anda tiba, kita tinggal melakukan final check.”
"Boleh," jawab Elora, menyambar tawaran itu demi mengalihkan rasa sesak di dadanya.
Beberapa saat kemudian, tirai ruang fitting tersingkap.
Sebuah gaun berwarna putih bersih dengan potongan mermaid melekat sempurna di tubuh indah Elora.
Ia berdiri mengamati pantulan dirinya di balik cermin besar berukir emas. Sosok di dalam cermin itu benar-benar tampak memukau dan anggun, meski tanpa riasan tebal, perhiasan leher, maupun veil panjang yang menjuntai dari kepalanya.
Namun, di balik keindahan itu, raut wajahnya tampak hampa dan kosong.
“Bagaimana, Nona? Mau saya bantu fotokan?” tanya sang pegawai butik. “Atau mau langsung coba gaun kedua?”
Elora, wanita cantik berusia dua puluhan itu, menolehkan pandangannya ke arah pintu masuk butik, lalu menghela napas.
“Tolong bantu fotokan. Terima kasih.” Elora berucap pelan. “Lalu–”
“Nona, tunangan Anda sudah datang!” ucap salah seorang pegawai butik dari arah pintu. “Bagaimana kalau saya arahkan ke sini?
Mendengar itu, mata Elora berbinar. Wajahnya dipenuhi antusiasme dan rasa lega yang membuncah.
Gadis itu memusatkan perhatiannya ke pintu masuk ruang tunggu.
Namun, tatkala netranya menangkap sosok baru saja melewati pintu, senyum manisnya langsung luntur seketika.
“Kak Dom?” ucapnya,
Elora menatap pria berjas hitam rapi bertubuh tegap yang berdiri di ambang pintu ruang tunggu tersebut.
Sosok itu adalah pengawal pribadi Elora. Dominic, namanya.
Namun, Elora tidak menyalahkan pegawai butik yang salah memahami identitas pria itu sebagai calon pendamping hidup Elora, nona muda dari kalangan atas tersebut.
Sejujurnya, aura yang dipancarkan pria itu memang terasa dominan dan gagah. Memang tidak kalah dengan para pria dari kalangan atas.
Akan tetapi, tetap saja … pria ini bukan tunangan yang ia tunggu sejak tadi.
Tiba-tiba, ponsel di genggaman Elora bergetar. Gadis itu langsung membuka pesan yang masuk.
[Sayang, maaf sepertinya aku tak jadi bisa datang. Rapatnya molor dan investor ini menguji kesabaranku.]
[Kamu fitting sendiri saja. Pilih yang kamu suka.]
[Pakai apa pun, kamu pasti tetap akan kelihatan cantik.]
Elora menatap bilah pesan itu dengan pandangan sayu. Binar di matanya lenyap tak bersisa.
Jika masih rapat … kenapa pria itu mengatakan akan hadir dalam dua puluh menit? Kenapa tidak jujur padanya? Kenapa–
“Dia tidak datang?”
Elora mendongak. Sepasang matanya langsung beradu tatap dengan manik kelam milik Dominic.
“Sibuk. Ada rapat dengan para investor,” ucap Elora, menjawab pertanyaan pria di hadapan. “Perusahaannya baru dapat proyek besar, jadi wajar saja jika dia makin sibuk.”
Elora terdengar santai, seakan ia memaklumi kesibukan tunangannya dan tidak sakit hati, tapi sebenarnya, ia sendiri juga tengah meyakinkan dirinya sendiri agar tidak terlalu menyalahkan Kendra dan ketidakhadirannya.
Elora menghela napas panjang, menghembuskan seluruh kekecewaan yang tertahan di dadanya. Ia berusaha memaksakan senyum tipis pada pegawai di dekatnya.
“Kita lanjutkan dengan gaun kedua,” putus Elora akhirnya.
“Baik, Nona.”
Dengan sigap, pegawai wanita itu membawa gaun kedua–sebuah gaun anggun yang disiapkan untuk acara resepsi.
“Silakan, Nona.”
“Kak Dom,” panggil Elora. “Tunggu di sini.”
Dominic tidak memberikan respons apa pun, sementara Elora membiarkan si penata gaun bekerja, mengganti model gaun pengantinnya, dan merapikan kain.
Setelah selesai berganti gaun, Elora menghampiri pengawalnya.
“Kak Dom,” ucap Elora saat ia berdiri di hadapan Dominic. “Pilih. Bagus yang ini atau gaun sebelumnya?”
Elora mengamati ekspresi wajah Dominic yang sama sekali tidak berubah. Mata tajam pria itu tampak menyisir detail gaun yang Elora kenakan.
Setelah beberapa saat, Dominic akhirnya berucap, “Keduanya.”
“Aku mau pakai untuk menikah. Pilihkan satu.” Elora bertitah. “Paling tidak, sebagai sesama pria, seharusnya kamu tahu yang mana yang lebih disukai kaum kalian, kan?”
Dominic tidak langsung menjawab. Sepasang mata elangnya menatap Elora dalam diam, sampai kemudian Elora lanjut bicara.
“Yang ini pakai renda bermote untuk detail, ada di bagian–ah!”
Karena tidak memperhitungkan ekor gaunnya yang panjang, gadis itu tersandung.
“Ah!”
Andai saja Dominic tidak menahannya, bisa dipastikan Elora akan jatuh mengenaskan.
“T-terima kasih,” gumam Elora. Ia merasakan tangan kokoh Dominic menahannya. Pipinya sedikit memerah, malu karena bersikap ceroboh di hadapan pegawai ayahnya tersebut.
