LOGINDitunggu besok lagi, ya!!! Selamat malam semuanya... mimpi indahhh..
Ponsel di tangan Kevin terasa lebih berat dari biasanya.Ia menatap layar itu tanpa berkedip. Foto yang baru saja diterimanya masih terbuka. Kotak makanan dengan isi yang sepertinya sangat menggiurkan, lalu wajah Vanya yang diambil setengah membuat Kevin sedikit menahan napas.“Apa ini,” gumamnya pelan.Wajahnya terasa panas. Kevin mengeraskan rahangnya. Jari-jarinya mencengkeram ponsel lebih kuat.“Erwin,” ucapnya lirih, kali ini nadanya lebih rendah.Ia menggeser layar, membaca pesan yang menyertai foto itu. Kalimat santai khas Erwin, seolah ini hanya candaan biasa. Namun bagi Kevin, itu seperti bukti yang tidak bisa ia sangkal.Kemungkin yang terjadi, Vanya datang ke kantornya dan ia tidak ada. Bisa jadi saat Vanya menghubunginya tadi dan dia menjawab dengan cukup cepat dan tergesa.Kevin mengangkat pandangan. Ruangan di depannya terasa semakin sempit. Evelyn duduk di seberang meja, masih dengan ekspresi tenang yang sejak tadi tidak berubah.Kevin, kamu mendengarkanku?” tanya Evely
Vanya sempat berdiri cukup lama di tempatnya. Wajahnya tampak baik-baik saja, tenang seperti biasa, tetapi pikirannya tidak.Kalimat Kevin barusan masih terngiang jelas di kepalanya. Tergesa-gesa. Pendek.“Vanya, aku sedang bersama klien. Nanti aku hubungi lagi.”Tidak ada yang salah dengan kalimat itu. Sangat Kevin. Efisien, langsung ke inti, tanpa basa-basi. Namun justru karena itulah, Vanya merasa ada sesuatu yang mengganjal.Bukannya ia tidak mengenal Evelyn. Vanya cukup tahu tentang perempuan itu, terlebih setelah kejadian di Nebula tempo hari yang nyaris membuatnya salah paham pada Kevin.Kalau kliennya memang Evelyn, kenapa Kevin tidak mengatakannya saja. Bukankah akan lebih mudah. Bukankah ia akan lebih mengerti.Tangannya mencengkeram tas berisi kotak makan itu sedikit lebih erat. Ia datang ke sini dengan niat yang sangat sederhana. Memberi kejutan kecil, menghadirkan kehangatan di sela jadwal Kevin yang selalu terasa terlalu padat. Tanpa ia duga, justru dirinyalah yang mener
Vanya terdiam beberapa saat setelah Kevin selesai berbicara. Meski hatinya terasa lebih tenang dibandingkan sebelumnya, ada satu hal yang masih mengganjal, seperti simpul kecil yang belum terurai.“Tapi ….” Vanya akhirnya membuka suara.Kevin menoleh, menunggunya melanjutkan.“Aku ingin tahu bagaimana keadaan Evara sekarang.” Nada Vanya tidak tinggi, juga tidak mendesak. Lebih seperti pengakuan yang jujur. “Aku merasa tidak bertanggung jawab. Aku pergi begitu saja, lalu saat semuanya kacau, kau yang membereskannya.”Kevin tidak langsung menjawab. Ia memahami arah pikiran Vanya. Perasaan bersalah itu bukan karena ketidakmampuan, melainkan karena Vanya terbiasa memikul semuanya sendiri.“Kekhawatiranmu sudah teratasi,” kata Kevin akhirnya. “Kau tidak perlu memikirkan Evara sekarang.”Namun Vanya menggeleng pelan. “Itu yang membuatku tidak nyaman.” Ia mengangkat wajahnya. “Evara kau alihkan padaku, tapi aku tidak tahu apa-apa. Rasanya aneh. Seolah aku punya sesuatu, tapi tidak benar-bena
Vanya menatap layar ponselnya cukup lama hingga cahaya itu meredup sendiri. Daftar kontak yang kosong di bagian tertentu masih terasa tidak masuk akal, meski pikirannya sudah menemukan satu nama yang paling mungkin melakukannya. Ia tidak bodoh. Sejak awal, hanya Kevin yang memiliki akses, kesempatan, dan alasan untuk melakukan hal sejauh itu.Tidak ingin memikirkannya terlalu jauh, Vanya melihat jam di pergelangan tangannya. “Lebih baik aku masak makan malam saja untuk Kevin.”Ia meletakkan ponselnya di meja dapur dan menghela napas pelan. Tangannya kembali sibuk dengan panci yang mengepul di atas kompor. Aroma sup ringan memenuhi ruangan, bercampur dengan wangi tumisan bawang yang sederhana. Vanya tidak membuat hidangan rumit, hanya makanan rumahan yang hangat, sesuatu yang bisa dinikmati tanpa perlu banyak bicara.Nada dering ponsel terdengar nyaring. Nama Kevin muncul di layar.“Hei,” sapa Vanya santai. “Aku sedang memasak makan malam untuk kita.”“Kau masak?” suara Kevin terdengar
Kevin tidak langsung menjawab.Ia hanya menarik napas pelan, lalu menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang. Vanya masih menatapnya dengan sorot mata yang sulit disembunyikan, rasa penasarannya semakin tinggi.“Aku tahu karena sebuah catatan,” kata Kevin akhirnya.Vanya mengerjap. “Catatan?”Kevin mengangguk pelan. “Ingat saat kita mengunjungi kediaman Dirgantara sebelum kita menikah?”Pertanyaan itu membaca ingatan Vanya kembali ke masa sebelum mereka menikah. Vanya lalu mengangguk.“Sebenarnya saat itu Nico melihatmu bersiteru dengan Pelayan Keluarga Dirgantara.”Ucapan Kevin mengejutkan Vanya.“Nico memberikan laporan padaku apa yang terjadi padamu. Bagaimana semua orang memperlakukanmu di sana,” ucap Kevin sambil mengembuskan napas berat.Akhirnya terjawab sudah bagaimana Kevin seolah-olah tahu dengan apa yang dia alami.Kevin kembali melanjutkan, “Dia juga bertanya pada salah seorang pelayan yang dirasa cukup dekat denganmu dan dia menceritakannya secara singkat lalu memberikan c
Begitu pintu kamar tertutup, Kevin melepas jaketnya dan meletakkannya di sandaran kursi. Ia menoleh ke arah Vanya yang masih berdiri di dekat pintu, seolah belum sepenuhnya kembali dari suasana ruang keluarga tadi.“Kau istirahat saja dulu,” ujar Kevin dengan nada ringan. “Gantilah pakaian, biar lebih segar.”Vanya mengangguk pelan. lalu, fokus vanya terlaihkan saat Kevin mengambil ponsel dan membaca pesan yang masuk.“Apa ada masalah?” tanya Vanya saat Kevin selesai dengan urusannya.“Tidak terlalu besar, aku ke ruang kerja dulu, kau tidur saja setelah mandi, ya!” Tanpa menunggu jawaban Vanya Kevin langsung melangkah keluar kamar, sementara Vanya melanjutkan kegiatannya untuk mandi dan bersih-bersih.Saat keluar dari kamar mandi, Vanya masih belum melihat Kevin.Vanya melirik jam kecil di meja samping tempat tidur. Belum terlalu malam. Mungkin Kevin memang masih harus mengurus sesuatu. Ia duduk di tepi ranjang, lalu merebahkan tubuhnya perlahan, hingga matanya terpejam.Beberapa saa







