MasukKevin tidak langsung menjawab.Ia hanya menarik napas pelan, lalu menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang. Vanya masih menatapnya dengan sorot mata yang sulit disembunyikan, rasa penasarannya semakin tinggi.“Aku tahu karena sebuah catatan,” kata Kevin akhirnya.Vanya mengerjap. “Catatan?”Kevin mengangguk pelan. “Ingat saat kita mengunjungi kediaman Dirgantara sebelum kita menikah?”Pertanyaan itu membaca ingatan Vanya kembali ke masa sebelum mereka menikah. Vanya lalu mengangguk.“Sebenarnya saat itu Nico melihatmu bersiteru dengan Pelayan Keluarga Dirgantara.”Ucapan Kevin mengejutkan Vanya.“Nico memberikan laporan padaku apa yang terjadi padamu. Bagaimana semua orang memperlakukanmu di sana,” ucap Kevin sambil mengembuskan napas berat.Akhirnya terjawab sudah bagaimana Kevin seolah-olah tahu dengan apa yang dia alami.Kevin kembali melanjutkan, “Dia juga bertanya pada salah seorang pelayan yang dirasa cukup dekat denganmu dan dia menceritakannya secara singkat lalu memberikan c
Begitu pintu kamar tertutup, Kevin melepas jaketnya dan meletakkannya di sandaran kursi. Ia menoleh ke arah Vanya yang masih berdiri di dekat pintu, seolah belum sepenuhnya kembali dari suasana ruang keluarga tadi.“Kau istirahat saja dulu,” ujar Kevin dengan nada ringan. “Gantilah pakaian, biar lebih segar.”Vanya mengangguk pelan. lalu, fokus vanya terlaihkan saat Kevin mengambil ponsel dan membaca pesan yang masuk.“Apa ada masalah?” tanya Vanya saat Kevin selesai dengan urusannya.“Tidak terlalu besar, aku ke ruang kerja dulu, kau tidur saja setelah mandi, ya!” Tanpa menunggu jawaban Vanya Kevin langsung melangkah keluar kamar, sementara Vanya melanjutkan kegiatannya untuk mandi dan bersih-bersih.Saat keluar dari kamar mandi, Vanya masih belum melihat Kevin.Vanya melirik jam kecil di meja samping tempat tidur. Belum terlalu malam. Mungkin Kevin memang masih harus mengurus sesuatu. Ia duduk di tepi ranjang, lalu merebahkan tubuhnya perlahan, hingga matanya terpejam.Beberapa saa
Vanya meninggalkan Hani dengan langkah santai. Sementara itu, Hani hanya mampu menatap punggung itu yang semakin menjauh. Tubuhnya bergetar hebat.Kalau benar apa yang diucapkan Vanya barusan, artinya satu hal. Ia benar-benar sudah selesai.Seingatnya, nama Vanya adalah Vanya Anggala. Nama itu yang selama ini ia kenal. Tapi Dirgantara. Nama itu jelas bukan kebetulan.Kalau Vanya memang bagian dari keluarga Dirgantara, maka semua yang terjadi padanya masuk akal. Maskapai tempatnya bernaung adalah milik keluarga itu. Ia bukan dijatuhkan oleh gosip semata, melainkan oleh kekuasaannya sendiri yang ia remehkan.Namun satu nama lain terus berdengung di kepalanya.Wicaksana.Nama itu membuat napasnya semakin pendek.Dengan jari gemetar, Hani mengambil ponselnya dan mengetikkan pencarian tentang Kevin Wicaksana dan keluarga Wicaksana.Tidak sampai beberapa detik, hasilnya muncul.Tubuhnya limbung.Ia terduduk di lantai dingin bandara, matanya terpaku pada layar.“Kevin Wicaksana adalah CEO The
Beberapa jam sebelum pesawat itu mendarat di Cavendra.Hani muncul di kantornya, dia hanya ingin meminta kejelasan tentang pemecatan sepihak dirinya. Dia masih tampak percaya diri saat tiba di kantornya, karena merasa ada dukungan dari Kendrick.Saat akan melangkah menghadap HRD, jalannya terlihat tegap, tapi saat keluar dari tempat itu, wajahmya terlihat lesu dan dia baru memperhatikan di sekelilingnya kalau beberapa karyawan yang kebetulan melintas justru mempercepat langkah. Ada yang pura-pura sibuk dengan ponsel, ada pula yang menunduk tanpa berani menatapnya.Tidak hanya itu saja, Kekesalan dan kemarahannya semakin menjadi saat dirinya ingin menghadap direktur kepegawaian yang biasanya sangat bersikap lembut dan baik padanya malah menghindar secara terang-terangan.“Sial! Sebenarnya kenapa bisa sampai sebesar ini sih masalahnya?!” gerutunya kesalDengan langkah gontai kali ini dia berusaha untuk menghubungi Kendrick. Sayangnya, pria itu bahkan sejak semalam bahkan tidak bisa dihu
“Ibu … aku merindukanmu .…”Suaranya nyaris tak terdengar. Bukan ratapan, bukan pula tangisan. Hanya bisikan lirih yang seolah tertinggal di udara, lalu mengendap di ruang penyulingan yang sunyi.Aroma samar seolah menyusup ke dalam napasnya. Bukan aroma nyata, melainkan kenangan. Wangi yang dulu sering mengisi rumah kecilnya. Wangi yang membuatnya merasa aman.Vanya menunduk, matanya berkaca-kaca. Ia tidak menyadari kapan napasnya mulai terasa berat. Sebuah tangan tiba-tiba menyentuh punggungnya.Hangat. Tenang.Kevin tidak mengatakan apa pun. Ia hanya berdiri di belakang Vanya, satu lengannya melingkar pelan, menarik tubuh istrinya ke dalam dekapan yang mantap namun lembut. Tidak terlalu erat, tapi cukup untuk memberi tahu bahwa ia ada di sana.Vanya membiarkan dirinya bersandar. Untuk sesaat, semua beban di dadanya seolah menemukan tempat untuk diletakkan.Tidak ada kata-kata. Tidak ada tatapan berlebihan. Hanya momen singkat yang terjadi begitu alami, seolah mereka berdua sudah l
Sementara itu, Hani sedang bersandar di dada Kendrick, menikmati pemandangan kota dari balik kaca mobil yang melaju tenang. Senyumnya mengembang, kali ini tanpa perlu dipaksakan.Kata-kata Kendrick masih terngiang jelas di kepalanya.“Aku akan menyuruh orang untuk membuat keadaan ini berbalik.”Kalimat sederhana itu terdengar seperti jaminan. Bagi Hani, itu berarti satu hal, posisinya belum runtuh. Bahkan, mungkin justru sedang menguat.Ia melirik Kendrick yang masih sibuk dengan ponselnya. Jari pria itu bergerak cepat, suaranya rendah dan singkat saat memberi instruksi. Pemandangan itu membuat dada Hani terasa ringan.“Tuan,” ucapnya pelan, nadanya dibuat rapuh. “Aku hanya melakukan tugasku … tapi semua orang seolah ingin menghancurkanku.”Kendrick menghentikan gerakannya, menoleh sebentar. Tatapannya dingin, namun mantap. “Aku sudah bilang. Kau tidak perlu khawatir.”Hani menunduk, bulu matanya bergetar halus. “Aku hanya ingin keadilan sedikit saja.”Kendrick menghela napas pendek.