Meskipun, memang, secara status, Dominic adalah pengawal pribadi Elora, sekaligus pria yang menjaganya sejak kecil.
Dengan Elora kembali berdiri dengan bantuan Dominic.
“Jarimu berdarah,” potong Dominic. Pria itu tampak mengernyit saat meraih tangan kanan Elora. Ia menatap ibu jari Elora yang tadi tanpa sadar tertusuk jarum fitting saat nyaris terjatuh tadi. “Kemari.”
Elora menurut, jemari halusnya menyentuh permukaan telapak besar dan hangat milik Dominic. Pria itu dengan cepat menundukkan kepalanya, menghisap ibu jari Elora.
Elora terkejut.
“K-Kak!?”
Elora membiarkan Dominic membawanya kembali ke apartemen.Sepanjang perjalanan, keheningan di antara mereka terasa begitu tebal dan menghimpit. Kepala Elora terasa berat, penuh dengan persiapan pernikahan, sikap Kendra yang gemar melambungkan hatinya, sekaligus menjatuhkan ekspektasinya di detik berikutnya, serta tentang pertengkaran keduanya di mobil tadi.Sejujurnya, mungkin ini kali pertama mereka bertengkar dalam beberapa bulan terakhir.Biasanya, memang Elora selalu pengertian. Ia menemani pria itu sejak awal merintis karier, bahkan membantu Kendra. Jadi Elora tidak berniat menambah beban Kendra.Pun, jika ia kelepasan marah, Kendra selalu sigap memadamkan amarahnya.Namun, tampaknya hal itu mencapai puncaknya malam ini.“Terima kasih, Kak,” ujar Elora sebelum melangkah ke dalam apartemen. “Pulanglah. Aku baik-baik saja.”“Nona–”“Aku ingin sendiri,” ucap Elora langsung. “Banyak yang perlu aku pikirkan.”Dominic terdiam menatap Elora selama beberapa saat. “Mandilah air hangat,” b
Raut bahagia di wajah Elora menguap seketika. “Kali ini apa lagi?”“Sungguh, ini kesempatan emas untuk perusahaan! Kau tahu sendiri ini demi bisnis kita dan ayahmu, kan?” potong Kendra terburu-buru. “Aku percaya penuh pada pilihanmu. Aku pergi dulu. Bye, Sayang!”Lagi. Untuk kesekian kalinya, Elora ditinggalkan begitu saja di tengah prosesi penting mereka.Elora menggigit bibir bawahnya rapat-rapat, menahan panas yang merebak di pelupuk matanya. Dominic yang berdiri menyandar di sudut ruangan hanya mengamatinya bisu dengan tatapan kelam yang sulit diartikan.“Nona... bagaimana?” tanya sang desainer hati-hati, mencoba profesional di tengah situasi canggung tersebut.Elora menarik napas dalam-dalam lalu mengukir senyum tipis yang dipaksakan. “Kita lanjutkan. Aku ingin model yang ini.”Sang desainer mengambil cincin yang ditunjuk Elora. Namun, gerakannya mendadak terhenti. “Ini, Nona... tapi...”“Kenapa?”“Model yang ini agak berbeda dari yang tadi, terutama pada lingkar jari pria. Ukura
Pertama kali Elora bertemu dengan Dominic adalah saat pria itu datang ke rumah. Waktu itu usia Elora baru 5 tahun. Ayahnya mengatakan bahwa anak laki-laki kecil yang tampak suram itu adalah kakak Elora, sosok yang nantinya akan melindungi Elora kapan pun dan di mana pun. Setelah agak lebih besar, Elora kemudian baru mengetahui kalau Dominic memang diadopsi oleh ayahnya untuk dididik sebagai pengawal Elora.Keluarga Elora sendiri merupakan keluarga berada. Musuh mereka cukup banyak, bahkan Elora pernah menjadi korban penculikan saat ia masih kecil dulu.Karenanya, Elora tidak keberatan mendapatkan pengawalan. Toh, ia menyukai kakak angkatnya. Dominic selalu menemaninya dan tidak pernah berkata tidak padanya.Namun, saat ini–Elora buru-buru menarik tangannya.“Darahnya sudah berhenti,” ucap Dominic datar setelah kembali mengecek jari Elora. Seakan yang baru saja ia lakukan adalah hal yang biasa. “Nyeri?”Elora mengalihkan pandangannya ke ibu jarinya yang memerah. Memang sedikit nyeri,
“Nona, bisa kita mulai?”Suara pegawai butik seketika menyadarkan Elora. Matanya yang sejak tadi terpaku memandang jendela toko kemudian beralih ke arah si pegawai. “Sebentar, ya... bisakah kita tunggu sebentar lagi?” Elora berucap sopan.Pegawai itu mengangguk sembari tersenyum, lalu pergi ke ujung ruangan untuk mempersiapkan deretan gaun pengantin di gantungan. Sementara itu, duduk di tengah ruang tunggu butik kenamaan yang letaknya di tengah kota itu, Elora kembali menoleh ke arah jendela depan toko, menunggu tunangannya yang tidak kunjung tiba meski jadwal mereka untuk mencoba busana pengantin seharusnya sudah dimulai sejak satu jam yang lalu.Tanpa sadar, Elora meremas jemarinya sendiri. Di mana kau, Kendra? batinnya.Elora mengeluarkan ponselnya dari dalam tas, lalu mengecek pesan terakhirnya untuk sang tunangan.Terakhir, Kendra, tunangannya tersebut, mengatakan bahwa ia akan ke butik untuk fitting busana pengantin siang ini. Elora membalas pesannya dengan riang, berpikir ba












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.